Kok, Putus

Kok, Putus
Siapa, Dia?


__ADS_3

"Iya..... Andin..... kenapa nggak?


Bola mata Adinda membesar. Seperti ada keyakinan baru.


Adinda melirik jam tangan. Jantungnya berdegup kencang tiba - tiba perasaan ya bergejolak.


Adinda mengangguk cepat. "Jam segini sih dia pasti masih ada di kampus."


"Ya udah kita coba sekarang."


Adinda dan Andin berjalan menuju pelataran parkiran kampus yang sejuk berkat pohon di sekitarnya.


"Mau kemana Din?" Sapa seorang laki - laki teman kuliahnya ketika mereka berpapasan di salah satu sudut kampus.


"Gue antar, ya....?"


"Makasih, kebetulan saya bawa mobil." Adinda tersenyum sopan dan meneruskan langkahnya.


"Iiih...... itukan Panji anak desain yang cool itu, Din." sikun Andin. "Kalo lo nggak mau...... mendingan buat gue aja."


Adinda pura - pura tidak mendengar. "Tuh mobil gue parkir paling ujung." Adindan langsung mengandeng tangan Andin. Setelah Adinda membuka mobil. Andin duduk dan memasang set belt.


"Duh, panas banget, ih." Adinda segera menyalakan AC, mengikat rambut, dan mengenakan kaca mata hitam. "Lo, ngerasa nggak sih, An, kalo Bandung sekarang tambah panas?" Adinda menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah.


"iya, makanya gue jadi potong rambut pendek begini..... mana macet di mana - mana lagi."


"Terus lo perhatiin nggak kalau di mana- mana tuh banyank billboard di Bandung.?"


"BANGET! Segedek - gedek dinosaurus lagi, nggak cocok buat kota dengan jalan kecil!"


"Bandung kota Billboard udah nggak kota kembang lagi kali yeee....."


"Gue kangen banget Bandung tahun 80-an den Din. Zaman kita masih maen karet yeye, dulu, kayaknya udara Bndung sejuk deh dan nggak kenal macet. Sekarang Bandung udah kayak Jakarta, kalo macet bisa berjam- jam.


Mobil sedan hitam milik Adinda bergerak menuju kampus Al yang terletak di daerah utara Bandung.


"Lu yakin nih Al ada di kampus, Din?" ujar Andin sambil mengaitkan sebagian rambutnya yang pendek, di telinga.


"Yakin banget!" ujar Adinda kalau senin, sih, nggak tahu kenapa dia selalu sibuk di himpunan."


"Nggak lo coba telpon dulu?"


"Nggak usah deh..... biar kejutan buat dia." Adinda berkonsentrasi menyetir mobil. Bandung siang itu, seperti biasa, macet ada angkot jurusan Cihcaheum - ledeng yang mogok persis di depan mobil Adinda. Suara klakson mobil ramai bersautan.


"Bukan gueeeee yang nggak mau jalan..... nggak liat apa ada angkot mogok di depan mobil gue." sungut Adinda kesal karena suara - suara klakson seperti yang menuduh bahwasanya dia lah yang menghambat kelancaran lalu lintas. Sementara antrian mobil di belakanya begitu rapat sehingga ia harus sabar menunggu berapa menit untuk melewati angkot yang sedang mogok itu.


"Gila kali iya, nggak sabaran amat, deh, dia kira kalau ada yang menghalangi jalan bisa terbang gitu yang di belakangnya." Adinda ngedumel dengan kesal.


Andin yang mendengar dumelan Adinda, hanya tersenyum, merasa lucu dengan sahabatnya yang satu ini.


Lima menit kemudian, ban mobil Adinda kempes. Ia benar - benar kesal. Kenapa justru di saat ada satu hal yang urgent, selalu ada hal - hal yang tidak di inginkan, selalu datang.


Senin itu, setiap detik terasa berharga. Perasan ya begitu meluap - luap untuk meyakinkan Al agar kembali menjadi the someone special -nya.


"Bete deh, ih! Kalo lagi buru - bur pasti ada aja deh kejadian yang aneh - aneh," Sungut Adinda. ia mengarhkan mobil ke sisi trotoar.


"Udah........ tenang aja. Tuh, untung ban mobilnya kempes deket tukang tambal ban." Andin menujukan kios tembak ban deket tepi jalan Siliwang.


