
Seorang gadis bertubuh kecil tersandung oleh kaki temannya sendiri. Beberapa diantara mereka meluncurkan tawanya. Seorang gadis dengan rambut kepang kuda menempelkan secarik kertas kepada gadis yang tengah meniup sikut dan lututnya yang terluka.
Merasa tak ada yang membantu gadis kecil memakai kacamata itu tersenyum. Berusaha berdiri sendiri, setelah berhasil ia kembali melanjutkan langkah mungilnya.
"Hai gue gila ! kalau kalian butuh babu bisa hubungi gue."
Desas-desus mulai memenuhi koridor kata-kata yang sama terulang dari setiap lisan para murid. Lia sang gadis yang menjadi tatapan seantero sekolah mulai ketakutan.
Seseorang yang datang dari arah barat, sembari mendribble bola basket miliknya. Mulai menghampiri Lia, lalu menarik paksa kertas yang menempel pada punggung gadis lugu itu.
"Lain kali Lo harus lebih berani!" Pemuda itu berujar ketus dengan ekspresi dingin tak tersentuh.
Hal itu membuat Lia merasa aneh akan sikap pemuda berambut Harajuku tersebut. Tak menampik ia segera memeriksa kertas yang kini tergeletak dilantai koridor sekolah. Pantas saja jika semua orang mengucapkan kalimat dan hinaan yang sama. Ternyata penyebabnya hanya selembar kertas yang tertempel di punggungnya.
Tak ambil pusing, karena merasa tak berani Lia melangkahkan kaki untuk menuju kelas. Ia masuk pada kelas VII B, berjumlah 32 murid dalam sekelas. Dan murid paling penakut adalah dirinya sendiri. Saat ini mereka tengah belajar matematika, seperti biasa mereka belajar menggunakan buku paket dari perpustakaan. Dikarenakan Lia adalah murid penakut, disaat tidak ada satupun yang mau keperpustakaan untuk mengambil buku. Ia berinisiatif untuk melakukannya.
Sesampai perpustakaan, ia meminta buku kepada penjaga perpustakaan. Diantar ke lorong buku khusus matematika, ia mengambil beberapa buku sesuai jumlah anggota kelasnya.
"18, 19, 20, 21, 22, 23—27—32."
Tengah asyik menghitung jumlah buku ada suara seseorang yang tengah memanggil.
"Eh Elo!" teriak gadis dengan rambut dikepang.
Tak merasa dipanggil, Lia hanya diam berusaha menghindari gadis yang jika diingat adalah pelaku penempelan kertas di koridor saat jam istirahat pertama tadi.
"Eh Elo!" Gerutu orang tersebut menahan kekesalannya.
Lia masih diam, enggan untuk menanggapi atau lebih tepatnya tengah menghindari masalah.
"Budek ya Lo! Gua manggil Elo dari tadi bego!" Gertak gadis itu serambi menarik kasar rambut kuncir satu milik Lia. Lia menjerit kesakitan, tetapi penjaga perpustakaan tak terlihat sama sekali. Air mata lolos membasahi pipinya. Enggan untuk melawan dan berucap Lia lebih memilih untuk menangis.
"Gua peringati ke elo! jauhin Bram, dia masa depan gua! jangan sampai lo dekatin Bram!" Hardiknya seraya menunjuk kasar muka Lia.
Sementara Lia hanya diam seribu bahasa, tanpa berani memberontak sedikitpun. "Ngarti kan Lo!" gadis itu meyakinkan Lia paham akan ucapannya barusan.
Lia mengangguk, walaupun sebenarnya ia bingung, diminta untuk menjauhi Bram! bahkan ia sama sekali tidak mengenal Bram, siapa itu Bram?
__ADS_1
...****************...
Bukk!!
Seorang gadis bertubuh kecil yang tengah membawa setumpuk buku, menabrak seseorang sehingga secara bersamaan mereka terpental kelantai. Gadis itu hanya diam lalu mulai memungutinya, bersamaan dengan seorang pemuda yang ikut membantunya mengumpulkan buku yang berserakan.
"Nih! makanya lain kali kalo jalan liat dulu dong! mana buku yang Lo bawa kebanyakan!" Pemuda itu menyodorkan beberapa buku yang langsung diterima oleh gadis tersebut.
"Ma—maaf!"
"Iya-iya lain kali hati-hati —
—eh elo lagi! kenapa si setiap gue ketemu elo bawaannya apes mulu!" ujar pemuda itu saat menyadari siapa gadis yang berada dihadapannya.
"Ya—ya ma—maaf!" gadis merasa canggung, sehingga kalimat yang terlontar menjadi terbata-bata.
Merasa semakin awkward gadis itu berlari pergi meninggalkan pemuda yang terlanjur kesal. Namun gagal, pemuda itu berhasil meraih jemari gadis itu. Sehingga keduanya tertahan dalam jarak yang cukup dekat.
"Eitss, mau kemana Lo! enak aja gua ditinggal!" Pemuda itu menatap gadis dihadapannya dengan seksama. Merasa semakin ketakutan gadis itu menangis, hal tersebut membuat pemuda itu tampak khawatir.
