Ksatriaku

Ksatriaku
Chapter III == Siapa Dia? ==


__ADS_3

Bagas memutar balik mobilnya ke arah rumah pengasingan, karena dompetnya tertinggal di meja kamarnya. Semalam saat dia menjaga Ghita, Bagas meletakkan dompet itu di meja karena merasa tak nyaman tidur di sofa dengan mengantongi dompet miliknya itu.


Setelah mengobati jari Ghita yang sedikit tergores karena pecahan kaca Bagas memaksa Ghita untuk sarapan. Tapi, belum sempat melihat gadis itu memakan bubur buatannya satu suap saja, ponselnya tiba – tiba berbunyi.


Ternyata managernya yang menelpon, menyuruhnya untuk datang ke tempat latihan karena kemarin sore dia absen untuk latihan. Tentu bukan tanpa alsan Bagas absen untuk latihan di saat jadwal comebacknya sebentar lagi, jika buka karena kejadian penabrakan kemarin


Bagas pun menitipkan Ghita pada Brian agar menghabiskan bubur buatannya, dan menjaganya hingga siang hari karena Ghita belum pulih betul. Dan siang nanti setelah latihan Bagas akan segera pulang dan bergantian untuk menjaga Ghita.


“Kak, Kau sudah datang?”


Bianca terkejut saat melihat Bagas sudah pulang padahal dia yakin jika Bagas akan latihan hingga nanti siang.


“Kau ada di sini?”


Bagas berlalu begitu saja menuju kamarnya dan masih tak merasa ada yang aneh. Bahkan saat Bagas menemukan dompetnya, dia masih belum menyadari sesuatu telah terjadi.


“Bianca, kenapa kau membiarkankanya pergi.” Terdengar suara Brian dari luar saat Bagas masih berada di dalam kamarnya. “Seharusnya kau melarangnya. Dia kan belum pulih betul.”


Karena penasaran, dan melihat tas Ghita yang dia simpan di samping lemari sudah tidak ada, perasaan cemas menyelimutinya dan bergegas pergi ke ruang santi, tempat Bianca tadi berada.


“Siapa yang pergi?”


“Bagas?, kapan kau datang?” Brian terkejut saat melihat Bagas ada di rumah.


“Aku tanya, siapa yang pergi? Dimana kodok itu? Kenapa barang – barangnya juga tak ada di dalam kamar.”


“Aku yang menyuruhnya pergi.” Ucap Bianca tanpa merasa bersalah sambil tetap fokus pada ponselnya.


“APA?” pekik Yong Chan dan Dong Han bersamaan.


“Bagaimana bisa kau melakukannya? Bukankah aku memintamu untuk menjaganya saat aku pergi. Baru kutinggal sebentar tapi kau....”


“Untuk apa membiarkannya tinggal.” Potong Bianca. “Bukankah dia sudah baik – baik saja. Lagi pula, dia juga bukan kekasih kak Bagas, jadi untuk apa dia terus tinggal di sini.” Bianca membela diri saat Brian memprotes tindakannya.


“Walaupun begitu tak seharusnya kau mengusirnya. Kau tahu, dia belum pulih betul, dia bahkan tak menghabiskan sarapannya tadi.” Brian sedikit kecewa dengan sikap adiknya


“Aku tak menyangka kau bisa bersikap seperti itu. Bianca Anastasya,kau sekarang sudah berumur 18 tahun, bukan lagi anak 8 ahun yang harus marah karena hal seperti kemarin.”


Bagas sangat kecewa dengan tindakan Bianca yang seenaknya mengusir orang yang sedang sakit hanya karena merasa kesal Bagas mengatakan Ghita adalah kekasihnya.


“Aku melakukannya karena cemburu, aku tak suka ada wanita lain di sampingmu.”


“Tapi tak seharusnya hal itu menjadikan alasan untukmu mengusirnya. Kau tahu dia sedang sakit. Terlebih dia baru kabur dari rumah. Kau tahu apa yang bisa dia lakukan?”


“Memangnya apa yang akan gadis bodoh itu lakukan. Beberapa hari ke depan dia juga akan...”


“Bagaimana jika hal yang kualamai 12 tahun yang lalu menimpanya?”


Bagas memotong pembelaan Bianca dengan gerang mengingat kejadian 12 tahun yang lalu yang menimpanya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, paman dan bibinya yang mengasuhnya. Tapi mereka justru memperlakukan Bagas dengan buruk dan membuat Bagas kabur dari rumah.


Saat itulah dia merasa tak ada gunanya lagi dia hidup, dia lelah menjalani semua ini dan hanya membuat orang lain kesusahan. Dan saat dia akan bunuh diri lompat dari jembatan, ayah Brian-lah yang menolongnya. Memberinya kasih sayang layaknya orang tuanya.