Urusan Menganti dan menambal ban mobil di serahkan pada ahlinya. Mereka tiba di kampus Al dua puluh menit kemudian. Adinda memarkir mobil di bawa pohon yang tidak jauh dari kampus Al. Al adalah mahasiswa kampus Tatar Pasundan (UTP), jurusan Teknik Arsitektur. Taman kampus Al di tumbuhi pohon pohon besar dan semak - semak sehingga terasa begitu teduh. Dua perempuan itu meninggalkan mobil dan berjalan menelusuri taman kampus yang luas.


"Eh, gue pikir - pikir mendingan gue telpon Al, deh." Adinda mengentikan langkahnya dan meraih handphone. yang iya simpan di dalam tas. "Males juga kalo nyamperin dia di himpunan."


Mereka lalu duduk di sebuah bangku yang terbuat dari besi. Andin sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kampus, sambil mengagumi kegantengan beberapa mahasiswa UTP yang keluar dari gerbang.


"Duh........ damai nya dunia, ya, yang penuh dengan cowok - cowok ganteng yang pintar ini. yang itu....... mirip banget dengan dengan Ciko jeriko, tuh! Yum.... Arah pukul dua, bispenya oke bangat.


Iiih...... rajin fitnes ya, Kang. Ya ampuuun, ara pukul sembilan! Cowok itu, sih, selerah gue banget!" Andin sibuk sendiri memeriksa kiri dan kanan. "Din........ Din.... arah pukul sebelas, Din!"


"Apaan, sih? Arah pukul sebelas mirip banget dengan dengan Rano Karno, ya?"


Adinda malah sibuk dengan mencari Handphone di antara barang- barang yang ia simpan dalan tas. "Bentar, ah. Ih.... ini handphone ke mana, sih." Ia mengaduk aduk isi tas ransel.


"IH! BURUAN LIHAT SEKARANG, SIBUK BANGET LO!"

__ADS_1


Setelah mendapatkan handphone yang ternyata terselip dalam buku Novelnya yang sedang ia baca, Adinda mengangkat dagu dan mengalihkan pandangan ke arah pukul sebelas seperti yang di perintahkan Andin.


JGERRR!


Rasa disambar petir, ia tidak mempercayai apa yang sedang di lihatnya.


Al.


Arah pukul sebelas.


Ia berjalan dengan seorang perempuan berambut panjang sambil memeluk pundak dan membelai rambut.


Tampak mesra dan begitu hangat.


Dan Adinda sangat tahu, Al tidak akan memeluk pundak perempuan yang tidak berstatus pacarnya.


Seketika handphone dalam genggaman Adinda jatuh.


"I....itu..... A -Al?" ujar Adinda dengan mulut menganga sulit di percaya.


Al dan perempuan misteri itu lalu berhenti dan duduk di bangku besi taman kampus. Area taman di sebelah barat kampus.


Hari ini memang terbilang sepi, terlebih lagi sore seperti ini.


"Nunduk! Nunduk!" perintah Andin. Adinda menurut. Dua orang sahabat itu membujuk di semak - semak sambil terus memandang Al dan si perempuan misteri.


Setelah jeda beberapa detik dan merasa aman, Adinda mulai mengangkat dagu nya secara perlahan dan mengintip Al, orang yang baru memutuskannya dua hari yang lalu dengan alasan bahwa itu tidak pantas untuk Adinda, sedang duduk berduaan dengan seorang perempuan misteri.


"Siapa, sih, cewek itu, Din? Sodaranya Al?" Andin yang mengintip di belakangnya Adinda.


Adinda menggeleng pelan. "Al sama sekali nggak punya sodara yang tinggal di Bandung."


"Kok mesra gitu, sih? Sekarang mereka lagi ngapain? Gue nggak bisa lihat jelas, nih."


"Ngob.....rol.... sambil ngelihat sesuatu...... hmmm kayaknya foto, deh....." Jantung Adinda berdegup kencang.


"Terus......terus......?" Andin antusias.


"Andin, lo aja deh yang ngeliat," ujarnya dengan wajah pucat.


"Loh, kenapa?"


"Please...... Gue nggak sanggup."


"Ya udah sini," Mereka bertukar posisi. Andin yang mulai berakting seperti seorang detektif. "Mmm....... mereka ngobrol..... senyum - senyum gitu..... terus mereka pegangan tangan sambil lihat - lihat foto..... kayaknya sih, mesra gitu ya, Din. Sesekali Al benerin rambut si perempuan misteri itu.


