Kok, Putus

Kok, Putus
Bandung gelap


__ADS_3

Memulai misi jahat.


Adinda duduk sambil menghadap monitor.


Sebuah cangkir berwarna kuning berisikan kopi uang si campur sedikit susu hangat, terletak di atas meja tidak jauh dati jangkauan, tangannya dengan lincah mengerjakan mouse. Ia sedang membaca beberapa e-mail yang masuk di inbox. Adinda membuka dua layar. Gmail dan yahoo.


mulai cek imel pribadi mengunakan Gmail, sedangkan Yahoo cek imel si tukang selingkuh.


Ada pikiran jahat yang merasuk yang mengatakan Adinda harus memulai memainkan perannya sebagai Ratu Penguasa Mimpi Buruk bagi Al.


Adinda memasukkan enam huruf password email Al. b - l -u -d - u- r.


Bludur itu adalah nama Anjing kesayangan Al, dimana anjing kampung itu yang di pelihara Al. Anjing itu terlihat sangat kotor sekali ketika pertama kali Al menemukan ya, itulah sebab kenapa Al memberi nama Bludur karena bulunya yang halus namun kusam. Al merawat anjing kampung itu dengan baik. Memandikannya dan memberi makan sehingga si Bludur tumbuh sehat. Meski sudah bersih dan gemuk, Al tidak Menganti namanya. Ia tetap memanggil anjing kampung itu, Bludur.


Dan entah kenapa Al membiarkan Adinda mengetahui password email -nya. Mungkin karena Al percaya Adinda tidak akan melakukan tindakan ilegal dengan mengecek inbox tanpa izin, Misalnya.


*Percaya?


Sekarang jangan lagi percaya sama gue*!


Dalam hati, Adinda mengaku. Membuka email Al tanpa izin sama saja seperti masuk ke rumah seseorang tanpa izin seperti maling. Jahat memang. Namun, hal itu ia pakai sebagai alasan apa yang sudah di lakukan Al selama ini ke dia.


Ada 3 email baru yang belum sempat di baca Al. Adinda langsung mengarahkan mouse, kilk inbox semua pesan masuk itu dari seseorang yang bernama Juninda.


*Juninda?


Hmmmm, buat penasaran saja, siapa sih, juninda ini*?


*Yang gue tau, Al nggak pernah tuh, cerita - cerita tentang cewek yang namanya juninda.


Apa mungkin nggak, sih, si Nenek Sihir itu*?


Dimana isi pesan tersebut di tulis oleh juninda.


"Sampai ketemu besok ya 😊


nggak sabar deh ketemu kamu."


Sedangkan isi pesan ke dua.


"Besok sore kita jalan ya?


aku ada kuliah tambahan nih besok. Tungguin aku pukul lima sore dekat labtek ya."


HI, SAYANG.


CUIIIIIIIIIIIIIIIIIH! JIJAY GUE?


Adinda mengklik mouse dan membaca email ke tiga.


"*Duh, aku kok udah kangen lagi ya sama kamu.


Kangen kamu banget nih, muah - muah*.


Tadi sayang, sekarang Honey?!?!

__ADS_1


JIIIIIJIIIIIIK GUE!!!


Napas Adinda terasa berat ketika membaca email itu. semakin terbukti bahwa Al itu selingkuh. Semakin kuat bahwa Al telah membohongi Adinda selama ini.


Dengan berat hati Adinda masih melanjutkan membaca email dari Juninda.


"Aku seneng banget loh denger kmu akhirnya udah putus sama si Nyipelet itu (Soriii loh, tapi lucu banget manggil dia dengan sebutan ini).


Akhirnyaaaaaa 😀😀😀😀


Aku lega banget udah nggak ada yang ngehalangi kita lagi. Aku sayang kamu banget!


Kesal, marah, sebal. Semua rasa itu membuat kening Adinda berkerut. Ia berteriak memaki Al. Selama ini ternyata Al membohonginya. Gelas yang berisi nyaris terjatuh saat Adinda mengebrak meja dengan keras.


APAAAAA?!


*Gue? Nyipelet?


Sialan!!!! Kurang ajar banget dia!!!!


Ternyata bukan dia aja yang punya sebutan, gue juga di buat punya sebutan juga.


Al, DASAR KAMPRET LO!


Ternyata selama ini lo udah ngerencanain buat mutusin gue!!


GILAAAAAAAAAA!! NGGAK BISA! NGGAK BISA! GUE NGGAK TERIMA! GUE HARUS NGEBALES SEMUA INI!


Awas lo yah Al...... gue bakal jadi mimpi buruk buat lo!


Elu, harus ngebayar semua ini!


GUE MAU BIKIN PERHITUNGAN!


GUE MAU BALAS DENDAM KE LO!


KITA LIHAT AJA, SEKARANG LO BISA BAHAGIA DI ATAS PENDERITAAN GUE.


