Kisah Untuk Kita

Kisah Untuk Kita
Bab Enam


__ADS_3

Iqbaal hari berangkat bersama Lia kesekolah, alhasil menjadi topik terpanas di pagi hari. Banyak yang berasumsi jika mereka merupakan sepasang kekasih. Asyik menjadi pusat perhatian, membuat Iqbaal semakin menggenggam erat tangan Lia.


Tak lama Rasya datang menemui Iqbaal yang masih berada diparkiran. Mencegat keduanya guna meminta bantuan untuk mencari Cakka yang telah menghilang dari kemarin siang.


"Baal bantuin gue buat nyari Cakka, dia ga pulang! kemarin kita habis ribut lagi!"


"Kak Rasya kenal Cakka?"Lia menatap pemuda berkacamata yang tampak kusut itu dengan raut penasaran.


"Hmm, dia adek sambung gue! bantuin cari ya!"Lia mengangguk, ia setuju untuk membantu Rasya.


"Tapi gue ga bisa Ras, soalnya mau ngurusin MOS dulu, hari ini penutupan,"ujar Iqbaal menampilkan raut sedih.


"Gapapa, eh Al! aku izin bantuin kak Rasya ya, kamu kan ketos! jadi tolong dibantu ya"Lia membujuk Iqbaal agar mau membantunya.


"Sana kamu!"usir Iqbaal sembari mengibaskan tangannya.


...****************...


Setelah mengelilingi beberapa area kesukaan Cakka, seperti tempat rental PS, Warnet, Bar, bahkan rumah teman dekatnya sekalipun. Mereka tetap tidak menemukan Cakka disana. Merasa kelelahan mereka berhenti disebuah taman, dan mengisi perut disana.


Lia hanya mengaduk-aduk mie ayam miliknya, sementara Rasya meneguk es teh dengan rakus. Keduanya khawatir jika terjadi sesuatu kepada Cakka.


"Kak kok bisa sih dia ga pulang?"


"Ga tahu, kemarin itu papa dia belain gue! jadi dia ga terima! kolega papa ngadu kalau Cakka itu berandalan, dan papa malu, sering banget bandingin Cakka sama gue, ya gue ga enak lah,"


"Kakak udah coba bilang baik-baik ke Cakka?"


"Udah, tapi percuma.. semenjak mama gue nikah sama papa dia, dia berubah! padahal dulunya dia anak baik! Bahkan kita sahabatan,"


Drrt...Drrt..Drrt...


Ponsel milik Lia bergetar, diseberang sana Iqbaal menelponnya. Tanpa banyak basa-basi ia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Al! Kenapa?"


"Udah ketemu Cakka?"


"Belum nih, ini masih ditaman bareng kak Rasya!"


"Owh, aku cuma mau kasih tahu! kalau kita pulangnya malam aja ya, biar Kak Dante kesal!"


"Parah ih, nanti dia ngambek!"

__ADS_1


"Gapapa,"


"Yaudah deh, daripada kamu yang ngambek,"


"Nah gitu dong, baru bener.. oke bye!"


Saat telpon terputus Lia menatap Rasya yang tampak kebingungan, langit berwarna oranye mulai muncul memenuhi atap bumi. Menandakan hari sudah mulai petang, mau tidak mau Rasya mengajak Lia untuk pulang dan mengakhiri pencarian mereka.


"Siapa Li?"


"Owh Iqbaal, nanyain udah ketemu Cakka apa belum,"


"Kita kayaknya pulang aja deh, udah sore!"


"Trus Cakka?"


"Biarin aja dulu, yaudah yuk gue anterin pulang!"


"Eh ga deh kak, aku mau mampir ke toko buku dulu kayaknya."


"yaudah, gue duluan ya! hati-hati Lo" Lia hanya mengangguk, lalu meninggalkan Rasya yang menaiki motornya.


Lia berjalan kaki menuju kesudut Taman, memang toko buku yang ia maksud dekat dengan taman ini. Setelah sampai di toko buku tersebut ia segera mencari novel yang sangat ia inginkan. Iqbaal bilang itu adalah novel langka, dan stoknya terbatas jadi ia harus segera mendapatkannya.


"Buku Gue!"Pekik orang dibalik Rak.


"Heh mana bisa gitu, gue duluan yang pegang! lagian Lo cowok ngalah kek!"ketus Lia masih berusaha untuk menarik buku itu.


"Darimana Lo tahu kalau gue cowok?"


"Ya dari suara Lo lah! ngalah dong, bukunya buat gue!"


"Ogah!"teriak pemuda dibalik rak menarik kuat buku tersebut, ia berhasil mendapatkannya.


Melihat hal itu Lia tak membiarkannya, ia menghampiri pemuda tersebut dan berusaha untuk merebut buku itu kembali. Pemuda itu tidak mau mengalah, maka ia kerahkan seluruh tenaga untuk mempertahankan buku tersebut. Maka terjadilah aksi saling tarik-menarik.


"Buat gue,"


"Gue!"


"ngalah sama cewek,"


"Ga!"

__ADS_1


Kreeeek..


