Kok, Putus

Kok, Putus
Putus


__ADS_3

"Putus maksudnya?"


Adinda mencoba menerjemahkan arti kata aku pengin kita temenan aja yang baru dikatakan Al.


*Apa, Al?


Lo barusan minta putus ke gue?


Ah, Al pasti nggak serius.


Eh! Tapi, Al nggak ketawa.


Kok jadi begini, sih.


Al, putusin gue beneran?


Kok bukanya ngajak gue buat ketemuan dengan orangtuanya sih?


Apa gue nggak salah dengar, Al?


Ini pasti ada sesuatu yang salah sama telinga gue*!


"Uhm......ya, sebagai pacar....secara teknis kita udah nggak pacaran lagi ya, Din. Tapi, kalo sebagai teman..... aku pengin kita tetap seperti itu," ujar Al sambil menatap Adinda dalam - dalam.


"Kok putus, sih? Aku boleh tau kenapa kamu pengen kita temenan aja, Al?" mata Adinda terasa panas dan seluruh tubuh berubah menjadi lemas.


*Putus?


Nggak bisa! Nggak bisa!


Gue, kan, sayang banget sama dia..... gila apa kalo dia mau mutusin gue?


Gue masih ngarepin kalo gue itu salah denger.


Gue masih ngarepin kalau ini cuman mimpi.


Gue kira ini cara bercanda Al yang sangat - sangat nggak lucu*.


Al menarik napas panjang, " well.... gimana, ya, neranginya ke kamu? Aku takut kamu nggak ngerti Din."


"Pleas try me," Adinda jutek.


Mendengar Al mengatakan aku taku kamu nggak ngerti, Adinda mengartikan Al menganggapnya bodoh.


*Kalo Al bener - bener pengen putus.......


Ini bener - bener mimpi buruk buat gue!


Sangat - sangat terburuk selama gue hidup*.


" Uhm..... gimana, ya, aku bingung gimana neranginya.......err....." Al mengetukan jemari di atas meja. "Gini, Din, kamu tau...... kita berdua bukan anak kecil lagi...... udah sama - sama dewasa, udah harus mikir panjang...."


"Ok......ok.... tadi kan, yang ini udah di bahas.... terus.....terus?" ujar Adinda dengan tidak sabar bercampur kesal dengan Al.


*Gue harus bisa tenang.


Gue nggak boleh emosi dulu.


Gue harus dengar alasan Al*.


"Dan kamu........ bentar lagi kan, mau diwisuda..... terus, kerja.... dan yang pasti nikah. Aku ngerti banget sebagai perempuan, kamu pasti nanya mau dibawa ke mana hubungan kita ini, kan?"


"Uh..huh." Adinda mengangguk. "Dan intinya?"


Adinda mulai tidak sabaran lagi.


"Aku nggak mau, Din, kasarnya ' mempermainkan ' kamu. lebih lagi kamu adalah seseorang yang spesial....."

__ADS_1


"Spesial Al?"


Senyum yang mengembang dari wajah Al, seperti sesuatu yang dipaksakan.


"Kalo aku memang spesial, kenapa kamu sampe mutusin aku Al?"


"Din.......kalo aja kamu ngerti, ini nggak gampang buat minta putus dari kamu..... Tapi, aku terpaksa, Din. Aku ngerasa nggak pantas buat jadi pacar kamu."


"Biar gampang, aku tarik benag merahnya aja, ya Din."


Adinda berusaha menahan emosi.


"Pertama, kamu bilang aku ini adalah orang yang spesial. Kedua kamu ngerasa nggak pantas buat jadi pacar. Ketiga, karena alasan itu kamu minta putus.


Nggak logis banget kan?"


Bilang itu sekali lagi, gue cekek, loh, Al.


Hening


"Ya....... selama ini aku sada aku selalu ada 'dibawah' kamu, Din," ujar Al dengan kedua tangan membentuk tanda petik. "Aku dua tahun di atas kamu, tapi aku masih belum lulus."


"Itu nggak masalah, kok."


"Sementara kamu sendiri sebentar lagi mau diwisuda.... mulai dengan kehidupan yang baru, kamu akan kerja di perusahaan yang udah lama jadi impian kamu."


"T - tapi....."


"Kamu ngerti bahasa Belanda, bahasa Prancis.... aku? Sama sekali gak tau apa - apa."


"Tapi......"


"Kamu bisa bela diri..... aku nggak."


"T-tapiii....."


Entah kenapa kata - kata Al kali ini mampu membuat mata Adinda basah.


Cairan bening itu, datang tanpa di undang.


Hatinya perih bila harus membayangkan akan kehilangan Al. Orang yang selama satu tahun terakhir ini mengisi kehidupannya. orang yang selalu mengajanya melihat bintang. Orang yang bisa membuatnya tersenyum bahagia, tertawa dalam duka, dan yang terpenting membuatnya selalu ingin melakukan yang terbaik.


Sedih, kesar, marah dan kosong bercampur jadi satu membungkus perasaan Adinda saat ini. Tapi, di lain pihak, apa yang di katakan Al adalah benar.


"Al....." Adinda berusaha meraih tangan Al.


"Kamu ngerti kan, Din."


"Aku nggak pernah mikir sama sekali hal yang kamu bilang tadi, Al. Aku sama kamu, tuh...uh... gimana, ya.... aku ngerasa cocok aja sama kamu. Karena kamu, aku bisa ngelakuin segala sesuatu dan berusaha untuk jadi yang terbaik."


"Tapi kamu terlalu baik buat aku, Din..."


"Bukankah semua orang ingin melakukan yang terbaik buat pasangan ya, Al?" ujar maya cepat sambil menahan air mata yang menetes.


*Gue nggak pengen putus dari kamu Al.


