
Pletak!
"Apa sih, Le?"
Maya menggerutu. Sudah kelima kalinya Leia menjitak kepalanya tanpa permisi. Bukan apa-apa, pasalnya kalau jitakan itu yang menyebabkan gegar otak pada dirinya, sudah dipastikan Leia tidak akan bertanggung jawab sedikitpun. Leia mah naon atuh! Hanya remahan sangu can asak!
(Leia apa, ya! Hanya remahan nasi belum matang!)
PLETAK!
"KENAPA SIH, LE?"
Maya mendelik. Tidak tahan lagi dengan tangan Leia yang tak tahu malu. Untung sayang kalau enggak sudah dipastikan Maya akan menyantet Leia.
"Gue laper, May!"
Leia gusar. Cacing-cacing diperutnya butuh nutrisi. Hanya saja, Maya gak peka-peka dengan keadaan ini. Maya tetap fokus dengan rentetan angka-angka yang sudah pasti membuat Leia tidak ingin melihatnya barang sedetik.
"Cari aja si bangsul Ferdi atau gak si Gagan kek. Lu mah gak liat gue lagi sibuk?"
Hanya Maya yang bisa seperti itu pada seorang Leia. Padahal lalat pun tahu siapa Leia. Sebetulnya sangat keterlaluan kalau siswa atau siswi SMA Siliwangi tak mengenal Leia. Siapa lagi kalau bukan Leia itu ketua geng Mabos alias Maung Bodas. Genk yang patut diperhitungkan di tingkat SMA.
Apalagi Leia cewek pertama yang menjabat sebagai ketua genk. Popularitasnya tidak hanya di sekitaran sekolahnya tapi merambah sampai kebeberapa sekolah lainnya. Buktinya ada beberapa genk Mabos yang dari sekolah lain. Tentunya setelah melakukan seleksi yang ketat.
Bruk.
Leia menutup buku Maya dengan paksa. "Gue laper, Maya! Lo gak ngerti bahasa manusia, ya?"
"Eh si Bangsul! Ferdi!!!! Gagan!!!! Emak lo nii!! Cepetan keburu waktunya habis."
Pada akhirnya Maya pun menuruti keinginan Leia untuk pergi ke kantin. Masih dengan mode ogah-ogahan, Maya duduk di meja kantin. Sedangkan Leia tidak ambil pusing dengan ekspresi Maya yang sepertinya ingin disapa dengan pegangan sapu.
Hanya pada Maya, Leia setidaknya bisa mentolerir segala perlakuan yang tidak mungkin anak buahnya lakukan kepadanya.
"Emang si bangsul Ferdi sama Gagan kemana? Gue kagak lihat lagi pas izin ke toilet tadi."
"Gue suruh mereka bolos."
"Eh *****. Emak macam apa lo yang nyuruh anaknya bolos! Kebangetan lu jadi emak."
"Bodo lah."
"Kapan lo tobat sih, Le! Gue doain Mabos tamat riwayat juga lama-lama"
Pletak!
Lagi. Leia menjitak Maya.
"Bismillah dulu kalau ngomong!"
"Le!!! Kalau otak gue kentop terus gue **** kayak lo. Lo harus tanggung jawab! Gak mau tahu. Lagian gaya lo pakai bismillah, sholat aja kagak pernah!"
(Kentop \= penyok)
"Bibir lo ya May. Gue lakban juga."
"Lagian sih lo."
Ponsel Leia bergetar. Maya menangkap sinyal-sinyal amarah pada wajah Leia. Sudah pasti.
"Kenapa Lo?" tanya Maya. Walaupun didalam hatinya Maya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Gue pergi dulu."
__ADS_1
Tanpa basa-basi Leia beranjak dari tempat duduknya. Ia meninggalkan semangkuk baso yang baru habis setengahnya. Maya tidak melirik pada Leia yang pergi. Tetapi sesaat sebelum pergi, Maya bersua.
"Terus aja lo nguji nyawa lo, Le "
******
Leia memicing. Matanya menyelidik pada anak buahnya yang babak belur. Ferdi dan Gagan sudah dipuncak amarah. Tidak terima dengan anak buahnya yang tiba-tiba saja digebuki tanpa alasan.
"Kalian serius anak buah Satria yang ngelakuin ini?" Ferdi bertanya untuk yang kedua kalinya.
"Kalian gak bohong?" Gagan menimpali.
Siswa yang babak belur itu menggeleng. Kesadarannya seakan ada dan tiada. Leia jengah. Rasanya suasana semakin panas.
"Kalian tahu apa yang gue benci?"
Leia bersua. Suasana hening. Tak ada yang berani menyela jika Leia berbicara.
"Gue gak suka kalau fakta yang sebenarnya, kalian yang pecicilan!"
Itulah Leia. Orang yang akan maju paling depan jikalau memang itu melukai marwah Mabos. Tapi kalau hanya karena anak buahnya yang pecicilan alias yang bikin onar tanpa alasan. Jangankan maju paling depan, Leia yang bakalan mengeksekusi anak buahnya sendiri alias D.O dari keanggotaan.
Mabos di tangan Leia memang jauh berbeda dengan Mabos ditangan ketua-ketua yang lain. Leia tidak suka anak buahnya pecicilan. Maka dari itu prinsip Mabos saat ini tebas habis kalau menginjak marwah.
Tidak ada yang protes akan hal ini dikarenakan khas tersendiri bagi genk Mabos bahwa siapa yang jadi ketua mempunyai hak mutlak untuk membuat genk itu seperti apa. Baik anak buah atau mantan ketua tidak berhak ikut campur permasalahan Mabos selama ketua masih ada. Kecuali para mantan ketua wajib menjadi pelindung bagi Mabos.
