
Minder?
"Aku pengen kita temenan aja."
Adinda mengulang yang di katakan Al saat perayaan satu tahun jadian mereka.
"Ah, jangan ngajak gue becanda, Din." Andin masih tidak percaya mendengar Adinda membuat pengakuan bahwa hubungan ya dengan Al sebagai pacar sudah berakhir.
"P. U. T. U. S
Udahan
Tamat
The and
selesai, sekian dan terimakasih, sampai jumpa lagi." ujar Adinda kembali menegaskan.
"HAH? Gila lo....kok bisa setahun ngerayain jadian, kalian malah putus, sih?"
Kantin kampus Bumi Parahyangan saat itu terlihat sepi karena sebagian mahasiswa sudah masuk ruang kuliah.
Hanya ada Adinda, Andin, dan tiga orang laki - laki duduk secara terpisah di meja yang berjauhan.
Namun mereka cukup mendengar suara Andin yang bervolume tinggi, otomatis ke tiganya menoleh.
"Ini konser rock?" ujar dari salah satu mereka dengan nada sinis. "Eh, Adindaa.... kirain siapa..." Ketika melihat Adinda, wajahnya langsung berubah romantis.
"Sssh.... pelan - pelan dong, kalo ngomong ," pinta Adinda sambil memberi isyarat agar Andin mengecilkan volume suara.
"Sorry, Din. Nafsu nih, gue.
Oke, gue ulang sekali lagi..... ngerayain setahunan jadian, kok kalian malah putus, siiih?"
Adinda menarik nafas panjang. "Lo kalau nanyak itu jangan ke gue, salah orang. Nanya nya sana sama Al."
"Baruh sekarang nih gue dengar ada kasus yang kayak gini. Keterlaluan tuh, Al. Nggak tau apa sobat gue ini bela - belain beli sepatu hak tujuh senti buat acara dinner setahunan kemaren?! Lo pengen gue apain tuh si, Al? Lo mau nggak kalo gue manggil anak - anak karate kampus buat ngeroyok dia?" Andin mengepalkan tangan. Geram.
"Udalah, An. Kita putusnya baik - baik kok."
"Mana ada putus baik - baik, Din?" ujar Andin sengit
Adinda menunduk. Kelopak matanya kembali basah oleh air mata.
__ADS_1
"Basi banget deh tuh orang."
Adinda menarik nafas panjang.
"Din....... alesanya apa sih, sampe dia mutusin lo segala?"
Ekspresi wajah Andin masih geram.
" Dia bilang, dia nggak pantas buat gue, An.... Dia bilang gue terlalu baik buat dia karena dia merasa gue selalu ada di atas dia. Menurut dia, semua ini tentang pride dia sebagai laki - laki."
"Oh ya? Itu alesan dia buat mutusin elu, Din?" Volume suara Andin mengecil.
Adinda menagguk lemah.
"Oooh..... gue pikir..... bukan itu alasnya. Hmm.... susah juga, ya." Kekesalan Andin mere dah. Dalam hati ia memang setuju dengan pendapat Al. Terlebih lagi dari segi prestasi, Adinda selalu ada di atas Al.
"Kok bisanya pacarang sama gue, dia ngerasa nggak jadi laki - laki? Jelas - jelas nggak punya 'dada'...... itu yang buat gue nggak ngerti, An." Adinda tersenyum getir.
Andin menyeruput segelas orange juice yang ada di hadapannya. Sesekali ia mempermainkan sedotan plastik warna biru sambil mendengarkan Adinda curhat.
"Errr..... gimana, ya," Andin menarik napas. "Kesimpulannya gue sih, dia minder kali sama elu."
"Salah nggak, sih, kalo gue pengen ngasi yang terbaik buat dia?" Adinda masih menangis pelan.
"Gue aja nggak pernah mikir kayak gitu. Dia dia yang buka Forum. Kata dia, gue yang dua tahun di bawah dia bentar lagi mau wisuda.... sedangkan dia, masih ada sisa kuliah yang belum kelar...."
Andin masih terdiam.
"Gue nggak pernah ngangkat ini semua jadi isu. Bagi gue nggak penting yang penting gue sayang dia, dia juga sayang gue. Itu aja.
Titik.
Gue tuh udah bukan sayang lagi sama dia, An. Gue udah cinta mati sama Al, mana bisa gue setahun sama di kalo gue nggak cinta?" suara Adinda terdengar lirih. Ia menempatkan keningnya di atas meja, menunduk dalam - dalam menahan tangis.
Andin membelai rambut, Adinda. "Sssh......sshh....."
Andin membiarkan Adinda menangis. Andin memang sahabat yang baik dan pengertian. Memang inilah yang di butuhkan seorang perempuan. Seorang sahabat yang mampu mendengarkan dan mampu merasakan. saat seorang sahabat sedang curhat. Ia ingin di dengarkan. Kemampuan mendengarkan adalah kualitas yang sangat di butuhkan seorang perempuan dari siapa pun. Bila seorang perempuan merasa sudah didengarkan, iya akan mudah menerima solusi.
Tak lama, Adinda mengangkat wajahnya. Ia lalu menghapus air mata yang masih tersisa dengan kedu tangan.
"Nih, pakek tisu, Din." Andin menyodorkan tisu dalam plastik berukuran saku.
"Thanks, An."
__ADS_1
"Udah, mendingan lo tenangin dulu deh. Bentar gue beli air putih dulu ya." Andin beranjak dari duduk dan mengambil sebuah botol kecil air mineral.
"An........ Terimakasih banget, ya," ujar Adinda saat Andin menyodorkan sebotol air mineral.
"Udah gih, minum dulu ." Andin kembali duduk .
Usai Adinda membasahi tengorokanya, ia diam. Menopang dagu dengan tangan kanan. Kedua matanya sembab. Akibat terlalu lama menangis.
"Gue pikir acara dinner setahunan nggak kayak gini, Din."
"Gue juga nggak nyangka." Adinda mengangkat bahu, masih dengan wajah yang sedih.
"Dirumah gue udah nebak yang bukan - bukan loh, An....." Andin tertawa getir.
"Gue pikir tadinya gitu, gimana nggak mikir kesana coba..... orang dia ngomong.... kita udah dewasa, udah harus mulai mikir masa depan,sebagai laki - laki dia ngerti cewek butuh kepastian hubungan ini mau di bawa kemana......" Pandangan Adinda menerawang sambileningat peristiwa sabtu kelabu saat Al memutuskannya.
"Ternyata......."
"Ya.... ternyata, dia malah mutusin gue bukanya ngajak gue ketemu sama orangtuanya."
Hening.
Andin mengernyitkan dahi, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Din..... lo benar masih sayang Al?"
"Gue cinta mati sama dia, An."
"Kenapa kalo nggak lo ngajak dia balikan?" Andin menjentikan jarinya.
Sekilas ada kilatan sinar di mata Adinda. "Gue? Ngajak balikan Al?"
"Iya, kenapa nggak?"
"Hmmm...."
"Orang jelas - jelas lo masih sayang gitu sama dia. Kenapa nggak minta balikan lagi aja? Nggak salah, kan? Nggak ada kan, peraturan di negara kita kalau perempuan ngajak balikan itu salah?"
"Nggak ada, sih?"
"Iya.... udah tingal kamu atur aja kapan, lo akan bertemu dengan Al."
Adinda hanya mangut - mangut seprti sudah mengerti dengan perkataan Andin.
__ADS_1
NB. sorry teman- teman untuk beberapa hari ini saya nggak up dulu iya cernya. karena saya lagi kurang enak badan. semoga kakak - kakak suka cerita ini. 😊😊😊