Kisah Sang Ketua

Kisah Sang Ketua
CHAPTER 3: KISAH PILU


__ADS_3

"Le!"


Maya menyikut Leia. Ia berusaha membangunkan Leia yang terlelap. Padahal di depan, Pak Agus mulai membagikan kertas ulangan. Ya, hari ini ulangan dadakan. Kek sambel.


"Leiaaaaaaa ...."


Maya gemas sendiri. Pasalnya Leia masih terlelap. Sedangkan Pak Agus sudah membagikan kertas di jajaran paling ujung.


Maya menoleh pada Gagan dan Ferdi yang grasa-grusu membuat catatan nyontek. Benar-benar! Merasa hal itu tidak membantu, Leia berpikir keras. Keras sekali. Sampai-sampai batu pun kalah kerasnya (ya kali lah!)


Ting!


Ide pun terlintas di kepalanya.


"Le, gue minta maaf ya ...."


1


2


3


Jrek!


Dug!


"KAK AR!"


Teriakan itu seketika membuat siswa-siswi menoleh pada Leia. Begitupun dengan Pak Agus. Ia berkacak pinggang.


"Kamu ribut di kelas saya?"


Leia terperangah. Sekilas menoleh pada Maya yang mengulurkan dua jari tanda perdamaian. Benar-benar!


"Sudah sering bolos! Ulangan gak pernah lulus! Sekarang kamu mengacau di kelas saya?"


Leia mengatup bibirnya rapat-rapat. Tak berpikir lama, ia keluar begitu saja membuat Pak Agus geram bukan main.


"Mau kemana kamu? Kamu anggap apa saya ini? Jadi anak tuh yang sopan! Mau jadi apa kamu, hah?"


"Kalau mau ngeluarin ya keluarin aja! Gak usah pakai ceramah!" Seru Leia yang lalu melangkah lebar karena kesal.


Sesuatu bergumul di dalam dada. Menggunung hingga menyekat pada leher. Tak terlihat tapi terasa. Menyisakan sesakkan yang mampu memicu amigdala untuk bekerja lebih.


Leia kesal.


Ditambah tak sengaja bertemu dengan seseorang yang selalu menghindarinya.


Ya. Laki-laki yang sedang bersandar ditembok itu langsung pergi tak kala melihat Leia di kejauhan. Entah kenapa walupaun hal itu sudah sering terjadi, tapi kali ini membuatnya marah.


Leia berubah haluan. Ia berbalik dan memilih bediam diri di toilet. Ia membasuh muka. Berusaha mendinginkan letupan amarah yang bergejolak sedari tadi.


Keran air itu, ia pegang dengan kuat. Ada hal lain yang membuat marah dan sekaligus khawatir. Sesuatu yang ...


Leia merogoh ponselnya. Kemudian ia memencet beberapa tombol. Lalu menempelkannya di telinga. Tak lama seseorang disana mengangkatnya dengan ramah.


"Siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Dok, ada waktu hari ini?"


"Tentu. Datanglah jangan sungkan."

__ADS_1


"Saya segera kesana."


Tut ... tut ...


Mendengar itu, Leia segera merapikan rambut dan bajunya. Ia memasukkan ponsel seraya merogoh kunci motornya. Ia tergesa-gesa untuk memastikan sesuatu.


Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Leia yang tergesa-gesa terhambat dengan hilir mudik siswa lain. Dikejauhan, ada Maya, Ferdi dan Gagan terlihat ingin mengejar Leia.


Hanya saja Leia abai. Ia terus melangkah hingga ke parkiran motor. Ketika hendak menghidupkan motor Ferdi dan Gagan menghampiri.


"Bu bos!" seru Gagan.


"Mau kemana lu?" Tanya Ferdi.


"Gua ada urusan. Di markas lo aja yang tanganin," jawab Leia.


"Bu bos gak akan buat yang aneh-aneh kan?" Gagan menyela. Leia hanya melirik sekilas dan tak berkomentar apa pun. Ia siap untuk meluncur kalau saja teriakan Maya tidak menginterupsinya.


"Le!! Elah maafin gue kenapa sihh?"


Lagi. Leia tidak menghubris. Hal itu membuat Maya semakin yakin kalau Leia marah. Leia menekan gas membuat asap knalpot rx-king miliknya menambah polusi di bumi.


"Leee!!!!"


"Apa sih, May?"


"Maafin gue. Gak sengaja. Abisnya elu dinangunin susah amat kek kebo."


Leia tidak menjawab. Bukan masalah kesal. Tapi, matanya memaku melihat seseorang yang menjadi pusat perhatian di gerbang sekolah. Gagan, Ferdi dan Maya pun tak kalah terkejut melihat orang tersebut.