“Apa?” Bianca terlihat bingung dengan perkataan Bagas.


“Sudahlah. Lupakan saja.”


Bagas berlalu pergi meninggalkan Bianca yang masih kebingungan. Yang ada dalam fikirannya, hanyalah semoga dia menemukan Ghita dalam keadaan baik – baik saja.


“Ternyata, karena hal itu kau bersikap kasar saat gadis itu membersihkan pecahan kaca tadi. Seharusnya aku lebih peka.” Brian melihat punggung Bagas dengan penuh penyesalan.


“Memangnya apa yang terjadi 12 tahun yang lalu kak?” Tanya Bianca masih bingung karena kejadian itu, dia masih terlalu kecil untuk mengetahuinya.


“Untuk pertama kalinya aku kecewa padamu Bianca. Ayah tak pernah mengajarkan kita untuk menindas yang lemah. Tapi kau justru mengusir gadis yang sedang sakit.”


Setelah mengatakan hal itu Brian segera berlari mengikuti Bagas yang sudah pergi terlebih dahulu untuk mencari gadis itu. Dia merasa bersalah karena adiknya yang melakukan hal itu pada Ghita, padahal dia sudah percaya pada adiknya


-o080o-


Bagas dan Brian berpencar mencari Ghita di sekitar komplek perumahan itu. Di tengah mencari Ghita, berkali – kali telponnya berbunyi, tapi Bagas tak menghiraukannya, karena dia tahu managernya akan menyruhnya untuk segera datang untuk latihan. Tapi, yang terpenting sekarang dia harus menemukan gadis itu dulu.


Untung, perumahan ini tergolong perumahan yang sepi karena semua warganya sibuk bekerja di jam segini. Jika tidak, Pasti akan ada jumpa penggemar dadakan. Karena terlalu fokus mencari Ghita, Bagas tak menyadari ada motor dari arah belakangnya.

__ADS_1


“Kamu baik – baik saja?”


“Terima ka.. KODOK?”


Bagas terkejut melihat gadis yang menolongnya saat tertabrak motor tadi tak lain adalah Ghita. Padahal, Bagas sudah mencarinya kemana – mana, tapi Ghita justru ada di sampingnya saat ini.


“Apa kau baik – baik saja? Apa ada yang terluka?”


Bagas memeriksa tubuh Ghita karena takut sesuatu terjadi padanya, padahal dialah yang hampir tertabrak jika bukan Ghita yang menyelamatkannya.


“Aku baik – baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Apa ada yang terluka?”


“Syukurlah kau baik – baik saja. Aku takut sesuatu terjadi padamu.” Refleks Bagas memeluk Ghita saat Ghita menjawab pertanyaannya.


“LEPASKAN DIA!”


Seorang laki – laki tiba – tiba menarik Bagas dan membawanya ke belakang punggungnya mencoba untuk melindunginya dari Bagas yang menurutnya, mencurigakan. Memakai topi dan masker hitam yang membuatnya terlihat seperti seorang psikopat.


“Siapa kau? Apa kau ingin menculik Ghita?”


“Apa? Menculiknya? Aku bukan seorang penculik. Kodok.,Ah, maksudku, Ghita bahkan tahu siapa aku.” Bantah Bagas saat di sebut penculik oleh laki- laki yang tak dikenalnya.


“Kau mengenalnya Ica?”


“Ini aku, pemuda yang membuatkanmu bubur, aku juga yang tak sengaja menabrakmu kemarin.” Bagas membuka maskernya saat Ghita terlihat tak mengenali dirinya.


“APA? KAU HAMPIR MANABRAKNYA?”


“Jangan kak. Aku mengenalnya. Dialah yang membantuku.”


Dengan reflek Ghita berdiri di depan Bagas saat laki – laki itu akan memukul Bagas.


“Sebaiknya kita pulang, Kau baru boleh pergi jika kau sudah sembuh.”


Bagas menarik tangan Ghita dan mengajaknya pergi tapi laki – laki itu menahannya, terlebih Ghita juga melepaskan tangannya dengan sopan.


“Maaf, Saya sudah lebih baik, jadi saya harus pergi. Lagi pula saya tak ingin merepotkanmu lebih banyak lagi.” Jawab Ghita halus.


“Kalau begitu akulah yang akan kerepotan membalas budi kebaikkanmu. Lagi pula aku sudah bersama orang yang tepat. Jadi kamu bisa berhenti mengkhawatirkanku.”


