Kok, Putus

Kok, Putus
Selingkuh


__ADS_3

"Al, yebeliiiiiinn..........!" Maki Adinda keras - keras.


"Tukang bohong nomor satu di Bandung." Tambah Andin.


"GILA! Jadi....... selama ini, yahaaaampun......"


Adinda mengepalkan tangannya kuat - kuat.


Andin memamerkan ekspresi pembunuh bayaran.


Geram luar biasa.


"Gue nggak nyangka, dia tega selingkuh, An...."


Lama kelamaan Adinda mulai berkaca - kaca karena begitu sebal dan kesal. "Selama ini.....nggak ada tanda - tanda ke sana. Gue yakin dia setia - setia aja." Adinda terdengar sangat sedih, padahal tujuan ya datang ke UTP ini adalah untuk meminta Al kembali. Ternyata, Al lama memberinya kejutan lain.


"playboy banget, tuh, orang! Berani macem - macem sama sobat gue," maki Andin


Tiba - tiba Adinda merasa dadanya sesak. Sadar ternyata selama ini, Al telah memiliki orang lain alias selingkuh.


"Orang macam Al harus di kasih pelajaran tuh, sekali - sekali." Andin geram. "Din, udah, deh.......mendingan sekarang elu turun.....sperin tuh, si kutukupret gila yang katanya lagi rapa di himpunan. Penasaran gue pengen lihat ekspresinya."


Adinda masih terlihat geram dan marah, tapi tetap diam.


Tidak bereaksi terhadap perkataan Andin.


Melihat sikap Adinda, Andin kembali memanas - mana si. "Al bener - bener harus di kasih pelajaran, Din. Udah datangin aja dia mumpung lagi ketahuan berduaan sama si Nenek Sihir itu.


Labrak dong.


Seenaknya aja mutusin elu. Al..... Al..... sinting bnget, sih, lo jadi orang!"


Adinda kembali tengelam dalam alam pikiran sendiri. Mendengar apa yang di katakan Andin, membuatnya marah dan sangat kesal pada Al.


"Kamu terlalu baik buat aku, Din....." Penggalan kata - kata Al malam minggu kemaren kembali menggaung di telinga.


*Terlalu baik.


Terlalu baik dari jepang?


sial banget, sih, gue...... bisa - bisanya di kadalin orang macem* Al.


"Heh..... kok bengong?" Andin menjentikan jarinya persis di depan mata. "Buruan sana, langsung labrak....... marah - marah...."


"Uh?" Adinda tersadar dari alam pikirannya sendiri.


*Labrak?


Emang paling seruh kalo sekarang gue datangin Al..... marah - marah...... ngelepasin semua rasa kesal gue karena terbukti banget semua yang dia omongin itu bullshit doang*.


"AARRRRGGGGGGHHHHH....... dari tadi gue tahan tapi sekarang gue benar - benar marah sama dia!" Adinda kembali membayangkan Al yang sedang bermesra - mesra ria dengan si Nenek Sihir itu.

__ADS_1


"Orang kayak gitu emang pantas buat di hajar, Din. Dia nggak inget apa, kalo lo itu punya sabuk hitam karate."


Pandangan Adinda masih terfokus pada Al dan si perempuan misteri yang di sebut si Nenek Sihir oleh Andin. Meski dari jauh Adinda dapat melihat mereka..... saling tatap, dengan pandangan malu - malu. persis seperti yang terjadi saat ia dan Al pertama kali bertemu di kereta Api. Sekarang, pandangan mata itu bukan miliknya lagi. Harapan untuk kembali kepada Al, pupus sudah. Rasa sayang yang masih menggunung dan mengharap Al kembali kini runtuh, berubah menjadi rasa benci yang amat sangat dalam.


you will be really hurt by the person you love the most.


Seperti saat ini. Adinda yang sangat perih, marah, dan sedih bercampur kecewa dengan apa sedang di lihatnya. Ternyata, apa yang dikatakan Al di malam saat ia memutuskan Adinda, hanya alasan yang dibuat - buat. Setiap detik, setiap hari, setiap hembusan nafas menyayangi Al..... kini terasa sia- sia.


Bila memang Adinda orang yang sepesial baginya, tentu tidak akan mudah untuk melupakan Adinda hanya dalam waktu 2 x 24 jam saja.


Adinda berpikir panjang. Melabrak Al adalah satu - satunya hal yang sangat ingin ia lakukan saat ini.


Tapi......


Tapi.......


Adinda memutar kunci dan tancap gas. Dengan kecepatan tinggi ia meninggalkan area kampus UTP.


"WOY, DIN! MAU KEMANA LO? HEH, BUKANYA ELU MAU NGELABRAK AL?"


Adinda hanya diam.


"Nggak berani lo?"


Masih terap diam.


