
"Bagus ... kaos kakinya polkadot!"
"Kamu kira sekolah itu tempat sirkus?"
"Ini lagi! Seragam kok udah kayak baju renang? Kamu mau renang dilapangan?"
Cercaan Bu Dahlia -Guru BK yang super menyebalkan bagi anak-anak penyuka pelanggaran-. Pagi yang damai itu, seketika menjadi suram bak dipernikahan mantan (?) Pasalnya semua siswa tahu, kalu Bu Dhalia sudah OTT (Operasi Tangkap Tangan) tak ada semut yang berani menggigit. Hanya saja walaupum Bu Dahlia garang tak terkira, tetap saja pelanggaran masih ada.
Sebagian besar siswa dan siswi sudah mulai berbaris untuk melaksanakan upacara. Terkecuali, ketiga manusia zona merah yang baru saja memarkirkan motornya dan mulai berlenggang ke area lapangan.
Siapa lagi kalau bukan, Leia Gagan dan Ferdi?
Ferdi mengedarkan pandangan memfokuskan retina matanya pada gerombolan anak-anak yang mengangkat kaki berbarengan. Bukan olah raga pagi tapi hukuman pagi yang diberikan Bu Dahlia.
Gagan pun menyadari itu, "Wah ... pagi-pagi sudah dieksekusi aja. Mau mabal kagak lo?" Ia menyikut Ferdi.
"Le, lo yakin mau masuk? Udah ngamuk tingkat dewa gitu."
"Jadi, mabal?" Leia malah balik bertanya.
Ferdi mengedikkan bahu, "Terserah elu, sih. Gue mah ayok aja. Malas juga ngeladenin Bu Dhalia. Berasa jadi tersangka pembunuhan kalau dia udah lihat gue."
Leia hanya menghela nafas dan menaikkan sebelah alisnya. Ia berbalik diikuti dengan dengan Gagan dan Ferdi. Belum beberapa langkah, macan ternyata sudah mencium baunya.
"HEY KALIAN!!! MAU KABUR YA!"
Ini buruk.
Kalau tetap pergi. Maka urusannya jadi panjang. Jika menyerah? Mereka tidak yakin, kalau telinga akan utuh seperti biasa.
"JANGAN KABUR! AWAS KALIAN!!"
"Duh Le ... auto harus jadi patung ini mah," Gagan bersua.
Lalu, entah kenapa ... yang datang bukan Bu Dahlia. Melainkan Farhan yang memang sedari tadi membantu Bu Dahlia dalam melakukan operasi OTT.
Canggung.
Hah ... sudah jadi rahasia umum kalau ketua osis yang bernama Farhan ini sangat menjaga jarak dengan Leia. Entah kenapa. Padahal, mereka belum punya kasus. Kecuali, Farhan sering disuruh mengamankan Leia yang sering melanggar aturan sekolah. Hanya saja, walaupun begitu, Farhan akan melakukan hal yang sama. Tidak berbicara dan hanya menuliskan nama Leia di buku hitam milik guru BK.
"Alhamdulillah ... nikmat mana yang engkau dustakan!!!! Untung elo yang datang, Han. Kalau maung itu ... gak tahu kita bakalan jadi apa nantinya." Gagan tersenyum gembira karena Bu Dahlia yang tidak menghampiri mereka.
"Senyum kali, Han. Lo kayak musuhan banget sama kita," ucap Ferdi yang melihat muka ogah tak ogah milik Farhan.
Sedangkan Leia hanya bisa terdiam. Sebuah perlakuan yang banyak diterimanya dari orang-orang yang hanya melihat diri luarnya saja. Entah kenapa ... dia merasa tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Farhan.
__ADS_1
"Nama panjang lo apa?" tanya Farhan. Tentunya, tidak bertanya pada Leia. Tapi pada kedua temannya, Ferdi dan Gagan. Seperti biasanya ketika melihat Leia, Farhan hanya akan melakukan dua hal ini. Menghindar atau mengabaikannya.
Leia tiba-tiba tertawa miris. Sehingga membuat Ferdi dan Gagan menoleh keheranan. Dan secepat angin lalu ...
SET BRUK!!!
Leia mendorong Farhan ke tembok degan kerah bajunya yang ia cengkeram. "Kalau lo ada masalah sama gue. Ngomong!!! Jangan kayak banci! Sok suci banget lo jadi orang!"
"Le ... udah Le. Duh ... Bu Dahlia jadi kesini deh."
Ferdi memisahkan Leia dan Farhan. Namun, kedatangan Bu Dahlia tak bisa dipungkiri. Alhasil, urusannya bakalan panjang. Lihat saja.
