Kisah Untuk Kita

Kisah Untuk Kita
Bab Empat


__ADS_3

Saat sampai di Aula sekolah, semua gadis menatap Lia yang tengah melamun.


"Eh bukannya Lo yang tadi pagi bareng Dante ya?"


"Minta Nomor WhatsApp nya dong,"


"Kamu siapanya Dante sih?"


"Pacarnya?"


"Atau adeknya, eh tapi kan adeknya cuma Al, ga punya adek cewek lho kak Dante!"


"Comblangin Gue sama kak Dante dong!"


"Stooop! harap tenang, kegiatan kita mulai,"tutur seseorang yang baru saja datang.


"Iqbaal!"


Lia menatap pemuda itu dengan tatapan dingin, tak habis pikir jika ketua osisnya adalah sepupunya sendiri.


"Lo darimana ada sih?"keluh Verell.


"Bukan urusan Elo!"ketus pemuda itu.


"Oke Class, kalian sudah diberitahu oleh Verell! benda apa saja yang akan dibawa besok," Semua peserta mengangguk kompak.


"Kalau gitu kita main game aja kali ya?"


"Nama kakak siapa ya?"Tanya gadis cantik bernama Zahra.


"Iqbaal!"


"Nama lengkapnya kak?"tanya seorang gadis bermata biru.


Pemuda bernama Iqbaal yang menjabat sebagai Ketua Osis itu bersikap hening, enggan untuk memberitahu nama lengkapnya.


"Kita main game, kata bersambung! udah ada yang tahu dengan permainan ini?" Sontak semua peserta bersorak 'tidak!' sembari menggeleng.


"Gampang kok, gue bakal beri pulpen ini lalu bisikin sebuah kalimat dimulai dari ujung sana."Iqbaal menunjuk sisi kirinya.


"Begitupun seterusnya, akan bisikin kalimat yang sama keteman selanjutnya. Kalian oper Pulpen itu, diiringi musik, begitu musiknya mati, orang itu harus sampaikan kalimat apa yang dia dengar. Kalau salah, bakalan dihukum! mengerti?" Semuanya mengangguk paham.


Permainan pun dimulai, musik pun dinyalakan dari ponsel milik Rasya. Pulpen terus di opor sampai musik berhenti, pulpen itu ada pada genggaman seorang gadis yang membuat heboh seantero sekolah tadi pagi. Permainan pun berlanjut, pulpen kembali berhenti didalam genggaman seorang pemuda yang berwajah kesal sedari tadi.


"Awas Lo habis sama gue dirumah!"Ketus pemuda itu, saat menatap Rasya yang masih tersenyum.


"Diapain nih?"tanya Iqbaal kepada Rasya.


"Mumpung yang dihukum ada dua orang, kita apain ya adek-adek?"tak menemukan ide, Rasya meminta pendapat para peserta.


"Joget kak,"

__ADS_1


"Dangdutan mungkin,"


"Nyanyi,"


"Disuruh jadian aja, bagus tuh!"


Membuat kedua orang yang dihukum itu membelalakkan matanya. Sementara Rasya mengeluarkan bunga yang ia ambil pada Vas bunga di dekat jendela.


"Eh sini Lo! Coba nyatain perasaan ke dia,"pemuda itu semakin kesal terhadap tingkah Rasya.


"Laki ga sih!"ledek Kevin.


"Udah lakuin sana!"Rasya mendorong pemuda itu kearah sang gadis yang menatap dingin kearahnya.


"Gamau!"


"Laki kan Lo?"kesal Rasya.


"Udah tahu ngapain nanya, berisik ya Lu kek ibu-ibu komplek!"teriak pemuda itu kesal.


"Jangan seenaknya, Lu masih MOS, bisa aja niat Lu buat sekolah disini kami batalin!"komentar Darent.


"Terserah!"ketus pemuda itu terkekeh.


Membuat Rasya kesal, mengepalkan tinjunya keudara. "Kenapa mau nonjok gua? silahkan aja! gak takut gua!"tantang pemuda itu.


Iqbaal melerai pertengkaran itu, membuat suasana menjadi hening terkendali. Iqbaal menarik gadis yang dihukum itu kedepannya.


"Sekarang Lu tembak dia!"titahnya.


"Gue aduin kak Dante Lu Al! liat aja entar!"


"Ga mau kak!"keluh gadis cantik itu.


"Siapa nama Lo?"


"Lia!"


"Oke Adelia Saraswati, silahkan nyatakan perasaan anda ke Cakka Faturrahman."


