Kisah Untuk Kita

Kisah Untuk Kita
Bab Lima


__ADS_3

Lia diminta untuk mengawasi Iqbaal karena untuk beberapa bulan kedepan Maya beserta Frans akan mengurus perusahaan diluar kota. Awalnya Iqbaal memberontak, namun saat diancam akan disita seluruh Fasilitas miliknya. Ia menurut dan patuh terhadap semua peraturan gila yang dibuat oleh Lia.


Subuh ini Lia tengah membangunkan Iqbaal secara paksa. Guna untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, Iqbaal yang sudah lama tidak melaksanakan sholat. Tentu sangat sulit untuk dibangunkan. Iqbaal menarik selimut yang ditarik oleh Lia.


"Bangun Kak ih! kalau kamu ga bangun, aku ga bikinin sarapan!"


"Bodo amat! gue bisa bikin sendiri ataupun beli, paling nanti dikasih bekal sama fans gue!"


"Yaudah, aku sholat sendiri aja! Sekalian pamit nanti mau berangkat sekolah ya!"


Setelah melaksanakan sholat subuh, Lia segera mandi dan berberes agar bisa berangkat sekolah dengan tepat waktu. Ia berpikir jika Iqbaal tak mau memberikan tebengan kepadanya. Tentu ia harus menaiki kendaraan umum, dan harus berangkat cepat.


Tak langsung mengenakan seragam sekolah, Lia justru memasak sarapan terlebih dahulu. Tak lupa juga memasakkan sepiring nasi goreng cabe hijau untuk Iqbaal. Meski menyebut jika tidak akan membuatkan sarapan, Lia tetap melakukannya.


Ponsel miliknya berdering, Lia melihat nomor tak dikenal yang tengah menghubunginya. Memutuskan untuk mengangkat Lia menerima panggilan tersebut.


"Assalamualaikum, siapa ya?"


"Wa'alaikumussalam, Nanti gue jemput! buruan siap-siap,"


"Ih siapa dulu,"


"Cakka!"


"Tahu darimana alamat gue?"


"Buruan atuh, entar telat! Gue tunggu di depan warteg dekat perumahan Lo nih,"


"Kamu udah sarapan?"


"Ah bawel deh, buruan!"


"Gue mau bawain Lo bekal! ini habis bikin sarapan! Lo mau?"


"Oke, gue tutup ya, Wassalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam"


...****************...


Hari ini Lia berangkat ke sekolah bersama Cakka, membuat banyak pasang mata yang menatap mereka dengan rasa penasaran.


Dengan cuek mereka segera berjalan menuju ke aula, sesampainya di aula mereka memakan sarapan yang dibawa oleh Lia. Menggambarkan jika mereka memanglah sepasang kekasih.


"Bukannya kemarin Lia nolak Cakka ya?"komentar seseorang.

__ADS_1


Seusai makan Lia baru menyadari jika atribut yang ia kenakan tidak lengkap. Melihat itu, Cakka melepaskan atribut miliknya. Lalu memasangkan kepada Lia.


"Entar Elo gimana Kka?"


"Gapapa Lu cewek, gua cowok! udah tugas gue buat ngelindungi!"


Perdebatan mereka terhenti saat anggota osis memasuki aula. Dan memeriksa atribut peserta secara satu-persatu. Menyadari jika Cakka tidak mengenakan atribut lengkap.


"Yah Baal, beneran bawa darah ini bocah!"ujar Verrel


"Ish apaan coba, bawa jejak kaki mainan!"ujar Salsa.


"Cuma Citato sama Taro yang hampir bener!"Komentar Darent.


"Saya nyuruh kalian bawa air darah ya bukan berarti darah beneran! jejak kaki juga bukan begitu, ini semua teka-teki yang harus kalian pecahin sendiri!"keluh Rasya.


"Air darah maksudnya Fanta? Jejak kaki itu permen kaki? nih gue bawa!"teriak Lia mengalihkan atensi sekitar.


"Soal Bawa 2 citato 1 taro, itu maksudnya kalian bawa satu citato satunya ya taro dirumah! sebagai hukumannya. Semuanya disita, Oke Ryan silahkan dikumpulkan dan masukin ke karung,"Bryant langsung mengikuti perintah Iqbaal.


Semuanya Bersorak tak suka, merasa telah dibodohi oleh anggota osis.


"Cakka sini kamu, kamu ga bawa atribut kan?"papar Rasya.


Cakka hanya mengangguk "Maaf kak lupa,"ujarnya.