“Orang yang tepat? Memangnya dia siapa?” Bagas melihat laki – laki itu dari atas sampai bawah.


“Kamu tak perlu tahu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih untuk kebaikkanmu.”


Ghita membungkuk dan mengajak laki – laki tadi pergi tanpa menunggu jawaban dari Bagas. Bagas pun hanya terdiam melihat Ghita pergi dengan menggandeng laki – laki tadi yang sepertinya masih ingin mencari perkara dengannya.


Sepertinya, memang seperti inilah akhir ceritanya. Tak akan ada cerita lain seperti yang ada dalam bayangan Bagas semalam. Padahal Bagas berharap akan memiliki cerita panjang dengan gadis itu seperti dalam drama yang biasa dia mainkan. Tapi ternyata dia salah.


-o080o-


Akhirnya Bagas pergi ke studio untuk latihan. Walaupun terlambat karena kejadian yang membuatnya kecewa, tapi setidaknya dengan bermain musik, dia merasa lebih baik. Dua tahun lalu, seorang produser menawarkannya untuk membentuk band bersama dengan Alex pemuda yang lebih muda setahun darinya.


Sejak saat itu, Brain nama band mereka menjadi idola para remaja. Oleh karena itu, pimpinan agency mereka sengaja membuatkan tur konser di beberapa kota padahal mereka baru comeback bebrapa hari yang lalu, dan membuat mereka sibuk karena harus berlatih ekstra untuk konser itu.


“Kak, presdir ingin bertemu denganmu?”


“Bertemu denganku? Memangnya ada apa?”


“Entahlah, sebaiknya kau segara datang. Sejak pagi dia sudah kemari untuk mencarimu.”


Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Bagas segera pergi ke ruangan presdir mereka saat Alex memberitahunya jika pimpinan mereka ingin bertemu dengannya saat dia baru sampai. Bagas yang tahu jika ada masalah, mungkin karena kemarin dan hari ini dia mangkir dari latihan band, padahal managernya sudah menelponnya.


“Kau sudah datang?”


Seorang laki – laki muda yang umurnya tak jauh berbeda dengan Bagas yang dikenal sebagai Pimpinan agency tempat Bagas bernaung, berbicara sambil berjalan ke arah Bagas berada.


“Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” ucap presedir itu setelah Bagas memberi salam dan sedikit membungkuk padanya.


“Apa karena aku absen latihan kemarin dan tadi pagi?”


“Bukan, kau baca artikel di koran itu. Setelah kau membacanya, kau akan tahu.”

__ADS_1


Tanpa di perintah dua kali, Bagas segera mengambil koran tersebut. Sebuah artikel berjudul ‘Presdir Muda Royal Company’ dan terpampang foto orang yang ada di depannya ini, menjadi topik utama di koran itu.


Dengan cepat Bagas membaca artikel tersebut dan nampak seulas senyum di bibirnya. Dia bahkan ingin melompat karena terlalu senang.


“Bagaimana Presdir Bagas, apa kau puas dengan artikel itu?”


Seorang pria berusia 40 tahunan tiba – tiba muncul dari belakang Bagas dan membuat Bagas semakin terlihat senang.


“Paman, apa ini benar. Apa berita ini benar?” Tanya Bagas tak percaya pada pengacaranya yang sudah dia anggap sebagai pamannya sendiri.


“Tentu saja.” Presdir agency tiba – tiba berbalik dengan bangga. “Kami sudah berusaha menyebarkan rumor itu dikalangan pemegang saham. Jadi sudah sepantasnya, berita semacam itu yang muncul. Presdir... Bagas...” presdir agency itupun membungkuk pada Bagas.


“Kristian, Stop it! Aku tak suka dengan sebutan itu. Membuatku terlihat tua.”


“Lalu kau pikir, aku suka saat kau memanggilku presdir di hadapan yang lain?” Ucap presdir yang ternyata bernama Kristian itu.


“Lagi pula, bukankah memang itu jabatanmu yang sebenarnya. Pemilik Royal Company dan Hope Entertaiment. Walaupun kau menjadikanku presdir di dua perusahaan itu, tak menutup kenyataan jika kau presdir yang asli, bukan begitu Jason?”


Kristian memanggil Bagas dengan nama baratnya. Sebenarnya Bagas adalah Pemilik Royal Company, sebuah perusahaan di Amerika dan Hope Entertaiment, agency tempat Bagas bernaung.


Tak ada yang tahu jika dia seorang presdir kecuali Pengacaranya tadi dan Kristian teman yang di kenalnya saat dia bersekolah di luar negri.


Inilah alasan Bagas gagal ujian kelulusan dan harus harus tinggal kelas sehingga membuatnya sekelas dengan Bianca yang lebih muda 2 tahun darinya.


