
“Apa kau terbiasa menarik perempuan seperti hewan, huh? Dasar psikopat.”
Ghita memprotes sambil mengusap pergelangan tangannya yang terasa sakit dan memerah. Setelah menarik Ghita dan memaksanya masuk ke mobil, Bagas segera melajukan mobilnya karena takut ada orang yang akan mengenalinya jika dia berlama – lama di sana.
Terlebih itu jalanan yang banyak di lewati para siswa, jika mereka mengenalinya bisa – bisa Bagas tak bisa pulang.
“Balut saja dengan benda itu. Mungkin bisa membantu.”
Bagas memberikan kode dengan wajahnya agar Ghita melihat ke atas dasbor di depan Ghita. Sapu tangan yang Ghita berikan padanya kemarin entah sejak kapan ada di sana dan juga kartu pelajarnya juga di sana.
“Bagaiman kartu pelajar ku ada disini?”
“Benda itu tertinggal saat kau pingsan di rumahku. Aku ingin mengembalikannya tapi jadwalku terlalu padat.”
Bagas sengaja berbohong agar tak terlihat memalukan jika sebenarnya dia ingin bertemu dengan Ghita. Mengakui pada dirinya sendiri jika dia peduli pada gadis di sampingnya ini saja sudah cukup memalukan, apalagi harus berkata jujur jika dia ingin bertemu dengannya.
“Jika jadwalmu padat, untuk apa kemarin kau pergi ketempat karaoke dan mengajak preman itu berlarian. Dasar Kurang kerjaan.”
“Itu karena aku ada urusan di tempat karaoke itu dan kebetulan melihatmu dalam kesulitan, Jadi aku menolong mu.”
“Seharusnya, saat itu kau langsung memberikan kartu pelajar ku dan tak ikut campur urusanku,”
“Aku sudah menolongmu, tapi kau justru berkata seperti itu. Dasar kodok kejam.”
Bagas masih sibuk menyetir dan terlihat seulas senyum di bibirnya karena bisa mengobrol dengan keadaan tenang, walupun dasarnya mereka sedang bertengkar sekarang.
“Tapi tunggu dulu, Bagaimana kau bisa mengenaliku jika aku yang ada di tempat karaoke kemarin? Bukankah aku sudah memakai topi dan masker agar tak ada orang yang tahu itu aku. Apa penyamaran ku mudah terlihat.”
“Bukan karena penyamaran mu, tapi luka di telapak tanganmu.”
“Luka di telapak tanganku?”
Bagas membuka telapak tangannya sebelah kiri yang terdapat luka gores akibat kejadian dirinya yang ingin bunuh diri waktu kecil. Saat itu, dia ingin terjun ke sungai untuk bunuh diri.
“Oh, ini luka akibat aku memegang besi yang tajam karena aku takut untuk bunuh diri.”
“Bunuh Diri?”
Ghita terlihat terkejut karena ada seseorang yang secara terbuka mengatakan jika dirinya pernah melakukan aksi bunuh diri, namun gagal.
“Benar, saat aku 7 atau 8 tahun aku lupa. Saat itu karena kehilangan kedua orang tuaku, aku memutuskan untuk bunuh diri terjun ke sungai. Tapi, karena aku takut, aku justru terpeleset dan berpegangan agar aku tidak terjatuh. Tapi, tangan kiriku justru berpegangan pada besi tajam. Jadilah luka ini.”
Bagas menceritakannya tanpa ada beban padahal selama ini dia selalu menyembunyikan masalah itu dari siapapun. Bahkan Brian dan ayahnya yang memang tahu kejadian itu, dia akan selalu mengalihkan perhatian jika mereka membahasnya.
“Rupanya kau pintar juga.’
“Huh? Maksudmu?”
“Ibuku pernah bilang, orang terbodoh di dunia ini adalah orang yang tak mau berfikir. Tapi ternyata kau cukup pintar, di saat genting kau bisa mencari pegangan agar kau bisa hidup.”
