
Sabtu. jam dinding menunjukan pukul 18 .45. Tak terasa sudah satu jam , Adinda, perempuan cantik berumur 21 tahun, berdiri di depan cermin untuk memastikan baju yang dia pakai sempurna. Padahal, biasanya ia tidak pernah seperti ini. sesuatu yang sangat bukan Adinda.
Namun, hari ini semuanya berubah karena merayakan satu tahun jadian dengan pacar. Itu merupakan sesuatu yang belum pernah iya alami sebelumnya. Itu sebabnya, malam ini ia ingin terlihat cantik. Adalah sesuatu yang membanggakan bagi seorang perempuan bila menerima pujian itu dari seseorang yang sangat spesial, misalnya seperti Al bagi Adinda.
Sekali lagi Adinda bercermin, memastikan rok hitam selutut dan kaus berlengan pipa dengan warna yang sama yang di pakainya terlihat sempurna. Rambutnya yang panjang dibiarkan lurus terurai. Sekarang, ia mulai berdandan. Menaburkan bedak, mengenakan maskara ( dengan berkali - kali lipat ) dan berlipstik glossy merah muda. Sambil berdandan. Adinda berpikir dalam hati.
kaya apa, ya, rasanya dinner nanti malam?
setahun jadian? Ih, Seneng bangeeet.
gue belum pernah selama ini jadian sama cowok.
mungkin nggak, sih Al ngajak gue ke Jakarta?
Ma......... Pa....... Kenalin, nih, calon istri Al..... orang yang pengen Al nikahi dan orang yang Al cintai........hahahaha......
Adinda tersenyum memikirkan khayalannya. Ia lalu mengenakan sepatu bertali minimalis dengan hak tujuh senti yang sengaja ia beli minggu lalu bersama Andin untuk malam ini. Tak lama, terdengar suara bel rumah. Adinda melirik jam di pergelangan tangan kanannya, tepat pukul tujuh malam.
"Adinda..... Al jemput, tuh." Terdengar suara Mama memanggil.
"Iya, Mam, sebentaaar." Adinda meraih tas warnah merah bertabur manik - manik dan bergegas menuju ruang tamu sambil berusaha menjaga keseimbangan badan yang berjalan dengan sepatu berhak tujuh senti nya.
"Mau ke mana, nih?" tanya, Mama ketika Adinda melintas ruang tengah.
"Jalan sama Al, Mam.... biasaaaa..."
Senyum Mama mengembang melihat Adinda yang berjalan kaku seperti robot dengan sepatu hak tingginya itu. "Lihat tuh, Pah, anak kita sekarang udah mulai belajar pake sepatu hak tinggi," ujar Mama. Papa yang sedang membaca koran menjawab dengan tawa.
"Kamu cantik banget malam ini." Al tersenyum lebar begitu Adinda muncul di ruang tamu. Ia terlihat menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya dengan tangan kanan.
"Makasih......," balas Adinda sambil tersenyum malu.
"Met setahun jadian ya, Din." Al tak putus mengagumi Adinda. "Nih, aku bawain hadiah buat orang secantik kamu." Ia lalu mengeluarkan. sesuatu dari balik punggung.
"Aduuuh...... bagus banget!" Adinda langsung mencium harum sebuket mawar yang baru saja diberikan Al. "Mkasih ya, Al."
"Yuk, kita pergi sekarang," ajak Al. Mereka lalu berpamitan pergi pada orangtua Adinda dan berjalan menuju mobil yang di parkir Al di depan rumah.
Begitu masuk, interior mobil terlihat bersih dan wangi. Dashboard yang mengilat dan si jok belakang hanya ada jaket hitam milik Al yang tergeletak. Memang begitu seharusnya ketika seorang laki - laki menjemput pacarnya. Mobil yang bersih dan wangi membuat seorang perempuan merasa sangat dihargai.
Ma..... Pa..... kenalin, ini Adinda.
Al menjalankan mobil dengan kecepatan rendah. ia memutar sebuah musik yang begitu enak membuat suasana itu menjadi nyaman.
"Enak nih lagunya."
"Kamu suka?"
Adinda mengangguk. "Romantis."
Al tersenyum. "Geleng Fredly, judul albumnya 'Kasih putih'."
"baru tau gue."
__ADS_1
"Makanya, sering - sering dengar dong, Din. jangan belajar terus."
"Nggak kok, gue sering dengar dia nyanyi tapi belum pernah dengar lagunya yang ini.... kadang - kadang dengar sela one 7, judika, bahkan lagu barat, korea banyak deh....."
"Banyak banget iya kesukaan kamu, Din?"
Al tersenyum. Satu alis kanan terangkat.
Adinda tertawa.
Mobil sedan warna silver milik Al memasuki pelataran parkir Rooms Cafe. Beberapa mobil sudah terparkir memenuhi sebagian tempat. Sampai di lobi, seorang petugas vallet parking berseragam hitam putih lengkap dengan dasi kupu - kupu mengambil ahli mobil.
