Kisah Untuk Kita

Kisah Untuk Kita
Bab Dua


__ADS_3

Bunda Risty menemukan Pemuda yang tengah menatapi anaknya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Menghampirinya membuat pemuda itu terlihat kikuk.


"Assalamualaikum." Setelah menjawab salam, Pemuda itu menyalimi tangan bunda Lia.


"Terimakasih ya nak, sudah mau direpotkan!"


"Sama-sama Bu, kalau gitu saya permisi dulu ya Bu, sudah dicariin mama daritadi."


"Baiklah! Siapa namamu?"


"Bram Prasetyo Bu," Bram tersenyum ramah lantas berlalu meninggalkan bunda Risty bersama Lia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


*3 Tahun Kemudian*...


Lia sekarang berbeda dengan Lia yang dulu, tiada lagi gadis penakut. Dia menjadi gadis mandiri dengan berpenampilan tomboi. Meskipun sudah tidak adalagi yang berani untuk membully-nya. Lia tetap tidak ingin berteman dengan siapapun.


Lusa ia akan kembali bersekolah, bukan disekolah yang dulu. Semenjak ia kecelakaan Bunda Risty sengaja memindahkan dirinya kesekolah lain. Saat ini Lia bersama kedua orangtuanya tengah berada di Mall pusat kota. Sehabis menonton bioskop dan bermain Timezone sepuasnya. Lia berencana untuk mengutarakan keinginannya.


"Bun! Lia pindah sekolah lagi boleh ga?"


"Lho, kenapa sayang? bukannya sekolah yang sekarang lebih bagus ya?" Komentar Ayah Dimas.


"Bosan Yah! Lia ga punya teman!"


"Kamu sih terlalu tertutup!"Sarkas sang Ayah.


"Lho! Lho! bukannya kamu punya teman ya? itu dulu pas kamu kecelakaan bunda ditelpon seseorang, ngabarin kalau kamu kecelakaan, trus sampe rumah sakit bunda ketemu anak cowok, ganteng banget! terus baik sama sopan, bunda pikir pacar kamu!" Risty berusaha mengingat kejadian yang telah lampau, sementara Lia justru malah terkekeh.


"Yakali pacar! siapa juga yang mau, kayak dibolehin aja aku pacaran."gerutu Lia memanyunkan bibirnya.


"Boleh aja sih, asalkan ya sama dia! eh tapi ga usah pindah dulu ya, nanggung kan mau ujian nasional juga kamu! beberapa bulan lagi juga hari kelulusan" Lia hanya mengangguk patuh pada permintaan sang bunda.


...****************...


Dikota Bandung....


Seorang pemuda tampan yang tengah mendribble bola basket miliknya. Menghentikan aktivitas, lalu mendudukkan dirinya pada sebuah bangku kayu didepan halaman belakang rumah. Memikirkan sebuah gelang berwarna hitam dengan inisial A S, yang telah menghilang sekitar beberapa bulan yang lalu. Tetap optimis ia segera berlari menuju kedalam rumah, melewati ruang tamu ia segera menaiki undakan anak tangga untuk mencapai kamarnya.


Setelah sampai dikamar ia segera membongkar satu-persatu lemari miliknya. Mengeluarkan semua barang didalam laci membuat keadaan kamarnya tampak begitu kacau. Sampai seseorang perempuan cantik datang, membuat pemuda itu menatap sang kakak dengan tatapan sedih.


"Astagfirullah dek, kamu ngapain sih recokin kamar! ketahuan mama, bisa kena amuk! atau semua fasilitas bakalan di berhentikan sama papa!"Tegur Silvia.


"Apaan sih, Lo kok baru datang malah berisik, ga tahu adeknya lagi pusing apah? Biarin, lagian papa ga ada dirumah kok,"Ujar pemuda itu memang sembari memeletkan lidah untuk mengejek sang kakak.


"Lagi nyari apaan sih?"Kepo Silvia.


"Nyariin gelang gue! Lu ada liat ga, warna item! ada inisial A S nya gitu lho,"


"ga tahu gue!"


Tak berselang lama ponsel milik pemuda itu berdering, tanpa berpikir panjang ia segera mengangkat telpon tersebut. Mengobrol sebentar lalu sambungan pun berakhir.


"Siapa?"