Please, Al.... gue tuh udah ngerasa cocok banget sama lo, jangan tinggalin gue iya*.


"Tapi, itu justru susah buat aku.... lama - lama jadi beban, Din."


"Susah gimana? Jadi beban gimana? Tolong bikin gue ngerti, Al." Adinda terus memberondong Al dengan pertanyaan.


Gue masih pengin mempertahankan hubungan ini Al. I'd do anything!


Bahkan sampe ngemis juga gue rela.


Ngemis untuk seseorang seperti Al, kan,wajar banget!

__ADS_1


Gue rela yang penting Al, nggak ninggalin gue.


"Din....ini masalah pride, sebagai laki - laki seharusnya aku bisa lebih dari kamu. Coba kamu pikirin lagi apa yang udah aku bilang.... kalau selama ini emang benar, aku ada di bawah kamu..... dan terkadang itu yang ngebuat aku ngerasa bukan laki - laki."


Sesaat Adinda terdiam. Ia melarikan pandangannya ke luar. Tapi, pandangan itu kosong. Sulit bagi Al untuk mengartikannya.


"Tolong jangan bikin ini jadi tambah susah..... aku putus dari kamu bukan hal yang gampang. Kamu pantes dapetin seseorang yang lebih baik dari aku."


"Semua alesan yang kamu bilang itu nggak cukup buat bikin kita putus Al."


Tidak ada respon dari Al.


"Al, please, dengar aku......" Adinda mengiba "Aku sayang kamu banget, Al..... Masa. sih, kamu nggak bisa melihat itu?"


Al tetap diam.


"Aku nggak bisa iya merubah pendirian kamu?" Adinda menghapus air mata yang mengalir perlahan di pipi.


Al menggeleng.


"Kamu adalh yang terbaik dan kamu berhak dapat yang terbaik juga."


Adinda menatap Al lurus - lurus.


*cowok ganteng ini yang sekarang ada di depan gue.... orang yang gue sayang banget dalam sejarah gue pacaran, minta gue cuman jadi teman aja?


Nggak ada orang lain yang bisa buat gue sayang banget selain lo. Al, apa lo nggak tau sedalam apa gue cinta ke lo*?


"Justru kamu yang terbaik buat aku, Al."


Al menggeleng untuk yang kesekian kalinya. "Nggak, Din. Bukan aku yang terbaik buat kamu. Tolong jangan bikin semua keputusan ini sulit. Jadian sama kamu adalah sesuatu yang indah.... dan aku pengin hubungan kita berakhir dengan indah juga."


Mulut Adinda bergetar, ia tidak sanggup lagi untuk menahan air mata yang makin lama menggenang. Hatinya berteriak - teriak menolak keputusan yang secara sepihak itu. Rasanya ia terlalu lemah untuk menaggukan kepala, menerima keputusan Al tentang hubungan mereka berdua yang pada akhirnya harus tutup buku, selesai, usai sampai disini.


Tanpa banyak bicara, Al langsung memeluk Adinda. Wajah Adinda tengelam dalam pelukan sambil menangis kuat - kuat. Alexsander Zoe, separuh tarikan nafas hidup itu kini memilih pergi.


"Aku bakalan susah untuk ngelupain kamu Adinda."


*********


Adinda tidak pernah mengenal kalimat diputuskanoleh seorang laki - laki. Selama ini, sulit dibuktikan ada beberapa puluh laki - laki yang harus 'mejderita' karena di putuskan Adinda.



Selalu Adinda yang memutuskan semua yang pernah jadian dengannya. Tidak pernah tidak.


Adinda adalah :


Seorang perempuan dengar gelar spesialis penolak pernyataan cinta dan ratu spesial memutuskan cinta. gelar itu ia dapatkan dari seluruh kamu yang tersakiti. Sebagai perempuan, Adinda beruntung di karuniai wajah yang cantik. Badan yang berisi karena ia menekuni bela diri dengan serius sampai berhasil meraih sabuk hitam. Selain itu, prestasi akademinya pun kayak di kagumin. Lulus dari Teknik Elektro - Universitas Bumi Parahyangan dengan predikan cum laude adalah bukan sesuatu yang dapat di raih dengan mudah.


Dibalik semua itu, bila berhadapan dengan maslah, iya tenang dan berusaha mencari solusi dengan baik. Tapi, jangan coba - coba mengusik dia. Berurusan dengan Adinda adalh mimpi buruk buat kamu.


Ia bukan tipe perpuan yang senang berdandan dan menghabiskan waktu berlama - lama ke salon untuk sebuah perawatan kulit. Ia nyaris membiarkan wajahnya polos tanpa mek-up. Tapi, semua itu tidak membuat kecantikannya berkurang. Justru karena kesan natural ditambah otaknya yang berisi membuatnya memiliki banyak 'pengemar' .


Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam sejarah, ia merasakan penderitaan akibat di putuskan Al, seorang laki - laki yang bisaembuatnya berkata. 'Akhirnya gue dapetin seseorang yang gue cari selama ini.' Adinda harus tabah menerima permintaan Al untuk mengembalikan hubungan mereka *back to sguare one*, kembali menjadi hubungan pertemanan biasa.


Usai Al mengantarkan pulang, Adinda terbaring lemas di tempat tidur sambil menatap langit - langit.


Al........


kok bisa jadi seperti ini sih?


kok kamu tega putusin gue?


Dimana letak kesalahan gue Al, apa gue salah ngelakuin yang terbaik?


Gue belajar sampai jungkir balik, sampai pukul dua pagi supaya gue bisa lulus kuliah dengan predikan cum laude.

__ADS_1


Gue belajar bahasa Belanda dan Prancis itu, karena gue emang pengen itu menjadi nilai tambahan gue kalo kerja nanti


__ADS_2