Ghita tersenyum memberikan pujian untuk Bagas karena dia sudah berusaha untuk bertahan hidup. Respon yang amat berbeda yang dia dapat saat bercerita pada Brian ataupun Kristian, yang justru menganggap Bagas bodoh karena harus bunuh diri hanya karena kehilangan orang tua. Bertambah satu lagi rasa kagum yang Bagas lihat dari Ghita.
“Benar bukan, aku pintar. Tapi kenapa yang lain menyebutku bodoh.” Gumam Bagas.
“Kau bilang apa barusan?”
“Tidak, aku tak mengatakan apapun.” Jawab Bagas dengan senyum tipis.
“Seharusnya kau sudah tahu jika aku mengetahui kau orang yang menolongku kemarin dari sapu tangan yang aku berikan itu, walaupun aku tak menyebut lukamu. Bukankah aku memberikannya untuk mengusap darah di kening mu. Dasar Bodoh.”
Ghita terlihat melirik pelipis mata Bagas yang mendapati plester coklat tertempat di sana. Walaupun tertutupi oleh poninya, plester itu tetap terlihat karena warnanya mencolok.
“Sepertinya, kau memiliki kepribadian ganda. Baru saja kau memujiku, dan sekarang kau berbalik mengejekku?”
“Kenyataannya memang begitu. Ah, Bisa kau berhenti di persimpangan depan?”
Ghita mengalihkan perhatian dengan senyum usil saat melihat Bagas terlihat kesal dengan ucapannya. Sepertinya dia puas mengerjai laki – laki yang duduk di balik kemudi itu.
__ADS_1
“Persimpangan depan? Memangnya rumahmu di sana?”
“Tidak. Aku harus mencari kerja baru karena berkat seseorang aku di pecat.”
Bagas tahu jika Ghita sengaja menyindirnya. Tapi dia tak memperdulikannya seperti tak terjadi apapun dan tak menurunkan gadis itu d tempat yang dia minta, walaupun pandangan gadis itu terlihat segera ingin menerkamnya. Beruntung, kecanggungan itu hilang saat ponsel Bagas berbunyi yang menandakan ada pesan masuk.
“Jadi, kau ingin mencari pekerjaan karena sudah di pecat?”
“Tentu. Jadi, bisa kau turunkan aku sekarang, karena kau sudah melewati persimpangan itu.”
Ghita menunjuk persimpangan yang dikatakannya tadi namun Bagass seakan tak pedulidengan permintaan Ghita dan membiarkan Ghita melihat persimpangan tadi terlewati.
“Kita akan menuju tempatmu bekerja.”
Ucap Bagas saat Ghita akan membuka mulutnya.
“Huh? Apa maksudmu?”
Bagas tak mau mengatakan lebih jelas maksud dari perkataannya tadi saat Ghita bertanya. Dia bahkan menyalakan musik dengan agar tak mendengar apa yang Ghita katakan.
Sedangkan Ghita, gadis itu terpaksa mengalah dan ikut larut dalam musik yang Bagas putar. Memberikan ruang untuk dirinya sendiri beristirahat karena diamerasa lelah dengan hidupnya yang selalu berada dalam masalah.
-o080o-
“Selamat datang ke tempat kerjamu yang baru, kodok kecil.”
“Tempat kerjaku yang baru? Apa maksudmu?”
Bagas membukakan pintu Hope Ent. untuk Ghita yang masih bingung kenapa Bagas mengajaknya kemari. Ghita bahkan tak tahu tempat apa ini. Gedung yang memilki 3 lantai ini terlihat sederhana dari luar, tapi saat Ghita masuk, interiornya terlihat memukau di setiap sudut
“Ikut aku. Kita cari kak Riri dulu.”
“Kak Riri? Siapa dia? Dia yang punya tempat ini?”