__ADS_1


"Mama!" Pemuda itu menatap Silvia yang tampak ingin bertanya, sebagai lelaki yang peka ia menghela nafas.


"Mama ga pulang hari ini, dia ada proyek diluar kota" Imbuhnya membuat Silvia ikut menghela nafas berat.


"Kak bantuin nyari dong, gelang itu penting banget buat gue."


"Sepenting itu? emang dari siapa?"


"Gua curi! bukan dikasih,"ujar pemuda itu sembari menggaruk kepalanya.


"Temen?"tanya Silvia membuat pemuda itu mengangguk samar.


"Anak SMP lama gue, yang dijakarta!"


"Hah? bukannya elo ga punya teman, eh banyak penggemar sih, tapi kan elo cuek banget! berarti spesial dong ya orangnya."


"Nah, makanya bantuin nyari!"


"Kalau ketemu, gua dapat apa?"


"Pamrih Lo!"pemuda itu menyentil jidat sang kakak, membuat Silvia meringis kesakitan.


"Biarin!"ketus Silvia akhirnya.


"Gue bantu Lu Deket sama Kak Liam deh,"


"Oke!"


Mereka pun berpencar untuk mencari gelang tersebut, setelah beberapa lama mencari. Memakan waktu sekitar 30 menit, Silvia menemukan gelang tersebut didekat pinggir kolam berenang milik mereka.


"Syukurlah, sini kasih ke gue!"pemuda yang dipanggil Ibam itu meraih gelang yang dipegang oleh Silvia.


"Eits, enak aja! gue ga mau kasih! cerita dulu."Silvia menjauhkan gelang itu dari sang adik.


Mendelik tak suka pemuda itu memulai ceritanya "Ada alasan kenapa gue nyuruh papa buat mecat Miss Nuri, dan pindah dari Jakarta ke Bandung! itu semua demi gadis yang gue curi gelangnya ini! Lo kenal Siska kan? saking terobsesinya dia ke gue! dia nyiksa semua cewek yang deket-deket ke gua! udah sini gelangnya."pemuda itu merebut paksa gelang dari tangan sang kakak.


"Hah? kenapa Lo pacaran sama Siska, kalau Lo gasuka dia?"


"Gue rasa Lu tahu jawabannya kak!"


"Dia ngancam Elo Bam?"Ibam mengangguk lalu menatap kakak nya dengan pandangan tidak suka.


"Kepo banget jadi kakak,"Komentarnya.


"Gua pacaran sama Siska demi lindungi gadis yang gua curi gelangnya. Gua curi gelang ini pas dirumah sakit! Cewek itu kecelakaan! karena gua tahu kalau bakalan pindah dari Jakarta. Inisiatif gua ambil gelangnya buat kenangan. Lagian sehari sebelum kita pindah ke Bandung, Siska nyamperin gue. Dia minta buat gua harus turuti semua kata-kata dia kalau memang ingin gadis pemilik gelang ini selamat. Dia minta kita harus satu sekolah, dan kebetulan buruknya Siska anak Tante Dania, sahabatnya mama kita. Dan mereka sepakat buat jodohin gua sama Siska, meskipun gua ga mau!"


"Kenapa Lu ga jujur sama mamah aja si Bam? Lu bakalan rugi, oke Lo cuma lindungi gadis itu! tapi kalau sampai kalian menikah, apa Lo mau?"


"Ogah banget lah, orang gua juga lagi berusaha buat nyari Lia"Ibam menutup mulutnya, ia menyesal telah menyebutkan nama gadis itu.


"Owh nama gadis yang Lu suka itu Lia ahahhaha"ledek Silvia dengan raut tak terbaca.


Ibam tak menanggapi justru memakai gelang yang tadi ia cari. Sementara Silvia menagih janji agar Ibam mau mendekatkan ia dengan Liam. Sang anak kuliahan, yang tinggal di blok rumah sebelah. Pemuda itu sangat populer, ia merupakan seorang anak jurusan kedokteran yang menyandang predikat sebagai seorang aktor tanah air. Liam merupakan teman satu klub basket dengan Ibam. Meskipun tertutup Liam merupakan orang yang baik. Banyak gadis yang memuja ketampanannya.


...****************...

__ADS_1


Seorang gadis pemakai pita berwarna putih tengah menatap sapu tangan bergaris hitam didalam genggamannya.