Berkali-kali ia mengucapkan kata maaf, namun gadis dihadapannya tak kunjung diam. Terpaksa ia merengkuh tubuh kurus dihadapannya, dan mengusap pelan puncak kepala gadis tersebut.
"Makasih Kak!" Gadis itu cukup sadar diri jika pemuda ini merupakan seorang senior.
"Hmm, Udah mending Lo duduk dulu deh"
"Gausah, mending gua balik kekelas! pasti gue lagi dicariin anak-anak, bukunya aja sama gue gini! pasti bakalan dihukum ini." Gadis itu menutupi mulutnya sendiri, tanpa sadar ia telah cukup cerewet hari ini.
Pemuda disampingnya hanya terkekeh, dengan senang hati membawakan buku tersebut, dan mengantarkannya kekelas sigadis berkacamata itu.
Sesampainya dikelas semua murid termasuk sang guru mulai berteriak kepadanya. Menanyakan keberadaan buku yang akan ia ambil. Beserta kenapa ia bisa datang begitu lama padahal masih dalam jam pelajaran.
"Mana bukunya?"
"Payah banget sih! gitu aja lama!"
"Tahu tuh, habis ngapain aja Lo?"
__ADS_1
"Jual diri?"
"*****!"
"Cukup anak-anak, oke Lia mana buku yang Ibu suruh ambil?"
"A—ada kok Bu, nah itu bukunya,"Ujar Lia saat melihat pemuda tampan datang untuk mengantarkan buku.
"Kenapa kamu menyuruh dia untuk mengantarkan buku ini? saya kan suruhnya kamu!" Teriak Miss Nuri kesal.
"Ma—af Bu,"Lia menunduk dalam.
"Maaf bapakmu! kamu itu benar-benar ya! dasar aneh!"Hardik Miss Nuri terdengar lantang.
Tak terima pemuda itu menurunkan buku tersebut tepat pada meja guru secara kasar. Buku-buku itu sebagian besar berhamburan kelantai. "Makan tuh buku!"Ketus pemuda itu sembari menggebrak meja.
Merasa emosinya ikut tersulut, Miss Nuri ikut mengebrak meja.
"Udah nyuruh cewek bawa buku sebanyak itu! masih aja marah-marah, dikelas ini kayak ga punya anak cowok aja! freak emang! nenek lampir!"Kesal pemuda itu menahan emosi yang mulai tak terkendali.
"Jaga ucapan kamu, saya ini guru kamu!"
"Mana ada seorang pendidik kelakukan nya ga bener kayak Miss heh!"
"Ka—muuuuu! keluar!" Miss Nuri berteriak murka.
Pemuda itu segera berlalu tak lupa membanting pintu kelas dengan kuat. Bunyi nyaring dari hempasan pintu membuat semua terdiam.
Emosi Miss Nuri semakin memuncak, melampiaskan kekesalannya ia menampar Lia dengan sangat keras.
"Aww!"Rintih Lia memegangi pipi kirinya yang terasa kebas. Menahan air mata yang hampir keluar, tanpa memperdulikan kegaduhan yang terjadi, ataupun kemarahan Miss Nuri berikutnya.
Lia segera mengemasi barang-barang miliknya, beranjak pergi mengikuti langkah kaki. Entah kemana ia akan pergi, berhasil menerobos gerbang sembari dikejar satpam sekolah. Ia terus berlari mengabaikan kendaraan yang berlalu lalang. Menerobos keramaian kendaraan yang melintas, hingga sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan cepat. Menghantam tubuhnya yang perlahan-lahan jatuh ke aspal. Darah segar mulai merembes, mengalir membasahi jalanan. Beberapa warga dan murid mulai menghampiri, membuat kerumunan memastikan korban kecelakaan masih bernyawa. Seseorang datang dengan terburu-buru, setelah menelpon ambulans ia bergegas pergi.
...****************...
Prank!!
__ADS_1
Sebuah Gelas kaca terjatuh dari tangan seorang ibu yang hendak minum. Ia menatap serpihan beling yang mulai berserakan. Melafalkan istighfar berkali-kali untuk sekedar menenangkan hati. Ia yakin jika ada suatu hal buruk yang tengah terjadi. Saat berusaha untuk membereskan serpihan kaca, tanpa sengaja salah satu jarinya tertusuk beling. Darah mulai menetes secara perlahan-lahan, semakin takut wanita paruh baya itu berdoa agar diberikan keselamatan untuknya beserta keluarga.
Tak lama ponsel miliknya pun berdering, setelah menerima panggilan tersebut. Seseorang mengabarinya jika putrinya menjadi korban tabrak lari. Dan sekarang tengah berjuang diruang UGD RS Fatmawati Jakarta Selatan. Orang itu mengaku jika ia adalah temannya Lia, dan ia menemukan Lia didepan gerbang sekolah. Tanpa berpikir panjang Bunda Risty segera menuju kerumah sakit.