"Apa makasudnya ini? Kalian pikir sekolah ini arena tinju? Ini juga! Cewek macam apa kamu! Gak pantas ya kamu berlaku seperti itu disekolah. Lihat saja, saya keluarkan kamu dari sekolah ini.
Seenak jidat aja kelakuanya. Emangnya kamu yang punya sekolahan? Gak usah sok berkuasa! Ikut saya ke ruang kepala sekolah!"
"Iya! Saya gak pantas sekolah disini! Yang pantas sekolah disini hanya orang-orang sok suci kaya dia!"
Leia tidak terima diperlakukan seperti itu. Ia pergi begitu saja setelah membalas perkataan Bu Dahlia.
"Dasar! Mau Kemana kamu? Gak sopan! Diajarin apa kamu sama orang tua! Leia!"
Teriakan itu hanya disambut suara motor Leia yang sengaja dikeraskan. Tentu saja, membuat suasana semakin seru. Termasuk bisik-bisik tetangga yang semakin keras.
Ferdi dan Gagan pun tidak tinggal diam. Mereka menyusul Leia. Tapi, langkah mereka terhenti ketika satu motor lebih dulu menyusul mereka.
*********
Motor rx king itu berhenti di sebuah rumah sakit. Dari sekian tempat pelepas penat yang ada, Leia lebih memilih rumah sakit. Apalagi kalau bukan karena ada Arsel, kakaknya?
Leia memang sengaja mengecoh Ferdi dan Gagan yang mengikuti di belakangnya. Satu alasannya. Semua anggota Mabos tidak ada yang tahu kalau dia adalah adik dari ketua yang hilang, Arsel. Mereka juga tidak tahu kalau Arsel masih hidup. Ini semua demi keselamatan Arsel. Ah, ya kecuali Teja yang mengetahui mengenai hal ini.
Leia merogoh ponsel untuk mengabari dokter yang menjaga Arsel. Namun, sapaan tak ramah membuat Leia terkejut.
"Lo, hamil?"
Leia menoleh, "Ngapain lo disini?"
"Jawab. Lo, hamil?"
"Ngapain lo disini? Buntutin gue ya? Mau apa lo?"
Tangan Leia dicengkeram." Jawab gue, Leia."
"Lo tuh gila ya? Emang rese banget hidup lo! Udah buntutin gue! Nuduh gue hamil! Lo kira, gue apa, Satria!" perkataan Leia tak kalah keras. Membuat beberapa orang yang melihat geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ngapain lo buntutin gue hah?"
"Kalau lo enggak hamil. Ngapain lo berdiri di ruang kandungan?"
"Jangan ngeles deh lo. Siapa juga yang---"
Satria yang tiba-tiba saja ada, membalikkan badan Leia hingga Leia persis melihat papan nama di depan pintu "Dokter Kandungan". Leia pun menoleh. Banyak ibu hamil yang sedang menunggu. Parahnya, pertengkaran Leia dan Satria menjadi tontonan gratis. Leia terlihat malu dan marah.
Duk!
Ia menendang kaki Satria. Lalu pergi begitu saja.
"Leia! Apa maksud lo nen-- aws! Tunggu gue."
*******
"Ngapain lo masih ngikutin gue? Mau apa sih lo, heran gue."
"Lo belum jawab. Lo hamil, Le?"
"Lo--gue gak ngerti ada manusia macam kayak lo udah **** tahunya ***** juga!"
Leia hendak pergi tapi ditahan.
"Jawab, Leia."
"Apa sih lo? Ngajak berantem?"
Satria menatap Leia dalam dengan penuh sorot kemarahan yang tertahan. Leia pun semakin heran. Kenapa harus marah? Suanya dalam hati.
Leia balas menatap garang pada Satria. Tangannya yang bebas menekan tangan Satria dan dengan mudah melepaskan cengkraman ditangannya yang tak dipungkiri dirasakan sakit juga.
"Kalaupun gue hamil. Itu bukan urusan elo. Ngerti?"
Sesaat akan berbalik, perkataan Satria semakin membuat Leia ingin mual saja.
"Gue bakal tanggung jawab."
Leia tidak perduli dengan kicauan Satria yang sudah melantur kemana - mana. Lagian, hubungan mereka tidak sedekat itu. Ini malah sok-sok peduli gak jelas. Satria memang absurd dan Leia tak mengerti dengan Satria yang semakin aneh menurutnya.
Jangan lupa, Satria itu musuh bebuyutan.
So, what's wrong with Satria?
*********
__ADS_1
Bdg
270820.