Kontrak Hewan Legendry Terkuat Dan Jahat

Kontrak Hewan Legendry Terkuat Dan Jahat
Eps 1. Awal cahaya baru


__ADS_3

Setelah lima ratus tahun telah berlalu, kedua ras bersaing memperebutkan siapa yang terbaik dan menjadi yang terkuat.


Mentari yang sangat terang diatas langit menyinarinya, langkah kaki yang pelan seorang anak berusia lima belas tahun sedang duduk memancing di tepi sungai, mata biru memandangi keindahan pohon-pohon, mendengar suara kicauan burung yang bersiul indah.


"Argh!, kali ini aku akan mendapatkanmu!." Ikan yang yang melompat- lombat di atas air sungai yang deras memberikan rasa kesal dan marah, umpan yang ia gunakan tidak menarik ikan satupun.


"Uaaaa! ... Eaaaa! ... Aaa!" Joran pancing kayu yang melengkung tertarik ikan besar, Mata yang berbinar- binar, keduatangannya berusaha menarik joran pancing kayunya yang melengkung tertarik ikan.


Suara cipratan air yang mengenai pakaian daeki hingga basah kuyup, ikan yang memakan umpannya melompat keatas air, senyuman manis seorang wanita berusia lima belas tahun yang sedang duduk diatas batu besar di bawah pohon, ia tertawa keras melihat sahabatnya terjatuh terpeleset saat menarik joran pancingnya yang patah.


"Hahaha, Kamu sangat lucu sekali Daeki Eiji, apa kamu sudah makan siang?" wajahnya yang memerah yang tersipu malu, ia sambil membuka kotak makanannya di pangkuannya yang terbuat dari kayu berisi dua roti kukus isi sayur.


"Ini sangat menyebalkan!, aku hanya mendapatkan lima ekor ikan, pancing ini sudah usang!" Mata yang menatap tajam joran yang patah, hati yang meledak melemparkan jorannya kesungai, ia berdiri, berjalan menghampiri Naomi, menaiki batu besar, duduk disamping Naomi.


"Ini untukmu!" memberikan kotak makanannya yang ia pegang dengan kedua tangannya, kepada Daeki Eiji yang duduk disampingnya.


"Terimakasih" Daeki Eiji, mengambil makanannya dengan sumpit ditangannya, ia memasukan roti kukus kedalam mulutnya dengan lahap, rasa manis dan pedas yang luber dimulutnya, pupil matanya yang membesar memberikan rasa senang dan kehangatan, "ini sangat enak, aku sangat suka apalagi sayur wortel yang dikukus dengan lembut, daging ayam pedas memberikan citra rasa kumplit dari manisnya"


Daeki yang terlalu banyak bicara saat makan ia tersedak, "Ohok ... Ohok! ... Ook!" memukul dadanya, roti kukus yanh ia telan keluar dari mulutnya.


Naomi yang melihat Daeki tersedak ia menertawainya dengan keras, ia memberikan botol bambu yang berisi air kepada Daeki Eiji, "pelan- pelan!, saat makan"


Glek ... Glek ... Glek


"Segar, aku hampir mati, hehehe" menatap langit.


"Daeiki, aku tidak mau mati!" air mata yang mengalir di pipi bulatnya, ia menangis di pundak Daeki Eiji.


Daeki Eiji yang melihat Naomi terus menangis setiap mereka bertemu di sungai, ia memeluk Naomi dengan erat dan mengelus rambutnya dengan lembut, "Aku akan melawan dewa bila dia berani membunuh Naomi!"


"Siapapun yang berani menyakiti Naomi mereka akan menyesalinya!" berdiri diatas batu, berteriak kencang, menganngkat tangannya yang memegangi roti kukus keatas langit.


Naomi yang mendengar ucapan Daeki Eiji, ia tersenyum kembali menatap langit, kedua tangannya menghapus air matanya yang membanjiri pipinya, iapun ikutan berdiri dan berteriak "Dewa berikan aku kehangatan!, berikan aku kekuatan untuk mengalahkan penyakit yang aku derita ini!" hati kecil Naomi yang merasa lega setelah mengucapkannya.

__ADS_1


"Hari ini sudah mau gelap, ayo kita pulang, ibu dan ayah pasti akan mencari kita" turun dengan perlahan dari atas batu besar.


Naomi yang melompat dari batu besar, Daeki Eiji yang melihat kebiasaannya itu, ia menangkapnya hingga terjatuh bersama " Hahahaha" dan tertawa bersama.


Mereka berdua berjalan kaki mengikuti arus sungai, ia melihat jembatan kayu, Naomi dan Daeki Eiji berpisah, mereka berhenti sejenak saling melambaikan tangannya, senyum manis yang berpura- pura.


"Naomi, aku akan menemuimu lagi!, aku berjanji akan menemuimu di sini" teriak, ia membalikan badannya dan berlari.