"*******!"


"Itu Satria? Musuh bebuyutan lo, Le?" ucap Maya ia bertanya tapi tak menoleh sedikitpun pada Leia. "Ganteng juga."


Pletak!


"Aws! Apa sih lo, Fer!" Maya menggerutu karrna jitakan Ferdi. "Jangan liat orang dari bungkusnya, May. Lo gak tahu seberapa ban*sat dia di luaran sana."


"Tapi kan ganteng ...."


"Lebih ganteng Aa kemana-mana, Neng." Gagan menyela yang membuat telinga Maya sakit saja.


"Apa lo lacil! Muka kek pantat kebo aja lo bangga."


"Jangan menghina. Nanti aku pelet terus kamu suka lagi."


Maya bergidik ngeri. Ia mengalihkan pandangam pada Leia yang cukup lama terdiam seraya tangan mengepal.


Semuanya melihat bahwa Satria sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama, Viara sang most wanted SMA Siliwangi keluar dan menghampiri Satria. Sudah dapat dipastikan jika mereka mempunyai hubungan. Sebelum pergi, pandangan mata Satria tertuju pada Leia. Ia melambaikan tangan seakan pada kawan akrab. Tentunya, hal itu membuat Ferdi dan Gagan bingung. Bahkan, Maya sewot melihat hal itu.


"Katanya musuh bebuyutan! Tapi lambaian tangan gitu " ucap Maya.


"Bu bos, gue gak salah lihat kan?" Gagan menaikkan alisnya.


"Maksudnya apa nih?" sua Ferdi.


Leia menatap jengah. "Gue pergi. Urusan yang lain kalian yang tangani."


Tanpa memberi tahu lebih jelas, Leia pergi.


***************

__ADS_1


Ruangan itu, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya vas bunga saja yang silih berganti menggantikan bunga-bunga yang layu. Suara mesin menjadi alunan tak terlewatkan tiap harinya.


"Teja?"


"Hai, Le. Gue baru ketemu dokter. Kangen sama dia. Jadi gue kesini."


Leia hanya menarik sedikit bibirnya. Jika melihat Teja, ia jadi teringat kejadian kemarin malam dan teringat wajah Satria.


"Lo masih marah? Yaelah Le, tenang aja gue jamin Satria gak bikin onar sama mabos lagi. Dia saudara gue. Jangan khawatir."


"Baiknya lo pegang kata-kata lo, Tej."


Teja tersenyum. Matanya beralih pada kaca dihadapannya yang menampakkan temannya itu. "Dia bakal bangun, Le. Gue yakin."


"Dia harus bangun. Karena gue yang akan bawa orang-orang yang jahat sama dia. Hidup atau mati."


"Dan itu kenapa gue rekomendasiin elo jadi ketua. Biar lo leluasa melihat segala kemungkinan." Teja menepuk bahu Leia. "Gue pamit."


Leia hanya menganggukan kepala. Ia pun berganti haluan, mengarahkan kakinya ke ruangan dokter.


"Halo, Le," sapa laki-laki paruh baya itu.


"Hai, Dok."


"Ayok duduk. Teja baru saja dari sini."


Leia mengangguk, "barusan berpapasan."


"Kakakmu baik-baik saja kok. Kamu sabar ya sepertinya dia ingin istirahat untuk sementara waktu. Dia pasti bangun, Le. Lihat ini ... detak jantungnya stabil terus, organ vitalnya membaik walau sangat lambat. Dia berjuang keras untuk bangun. Kamu jangan khawatir."


"Dia harus bangun, Dok."


Dokter mengangguk. "Tentu. Dia harus lihat adiknya yang sangat baik ini. Oh ya, ibumu kesini 2 minggu lalu, bawa anak kecil. Seru ya punya adik baru?"


"Adik baru?"


"Ya ... siapa namanya? Saya belum sempat bertanya. Karena waktu itu saya buru-buru harus operasi."


Leia bingung. Sejak kapan ia puny adik? "Inem kali."


"Hahahha ... masa iya Inem. Di tahun 2020 gitu lho ... mana mung---"


Kring .... kring ...


"Ya. Halo? Apa? Operasi? Ya ... ya segera kesana."


"Le, saya harus operasi darurat. Bisakah kita lanjutkan besok untuk pembicaraan ini?"


"Baik, dok."


******


Leia menghirup napas dalam-dalam. Rasanya, oksigen diruangan itu semakin menipis. Padahal, jendela sudah terbuka lebar. Tangan Leia meraih jemari Arsel -Kakaknya- yang koma sejak 5 tahun yang lalu.


"Kak, aku mohon bangun."


_________________________


270820


Bdg.

__ADS_1


__ADS_2