Ksatriaku

Ksatriaku
Chapter VI == AKU BUKAN PSIKOPAT, TAPI PENYELAMAT ==


__ADS_3

Kenapa dengan wajahmu?”


Brian terkejut saat melihat wajah Bagas penuh luka saat pulang ke rumah. Tanpa menunggu jawaban yang Bagas berikan, dia segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka sahabat yang sudah di anggap adiknya sendiri itu.


“Akh.. pelan – pelan. Kau tak bisa merawat orang sakit, huh?”


Bagas memprotes sikap Brian yang mengobatinya asal – asalan dan membuat lukanya semakin terasa sakit. Entah karena Brian yang tak bisa lembut atau karena Bagas yang kelewat manja, tapi Brian tetap mengobati lukanya sambil mendengarkan Bagas bercerita.


“Jadi, kau berkelahi hingga terluka seperti ini demi kodok itu. Tapi dia tak mengucapkan terima kasih dan justru menggigitmu?”


“Sebenarnya dia mengucapkan terima kasih. Memberikanku sapu tangan miliknya, Tapi dia mengerjaiku dengan mengambil beberapa barang di mini market dan aku yang membayarnya.”


Bagas menujukkan sapu tangan hijau muda yang tadi Ghita berikan padanya sebelum pergi dan satu kantong ukuran sedang belanjaan yang tadi Ghita Ambil.


Brian melihat isi dalam kantong tadi dan melihat jika di dalamnya hanya ada air mineral, roti dan juga beberapa obat – obatan salep yang salah satunya untuk mengobati luka Bagas.


“Sepertinya dia tak berniat mengerjaimu. Dilihat dari apa yang ada dalam kantong ini, dia hanya ingin bertanggung jawab karena kau terluka setelah menolong dia.”


“Jika memang dia berniat seperti itu, kenapa dia justru kabur setelah menggigitku.”


“Entahlah, Kenapa menanyakan hal yang hanya kodok itu tahu kepadaku. Nah sudah selesai.”


Brian menempelkan plester ke kening Bagas setelah membersihkan lukanya. Namun, setelah itu tiba – tiba pintu depan berbunyi dan terdengar seorang wanita memanggil nama Brian dari pintu depan. Sepertinya, dia memang sudah tahu jika Brian ada di sini.


“Yaa! Bagaimana bisa kau memanggil kakakmu di rumah orang lain? Seharusnya kau memanggilku karena ini rumahku.”


Bagas protes saat melihat Bianca terus memanggil nama Brian. Sepertinya, dua bersaudara ini sudah mengaggap rumah pengasingan milik Bagas adalah rumah mereka sendiri hingga mereka bisa bersikap seenaknya seperti ini, walaupun Bagas tak mempermasalahkannya.


“Kak Bagas, apa yang terjadi dengan wajahmu. Kenapa bisa begini?”


Bianca segera berlari mendekati Bagas yang justru menghindarinya. Bagas tak suka jika ada orang yang terlalu mengkhawatirkannya, membuatnya risih.


“Cih, kak Bagas benar – benar keterlaluan. Kenapa menghindar saat aku datang, Memangnya aku virus yang bisa menularimu. Aku kan hanya mencemaskanmu.”


“Tenang saja. Kakakmu sudah mengobatiku, jadi kau tak perlu mencemaskanku.” Bagas menjulurkan lidahnya meledek Bianca.


“Hentikan. Lagi pula, kenapa kau kemari malam – malam. Bukannya besok kau sekolah.”


Brian yang tak suka mendengar keributan malam ini mencoba menjadi penengah diantara kedua orang tersebut. Bagas memang kadang suka menjaili Bianca, mungkin karena itulah Bianca menyukainya dan selalu ingin di dekatnya.


“Aku kesini karena ingin memberikan buku catatan ini untuk kak Bagas. Bu Retno menyuruhku. Dan...” Bianca menggantungkan kalimatnya nampak berfikir.


“Dan apa?”


Brian bertanya karena penasaran adiknya tak melanjutkan kalimatnya. Sedangkan Bagas justru terlihat biasa saja sekaan tak peduli dengan apa yang terjadi.

__ADS_1


“Dan kenapa kartu pelajar gadis itu ada di kamar kak Brian.”


Bianca menunjukkan kartu pelajar Ghita yang di temukannya di kamar kakaknya. Brian mencoba mengambil kartu itu tapi Bianca lebih cepat untuk menyembunyikannya di balik punggungnya.


