Ksatriaku

Ksatriaku
Chapter I == KESIALAN YANG TAK BERUJUNG ==


__ADS_3

"Ambil kembali uang anda.”


Ghita meletakkan amplop putih milik pria yang terlihat di umur pertengahan 40an yang baru saja duduk bersama pelayat lain dengan wajah datar. Bahkan dia tak mau melihat wajah pria itu.


“ICCCAAA! APA YANG KAU LAKUKAN?”


Seorang laki – laki tampan bertubuh tinggi yang berdiri di samping pria itu membentak Ghita dengan panggilan masa kecilnya.


“Gilang, tenanglah.”


Pria itu mencoba menenangkan putra sulungnya karena melihat semua mata tertuju ke arah mereka, seperti melihat tontonan gratis yang sayang jika dilewatkan.


“Aku tak mau menerima apapun dari Golden Group. Apalagi, presdirnya sendiri yang memberikannya secara langsung.” Terlihat Ghita sedikit melirik ke arah pria itu yang ternyata adalah presedir Golden Group.


“Jadi, sebaiknya anda mengambil uang itu kembali, dan pergi dari tempat ini.” perintah Ghita berlalu pergi meninggalkan orang – orang berjas hitam itu.


Golden Group adalah sebuah perusahaan besar yang menguasai hampir seluruh perekonomian negara. Sebuah perusahaan yang bisa melakukan apapun demi kepentingan perusahaan mereka, bahkan jika harus menurunkan kepala negara.


Untuk itulah, semua orang begitu menyegani perusahaan tersebut. Tapi tidak bagi Ghita. Gadis yang akan berusia 18 tahun, akhir tahun nanti, begitu membenci Golden Group. Dia sama sekali tak ingin berurusan dengan perusahaan itu.


Bahkan, hanya melihat beritanya di TV, Ghita akan segera mematikan TV itu dan lebih memilih membersihkan rumah.


“Ica, sampai kapan kau akan seperti ini?”


“Sampai anda pergi dari dunia ini.”


Ghita menjawab dingin saat pria tadi bertanya dengan tatapan sayang pada Ghita. Sebuah tatapan yang menyiratkan jika dia merindukan putri kecilnya.


“GHITA MAHARDIKA! JAGA UCAPANMU! Bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu pada ayahmu.” bentak Gilang semakin marah karena ayahnya di hina bahkan oleh adik kandungnya sendiri.


“Tidak apa – apa Gilang, Aku tahu, Ica bicara seperti itu karena dia belum memaafkanku.”


Walaupun Pak Prabu, pimpinan Golden group merasa sedih dan terluka mendengar putri kecilnya berbicara seperti itu, tapi dia mengerti kenapa Ghita sangat membencinya mengingat apa yang pernah terjadi 10 tahun yang lalu dan membuat Ghita seperti ini.


Sebuah kejadian yang membuat Ghita kecil tak mau mengakui keluarganya lagi hingga sekarang.


Ghita kecil memilih untuk meninggalkan keluarga dan semua fasilitas mewah yang dia miliki. Dia lebih memilih hidup sederhana di rumah kontrakan bersama dengan pengasuh yang sudah dianggap ibunya sendiri, yang kini telah meninggal.


“BERHENTI MEMANGGILKU ICA!” Bentak Ghita dengan mata memerah menahan air matanya yang akan jatuh. “Sejak kejadian itu, kita sudah tak memiliki hubungan apapun. Dan anak kecil bodoh itu, dia sudah mati saat itu juga.”


Air mata Ghita pun perlahan turun membasahi pipi putihnya. Kejadian 10 tahun lalu seakan terulang kembali seperti sebuah film yang terputar di depannya.


“Ica ...”


“SUDAH KUKATAKAN, ANAK ITU SUDAH MATI!” Potong Ghita kasar saat Gilang akan berbicara.


“BERHENTI!” Pak Prabu menengahi. “Aku tak ingin kalian berdua bertengkar seperti ini.”


