
Leia menginjakkan kaki di sebuah café. Ia mengendarkan pandangan. Matanya tertuju pada dua laki-laki di sudut ruangan. Leia pun menghampiri mereka.
Kedua laki-laki itu mengangguk tak kala melihat Leia datang. Tanda bahwa ia dipersilakan duduk. Tanpa basa basi, Leia meraih dokumen yang disodorkan.
“Jadi … hanya ini hasilnya?” Leia memandang lurus dua orang dihadapannya. Kemudian ia tertawa hambar, merasa tidak habis pikir dengan hasil yang didapatnya dengan uang yang sudah ia habiskan.
“Apa mencari seorang wanita saja itu berat bagi kalian?”
“Bukan. Bukan seperti itu. Hanya saja—”
“Cukup,” Leia melemparkan sebuah berkas, “periksa orang-orang itu. Minggu depan harus sudah ada hasilnya.” Setelah mengucapkan kalimat bernada perintah itu, Leia pergi.
“Bro … itu klien berapa umurnya?” tanya laki-laki berjaket kulit coklat.
“17 tahun."
“17 tahun? Dan dia memerintah seperti itu sama kita? Lagian ngapain nerima klien kayak begitu.”
Laki-laki lainnya tak menggubris. Ia beranjak dari tempat duduknya, “Kalau gak karena uang. Apalagi?”
“Ya, tapi harga diri, Bro ….”
“Persetan dengan harga diri. Perut gak makan harga diri.”
Kedua orang itu pun meninggalkan café. Begitupun dengan Leia. Ia mulai menghidupkan motornya. Suasana hatinya buruk setelah melihat hasil dari informan yang disewanya. Semua ini menjadi rumit. Entahlah, begitulah yang ia rasakan ketika mulai memecahkan kasus kakaknya.
“Lo masih disitu ‘kan?” tanya Leia pada Ferdi melalui ponselnya.
“Masih. Lo jadi kesini? Ada seseorang yang nyariin lo.”
“Siapa?”
“Datang aja.”
Sambungan terputus. Leia mengernyitkan dahi. Siapa yang mencarinya?
***********
“Hai, Le.”
Leia mengangkat tangannya pada pelayan yang menyapanya. “Gue pesen yang biasa, Jack.”
Pelayang yang dipanggil Jack itu mengangguk, “Siap, Le.”
Leia naik ke lantai dua. Ferdi dan Gagan melambai kepadanya. Leia masih mencari-cari sosok yang lain. Siapa lagi kalau bukan orang yang mencarinya?
“Mana yang nyari gue?” tanyanya pada Ferdi dan Gagan.
“Disini.”
Seorang gadis dengan rambut di gerai menghampiri. Leia melotot melihat orang itu. Tidak habis pikir kenapa dia ada disini. Bagaimana seorang Maya bisa masuk ke café & Billiard seperti ini? Maya itu orang lempeng. No melenceng-melenceng.
“Lo sinting?”
Maya yang hendak minum, terhenti. “Gue masih waras, ya!”
“Pulang,” titah Leia tidak ramah.
“Apa sih? Elah … gak boleh gue ngumpul sama temen sendiri?”
“Ya, gak disini juga. Sejak kapan lo mau ke tempat kayak gini?”
“Sejak lo gak bisa dihubungi dari Sabtu sore,” tandas Maya.
Ferdi yang mendengar itu membulat. Sedangkan Gagan yang sedang menyeruput coffe latte-nya tersedak. Mereka terkejut dengan alasan Maya mencari Leia sampai menyusul ke tempat yang tidak disukainya. Ya, Maya tidak pernah suka tempat-tempat begini.
Leia menghembuskan napas kasar, “Pulang gue bilang.”
“Ish! Kenapa sih? Santai aja kali. Gue rasa … tempat ini gak buruk juga.”
Leia hendak meraih tangan Maya. Tapi Gagan lebih dulu menginterupsi.
“Tunggu. Kenapa kalian berdua kesannya kayak orang pacaran? Kalian normal ‘kan?” tanya Gagan penuh selidik.
Leia dan Maya melotor membuat Gagan diam menciut.
__ADS_1
“Leia pasti ada alasan kenapa gak ngabarin lo, May.” Ujar Ferdi.
