Kisah Sang Ketua

Kisah Sang Ketua
CHAPTER 2: GENK MABOS


__ADS_3

Ketika matahari mulai terik dan burung-burung di pohon sibuk berkicau ria. Ketika siswa-siswi sibuk bercengkrama sebelum memulai sesi pemenuhan pengetahuan kembali. Ketika itu, derap langkah yang sukses membuat beberapa siswa-siwi yang duduk di koridor memilih menyingkir dan tidak berurusan sama sekali.


Siapa lagi kalau bukan karena kedatangan Leia dan kawan-kawannya. Preman sekolah yang kenyataanya, sekolah pun susah untuk membubarkan genk Leia. Bukan karena sekolah terlalu mentolerasi. Bukan juga karena sekolah terlalu takut pada mereka. Hanya saja, berbagai cara telah dilakukan, genk Mabos tetap saja langgeng sampai saat ini. Mereka percaya pada kata-kata leluhur mereka yang menjadi prinsip genk Mabos sampai saat ini.


"Semakin banyak orang yang ngedoain gak baik. Semakin langgeng."


Leia duduk diantara desakan siswa siwi yang ingin mengisi perutnya. Tak lupa, Ferdi dan Gagan segera memesankan apa yang dinginkan Leia. Terlihat seperti majikan dan pembatunya memang. Tetapi jauh dari hubungan itu Leia tidak pernah menganggap seperti itu pada Ferdi dan Gagan. Shaina menganggap sahabat walaupun status mereka anggota.


"Bu Bos Le ... ini yang lo pesan kemarin," ucap Gagan seraya mengengeluarkan keresek putih berisi obat-obatan.


"Thanks."


"Luka lo masih basah? Padahal sudah seminggu," Gagan sedikit khawatir sekaligus ngeri ketika Leia dengan entengnya membuka perban yang membalut lengan atasnya. Leia itu tipe cewek kalem tapi sering meledak tak terkira jika ada hal yang sudah melanggar apa yang sudah ia tetapkan. Contohnya Satria.


Leia meraba-raba lukanya karena susah untuk digapai. Gagan menyodorkan perban yang telah ditetesi obat merah. Perih.


"Eh, bangsul!"


Pundak Leia ditepuk sengaja. Alhasil perban yang baru saja ditempel jatuh begitu saja karena belum direkatkan. Pelaku penepuk hanya menyengir lebar saat Leia memajangkan ekspresi kesalnya.


"Kenapa sih?" ucap Shaina tak suka.


"Eh ada Neneng Maya ...," Ucap Gagan dengan sapaan keramatnya pada Maya. Manusia pecicilan yang gak tahu malu ini -menurut Maya- adalah spesies yang harus di punahkan.


"Apa lo lacil! Gue rontokin juga tuh gigi!" Maya mendelik dengan kekuatan penuh. Lacil alias laki-laki pecicilan. Sebutan baru dari Maya untuk Gagan. Satu kebiasaan yang harus kamu ketahui dari seorang Maya. Dia sering melabeli orang-orang seperti lacil, bigos (biang gosip), cemur (cewek murahan).


"Jangan gitu dong, Neng. Nanti manusia uniq kayak AA, punah."


"Manusia macem lo itu emang harus dipunahkan tahu gak?"


Maya melirik pada Leia. Matanya mengerjap melihat luka di lengan Leia. "Belum sembuh, Le?" Sama dengan Gagan dan Ferdi, Maya pun khawatir. Maya duduk disebelah Leia. Tangannya meraih perban dan obat merah lalu dengan lihai merekatkan pada luka Leia.


"Makanya lo jangan suka ngebohong sama gue, Le. Kualat kan lo," todong Maya.


"Apa sih, May."


"Jangan ngeles, lu! Gue udah mafhum taktik kebohongan lo! Kemarin lo nyerang geng mana lagi?" Maya tak sabar. Selalu tak sabar jika mengenai Leia.


"Aduh Neng, sabar atuh. Tenang Bu Bos mah nyawanya sembilan."

__ADS_1


"Lu kira Leia kucing? Bangsul amat lo jadi cowok. Katanya anggota Mabos paling setia tapi lihat? Leia sampai kayak gini. Cemen lu jadi cowok!"


Leia melihat agak lama pada Maya. Tanda kalau dia sudah risih.


"Gue tuh khawatir, May! Lu tuh cewek! Sehebat apapun lo, tenaga lo bakalan kalah sama cowok. Heran gue, Kak Herlan kok bisa-bisanya ngasih jabatan ketua sama lo."


"Itu artinya gue itu bisa. Lagian bisa gak sih lo santai aja?" Jawab Leia membuat Maya tak berkutik. Pada akhirnya mereka beralih topik seraya Ferdi dan anak lain yang dipastikan genk Mabos juga membawa beberapa makanan.