Buku tersebut akhirnya robek dan terbelah menjadi dua bagian. Membuat keduanya panik, Lia segera melempar sobekan buku tersebut. Membuat pemuda itu tak terima.


"Buat Lo aja!"lirih pemuda itu.


"Lo!"Lia kembali melempar buku tersebut.


"Lo,"


"Lo!"


"Stoooooooooop!"teriak seorang security menghampiri mereka berdua.


"Dilarang membuat keributan disini, apa-apaan ini! Buku ini robek karena kalian berdua, jadi silahkan kalian bayar di kasir!"tegas security itu menahan amarah.


"Lo aja sana!"tukas Lia mendorong pemuda itu kekasir.


"Seratus Lima puluh ribu rupiah, gue ga bawa uang sebanyak itu! jadi Lo aja yang bayar,"tolak pemuda itu mentah-mentah.


"Pak, dia aja yang bayar! lagipula bukunya sama dia tuh, cowok harus bertanggungjawab kan pak? kalau ga gitu, ya rusaklah generasi bangsa! mau jadi apa lelaki tanah air ini pak?"Lia menghasut security membuat sang penjaga keamanan itu setuju. Sebelum penjaga keamanan itu berubah pikiran Lia pun langsung melenggang pergi.


"Wooy!! kok kabur Lo!"teriak pemuda itu tak terima.


...****************...


Cakka membanting semua barang yang tertata rapi di apartemen milik mamanya. Meninju sebuah lemari kaca, mengakibatkan tangannya dibanjiri oleh darah. Belum cukup tenang ia menendang semua yang terlihat. Saat membanting aneka pajangan, ia berhenti ketika menemukan sebuah pigura foto seorang wanita dewasa bersama seorang bayi kecil yang begitu lucu.


"Mah, mama dimana sekarang? Akka kangen! Akka ga mau ma, ga mau punya keluarga baru! sekalipun Bunda Tamara dan Kak Rasya baik, Akka ga suka kalau papa nikah lagi!"


Cakka menangis, ia begitu terpuruk dengan takdir yang serius mempermainkan kehidupannya. Berdamai dengan keadaan belum dapat ia lakukan, masih ada luka perih bagaimana saat sang mama ditusuk oleh sahabatnya sendiri. Ia tak menyangka jika Tamara akan berselingkuh dengan papanya. Ia tahu jika hubungan keluarganya dengan Tamara begitu baik. Tetapi tak menyangka jika sang mama akan meninggalkannya dengan cara tragis. Disaat ketahuan selingkuh, papanya menceraikan sang mama. Membuat namanya terpukul, lalu gantung diri didalam apartemen yang saat ini ia huni.


Darah segar terus merembes dari telapak tangan Cakka yang terkena pecahan kaca. Ia bingung harus melakukan apa, ketika ia menatap kearah ransel sekolah miliknya. Ia menemukan sebuah gantungan kunci berbehtu pesawat. Itu adalah pemberian Lia, saat mereka pulang bersama beberapa bulan yang lalu. Mengambil ponsel yang tertimbun oleh kekacauan barang-barang yang telah menumpuk. Cakka memutuskan untuk menelpon Lia dan memintanya untuk segera datang.


"Hallo, Bentar lagi gue share lokasi! Lo pokoknya harus datang, tangan gue berdarah!"


"Ya ampun Cakka, kamu dari mana aja! aku tuh udah nelpon kamu berkali-kali! Yaudah kamu tunggu ya! aku bakalan samperin kamu!"


Berselang beberapa menit, ada seseorang yang memencet bel apartemen Cakka. Cakka mengirimkan pesan untuk Lia berupa sandi apartemennya. Lia yang berdiri didepan memeriksa pesan yang dikirim oleh Cakka, memasukan sandi dan pintu itupun terbuka. Membuat gadis itu menahan nafas beberapa saat. Tak habis pikir dengan apartemen Cakka yang begitu sangat berantakan.


Lia menghampiri Cakka, memeriksa tangan pemuda itu dengan seksama. Meringis melihat luka cukup lebar ditelapak tangannya. Menuju ruang tengah mengambil kotak obat sesuai instruksi Cakka. Iapun mulai membersihkan luka tersebut, lalu mengobatinya. Berhasil membalut luka itu dengan perban, maka Lia langsung merapikan tempat tidur. Guna membaringkan tubuh Cakka disana.


Cakka hanya diam memperhatikan Lia yang membersihkan apartemen miliknya. Merasa mengantuk Cakka memutuskan untuk tidur. Sementara Lia yang lelah menduduki sofa milik Cakka. Ia menatap tubuh Cakka yang sungguh berantakan, dan dipenuhi dengan luka. Merasa kasihan, Lia menyelimuti tubuh Cakka lalu beranjak ke dapur guna untuk memasakkan makanan.

__ADS_1


Setelah menggeledah setiap sudut apartemen, akhirnya ia berhasil menemukan keberadaan dapur. Melihat bahan makanan yang lengkap, ia berinisiatif untuk membuatkan Cakka semangkuk bubur ayam, dan segelas teh hangat.


__ADS_2