“Tapi ayah, dia sudah...”


“Cukup Gilang.” potong Pak Prabu. “Sebaiknya, kita pergi dari sini.”


Pak Prabu lebih memilih pergi meninggalkan rumah kontrakan kecil itu dari pada harus melihat kedua anak yang disayanginya bertengkar karena dirinya.


“Jangan lupa ambil uang anda dan jangan pernah datang kemari lagi.”


Ingat Ghita pada ayahnya sendiri. Dan Pak Prabu menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang tadi.


“Kau membuatku sangat kecewa Ghita.”


“Aku juga kak.”


Ghita terduduk lemas melihat kepergian Ayah dan kakaknya. Tak lama kemudian, bisik – bisik antara pelayat mulai terdengar di telinga Ghita, padahal mereka sudah seperti itu, sejak Pak Prabu datang.


Di lingkungan ini, tidak ada yang tahu jika Ghita adalah putri bungsu dari pimpinan perusahaan terbesar di negara ini. Mereka hanya tahu Ghita itu yatim piatu dan tinggal dengan bibinya yang sebenarnya adalah pengasuh Ghita di keluarganya dulu.


_o080o_


Setelah acara pemakaman, Ghita sama sekali tak keluar dari rumahnya. Rumah yang lebih tepat disebut kamar itu sudah dihuni Ghita dan bibinya sejak 10 tahun yang lalu. Tentu saja, banyak hal yang membuat Ghita teringat dengan bibinya jika melihat setiap sudut di tempat ini.


Tiga hari setelah pemakaman, akhirnya Ghita mau keluar rumah karena dia harus membayar uang sewa bulan ini. Jika bukan karena hal itu, Ghita tak akan mau keluar dari tempat ternyamannya di dunia ini, dia bahkan tak peduli dengan sekolahnya yang sudah mendekati tahun kelulusan.


“Rumah itu sudah menjadi milikmu Ghita. Ah, kios di pasar juga sudah menjadi milikmu. Jadi kau tak perlu membayar sewanya lagi.”


Bu Yati, pemilik rumah dan kios yang Ghita dan bibinya sewa, berkata dengan ramah saat Ghita memberikan uang sewa padanya.


“Bu Yati pasti bercanda. Bagaimana bisa rumah dan kios itu menjadi milikku? Uang yang bibi simpan ini saja saja hanya cukup untuk membayar sewa rumah, Bagaiman bisa rumah dan kios itu menjadi miliku saat kami tak mampu membayar sewa bulananya?”


Walaupun sebenarnya Ghita ingin jika hal itu menjadi kenyataan. Tapi Ghita sadar, hal itu tak mungkin terjadi, karena dia tak merasa membeli rumah dan kios itu.


Bagaimana mau membelinya, jika untuk biaya sehari – hari saja dia harus bekerja paruh waktu, sedangkan bibinya berdagang di pasar. Tapi mungkin saja, jika bibinya memiliki tabungan, lalu membelinya sebelum dia meninggal.

__ADS_1


“Siapa yang bercanda. Bu Yati serius, rumah itu sudah menjadi milikmu sekarang.”


Bu Yati mengajak Ghita duduk untuk menjelaskannya, karena dari tadi mereka berdiri di depan pintu.


“Kemarin, ada orang memakai setelan jas datang kemari dan memberikan Bu Yati sejumlah uang. Dia bilang ingin membeli rumah dan kios itu untukmu. Sepertinya, mereka salah satu orang yang datang dan kau usir saat pemakaman bibimu waktu itu. Jadi, sekarang rumah dan kios itu milikmu.”


“Apa? Salah satu orang yang datang yang aku usir?”


Ghita terlihat menahan marah mendengar penjelasan Bu Yati. Dia yakin, salah satu orang suruhan ayahnyalah yang datang kemari saat itu.