Disela-sela canda tawa mereka. Sebuah pesan masuk menginterupsi. Leia mengecek. Ternyata dari Teja. Mantan ketua ke-11 genk Mabos.


Mabos sebenarnya berdiri sudah lama, hanya resminya 13 angkatan ke belakang. Tepatnya tahun 2007. Didirikan oleh si ketua pertama yang sekarang entah dimana keberadaanya. Lambang kebesarannya mengikuti lambang sekolahnya yakni seekor harimau putih. Itu kenapa genk ini dinamai Mabos alias Maung Bodas.


Selidik punya selidik, alasan lain dinamakan itu karena si ketua pertama mengidolakan Prabu Siliwangi yang riwayatnya moksa jadi maung bodas. Walaupun si ketua pertama entah kemana sepeti lagu Ayu Ting-Ting, tapi keanggotaan masih berlanjut sampai sekarang dijabat oleh Shaina, ketua ke-13.


Teja:


Malam ini jangan lupa, Le.


**********


Brum .... brum ... brummm


Seseorang melambaikan tangan. Leia berjalan mendekatinya. Tersenyum. Setidaknya begitu.


"Gue kira, ini acara kita doang. Ngundang yang lain juga ternyata," ada nada risih yang tersirat didalamnya.


"Slow, Babe. Ini malam persahabatan. Gue kira kedepannya gak harus mantan ketua Mabos aja yang hadir tapi ketua genk lain yang pro sama kita menurut gue patut lah di ajak. Just have fun, Babe."


Leia hanya menarik alisnya. Ia mengedarkan kepala. Ada beberapa orang yang ia kenal. Orang-orang yang dulu musuh dan mulai mengakui eksistensi Mabos.


"Genk Mabos emang lagi ketiban durian runtuh. Cewek cantik model lo jadi ketua. Seger semua tuh anggota mabos," celetuk Gio ketika matanya menangkap kehadiran Leia.


Leia berdecak, "Iya kalau gue pakai pakaian kurang bahan tiap hari. Buktinya tiap hari pakai kaus oblong, eneg juga mereka."


"Kita patut berbangga, Bang. Gue dapat laporan dari anak alumni Mabos kalau ada beberapa genk lain yang kagum banget sama eksistensi Mabos berkat Leia tentunya," ujar Teja. Beberapa mantan ketua Mabos berdecak kagum. Memang tidak hadir semua. Karena beberapa mantan ketua sudah tidak bisa dihubungi.


Oh ya, party kayak begini sering diadain oleh mantan ketua mabos untuk ajang silaturahmi. Itu bahasa faedahnya. Bahasa unfaedahnya sih just have fun gitu.


Kini memang giliran Teja yang ngadain acara. Bedanya dia ngundang juga ketua dari genk lain. Tentunya yang udah jinak sama Mabos.

__ADS_1


"Bukan alkohol, Le. Be Calm, okay?" Teja bersua tak kalah melihat Leia ragu untuk meminum minuman yang disajikan.


"Lo kan sering ngerjain gue."


"Gue tahu lo, Le. Gak mau kalau tiba-tiba muka gue bonyok karena elo."


"Jangan macam-macam makanya."


"Pasti-pasti. Lagian lo tuh alim banget. Gue denger lo mengecam apapun bentuk pecicilan untuk para anggota?"


Leia tidak menggubris. Matanya menangkap sesuatu yang tidak mengenakkan. Seseorang yang tidak pernah ingin Leia lihat.


"Itu Satria. Saudara jauh gue. Sekaligus genk anak SMA sebelah."


"Lo tau apa yang kemarin dia lakuin ke anak-anak?" nada Leia terdengar mengintimidasi.


"Kenapa emang?"


"Gue balik."


"Le!"


Leia berhenti tepat didepan teras depan. Bukan berubah pikiran tapi tangannya dicekal paksa.


"Jangan macam-macam lo!" Wajah Leia yang terbiasa kalem kini berubah nyalang.


"Gue gak mau macam-macam. Cuman mau kasih tahu, gak sopan ninggalin acara kayak begitu. Apalagi ini acara mantan ketua genk lo. Gak sopan. Nakal boleh tapi sopan santun dijaga," ucap Satria diplomatis.


"Jaga sopan-santun kata lo? Kelakuan lo yang harus diajarin sopan-santun!"


"Gue tahu. Gue salah. Gue mau damai sama genk lo. Itu kenapa gue datang. Tahunya sepupu jauh gue juga mantan ketua genk elo."


"Gue nolak."


Leia pergi tanpa permisi. Menghilangkan sejuta emosi yang mengebiri hati. Baginya tak ada cela walau semili.


*******


279820

__ADS_1


Bdg.


__ADS_2