“Tapi setidaknya balas chat gue, kek. Emang susah ya balas chat gue?”
“Kondisinya gak memungkinkan,” ucap Leia.
Maya menegakkan tubuhnya, “Lo nyerang anak mana lagi?” lalu ia menatap Ferdi dan Gagan, “kenapa kalian gak bilang?”
BUK.
Maya memukul bahu Leia, “Terus aja lo nguji nyawa! Lo nyari apasih dari mereka? Kepuasan? Puas kalau ngalahin mereka? Kalau ada apa-apa terjadi sama lo gimana, hah? Gak sayang nyawa lo, ya!”
Leia merapatkan bibirnya. Kalau sudah seperti ini, ia hanya harus nampak mendengarkan. Jangan membalas karena hanya akan memicu ribuan kata ceramahan lainnya.
Gagan dan Ferdi nampak melakukan hal yang sama. Semenjak kedatangan Maya yang tiba-tiba seperti ini, dapat dipastikan akan ada ribuan ceramahan terlontar. Tentunya mereka cukup mendengarkan, karena kalau membalas … Maya tak segan-segan untuk menggunakkan kekuatan fisiknya. Walaupun paling parah hanya mencubit, tetap saja sakit.
Ponsel Leia berdering. Tentunya ia harus berterima kasih pada yang meneleponnya kali ini karena Maya pun berhenti. Leia sedikit melirik pada Ferdi dan Gagan. Mereka mengelus dada. Rasanya lega juga saat Maya berhenti.
“Gue angkat dulu.”
Leia pun beranjak. Ia mencari tempat yng jauh dari keramaian.
“Halo, Dok.”
“Leia kamu dimana?”
“Di ….”
Ucapan Leia tergantung. Ia sedikit menyingkir ketika tak sengaja hampir menabrak dengan pelayan yang keluar dari ruangan vip. Tak sengaja, ia mendengar suara tawa dari dalam sena. Suara yang ia hafal betul.
“Leia?” Panggil dokter di seberang sana.
Hanya saja Leia tidak menyahut. Ia tertegun di depan pintu vip itu. Tanpa di duga, tangannya membuka pintu itu.
BRAKK
Semua orang di ruangan itu menatap Leia. Sedangkan Leia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Tidak ada. Sosok yang dicarinya tidak ada. Padahal ia jelas mendengar seorang wanita tertawa. Tapi, ruangan itu penghuninya laki-laki semua.
“Siapa ya?” tanya salah satu dari mereka.
Leia tidak menggubris. Jack yang melihat Leia membuka pintu vip, terkejut. Pasalnya pintu yang Leia buka itu adalah pintu khusus yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Bisa kena komplain kalau begini.
Jack menarik lengan Leian keluar. Ia membungkukkan badan dan kembali menutup pintu.
“Kenapa kamu malah membuka pintu itu Le? Gak lihat kalau ruangannya ada yang pake?” Jack menunjukkan pada papan kecil di sebelah pintu.
“Sorry. Gue kira ada temen gue barusan.”
“Lain kali jangan gitu, Le. Masalah ruangan vip suka di booking sama orang-orang kelas atas. You know lah mereka.”
“Sorry ya, Jack.”
“Oke. Lo mau kemana? Ini gue bawain pesenan lo.”
“Toilet.”
“Yaudah. Gue ke meja lo dulu.”
Leia mengangguk. Setelah Jack pergi, ia menelepon Dokter yang menangani kakaknya. Panggilannya yang tadi ternyata diputuskan sepihak.
******
Maya merutuk. Setelah kemarin ia bela-belain masuk ke café billiard itu untuk mencari Leia, sekarang Leia masih belum terlihat batang hidungnya. Pasalnya upacara hari senin akan segera dilaksanakan.
“Lo bener-bener gak tahu, Fer?”
Sudah tiga kali Maya bertanya seperti itu. Dan sudah riga kali juga Ferdi menjawab tidak tahu.
“Gak tahu, May. Harus gimana lagi gue bilangnya.”
“Bukan gitu. Leia bilang mau masuk.”
“Ke gue juga bilang, “ sahut Gagan.
“Sama ke gue juga,“ ucap Ferdi.
__ADS_1
“Terus dia kemana? Lupa kali ya kalau hari ini hari senin?”