Al menggenggam tangan Adinda memasuki Rooms Cafe. Seseorang pelayan kafe mengantarkan mereka menuju meja yang sudah di-booking Al di lantai dua, dekat jendela. Saat melintas, terlihat meja - meja kayu berwarna coklat yang di kelilingi sofa dan kursi dengan berbagai macam gradasi warna coklat, 'reserved' diletakan di atas meja. Sebuah cermin berukuran raksasa dengan frame ukiran warna emas mendominasi dinding, dilengkapi dengan sorot lampu temaram.
"Din, aku udah order makanan buat kita dari kemarin pas sekalian booking," ujar Al sambil merapikan kemeja biru gelapnya.
"Oh ya?"
Al mengangguk. "Salad, fillet de boeuf sama cheese cake. favorit kamu, kan?"
"Yap." Adinda tersenyum.
"Kamu lebih suka minum air putih atau orange juice, kan?"
Adinda tersenyum. "Kalau ini UTS, kamu udah dapat nilai A buat mata kuliah 'mengingat makanan favorit pacar', loh, Al. Kreditnya 3 SKS lagi."
Giliran Al yang tertawa.
Pada saat yang bersamaan, Adinda memperhatikan Al dalam - dalam.
bisa - bisanya bikin gue cinta mati sama dia.
Al...... pintar, ganteng, baik, gentle, ngertiin gue, dia tau apa yang gue suka.... pokonya l tresno karo kue kang mas Al..
Mereka menikmati dessert sambil menikmati view Kota Bandung seusai makan malam. Denting piano dan gesekan biola membuat malam ini lebih spesial dari biasanya.
"Al, makasih loh, kamu udah ngajak aku ke sini buat ngerayain setahunan kita," ujar Adinda sambil memotong cheese cake.
"Tempat ini, kan, mahal banget, Al."
"Ah nggak apa - apa kok, aku memang udah lama pengen ngajak kamu ke sini. malam ini spesial dan aku ngajak seseorang yang spesial.....jadi, aku harus ngajak kamu ketempat yang spesial juga, dong." ujar Al dengan tatapan mata yang 'mematikan'.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan....," ujar Adinda pelan.
Al tersenyum sambil menikmati ice coffee latte. sesaat keduanya terdiam. Hanya dentingan piano dan gesekan biola yang berbicara.
"Adinda, sebetulnya aku ngajak kamu ke sini.... karena memang ada sesuatu yang penting yang pingin aku omongin sama kamu." Kali ini wajah Al terlihat serius.
"Mau ngomong apa, Al?"
Wow, apa Al mau ngasih kejutan yang lain lagi buat gue?
"Uhuk.....uhuk...."
__ADS_1
Al terbatuk - batuk kecil. Ia lalu meraih kedua tangan Adinda.
"Din....."
"Ya, Al?"
"Aku pengen ngomong sesuatu yang 'penting'."
Al terdiam beberapa saat sebelum meneruskan kata - katanya. Sekilas tercium harum bunga sedap malam yang terbawa angin.
"Adinda.....kamu tau, kita udah sama - sama dewasa. Bukan anak - anak kecil lagi, kamu mau diwisuda......dan sebagai laki - laki, aku ngerti bahwa kamu butuh kepastian."
Adinda tersenyum. Kali ini jantungnya berdegup kencang.
Rasanya jauh lebih kencang daripada saat pertama kali ia naik halilintar di Dufan saat SMP.
Maksudnya apa, nih?
Apa, Al akan ngajakin gue buat ketemuan sama orangtuanya?
iya, kan?
cowok kalo udah ngomong gitu pasti udah mikir buat ngenalin sama orangtuanya, dong.
Tuh, kan......berarti gue gak salah ngehayal tadi sore😀.
Ternyata hayalan gue jadi nyata, nih?
"Tapi sebelumnya, aku pengen kamu tau..... kalo buat aku seseorang yang hebat......cantik, pintar, perhatian, pengertian......."
hahahahaha.........
"Dan sebelum kita lebih jauh lagi, misalnya seperti ngomongin hal - hal yang serius buat hubungan kita ke depannya.....aku....aku...," tenggorokan Al seperti tercekat dan kering. Ia cepat - cepat membasahi tenggorokan dengan segelas air putih sebelum melanjutkan kata - katanya.
*Dan sebelum kita ngomongin hal - hal lebih jauh lagi, misalnya seperti hal - hal serius buat hubungan kita kedepannya.....
Lo mau ngajak gue ketemuan sama orang tua lo kan, Al?
Ah, ini sih, udah pasti.
Hmmm.... aduuuh gue tegang banget, nih....
Mau ketemu calon mertua?
Aduuuh.... gue mesti gimana? pake baju apa? harus ngomongin apa?
Duh, deg - degan deh, gue*.....
"Aku....uh...."
Al terdiam beberapa saat, sepertinya ia ingin memberikan efek dramatis.
"Aku apa, Al?" tanya Adinda dengan tidak sabar. Detak jantungnya terasa lebih cepat.
__ADS_1
Ma.... Pa...... kenalin, ini pacar Al..... namanya Adinda Suhendra.....orang yang nanti pengen Al nikahin.....
"Aku.......uhm...pengen.... kita temenan aja."