“Aku menyimpannya karena merasa ada yang aneh padanya. Cepat, berikan padaku.”


Ucap Brian sambil mengatungkan tangannya meminta Bianca memberikan kartu itu padanya. Karena Bianca tahu jika kakaknya tak suka ada orang yang mengambil barang yanga da dalam kamar sang kakak, akhirnya dia memberikan kartu pelajar milik Ghita tadi,


“Tapi aku mengambilnya karena aku yang berhak memilikinya.” Bagas mengambil dengan cepat sebelum Brian menyimpan kartu itu ke dalam sakunya.


“Yaa! Sebenarnya ada apa dengan kalian. Jangan katakan jika kalian berdua menyukainya.”


Bianca merasa kesal melihat kelakuan 2 pemuda di depannya itu memperebutkan kartu pelajar milik gadis yang sama sekali tak dia ketahui. Sepertinya, Bianca merasa akan menjadi musuh bebuyutan dengan gadis itu karena membuat 2 pemuda terdekatnya seperti ini.


“Sudahlah, aku mau tidur. Dan terima kasih atas catatannya.”


Bagas segera pergi menuju kamarnya dan melambaikan buku catatan yang Bianca berikan tadi ke udara tanpa berbalik melihat dua bersaudara tersebut. Setelah menutup pintu kamarnya, Bagas bersandar sejenak di balik pintu sambil melihat kartu pelajar milik Ghita. Seulas senyum terukir saat melihat foto Ghita yang sedang tersenyum masam di balik foto itu.


“Aku hampir lupa jika masih memilikinya. Setidaknya, aku punya alasan untuk bertemu denganmu. Putri kodok.”


Bagas tersenyum penuh arti sambil menggenggam sapu tangan milik Ghita dan melihat fotonya dalam kartu pelajar itu. Dia yakin, dia tak akan bisa tidur malam ini. Bukan hanya karena luka di tubuhnya, tapi juga karena terlalu senang bisa bertemu lagi dengan Ghita besok.


-o080o-


Bagas memandangi Sekolah khusu wanita GLORY dengan tatapan kagum. Dia tak menyangka akan berkunjung ke sekolah para profesor wanita di negeri ini. Jika bukan karena putri kodok itu, Bagas mungkin tak akan pernah ke mari seumur hidupnya.


Malam semakin larut saat Bagas tiba di sekolah Ghita. Tapi dia yakin jika Ghita belum pulang karena jam pelajaran pasti ditambah untuk siswa tingkat tiga seperti sekarang. Terlebih, dua bulan lagi mereka akan mengikuti ujian masuk universitas, jadi Bagas yakin gadis itu masih sibuk dengan buku pelajarannya sekarang.


Sebenarnya dia juga masih harus belajar saat ini. Tapi, karena kepintarannya menyusup keluar sekolah, Bagas bisa datang ke sekolah Ghita, bahkan dia masih memakai seragam sekolahnya. Dan tentunya dengan bantuan Alex yang menolongnya membawakan baju ganti tadi.


Satu per satu para siswi mulai terlihat keluar dari gedung bertingkat dua itu tanda jam pelajaran mereka telah berakhir. Bagas yang baru memakan setengah burgernya, segera meletakkan makan malamnya itu begitu saja di dasbor mobilnya demi mencari Ghita agar tidak kehilangan gadis itu.


Jika hari ini dia tak bisa menemukannya, sia – sia saja perjuangannya yang harus kabur dari sekolah dan melewatkan jam makan malam. Dia Bahkan harus menunggu di dalam mobilnya.


“Apa dia tak memiliki teman? Kenapa dia berjalan sendirian saat yang lain berjalan bersama.”


Bagas akhirnya menemukan Ghita diantara para siswi yang terlihat sama dengan seragam di luar sana. Cukup mudah menemukannya karena dia paling menonjol diantara yang lain. Berjalan sendirian dengan mengenakan jaket yang cukup tebal


“Siapa orang itu? Kenapa dia aneh sekali.”


Bagas berbicara pada dirinya sendiri saat melihat seorang laki – laki yang berpenampilan sama dengannya, memakai pakaian hitam dan juga topi sedang mengikuti Ghita dari belakang. Bagas merasa cemas karena takut hal buruk terjadi pada Ghita terlebih mengingat kejadian semalam saat mereka di kejar para preman dari tempatnya bekerja.