Bagas berjalan masuk lebih jauh ke dalam gedung sedangkan Ghita mengikutinya dari belakang karena dia masih belum mengerti dengan situasi yang terjadi.
“Wohoho, siapa ini? Bagaimana seorang fans bisa datang ke tempat kita malam – malam.”
Alex yang baru turun dari lantai dua menegur Bagas saat dia baru keluar dari ruang latihan. Ghita pun sedikit membungkuk untuk memberi salam pada pemuda blesteran amerika itu.
“Dia bukan fans, dia akan menajadi rekan kerja kita.” Jelas Bagas singkat dan mengacuhkan Alex.
“Apa dia alasan kau memintaku membawakan baju ganti ke sekolah tadi?” Hadang Alex.
“Bukan urusanmu.” Tepis Bagas saat tangan Alex menghadang pundaknya. “Ah Benar, kau tahu di mana Kak Riri.”
“Ada apa mencari ku.”
Tiba – tiba seorang wanita bertubuh tinggi berjalan ke arah mereka saat Bagas bertanya pada Alex dengan pandangan menyapu setiap ruangan untuk mencari seseorang.
“Kak Riri, kau sudah terima pesanku?”
“Aku sudah membacanya. Jadi, dia yang akan menggantikan Kak Rika? Kau yakin? Sepertinya dia masih seorang pelajar.”
Wanita sekitar 25 tahunan itu melihat Ghita dari atas hingga ke bawah. Dia Bahkan berjalan mengelilingi Ghita yang terlihat gugup karena mendapatkan tatapan seperti itu.
“Aku juga masih sekolah bukan. Kita berdua juga sama – sama di tahun ketiga. Jadi, aku rasa tak masalah jika dia menggantikan Kak Rika sementara selama dia cuti hamil.”
Bagas meyakinkan Kak Riri untuk menerima Ghita bekerja di sini dan tak meremehkannya hanya karena dia seorang pelajar.
Terlebih, dia merasa bertanggung jawab karena Ghita di pecat dari pekerjaan paruh waktunya dan harus membuat Ghita diterima bekerja di sini, walaupun sebenarnya ini adalah perusahaan miliknya sendiri.
“Apa kau yakin dia bisa menjadi asisten menager untuk membantuku. Seperti yang kau bilang, bukankah dia harus belajar untuk ujian masuk universitas dua bulan lagi?”
“Itu...”
“Aku bisa melakukannya.”
__ADS_1
Potong Ghita cepat sebelum Bagas memberikan penjelasan untuk membantunya. Lagi pula, dia memang membutuhkan pekerjaan itu sekarang. Walalupun hanya sebagai pengganti, setidaknya untuk sekarang dia tak perlu memikirkan tentang pekerjaan dan biaya hidup.
“Beri aku kesempatan, aku akan bekerja sebaik – baiknya. Aku bisa membagi waktuku. sebelumnya aku banyak melakukan pekerjaan paruh waktu dan nilaiku tak ada yang turun. Jadi, yakin aku bisa melakukannya.”
“Apa dia sedang menyombongkan diri.” Gumam Bagas kesal.
“Sepertinya dia cukup menyakinkan kak Riri. Terlihat dia lebih pintar dari Bagas.” Celetuk Alex berniat meledek Bagas karena mendengar gumaman Bagas yang berada di sampingnya.
“Diam kau.” Bagas menjitak kepala Alex karena kesal “Kak Riri terima saja, Aku yakin dia bisa bekerja dengan baik.” Lanjutnya meyakinkan Riri
“Sudahlah, Kak Riri beri saja kesempatan untuknya 1 bulan ke depan. Lagi pula, Bagas sendiri yang memintamu. Anggap saja gadis ini sebagai teman belajar Bagas agar dia lulus ujian kali ini.”
