
Setelah masakannya jadi, ia membangunkan Cakka. Ia yakin jika pemuda itu belum menyantap apapun seharian. Merasa terganggu, akhirnya Cakka membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Lia dengan senyuman manisnya. Dan kamar apartemen serta sudut apartemen yang sudah rapi. Beserta nampan berisi makanan yang tersaji dihadapannya. Lia duduk disebelah Cakka, merasa lapar Cakka ikut duduk.
Mengerti dengan kondisi yang terjadi, Lia mulai menyuapi Cakka. Membuat Cakka tertegun, tak mau salah tingkah ia segera melahap makanan yang diberikan kepadanya. Setelah selesai ia meneguk teh hangat yang diberikan Lia untuknya.
"Lapeer banget ya kamu?"Lia terkekeh dan membersihkan sisa makanan disudut bibir Cakka.
Cakka yang mulai salah tingkah hanya dapat mengangguk samar. "Masakan kamu enak,"puji Cakka jujur.
"Kamu kenapa? mau cerita ga?"
"Aku ga papa, makasih udah mau datang dan bantu aku,"tukas Cakka mengalihkan pandangannya kesamping.
Lia yang teramat peka hanya mengangguk, lalu memeluk Cakka secara tiba-tiba. Ia tahu jika saat ini Cakka pasti sangat membutuhkan kekuatan. Ia berharap dengan tindakan ini, Cakka dapat melebur perasaannya menjadi sedikit lebih baik. Meski terkejut Cakka membalas pelukan Lia dan diam-diam menangis.
...****************...
Sementara Iqbaal yang sedari tadi sampai dirumah, masih menantikan kepulangan Lia. Merasa bosan ia mengajak Dante untuk bermain game. Tentu Dante mengomeli nya terlebih dahulu. Niat mengerjai Dante malah ia yang dikerjai oleh takdir.
"Makanya elo kalau nyuruh Lia itu yang benar! sekarang kita kan yang ribet, kalau sampe dia ga pulang! habis Lo bakal di omelin mamah!"
"Ya maap kak! si Lia aja tuh menghilang tanpa jejak!"
"Apa Lo berdua malah ghibahin gue?"teriak Lia saat memasuki rumah dan melempar kedua sepupunya dengan bantal.
Dante dan Iqbaal berdiri bersamaan, lalu memeluk Lia dengan erat. "Aduh untung Lo udah pulang,"tutur Iqbaal mewakili.
Lia menceritakan insiden yang terjadi, dari ia sial saat ditoko buku, dan kejadian yang menimpa Cakka. Iqbaal dan Dante sepertinya turut prihatin, tetapi mereka tetap menghukum Lia untuk membuat makanan. Karena sedari tadi mereka menahan lapar, demi bisa memakan masakan Lia.
Keesokan harinya...
Iqbaal bersama Lia telah sepakat untuk mengerjai Dante hari ini. Dikarenakan pemuda bergelar dokter itu bertambah usianya. Dalam momen ulang tahun kali ini keduanya sepakat untuk membuat kejutan.
Dimulai dari pagi hari mereka tidak memberikan sarapan kepada Dante, tidak membangunkan Dante dan mengunci lemari es. Serta mematikan saluran air, juga mematikan arus listrik dirumah. Setelah merasa cukup, mereka berdua segera berangkat ke sekolah.
Saat Dante bangun ia merasa lapar, tetapi ia buru-buru meng-qhada sholat terlebih dahulu. Ia tidak dibangunkan pada waktu sholat subuh. Belum menyadari jika air mati, karena masih memakai air yang ada didalam ember. Sesudah sholat ia segera menuju meja makan. Tak menemukan makanan, sembari menggerutu kesal ia membuka lemari es. Namun Lemari es hari ini dirantai membuat ia berteriak frustasi. Mungkin mandi adalah pilihan untuk mendinginkan otak.
Menuju kamar mandi ia segera menyiram tubuhnya dengan air yang tersisa. Membubuhkan shampo dikepala lalu setelah berbusa ia ingin menyiram kepalanya. Air didalam ember pun telah habis, membuat matanya perih. Dengan berat hati ia melilitkan handuk, lalu berjalan menuju setiap sudut ruangan yang sekiranya memiliki air. Ternyata air dirumahnya sama sekali tidak ada. Dengan terus menggerutu ia berjalan keluar mencoba memeriksa kilometer air miliknya. Sial air dirumahnya mati, lalu ia mencoba memeriksa sekring lampu dirumahnya. Ternyata juga mati, tak berputus asa sembari memejamkan mata ia terus berjalan. Meraba-raba apapun demi tidak menabrak sesuatu.
__ADS_1
Dengan kepala yang masih berbusa, ia kembali melangkah keluar. Dan menemukan Alwi sang anak kecil tetangga. Alwi tengah bermain kolam karet bersama bebek-bebek karet miliknya. Tanpa berpikir panjang saat melihat air, Dante memutuskan untuk menceburkan diri kedalam kolam tersebut.