Beberapa menit Andin sangat menekuni perannya sebagai detektif . Matanya nyaris tak berkedip memperhatikan Al bersama perempuan tak di kenal itu."


Sesaat, Adinda menghentikan aktivitasnya.


" Din?"


"Ya, An?" ujar Adinda lirih sambil mengigit bibir perlahan.


"Al...... udah pacaran lagi, ya?" ujar Andin pelan dan terdengar sangat hati - hati. "Cewek itu..... pacarnya Al ya, Din?"


Beberapa saat Adinda diam, tidak menjawab pertanyaan Andin. Ada awan hitam mengembang di atas kepala. Ini seperti mimpi buruk baginya.


Melihat Al yang bermesraan dengan seorang perempuan, membuat hati Adinda berdenyut nyeri.


*Al.....


Udah pacaran lagi, sejak kapan?


Ah, rasanya nggak mungkin deh?


Orang gue sama dia baru putus sabtu kemaren, kok.


Secepat itu, kah, dia ngelupain gue?


Nggak mungkin banget kan, orang dia bilang sendiri bakalan susah susah ngelupain gue.


Masa, sih, dia bohong?

__ADS_1


Dan cewek itu...... dia siapa?


Please jangan bilang dia pacarnya Al, seperti yang di ucapin Andin tadi.


Gue nggak terima banget.


Kecuali dia setan gitu, gue masih terima*.


Adinda tetap tidak percaya.


Tapi dengan kejadian sekarang yang sedang berlangsung secara live dari kampus Al, membuat Adinda tersadar bahwa yang di katakan Andin adalah benar.


"Iya kali, An.......?" jawab Adinda lemah


"Dasar, gila, tuh, orang."


Adinda meraih handphone dan mencoba menghubungi Al.


Sedangkan Andin masih sibuk meneruskan misi pengintaiannya.


"Ya...... ya...... Al ngambil handphone nya, Din.... terus.... dia berdiri dan menjahuin si perempuan misteri itu....."


Terdengar ada nada sambung.


"Halo? Al?" nada suara Adinda terdengar tegas.


"Eh, Din...... ada apa nelepon?"


"Nggak apa - apa...... pengen aja dengar suara kamu setelah kita jalan malam minggu kemaren."


"Oh....... baik - baik aja.....," ujar Al, seperti biasa tenang.


"Mmm....... baik - baik aja, ya?" ujar Adinda kesal.


*wow, udah selesai lo mutusin gue dengan terburu - buru, hidup lo baik - baik aja, ya, Al.


Dan nyaman banget ya buat lo*.


"Aku lagi di himpunan nih, lagi rapat. Ntar malem aku telpon, ya."


KLIK


Mulut Adinda menganga membentuk huruf O besar.


"Gila, dia langsung mutusin telepon gue sebelum gue sempet ngomong." Adinda tercengang. "Dia buru - buru gitu An nutup telepon. Ngakunya lagi rapat di himpunan."


"Huh, rapat di himpunan di mana? Di Hong Kong? Dasar kadal!"


Adinda dan Andin kembali melangkah dan masuk ke mobil.


"Gue rasa, Al itu udah selingkuh deh Din...... sebelum dia mutusin elu."


Adinda tidak menjawab, tapi terbersit ragu tergambar si wajahnya.


"Coba dong, lo pikir, ada gitu orang yang baru dua hari putus langsung sibuk dengan orang lain? Nggak mungkin!"


Adinda tetap diam, mencoba mencerna apa yang baru di katakan Andin.


"Teori gue sih bilang dari sebelum - sebelumnya sih, mantan lo itu udah dekat dengan sih Nenek Sihir itu...... selama ini Al udah selingkuh di belakang lo."


Adinda terdiam, Andin terus menyerocos untuk membuktikan kebenaran teorinya.


"Apa lagi menurut lo Al itu termasuk kategori cowok yang nggak gampang deket sama cewek, kan?" tantang Andin sibuk bergerak ke kanan kiri, tanpa arti. Ini memang kebiasaannya saat berbicara.


Adinda masih terus diam.


Pikiran ya terbang berkelana ke langit ke tujuh, entah apa yang sedang di pikirkan Adinda, entah lah hanya dia yang tau.


"Pikir dong, Din. Sadar nggak, sih, kalo selama ini lo udah di kadalin Al?"


Adinda masih bungkam.


"Brengsek banget, tuh, orang ya, emosi gue lihat tingkahnay."

__ADS_1


__ADS_2