Ferdi mengedikkan bahu. Ia yang memainkan game beralih menjadi menelepon Leia. “Gak diangkat,” sahutnya.
“Itu anak kenapa sih? Bikin gue khawatir mulu. Mana tugas gue di dia lagi. Bisa ****** kalau gak dikumpulin.”
“Sabar dong, Neng. Orang sabar disayang Aa,” godaan Gagan membuat Maya bergidik ngeri.
Sedangkan Leia baru memakirkan motornya di sebuah warung. Ya, warung basecamp mereka. Ada beberapa anak buahnya yang masih anteng nongkrong di warung.
“Kalian gak pada masuk?”
Mereka menleh., “Wey, ada Bu Bos. Gak lengkap atribut, Bu bos. Nanti aja masuknya pas dzuhur.”
Leia berdecak. Sepertinya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Karena ia sendiri pun seperti itu. Kali ini ia harus masuk karena tugas Maya ada padanya. Padahal, atributnya juga tidak lengkap. Ia kelupaan memakai dasi.
“Bu Bos mau masuk?” tanya salah satu dari mereka.
Leia hanya mengangguk. Ia membuka jaketnya. Lalu melemparnya ke anak buahnya. “Titip ini,“ ujarnya.
“Siap. Jangan lupa pakai dasinya Bu bos. Nanti dieksekusi sama Bu Dahlia.”
“Sayangnya gue lupa, nih.”
Mereka terkejut, “Alah siah boy … mabal aja Bu Bos.”
“Gak lah. Ada tugas yang harus gue kumpulin.”
“Anjayyyy rajin sekali Bu Bos.”
“Kali-kali ‘kan ya. Gue pergi dulu,” pamitnya.
Leia pergi ke sekolah. Tentunya tidak lewat gerbang utama karea dapat dipastikan sudah di tutup. Tidak juga gerbang belakang karena pasti Bu Dahlia akn sengaja patroli disana. Tapi ia akan lewat pintu rahasia yang selama ini hanya beberapa orang yang tahu. Termasuk dirinya.
Leia mengendap-ngendap. Berusaha tidak mencurigakan orang-orang yang dilewatinya. Setelah sampai di lokasi, ia mennyingkirkan sebuah kursi rusak dan palstik kotor yang menutupi pintu itu.
Leia menendang balok yang menutupi pintu itu dari dalam. Setelah itu ia membungkukka n badan untuk bisa masuk. Ya, pintu itu hanya setinggi satu meter. Sebenarnya itu bukan pintu. Hanya lubang di dinding sekolah yang roboh. Leia dan teman-temannya sengaja menjadikannya pintu untuk keluar-masuk sekolah apabila terlambat.
Leia masuk tanpa ragu. Hanya saja, ia terperanjat tak kala ada seseorang yang tengah berdiri memunggunginya.
“Ngapain lo disini?”
Laki-laki itu berbalik. Semakin terkejutlah ia melihat siapa laki-laki itu.
“Satria? Lo nyari masalah?” saking kagetnya, Leia bertanya hampir seperti berteriak. Otomatis, Satria menutup mulut Leia.
“Pelan-pelan, elah! Bisa ketahuan.”
Leia tak menggubris. Ia malah langsung melepaskan tangan Satria dari mulutya lalu melinting tangannya.
“Lo nyari mati?”
Satria meringis, “Apa-apan lo. Lepas!”
“Lo pikir bisa keluar-masuk seenak jidat lo? Masuk lewat mana, hah?”
“Le … ***** sakit. Ya lewat situ lah. Masa iya gue manjat benteng yang durinya aja kaca? Gue masih sayang nyawa, Le.”
“Mau ngapain lo disini, hah?”
“Sekolah, Le.”
“Apa lo bilang? Sekolah?”
“Gue pindah kesini.”
Tak masuk di akal, pikir Leia. Tak mau mengurlur waktu, Leia membanting tubuh Satria ke tanah.
“ANJIR LEIA!!!”
Satria berteriak keras. Saking kerasnya daun-daun berguguran. Belum lagi burung-burung berterbangan saking kagetnya. Dan yang lebih parah … teriakan itu membangunkan macan dari tidurnya.
******.
###############
__ADS_1
***280820
Bdg***.