"Akhirnya ilang nih, perih banget mata gua kena busa shampo!"
"Ish, kak Dante main nyemplung aja, ga tahu apa airnya udah Alwi taburi bubuk gatal!"
Dante menggaruk tubuhnya yang mulai merasakan sensasi gatal. Saking banyaknya bentol merah yang muncul. Dante menggaruk kuat seluruh tubuhnya, menyebabkan handuk yang ia lilitkan terlepas. Membuat Alwi tertawa saat melihat boxer hello kitty yang tengah dikenakan oleh tetangganya.
"Ish kenapa ga bilang sih!"marah Dante.
"Alwi kan udah larang kakak, tapi masih aja nyemplung! inikan buat kak Ridho, dia kemarin kasih bubuk apaan di susu Alwi. Alwi diare seharian!"
"Ga baik, anak kecil balas kejahatan,"
"Coba aja kak Ridho yang kena, pasti kak Dante ga bakal bilang gini! karena kak Dante kena getahnya aja kan?"
"Serah Lu Bocil!!!"teriak Dante frustasi.
...****************...
Saat pulang sekolah Iqbaal menemukan Dante yang tidur dengan selimut tebal. Lia merasa bersalah jika karena kejahilannya Dante menjadi demam tinggi.
Lia memberikan obat penurun panas, dan obat pereda gatal kepada Dante. Setelah memakan semangkuk bubur ayam buatan Lia. Dante meminum pil pahit yang disodorkan Lia kepadanya.
"Maafin aku dan Iqbaal ya kak,"
Dante hanya mengangguk lemah, lalu Lia mengajaknya untuk turun kebawah. Disana para tamu hadir menyambut kedatangan Dante dengan nyanyian lagu selamat ulang tahun. Membuat mata Dante kembali berbinar senang. Melihat kedua orangtuanya memegang sebuah kue dengan lilin yang menyala cukup membuat perasaan Dante terharu.
Turun dengan berhati-hati ia segera meniup kue ulang tahun miliknya, tentunya mengucapkan make wish terlebih dahulu.
"Selamat ulang tahun bro!"Iqbaal merangkul kakaknya.
"Happy birthday ya kak,"Lia mengecup pipi kiri Dante sekilas.
Diikuti dengan Cakka, Alwi, Silvia, Liam, dan tamu lainnya yang mengucapkan selamat kepada Dante.
"Sorry gue telat, happy birthday brother!"teriak seseorang mengalihkan atensi ruangan kearahnya.
__ADS_1
"Elooo!"pekik Lia saat melihat seorang pemuda yang tengah berpelukan dengan Dante.
"Heh cewek rese kok Lo disini sih?"teriak cowok itu kesal.
"Kalian saling kenal?"
"Ini cowok ngeselin yang aku temuin di toko buku itu lho kak!"
"Iya bener ini yang gue ceritain ke elo itu Dan!"
"Astaga, sempit banget dunia! ga usah ribut ini acara ulang tahun gue!"Lia mengangguk begitupun dengan pemuda tampan yang mengenakan jas berwarna navy itu.
"Siska!!"teriak Dante saat menemukan seseorang yang datang.
"Kok ada dia sih!"teriak Iqbaal tak terima.
"Kan kata Lo, gue bebas bawa partner! gue bawa Siska!"tukas pemuda pemakai jas berwarna Navy.
"Ta—tapi kenapa dia juga Ibaaaam!! gue ga mau!"
"Al udahlah, sekali ini aja! please nurut ya!"bujuk Dante lembut.
"Bangsat! belain aja dia terus! sekarang gini deh! Lo pilih dia yang pergi atau gue?"teriak Iqbaal marah.
Semua tamu tampak ketakutan, tak habis pikir dengan drama yang terjadi di pesta yang seharusnya menyenangkan.
"Yang sopan kalau ngomong!"Dante ikut berteriak.
"Kenapa Lo, ga suka?"tantang Iqbaal membuat Dante melayangkan tinjunya di udara.
"Kenapa? mau nonjok! nih!!! nih!"Iqbaal menepuk-nepuk pipinya.
"Brengsek Lo! Pergi....!"teriak Dante mendorong tubuh Iqbaal dengan kuat.
"Anjing!!"teriak Iqbaal hendak pergi namun ditahan oleh Lia.
"Mau kemana jangan pergi!"pinta Lia memohon.
__ADS_1
"Lo tuh, ga tahu apa-apa!"tutur Iqbaal dengan gigi bergemelatuk, lalu mendorong keras jidat Lia. Membuat gadis itu merintih kesakitan, sementara Cakka tidak terima jika ada gadis yang diperlakukan kasar seperti itu, jadilah ia memukul rahang Iqbaal dengan keras. Tidak membalas, Iqbaal justru membanting pintu kaca dirumahnya hingga berhamburan pecah.