Hening begitu lama sampai Leia mengucapkan keputusan mutlaknya.
"Bawa anak itu berobat! Dan siapkan pasukan malam ini juga."
"Siap, Bos!"
Leia menerawang mengingat-ngingat wajah Satria 3 bulan lalu.
Ferdi dan Gagan merinding mendengar ucapan Leia. Mereka tahu, jika Leia sudah marah maka tidak ada ampunan. Memori mereka terkenang saat pencalonan ketua satu tahun yang lalu. Ya, ketika Leia masih bergelar calon ketua. Kala itu masih ada Farhan calon ketua juga.
Farhan melakukan kecurangan dan Leia mengetahui. Alhasil Leia menghajar Farhan membabi buta. Hampir mati. Lalu entah kemana Farhan saat ini.
Terakhir terdengar dia mengundurkan diri dari SMA Siliwangi. Namun orang tua Farhan mempermasalahkan hal ini lewat jalur hukum. Hanya saja bukan Mabos namanya jikalau hal ini tidak bisa diselesaikan. Salah satu mantan ketua membantu menyelesaikan masalah ini sehingga berakhir bak kentut yang bau di awal lalu hilang begitu saja.
"Kalian harus siap-siap. Kali aja gue kalap lagi nanti malam," Leia tertawa lepas sedangkan Ferdi dan Gagan tertawa hambar.
******
Maya sulit memejamkan matanya. Waktu baru menunjukkan pukul 21.30. Tugas sekolah sudah semua dikerjakan. Biasanya Maya biasa langsung tidur. Tapi entah kenapa, malam seakan mengabarkan kabar buruk lewat angin yang membelai kulitnya.
"Gue telpon aja kali ya?" gumam Maya. Ia segera mencari nama Leia dalam daftar kontaknya. Ya, ia memikirkan Leia sejak tadi. Tepatnya saat Leia meninggalkannya di kantin.
Drt ... drt ... drt
Panggilan itu lama tersambung. Cukup membuat seorang Maya gemas. Pikirannya melayang pada zona negatif seorang perempuan ketika cemas. Ah, Le ...
"Kenapa?"
Nada tidak ramah itu sukses membuat Maya bernafas lega.
"Lagi dimana lo? Lama amat!"
"Lagi be-ol. Mau lo cebokin gue?"
(Beol \= BAB)
Maya mencebik, "Amit-amit gue harus cebokin elo! Najis mughaladoh."
__ADS_1
"Gue tutup kalau gak ada yang penting."
"Eh Bangsul."
Tut ... tut ... tut
Sepeti biasa Leia akan seperti itu. Maklum Ketua geng mah bebas ngelakuin apa pun. Leia itu ketus untuk mereka yang gak dekat dan hanya Maya yang bisa sangat dekat selain Ferdi dan Gagan. Hanya saja sedekat-dekatnya Ferdi dan Gagan mereka tidak akan berani seperti Maya yang suka mengatai Leia seperti itu.
Ah, Leia ...
"Setidaknya gue lega. Dasar bangsul! Kakak bukan, adik bukan, saudara bukan tapi gue peduli banget kek anak kembar. Pelet lo matih, Le ...."
(Matih \= manjur)
Jauh di relung hati Maya. Gelisah itu masih ada. Maya mencoba mengusir itu. Setidaknya alasan tadi cukup menjadi alasan dia untuk berlega diri.
Jauh dari kediaman kasur Maya dan kawan-kawannya. Leia memasukkan ponselnya setelah memutuskan panggilan secara sepihak. Ia menatap pintu usang dihadapannya.
Jauh dibelakangnya ada sayup-sayup baku hantam yang tak terelakkan.
BRUK!
Leia menendang pintu itu hingga terbuka dan menampakkan sesosok bayangan hitam. Leia masuk tanpa rasa takut. Menjejakkan dendam dan marah yang mengumpul dalam dada.
Tring!
Tiba-tiba saja lampu menyala menampilkan sosok Satria yang sedang berdiri membelakangi Leia. Setra berbalik seraya tersenyum pada Leia. Leia mendecih merasa jijik dengan senyuman penyambutan dari Satria.
"Leia ...."
Ucap Satria. Senyumannya tak luntur dan itu semakin membuat Leia ingin segera menendangnya.
Tanpa terduga Leia langsung menyerang. Lalu tanpa terduga pula Satria menangkis dan mengunci serangan Leia.
Kini Leia berada dalam kungkungan Satria. Leia menggeliat berusaha mencari celah untuk kabur. Leia sekuat tenaga mengunci. Perlu diakui Satria, bahwa Leia tidak bisa diremehkan. Buktinya saat ini tenaganya cukup terkuras hanya untuk mengunci serangan Leia.
Satria tahu dia tidak bisa berlama-lama mengunci Leia. Tanpa diduga, Satria mendekatkan mulutnya pada telinga Leia.
"Sampai sedekat ini pun. Gue masih gak nyangka sama lo, Le ...."
Buk!
Leia membalikkan keadaan. Ia tak peduli dengan ucapan Satria barusan. Lagian ia tidak mengerti dengan hal tersebut.
"Lo tahu? Gue paling benci sama orang yang nyari gara-gara sama gue! Dan lo ... udah gue peringatin berapa kali? Ban*sat! Gue gak bakalan biarin lo kali ini!"
Leia marah.
Sekali.
Leia tidak memberi kesempatan Satria untuk menghindar. Yang aneh adalah Satria hanya tertawa yang tentunya membuat Leia lebih marah.
"Bos!!!"
Gagan berseru. Tapi seakan hanya angin lalu. Gagan entah harus berbuat seperti apa. Melihat Leia seperti itu ...
"LEIA!"
******
Bdg
270820.
__ADS_1