"Aku akan menunggumu!" berteriak, air matanya menetes, melihat Daeki Eiji pergi. "Aku akan selalu menunggumu disini!"


●●●


Desa Fuki


Langkah kaki yang berjalan memasuki desa membawa ikan hasil tangkapannya di keranjang kayu yang terikat tali di pinggannya, ia tersenyum sepanjang jalan, orang - orang desa melihatnya sangat aneh.


Pria tua berjanggut putih, memegang tongkat kayu, ia menatapnya "nak, aku melihatmu terlihat senang sekali hari ini?" kakek tua yang sedang menyapu halaman rumahnya.


"Terimakasih, nak Daeki" tersenyum, tangan kanannya memegang tali yang mengikit ikan.


"Sampai jumpa lagi kakek" Melambaikan tangannya, ia berlari sambil berteriak " aku akan menjadi yang terkuat!" melompat - lompat kegirangan, semua warga desa yang melihat tingkah lakunya tertawa.


●Rumah Daeki terbuat dari kayu■


"Ayah, ibu, Fan Er, aku pulang!" membuka pintu, berlari menuju dapur.


seorang wanita yang mencium yang bau amis, tatapan tajam melihat pakaiannya kotor, basah kuyup, ia menjewer telinga Daeki Eiji. "Cepat mandi!" teriak, sambil memukuli pantatnya dengan tangannya, mereka berdua berjalan menuju kamar mandi.


"Hehehe, kakak lucu" Fan Er, tertawa, sambil memotong wortel di atas meja makan.


Tiga puluh menit berlalu Daeki yang selesai mandi, dan mengganti baju di kamarnya, ia berjalan menghampiri ibunya yang sedang membersihkan ikan "Ibu aku akan memotong ikannya" menyentuh ikan yang di atas meja.


"Apa mau ibu pukul lagi!" Menatap tajam, ia sambil memegangi pisau besar yang penuh darah ikan.

__ADS_1


"Lebih baik kau menyapu halaman rumah daripada kau bermain- main terus!"


Daeki yang melihat ibunya marah, ia berlalari dengan cepat menuju halam rumah, "Ibu lebih menakutkan daripada iblis!" ucap dalam hatinya.


"Ayah kamu sedang apa?, berdiri sambil menghormati pohon?" Daeki yang mengambil sapu dekat kursi dan menyapu halaman yang penuh daun- daun kering berserakan.


"Apa kamu tidak lihat dirimu sendiri!, ini semua karena ibumu yang pemarah itu"


"Hahaha, apa kau membuat ibu marah lagi" menertawainya.


"Dasar anak sialan kau menertawai Ayahmu sendiri, apa kau mau Ayah laporkan kau selalu berkencan di sungai setiap kali memancing!"


"Aku akan melaporkan Ayah ke ibu, kau juga menggoda wanita lain di pasar!, setiap kali ibu menyuruhmu belanja" mengkerutkan dahinya.


Wanita tua yang sedang lewat di depan rumahnya, ia menertawai kelakuan konyol Daeki Eiji dan Ayahnya yang saling cubit dan menjambak.


"Ini salahmu Ayah, kita ditertawai orang- orang" duduk merenungkan diri di samping Ayahnya yang duduk disampingnya.


Mata hari yang tenggelam, Daeki yang selesai menyapu halaman, dan ayahnya yang selesai hukuman ia makan bersama di dapur yang usang, mereka berempat memakan sayuran yang di ambil dari hutan dan ikan hasil memancing.


"Ayah, ibu, apa bisa aku menjadi seorang Prajurit?" meragukan dirinya sendiri, mengambil sup bayam di atas mangkuk besar menaruhnya di piring miliknya.


"Apa kau tidak percaya diri dengan kemampuanmu itu?" ucap Eiji Fankai sambil mengunyah ikan goreng dimulutnya melirik wajah Daeki yang menyedihkan.


"Rumor mengatakan desa ini adalah desa terkutuk karena iblis di segel di sini, walaupun desa Fuki ini kebanyakan orang menjadi koki kerajaan karena desa ini terkenal dengan jenius memasaknya" ujar Eiji Fankai, mengambil sayur di mangkok besar dengan sumpitnya dan melahapnya.


"Oppah, pasti bisa, Fan Er, yakin kalau Oppah akan menjadi yang terkuat."


"Fan Er, tidak baik bicara saat makan nanti tersedak!"


"Aku sudah berjanji kepada kepada Naomi aku akan menjadi kuat untuk membunuh dewa, aku harus bisa menjadi seorang prajurit" tersenyum kembali, Daeki Eiji memakan dengan lahap dan terburu- buru, ia berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya setelah makan malam selesai.


Daeki merapihkan pakaiannya dan memasukannya kedalam cincin ruang yang di berikan oleh ibunya saat ulang tahun ke lima belas, ia yang sudah siap berangkat besok pagi, ia tidur dengan nyenyak untuk perjalanan jauh esok paginya.

__ADS_1


__ADS_2