"Wah.....wah......ada orang bermental ayam nih di mobil ini."


Adinda malah menjawab dengan senyuman. Entah kenapa wajahnya terlihat tenang. Berbanding terbalik dengan Adinda beberapa menit yang lalu ketika ia melihat Adinda berduaan dengan Nenek Sihir.


Adinda asyik dengan alam pikirannya. Andin, sahabatnya sendiri sangat bingung dengan sikap Adinda. Sebegitu putus asa Adinda sehingga Andin menganggap Adinda sedang tidak waras?



Adinda malah menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi. Andin akhirnya menyerah. Ia diam dan dalam hati menuduh Adinda sudah sakit jiwa.



*Mobil* sedan hitam milik Adinda memasukin halaman rumah tempat tinggal Andin. Andin langsung menghempaskan tubuh di atas tempat tidur begitu mereka masuk kamar.



"Pokonya sekarang gueinta penjelasan!" Andin kembali menyerang Adinda. Ia terlihat penasaran melihat sikap Adinda yang menurutnya tidak bernyali. "Gue nggak percaya melihat lo tadi. Bukanya ngelabrak, malhh kabur. chicken banget, sih, lo....... petoooook, petoookk."


"Santai, dong....," ujar Adinda dengan tenang sambil duduk di sisi tempat tidur.


"Santai gimana maksud lo? Kalo gue jadi elu, udah habis tuh si Al tadi. Elu.... ngelabrak, dia dong nggak berani..... payah!"


Adinda menggeleng. "Cuman sekali ngelabrak doang, sih, nggak ada puasnya buat gue."


" Ngelabrak si Al di depan umum dengan selingkuhannya gitu nggak buat lo merasa puas?"

__ADS_1


Adinda tertawa penuh arti. Andon bengong.


"Kurang jahat, An."


"Hah?"


"Dimana - mana yang namanya bales dendam itu harus lebih jahat biar lo puas. macem - macem sama gue, urusannya bisa panjang." Adinda tersenyum licik.


"Killing him softly, maksud lo?"


"Iya dong, kalo gue langsung labrak dia..... enak di dia, nggak enak di gue. Gue bakal di cap cewek temperamental dan nggak punya harga diri. Males banget, kan?"


"Hmmmm....."


"Lagian....... berantem gara - gara ngerebutin cowok? PLEASE, deh....."


"Hahaha......."


"Sekarang ngerti, kenapa tadi gue nggak turun dan langsung ngelabrak, kan, An?"


"Wah...... lo cerdas juga lo ya, say." Andin tertawa.


"Gue pintar, tapi Al nggak tau sepintar apa gue. Dia pikir gue udah berhasil di kadalin, kali. Tapi, dia salah!" Adinda mengeluarkan sebuah buku dari atas tas ranselnya.


Andin terdiam.


"Nih, gara - gara ini pikiran gue berubah." Adinda menyodorkan buku itu pada Andin. Andin yang sedang terbaring dengan lipatan tangan di bawah kepala, segera bangun.


" Raja perang......" itulah judul yang tertera besar - besar pada kulit buku pada cover. "Buku ini yang bikin li nggak jadi ngelabrak Al? bukanya ini buku tentang perang? Nah, bukanya elu secara nggak langsung lagi perang juga sama Al?"


"Justru itu." Adinda berbinar - binar. "Seminggu belakangan ini gue emang lagi baca buku ini, makanya gue masukin ke ransel. Pas gue udah mau niat keluar mobil mau ngelabrak Al, gue jadi ingat buku ini. Yang namanya perang, harus ada setrategi juga. Nggak bisa langsung labrak gitu."


"Jadi strategi lo apaan?"


Adinda tersenyum sinis, tapi penuh arti.


"Bales dendam, dong.....


Perang.


Dan abis itu..... gue pengen bikin Al itu nyembah - nyembah gue, minta balik sampai dia nangis. Inget ya An, sapai nangis!


Gue mau bikin dia ngemis - ngemis cinta sama gue. Gue mau bikin dia nyesal udah mutusin gue...... Gue mau ngancurin dia sama si Nenek Sihir itu....... pelan - pelan...."


"Duh...... lo itu ya......" Andin tersenyum lebar mendengar ide gilanya Adinda.


"Dan kalo dia minta balik, udah pasti gue tolak mentah - mentah."


"Jahat banget lo.......... hahaha......."


"Ok, Fine........ sekarang dia udah ngerjain gue.... udah nyakitin gue, tapi nggak bakal gue biarin dia asik- asik hidup bahagia sama si Nenek Sihir itu....."

__ADS_1


Andin tersenyum sambil sambil menggelengkan kepala.


Lagi - lagi, Adinda tersenyum licik. "Alexsander Zoe.... mulai detik ini. I will be your worst nightmare, hahaha....."


__ADS_2