“Benar Ghita. Kenapa kau harus hidup menderita jika ayahmu adalah orang yang ....Ghita? Mau kemana kamu? Bu Yati belum selesai bicara.”


Ghita segera pergi tanpa menunggu Bu Yati menyelesaikan kalimatnya karena sudah tahu, ke arah mana Bu Yati berbicara. Saat Bu Yati mengatakan orang yang berjas, Ghita sudah bisa menebak jika orang itu adalah suruhan ayahnya.


Terlebih, Bu Yati mulai membahas masalah pribadinya yang sengaja Ghita tutupi selama ini. Dia sudah hafal dengan orang – orang seperti Bu Yati. Yang berpura – pura baik lalu memanfaatkannya. Dan lagi – lagi, semua ini karena ayahnya.


Sesampainya di rumah, Ghita segera membereskan bajunya untuk pergi dari rumah yang sudah tak ingin ditinggalinya ini. Dia tak peduli akan tinggal di mana, yang jelas dia harus pergi dari sini.


Sejak pergi dari rumah dan tak mengakui keluarganya lagi, Ghita sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak berhubungan dengan Golden Group lagi.


Bahkan jika dia bisa mendapatkan rumah yang ingin dia miliki ini, karena memiliki banyak kenangan dengan bibi pengasuhnya, dia tetap akan pergi. Karena bagi Ghita, Golden Group adalah sebuah kutukan dalam hidupnya.


_o080o_


Ghita berjalan tak tentu arah mencari tempat tinggal baru. Setelah selesai membereskan pakaiannya, Ghita segera meninggalkan rumahnya. Dia tak peduli dengan hujan deras yang turun sore itu. Bahkan rasa sakit yang mulai mendera perutnya karena dia belum makan tak dia pedulikan


Yang ada difikirannya hanyalah pergi jauh ke tempat dimana orang – orang dari Golden Group tak bisa menemukannya.


Ghita sempat berfikir untuk menghakhiri hidupnya saat melewati sebuah jembatan. Namun Ghita teringat dengan kata – kata ibunya yang telah meninggal saat Ghita berusia 7 tahun.


“Orang yang paling bodoh di dunia ini adalah orang yang tak mau berfikir. Walaupun orang – orang memanggilmu bodoh, kau harus tetap belajar agar kau bisa membuktikan dirimu tak bodoh."


Ucapan yang ibunya katakan saat Ghita diejek teman sekelasnya yang mengatakan dirinya bodoh terus teringat olehnya. Dan dengan kata – kata itulah Ghita termotivasi untuk belajar, dan akhirnya sekarang, dia menjadi murid pintar dan selalu mendapatkan beasiswa disekolahnya.


Saat hujan mulai reda, langkah Ghita mulai melemah. Penglihatannya mulai tak jelas, dia juga menggigil dan wajahnya pucat.


Ghita beristirahat sejenak berharap rasa sakitnya akan sedikit berkurang. Sambil melihat beberapa anak bermain bola di taman yang tak jauh dari tempat Ghita berdiri, dia mengingat masa lalunya dengan sang kakak.


Mereka berdua suka sekali bermain satelah hujan reda, karena mereka bisa bermain di genangan air yang berlumpur.


Dan hal yang paling menyenangkan adalah saat ibu mereka mengomel karena mereka masuk ke rumah dengan jejak kaki kecil di lantai akibat bermain lumpur.


“Andai aku bisa meminjam mesin waktu milik Doraemon, aku pasti akan mebali ke masa itu. Aku benar – benar merindukanmu kak Gilang.”


Awalnya Ghita hanya melihatnya saja, tapi saat Ghita menyadari ada sebuah mobil akan melintas, dengan cepat Ghita berlari mengejar anak kecil itu walaupun pandangannya semakin kabur.


'Aku mohon, Selamatkan kami' Ghita menutup matanya rapat – rapat sambil memeluk anak kecil itu dengan erat saat mobil akan menabrak mereka.