Tapi, saat Ghita berbalik dan berbicara dengan laki – laki itu, rasa cemasnya sedikit berkurang karena jika dilihat dari sikapnya, sepertinya mereka saling mengenal. Tapi, rasa cemas itu berganti dengan rasa penasaran tentang siapa laki – laki yang mengajak gadis itu bicara.


“Berani sekali dia membuang ponsel itu ke tempat sampah padahal yang memberikan masih ada di sana.”

__ADS_1


Bagas sedikit tersenyum puas saat membuang ponsel orang misterius itu ke tong sampah setelah dia menerimanya. Dia tak menyangka jika Ghita bisa melakukan hal itu. Jika dia tak mau bukankah dia bisa menolaknya dengan halus dan tak perlu mengambil ponsel itu lalu di buang ke tong sampah.


“Benar – benar tak bisa di duga. Putri kodok yang penuh kejutan.”


Tapi, setelah aksi pembuangan ponsel tadi, Ghita terlihat berdebat dengan orang misterius itu dan membuat Bagas merasa cemas. Tak tinggal diam, setelah selesai memakai penyamarannya, memakai hoodie hitam dam masker andalannya, Bagas berjalan menuju tempat Ghita dan laki – laki misterius itu berada.


Tanpa babibu Bagas menarik tangan Ghita dan dengan cepat memukul orang misterius tadi hingga dia tersungkur ke tanah.


“Jangan memaksa wanita yang sudah menolakmu. Itu baru gantle.”


“Bodoh,”


Jeduk--, lagi – lagi Ghita menendang kakinya dan membuat Bagas meringis kesakitan memegangi kakinya yang Ghita tendang tadi. Bagas semakin terkejut karena Ghita justru lebih mambantu laki – laki yang tersungkur karena pukulan Bagas itu.


“Yaa! Kenapa kau menolongnya?”


“Lumayan juga pukulanmu anak kecil.”


Laki – laki misterius itu mengusap darah segar yang mengalir dari bibirnya dan mencoba berdiri dengan bantuan Ghita.


“Berhentilah memprovokasi orang lain kak.” Ghita berbicara dengan ketus walaupun masih terdengar kecemasan dari caranya berbicara. “Dan kau psikopat ...”


“Apa? Psikopat kau bilang.” potong Bagas saat Ghita memanggilnya psikopat.


“Benar psikopat. Setiap kau muncul semua hal gila selalu terjadi. Dan juga, apa kau terbiasa ikut campur urusan orang lain. Apa kau...”


“IKUT AKU!”


Bagas tiba – tiba menarik tangan Ghita dan membawanya pergi. Walaupun Ghita mencoba untuk melepaskan genggaman itu, Bagas justru semakin erat menggenggamnya.


“Mau kau bawa kemana dia?” Laki – laki misterius itu menahan tangan Ghita sebelum Bagas membawanya pergi.


“Kalian pikir aku mainan.”


Ghita menepis tangan ke dua laki – laki yang menarik tangan kanan dan kirinya seperti memperebutkan sebuah mainan dengan kasar. Dan lagi – lagi, Dia menambahkan tendangan pada kaki Bagas hingga dia melompat kesakitan. Dan menginjak kaki laki - laki misterius tadi.


“Kita bicara lain kali. Aku masih ada urusan dengan orang ini.” Kali ini, justru Ghita yang menarik tangan Bagas menyeretnya menjauh dari laki – laki misterius itu.


“Jaga dia baik – baik. Jika sampai dia terluka, kau akan menyesal sudah bertemu dengan kami.”


Laki – laki misterius itu berbicara setengah berteriak saat Bagas berjalan dengan ditarik paksa Ghita. Tapi setelah itu, dia berhenti dan membuat Ghita mundur menabrak badan Bagas yang lebih besar di belakangnya. Tubuh Ghita seperti boneka saat menabrak Bagas yang memang tingginya 180cm lebih.


“Kaulah yang akan menyesal jika bertemu dengan kami lagi.”


Ucap Bagas dan berbalik menarik tangan Ghita yang terlihat bingung dengan keadaan saat itu. Sebenernya dia ingin membuat urusan dengan laki- laki itu karena tak terima di sebut anak kecil. Lagi – lagi karena statusnya sebagai public figur, dia tak ingin memperpanjang masalah. Dan, entah kenapa dengan gadis yang ada di tariknya ini, dia salalu ingin terlibat masalah.

__ADS_1


__ADS_2