GUE AKAN BUAT LO BERLUTUT DI KAKI GU, SAMPAI NANGIS - NANGIS*.


Dengan napas berat yang tak beraturan dan pandangan mata yang berapi - api, Adinda mengepak tangan kuat - kuat. pandangan itu menyirat amarah. Gebrakan kepalan tangan di atas meja seperti bicara bahwa ia berniat dengan sungguh - sungguh untuk membalaskan dendam pada Al.


Adinda segera menandai ke tiga email itu.


Pukul empat sore, cuaca Bandung terlihat sedikit mendung. Adinda sudah ada di balik kemudi, menjalankan sedan hitam ya menuju UTP, kampus Al. Kali ini ia bertekat harus melihat Al, si tukang selingkuh, kembali berkencan dengan si Nenek Sihir.


Survey lapangan itu perlu. Adinda harus mengenali terlebih dulu siapa musuh - musuhnya sebelum berperang.


Sampai di UTP, Adinda duduk di bawa pohon yang tidak jauh dati labtek, tempat di mana Al akan menjemput si Nenek Sihir itu. Untuk memberikan kesan tidak terlalu menata - matai mereka, maya meneruskan membaja buku si Raja Perang dengan kondisi mata celingak - celinguk antara buku dan labtek.


Hmmmmm....


Ini yang sekarang lagi gue praktikin.


Nungguin musuh - musuh gue.

__ADS_1


Nunggu si Nenek Sihir itu ketemuan sama si Al.


Kaya apa sih, tampang nya, dia.


gue jadi penasaran banget.


Kaya apa, sih, Irang yang bikin Al ninggalin gue demi dia?


Sepuluh menit menuju pukul lima, muncul seorang perempuan yang sedang menunggu di depan labtek. Ia bersandar di sebuah tiang bulat yang berderet sepanjang koridor. meski tidak terlalu jelas. Adinda yakin perempuan ini adalah Juninda. Rambutnya lurus melebihi pundak. Tingginya mungkin sekitar 1.66M, berkaki panjang, mengenakan jens biru gelap dan kaus pink ketat dengan lengan sesikut yang bertuliskan COOL.


Tukan pelet is yore name and the is not cool.


Adinda mengeluarkan kacamata hitam dan topi base ball hijau lumut dari ransel. Setelah memakainya, Adinda mendekati perempuan itu.


Juninda, si Nenek Sihir.


Ada rasa penasaran yang amat sangat, mendorong Adinda untuk melakukan hal ini. Ia ingin melihat wajah perempuan yang udah berhasil merebut Al darinya sejwlas mungkin. Adinda berjalan pelan menuju ke aarah pacar barunya si Al itu. Jantungnya berdegub kencang ketika melihat Juni.


Tujuh dari sekala sepuluh.


Demikian Adinda memberi nilai ketika ia melihat wajah si Nenek Sihir Juni dengan jelas.Juni yang beberapa hati lalu yang ia lihat dati kejauhan, ternyata orangnya manis juga. Ia terlihat pintar berdandan berbeda dengan Adinda yang hanya mengenakan mek-up untuk saat - saat tertentu saja.


Matanya runcing, berdagu tajam, dan bibir yang berisi. Sebutan Nenek Sihir sebenarnya tidak cocok baginya. Tidak akan ada Nenek Sihir setredy itu. Lagi pula, Juni tidak cocok memakai topi besar, baju luauh dan sapu lidi terbang, itu adalah definisi Adinda tentang Nenek Sihir. Dan dengan sekilas melihat, Adinda tau semua yang di kenakan Juni adalah barang - barang berkelas.


Hmmm...... cantik, sih.


Tapi, masih cantikan gue kali.


hehehe......


Adinda pura - pura tersenyum ketika Juni melihat dia. Si Nenek Sihir itu membalas dengan ragu dengan mata yang seolah mengatakan kmu si apa? Adinda segera mempercepat langkah menjauhi si Nenek Sihir itu sebelum Al datang.


"BANDUNG GELAP, YA!"


Tiba - tiba Adinda mendengar koor beberapa orang cowok mahasiswa UTP yang sedang duduk santai tak jauh dari labtek.


sialan!


"Hey, cewek..... godain kita dong....."


"Hahaha......."


"Suitt auiwww..... Duh, gelap - gelap gini , kok, pakai kacamata hitam aih, lagi sakit mata, yaaa.... " goda sala seorang dari mereka yang si sambut dengan riuh tawa teman - temanya.


"Hahaha......"


"Mau ngegaya, ya? Nunggu besok siang dong, Mbak, biar panas....." ujar seseorang dari mereka dengan logat jawa yang medok.


"Hahaha......."


Kampret!


"Eh, eh, eh..... kok malah pergi, toch?"


Sambil terus berjalan tanpa menggubris koor beberapa cowok - cowok itu, Adinda memberanikan diri kembali memandang ke arah labtek.

__ADS_1


Al sudah ada di sana.


__ADS_2