Terdengar bunyi decitan yang cukup keras saat mobil itu berhenti tepat sebelum menyentuh kaki Ghita. Seseorang perpakaian aneh keluar dari dalam mobil dan berlari dengan terburu ke tempat Ghita berada. Sedangkan mereka berdua masih membeku karena ketakutan.


“Kalian tidak apa – apa? Apa ada yang terluka?”


Pengemudi aneh itu bertanya dengan cemas sambil memeriksa keadaan Ghita dan anak kecil itu satu per satu tapi sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari dua orang itu.


“YAA! JAWAB AKU. Apa ada yang terluka? Kita ke rumah sakit sekarang.”


“Kami baik – baik saja.” Ghita menariknya tangannya dari genggaman pengemudi itu.“Kau baik – baik saja kan?” Ghita berjongkok bertanya pada anak kecil itu.


“Iya Kak.” Sebuah jawaban lemah terdengar dari mulut anak kecil itu karena masih ketakutan.


“Syukurlah.” Ghita tersenyum lega. “Kami berdua baik – baik saja, jadi tak perlu ke rumah sakit.”


“Benarkah? Tapi wajahmu...”


“Maafkan aku karena tak menjaga adikku dengan baik. Aku benar – benar meminta maaf.”


Ghita langsung memotong perkataan pengemudi itu saat dia akan mengatakan tentang kondisi Ghita saat ini. Dia tahu betul bagaimana kondisinya saat ini, tapi dia tak ingin merepotkan siapapun.


Oleh karena itu Ghita ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat agar dia bisa pergi dan mendapatkan tempat untuk beristirahat.


“Ah, jadi dia adikmu.”


“Benar, dia adikku. Kalau begitu kami pemisi dulu. Ayo.”


Sekuat tenaga Ghita berjalan layaknya orang normal sambil menggenggam tangan anak itu erat. Tapi tubuhnya tak mengatakan hal yang sama, kepalanya terasa berat hingga dia sulit untuk berjalan.


“Dialah penabrak itu.”


“Dialah yang akan menabrak putraku.”


“Jadi dia ingin kabur.”

__ADS_1


Baru beberapa langkah Ghita berjalan, dari arah belakang terdengar keributan yang membuatnya berhenti. Saat dia berbalik untuk melihat apa yang terjadi, terlihat beberapa orang mengelilingi pengemudi tadi dan memarahinya. Bahkan ada yang ingin memukulnya.


“Kak, apa paman itu baik – baik saja.”


Anak kecil itu menunjuk pengemudi tadi yang dikelilingi banyak orang dan terlihat kebingungan.


“Aku rasa tidak. Kau tunggu di sini, kakak akan membantu pengemudi itu.”


Setelah melihat anak kecil itu mengagguk, sekuat tenaga Ghita berjalan ke arah pengemudi yang terlihat kebingungan menjawab berbagai tuduhan itu.


“Tuan dan nyonya, ini tidak seperti yang terlihat.”


“MAAFKAN KAMI.”


Ghita berbicara cukup keras sambil membungkuk hingga membuat orang – orang mengalihkan perhatian kepadanya saat pengemudi tadi mencoba memberikan penjelasan.


'Bertahanlah sebentar lagi' Ghita memejamkan matanya saat merasa kepalanya terasa berputar saat dia membungkuk.


“Nona, kenapa kau meminta maaf. Bukankah dia akan menabrakmu dan putraku tadi. Beruntung kau menyelamatkan putraku, jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi dengannya.”


Seorang wanita yang ternyata ibu anak kecil itu menjawab sambil berjalan ke arah putranya.


“Tidak. Dia tak bersalah. Akulah yang bersalah.”


“Bagaimana kau bersalah jika kau yang menyelamatkan putraku.” Ibu anak itu memeluk putranya dengan erat karena takut sesuatu terjadi padanya.


“Ehm begini...”