Alex yang menyadari ada sesuatu di antara Bagas dan Ghita ikut membujuk RiRi agar memberikan pekerjaan itu pada Ghita. Sejenak, Riri nampak berfikir dan membuat 3 anak di depannya terlihat cemas menanti jawaban darinya.
“Baiklah. Kau diterima.”
“Yeahhh”
Ucap tiga anak itu kompak
Tampak kegembiraan dari 3 anak itu saat mendengar jawaban dari Riri. Mereka bahkan tak segan – segan melompat dan melakukan high five bersama – sama layaknya teman lama padahal Ghita baru mengenal mereka semua.
“Tapi ingat. Aku tak ingin dengar jika kau mengalami penurunan pada nilaimu hanya karena kau bekerja di sini. Dan juga, bantulah anak bodoh ini agar lulus ujian kelulusan kali ini.”
Riri memukul pelan kepala Bagas yang sudah di anggapnya adik sendiri. Melihat Ghita menahan tawa saat dirinya diperlakukan seperti anak kecil, membuatnya salah tingkah.
“Kak Riri, berhentilah membuat Bagas seperti anak kecil di depan Ghita. Lihatlah, mukanya seperti tomat rebus karena perlakuan mu.” Ledek Alex.
“Diam kau bocah.” Bagas menyenggol bahu Alex untuk menutup mulutnya.
“Baiklah, aku akan belajar memperlakukannya seperti seorang pria. Sebaiknya kalian tunjukkan pada, siapa namamu?”
“Ghita, Ghita Mahardika.” Jawab Ghita cepat saat Riri menanyakan namanya.
“Ghita Mahardika? Sepertinya namamu tidak asing.”
“Itu karena namaku pasaran kak.” Ghita mengalihkan perhatian.
“Benarkah? Hahaha” Riri tertawa mendengar lelucon Ghita barusan. “Ah, Bisa aku meminta kartu pelajar mu untuk mengisi identitas mu, besok aku akan mengembalikannya.”
“Ini kak.” Ghita segera mengeluarkan kartu pelajarnya.
“Alex dan Bagas akan mengantarmu berkeliling di tempat ini sebentar sebelum kau pulang agar kau bisa bekerja mulai besok saat pulang sekolah. Aku pergi dulu.”
Riri berlalu pergi dengan membawa kartu pelajar milik Ghita setelah berpamitan pada ketiga anak – anak itu. Dalam pikirannya, akan bertambah lagi keramaian dalam gedung ini.
“Baiklah, Ayo kita kan mengajakmu berkeliling.”
“Tak perlu, besok aku yang akan mengajaknya berkeliling. Aku mengantarnya pulang dulu.” Bagas menarik tangan Ghita yang akan di ajak Alex berkeliling.
“Apa kalian akan berkencan?”
“Tidak.” Jawab Bagas dan Ghita bersamaan.
“Baiklah, aku tak akan mengganggu. Aku akan kembali latihan.”
Alex pun kembali naik ke ruanga latihan kembali berlatih meninggalkan Ghita dan Bagas di bawah yang terlihat salah tingkah. Sebenarya dia tak benar – benar naik, tapi masih berdiri di ujung tangga karena penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua.
“Aku pulang dulu.” Pamit Ghita.
“Aku akan mengantarmu.” Bagas menjawab dengan salah tingkah
Dukk...dukk...duk... Terdengar langhkah dari atas dan terlihat Alex yang kembali turun ke tempat mereka berdua.
“Kupikir kalian akan kencan"Gumam alex. "Sebaiknya kita makan dulu sebelum kau mengajaknya pulang. Aku lapar.”
Alex segera merangkul Bagas yang terlihat bingung karena anak itu tiba – tiba turun lagi padahal tadi terdengar jika dia sudah masuk ke ruangan latihan.
__ADS_1
Sementara Alex dan Bagas berjalan di depan, Ghita mengikuti di belakang mereka berdua, mengekor layaknya anak itik mengikuti induknya.