"Gue udah minta maaf!"


Lia merasa bersalah jika Cakka harus dihukum karena memberikan atribut itu kepadanya. Memberanikan diri ia menarik Iqbaal keluar. Membuat seisi aula tercengang, dan menatap kepergian mereka dengan menerka-nerka apa yang terjadi.


...****************...


Lia menyodorkan sebotol mineral dingin tepat dipipi Iqbaal, membuat pemuda itu merasakan dingin pada pipinya.


"Minum dulu, Biar emosi kamu reda! kamu pemarah banget sih sekarang, seram tahu!"


"Makasih."Iqbaal meneguk mineral itu hingga tandas tak bersisa.


"Cakka ga salah, tadi dia kasih atributnya buat aku, jadi jangan marah lagi! kamu bisa ga kembali lagi kayak dulu, aku takut kalau kamu kayak gini Al!"


"Udah terima takdir aja! gue sekarang emang kayak gini, kemana aja Lo, kenapa baru sadar sekarang?"


"Al, maaf kalau waktu itu aku ga pernah datang lagi! Terimakasih jika dulu kamu selalu jagain aku, eh kemana ya si Riski yang sering Bully aku pas kita masih kecil?"


"Maaf ga diterima! nanyain Riski lagi! dia udah dikirim mamanya kerumah papanya yang di Bekasi! bandel banget itu bocah, umpetin sepeda kamu,"

__ADS_1


"Bandel mana sama kamu yang suka main tonjok-tonjokan?"


"Itukan karena belain kamu!"


"Iya, makasih ya"Lia memeluk Iqbaal dengan perasaan haru.


"Disekolah! jaga sikap, gue ga mau kalau orang-orang tahu kalau kita dekat!"


"Ga mau Al, aku ga mau jauh-jauh dari kamu lagi!"Lia tetap memeluk Iqbaal membuat pemuda itu hanya diam mematung.


"Al, tanggal 18 Maret kak Dante jadi pulang kan?"


"Hmm,"


"Aku mau aduin kamu sama kak Dante!"


"Sana! jangan dekat sama aku lagi kalau gitu!"


"Dih apaan, cemburuan gitu ya sekarang,"


...****************...


Kepulangan Dante disambut dengan hangat, terlebih jika Iqbaal sedikit demi sedikit telah membaik. Meninggalkan kebiasaan buruknya, dan memilih untuk menjadi anak penurut seperti dahulu kala.


Hal yang paling tak Dante sukai ialah ketika ia tak lagi dianggap ada oleh seorang Adelia Saraswati. Lia selalu menempel dengan Iqbaal, begitupun sebaliknya.


Subuh ini Iqbaal tengah berusaha untuk membangunkan Dante. Semalam Ia dan Lia meninggalkan Dante sendirian dirumah. Alhasil pria bergelar dokter itu ngambek. Dan tak mau bangun saat dibangunkan.


"Kak bangun! kalau Lu kaga bangun gue sholat berjamaah nya sama Lia nih, Gue yang jadi imam! gamau kan Lo?"


Dante segera membuka matanya, bangun dan lekas untuk mandi. Membuat Iqbaal terkekeh, sementara Lia tengah menggelar sajadah untuk mereka sholat.


Seusai sholat berjamaah mereka menyiapkan sarapan bersama. Dilanjutkan dengan acara keliling komplek mengenakan sepeda masing-masing. Melihat ada taman yang masih asri, mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar.


"Al, makasih ya,"


"Iya, tapi maaf ya kalau kemarin aku kekanak-kanakan!"


"Gapapa, wajar kalau kamu ngambek! aku udah ga nepatin janji,"


Berakhir bermain basket di lapangan komplek, mereka bertemu dengan Alwi. Anak kecil tetangga disebelah rumah yang begitu dekat dengan Lia.


"Wi, Bagaimana kabar Ibam? kok ga pernah keliatan lagi?"ujar Dante menatap anak kecil yang tengah memakan lolipop.


"kak Ibam? Oh dia emang jarang keluar, paling sepulang sekolah dia langsung ngajar les!"

__ADS_1


"Kalau Kak Silvia?"tanya Lia.


"Kak Via mah, jarang pulang. Semenjak jadi dosen di universitas Jakarta. Dia jarang banget dirumah kak, Kak Iaaa kita main perosotan disana yuk!"Alwi membawa Lia untuk menuju ketaman sebelah lapangan komplek.


__ADS_2