Ghita kebingungan menjawab pertanyaan itu. Tapi, dia juga tak ingin membuat pengemudi yang baik itu berada dalam masalah. Terlebih, saat pengemudi itu melihatnya dengan penuh harap, ingin sekali Ghita membantunya lepas dari masalah ini.


“Kenapa kau yang bersalah jika orang ini yang akan menabrak kalian.”


Seorang pemuda berbicara dengan penuh amarah sambil memegang kra baju pengemudi itu bersiap untuk memukulnya.


“DIA KEKASIHKU.” Ucap Ghita setelah melihat pengemudi tadi masih berharap padanya.


“Dia kekasihmu?”


“Benar, Dia kekasihku, dan kami sedang bertengkar.”


Ghita berusaha tenang saat kata – kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.


Dengan ragu Ghita berjalan ke arah pengemudi itu yang pasti sudah mengaggapnya gila.


“Kau yakin dengan apa yang kau katatakan nona?”


“Benar, kami berdua bertengkar dan aku pergi begitu saja saat hujan tadi. Oleh karena itu, Kak Gilang mencariku hingga dia mengebut seperti tadi, dan tanpa sengaja hampir menabrak kami.”


Ghita berharap penjelasannya dapat diterima walaupun terdengar tak masuk akal, karena hanya itu yang ada di otaknya saat ini. Bahkan dia memanggil pengemudi itu dengan nama kakaknya, karena berharap sang kakak akan datang membantunya sekarang.


“Benarkah? Kau tak mencoba membohongi kami demi melindungi orang ini, bukan?”


“Tentu sa...”


“Kau tidak apa – apa? Astaga badanmu panas sekali.”


Pengemudi itu dengan sigap menangkap tubuh Ghita yang akan limbung karena sudah tak kuat menahan tubuhnya lagi yang mulai terasa berat.


“Aku baik – baik...”


“Inilah kenapa aku mencarimu. Sudah tahu kau baru sembuh, tapi malah pergi begitu saja saat hujan. Bukankah sudah kukatakan aku terlambat karena macet, tapi kau justru menuduhku berselingkuh.”


“Apa? Yaa! Apa yang kau lakukan.” Ghita terkejut saat pengemudi itu tiba – tiba menggendongnya.


“Diamlah.” ucap pengemudi itu penuh penekanan.


Ghita mencoba tenang setelah sempat terkejut saat pengemudi itu tiba – tiba menggendongnya setelah melihat kode dari pengemudi itu menyuruhnya untuk diam.


“Maafkan kami. Seharusnya aku bisa menjadi kekasih yang baik untuknya dan tak menimbulkan kekacauan seperti ini karena pertengkaran kami. Aku mohon, maafkan kami.”


Dengan menggendong Ghita layaknya tuan putri di pangkuannya, pengemudi itu menganggukkan kepalanya berkali – kali karena tak bisa membungkuk sambil menopang tubuh Ghita.


“Dasar anak muda. Karena hal sepele saja bisa sampai bertengkar seperti itu. Bagaimana jika kalian sudah menikah. Apa kalian akan bertengkar terus sepanjang hari?”


“Kau juga nona, seharusnya kau tak berprasangka buruk padanya. Jangan pergi begitu saja sebelum mendengar penjelasannya. Merepotkan orang saja”


“Maafkan kami. Kami tak akan mengulanginya lagi, bertengkar di jalanan.” Ucap pengemudi itu.


“Benar, sekali lagi maafkan kami.”


Ghita menunduk dengan lemah di pelukan pengemudi itu saat orang – orang mengomelinya dan pengemudi tadi karena berfikir mereka kekanakan.

__ADS_1


Tepat, saat Ghita akan mengangkat kepalanya lagi, tubuhnya semakin lemas dan dia sudah tak tahan lagi menahannya. Ghita dapat mendengar pengemudi itu memanggilnya dan pelukannya juga semakin erat.


__ADS_2