"Gue kangen, cuma Lo satu-satunya teman yang pernah gua punya,"ujarnya lirih.


"Seandainya gua tahu kalau Lo bakalan pergi tinggalin gue jadi itu, dan hari itu adalah hari terakhir gue ketemu elo! pasti gue udah nahan elo, supaya ga pergi," gadis itu tercenung mengingat beberapa tahun yang lalu.


3 tahun nan silam...


Saat itu Lia dihadang oleh seorang kakak kelas dan memarahinya habis-habisan. Membuat Lia ketakutan dan menangis penuh kesedihan. Kejadian itu terjadi sehari sebelum ia kecelakaan.


"Heh pembawa sial!"teriak sang kakak kelas.


"ke—ke—kenapa kak?"Lia sungguh gugup luar biasa.


"Mending Lo keluar aja deh, pembawa sial! gegara elo Miss Nuri dipecat!"gadis yang merundung Lia saat ini adalah gadis yang sama saat melabraknya tempo lalu.


"Miss Nuri dipecat?"tentu Lia sangat kaget, hari pertama ia bersekolah setelah bangun dari koma. Masih tetap sama, tidak akan pernah ada yang berbaik hati, atau membuat pilihan untuk menjadi temannya.


"Kenapa? kaget!!"hardik sang kakak kelas lalu melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi kanan Lia. Membuat gadis itu tertoleh, dan meringis kesakitan.


"Berapa kali lagi, gue minta Lo jauhin Bram! Jauhi Bram! atau hidup Lo bakalan lebih hancur dari yang sekarang!"teriak sang kakak kelas kehabisan kesabaran.


"Ma—maaf kak!"Lia tertunduk menahan pedih pada hatinya serta perih pada pipinya.


Tak dapat menahan pedih maupun perih, Kita memutuskan untuk membiarkan air mata nya berjatuhan. Sampai seseorang datang dan memeluknya secara tiba-tiba.


"Lo ga perlu minta maaf!"


"Sekali lagi Lo ganggu dia, bakalan berhadapan sama gue Siska!!"


"Bram! ta—tapi dia yang salah!"Siska berusaha membela diri. Namun Bram pergi bersama kemarahannya.


Bram membawa Lia ke taman belakang sekolah, menenangkannya dengan cara memeluknya. Setelah tangis gadis itu cukup reda, Bram menghapus sisa air mata gadis itu menggunakan saputangan miliknya.


"Udah, jangan nangis lagi! ada gue," Bram tersenyum membuat Lia terpaku.


"Kalau ada apa-apa cari gue, Lo boleh cerita apapun ke gue, jangan nangis lagi, please!!"


"Emang kenapa kalau gue nangis?"


"Hati gue sakit liatnya"gumam Bram yang masih mampu didengar oleh Lia. Bram memberikan saputangan tersebut agar Lia lebih leluasa untuk menghapus sisa air matanya.


"Salah gue apasih ke mereka? kenapa gue selalu di-bully? kalau bisa gue juga pengen lenyap dari muka bumi ini! gue nyesal kalau diberikan kesempatan hidup!"maki Lia putus asa.


"Ada gue"


"Gue pengen punya teman juga kak!"


"Gue! Gue teman Lo! selalu ada buat Lo! Lo harus janji sama gue, setelah semua keadaan membaik! Lo harus pindah sekolah! Lalu jadi Lia yang pemberani! jangan takut, gue selalu doain Lo!" Bram memejamkan matanya lalu memeluk Lia sekali lagi.


"Bram itu siapa sih kak? kok kak Siska minta aku jauhin Bram? kalau gua tahu siapa Bram! gue juga bakalan mau dekat-dekat, supaya kak Siska ga bully gue lagi."


Bram bingung harus menanggapi seperti apa, ia janji setelah ini akan membuat hidup Lia tidak berat. Meminta sebuah pulpen dan selembar kertas, Bram mulai menulis disana. Setelah selesai ia melipat kertas itu dan memberikannya kepada Lia, meminta gadis itu membukanya saat sudah tiba dirumah.


Lia terkejut mengingat jika surat itu belum sempat ia baca, ia segera berlari menuju kamar untuk mencari sebuah kotak peti kayu. Setelah menemukannya, ia mulai mengeluarkan sebuah kertas yang cukup lusuh.

__ADS_1


__ADS_2