Lia keukuh menolak permintaan itu, ia diam menatap pemuda yang ternyata bernama Cakka. Cakka melenguh kesal menatap gadis cantik dihadapannya.


"Apa perlu gua aja yang nembak Lo?"kekeh Iqbaal menatap Lia.


Semua gadis histeris, semuanya menantikan momentum langka ini. Siapapun Iqbaal, setahu mereka adalah cowok populer yang begitu tampan. Tidak ada yang mengetahui identitas aslinya, selama diliput awak media ia sengaja mengenakan masker. Kebanyakan orang mengetahui jika namanya itu adalah Al. Maya sendiri juga tak pernah menyebutkan nama lengkapnya di awak media.


"Tumben Lu mau nembak cewek?"komentar Steffi.


"Emang Lu bisa?"Ujar Bryant kebingungan.


"Astagfirullah, selama ini Lu ragu? oke gue buktiin!"

__ADS_1


"Ga usah, biar gua aja! Gue gentle kok!"tutur Cakka dengan muka masam.


Setelah menyanyikan sebuah lagu romantis, Cakka menaruh gitar miliknya. Ia menatap Lia dengan tatapan lembut, dengan penuh kasih sayang ia menggenggam tangan gadis itu.


"Li, kamu tahu apa bedanya kamu sama cinta?"


"Hah emangnya apa ya Kka?"


"Kalau cinta kan berasa dihati, kalau kamu kecantol dihati, kamu mau ga jadi pacarku?"


Para peserta menyorakinya, agar Lia menerima Cakka. "Kamu tahu ga Li, waktu kecil aku pengen banget punya sayap. Biar bisa terbang, tapi sekarang kayaknya aku cuma butuh liat senyuman kamu deh,"Cakka masih berusaha agar pernyataan cintanya diterima.


"Kenapa?"Lia tersenyum merasa lucu dengan pemuda dihadapannya.


"Nah liat senyuman kamu itu udah bikin aku melayang, duh terbang nih" Lia mengacak rambut Cakka, cukup salting jika diperlakukan semanis ini.


"Cieeeee,"


"Kyaaa baper gue,"


"Sorry Kka, tadi itu manis banget, tapi aku ga mau pacaran!"Lia melepaskan genggaman Cakka, membuat semua orang berteriak kecewa.


...****************...


Lia menatap layar ponselnya, disana Dante mengiriminya pesan. Meminta ia untuk mencari Iqbaal ke Rooftop gedung 'HLS' menurut Lia segera melangkah menuju kesana. Meskipun masih bingung atas permintaan Dante, yang menyuruh dirinya untuk merubah Iqbaal.


Saat sampai di Rooftop ternyata Iqbaal tidak ada disana, Alhasil Lia kembali menuju ke parkiran sekolah. Ia bingung akan pulang dengan siapa hari ini. Lamunannya buyar saat seseorang menghampirinya dan menawarkan boncengan untuk pulang. Namun gadis itu menolaknya saat menemukan motor Iqbaal masih berada diparkiran.


Mencoba mencari Iqbaal kembali, Lia terpaksa untuk naik ke Rooftop kembali. Kali ini ia berhasil menemukan Iqbaal yang tengah menyulut rokok miliknya.


"Ngapain Lo disini?"


Lia mengingat pesan Dante yang mengatakan Iqbaal berubah, berarti yang dulunya dewasa maka sekarang dipastikan jika Iqbaal memiliki sikap kekanak-kanakan.


Tanpa diminta Lia ikut duduk disebelah Iqbaal, menatap Iqbaal serambi tersenyum.


"Ngapain Cengar-cengir, sana Lo! ga ada uang minta elo kesini! tahu darimana gue disini?" Iqbaal membuang rokok miliknya, meskipun rokok tersebut belum habis.


"Santai kak, marah-marah aja kerjaannya, entar ga ganteng lagi."


"Salah denger gue? tumben manggil kakak?"Iqbaal mengorek telinganya.


Tak mendengarkan Iqbaal, Lia justru memeluknya dari samping. "Kangen ih dipeluk sama kamu!"sela Lia dalam isakkannya.


Iqbaal cukup terkejut, tak biasanya gadis itu memeluknya. Biasanya ia yang selalu memeluk gadis itu.


"Cengeng,"Iqbaal mencubit pipi chubby Lia.


"Sakit Kak!"


"Ngapain manggil gue Kakak sih?"

__ADS_1


"Kan kakak kelas aku,"


"Yaudah pulang yuk Kak,"Iqbaal mengangguk lalu merangkul Lia dan membawanya pergi.


__ADS_2