Bagas merintis perusahaan ini saat usianya 14 tahun dan baru berhasil 6 tahun kemudian dengan pengorbanan dia harus tinggal kelas dan dianggap anak bodoh agar tak ada yang tahu apa yang dia kerjakan.


Sebenarnya, Bagas sudah lulus sekolah menengah atas saat usianya 14 tahun. Bagas yang diasingkan saat usianya 8 tahun sejak orang tuanya meninggal, perlahan mengetahui jika dia dibuang oleh sang paman karena dia ingin menguasai perusahaan milik keluarganya.


Karena sikap baik yang diajarkan orang tuanya, Bagas membiarkannya begitu saja dan lebih memilih membuat perusahaannya sendiri dengan di bantu pengacara Harry.


Oleh karena itu, saat Bagas dibuang, dia mulai mengikuti Homeschooling yang dilakukan diam – diam dengan pengawasan pengacara Harry hingga dia lulus SMA di usianya 14 tahun.


Tapi, saat itu dia tetap mengikuti sekolah biasa, sehingga dia harus belajar dua kali lebih keras karena mengikuti dua program sekolah.


Saat masuk SMA, Bagas ikut ujian Harvard university dan mengambil program exelarasi. Saat dia diterima, Bagas berbohong pada pamannya ingin bersekolah di Amerika padahal di sana untuk kuliah.


“Tapi, sebaiknya kau segera mengungkapkan semuanya sebelum ada orang yang tahu. Lagi pula para pemegang saham tak akan selamanya mempercayai berita yang beredar sekarang.”


Kristian mencoba memberi saran karena rasa cemasnya tak kunjung hilang saat Bagas masih asyik membaca artikel tersebut. Kristian lebih tua 2 tahun dari Bagas yang dia kenal saat di Harvard.


Mereka berdua juga mengambil program exalarasi dan membuat mereka dekat seperti sekarang. Memilki penderitaan yang sama sebagai mahasiswa exalarasi yang harus belajar extra, membuat mereka menjadi sahabat baik seperti sekarang.


“Bisa tinggalkan kami sebentar?”


“Of Course.”


Pengacara Harry meminta Kristian untuk keluar dan mengajak Bagas duduk untuk berbicara setelah Kristian keluar. Kedua nampak begitu dekat layaknya ayah dengan anaknya.


“Sampai kapan kau akan bertahan pada keluarga yang tak menganggapmu? Bahkan ayah Brian sudah memutus hubunganmu dengan pamanmu, tapi kamu masih saja menganggap mereka keluarga. Tidakkah cukup dengan mengunjungi mereka setahun sekali seperti saat kau di Amerika dulu?”


Pengacara Harry yang tahu alasan Bagas menyembunyikan identitasnya sebagai seorang presdir dan memakai topeng seorang idol bodoh merasa kasihan dengannya. Selama ini Bagas selalu bersikap seperti anak – anak dan tak ingin beranjak dewasa karena tak ingin melawan pamannya.


Karena dia tahu, saat membuka identitasnya, itu berarti dia harus melawan pamannya untuk memperebutkan perusahaan milik orang tuanya yang sekarang di jalankan pamannya.


Oleh karena itu, Pengacara Harry yang juga sahabat karib ayah Bagas merasa kasihan padanya dan membantu Bagas untuk membuat perusahaan sendiri agar dia tak perlu melawan pamannya saat dia dewasa.


Tapi, walaupun sekarang Bagas sudah berhasil, dia tetap berpura – pura bodoh dan selalu sibuk dengan karirnya agar dia bisa tetap bersama dengan paman dan bibinya yang terang - terangan membuangnya.


Ironis memang, tapi itulah pilihan Bagas. Dia ingin meyakinkan pamannya jika dia tak berniat mengambil perusahaan itu dan hanya ingin dianggap sebagai keponakannya. Semua sikap itu diajarkan orang tua Bagas dengan baik.


Mereka selalu mengajarkan Bagas untuk mementingkan keluarga diatas segalanya. Oleh karena itu, walaupun dia di buang berkali – kali, tak ada dendam di hatinya dan hanya ingin mendapatkan sebuah pengakuan dari pamannya.


“Beri aku waktu sedikit lagi, setidaknya sampai aku menyelesaikan turku. Setelah itu aku akan membongkar semuanya dan hidup tenang di Amerika. Aku janji akan menepatinya kali ini.”


“Kau tak perlu berjanji padaku. Berjanjilah pada dirimu sendiri untuk tak mau diperlakukan tak adil oleh pamanmu itu. Kau sudah cukup menderita.”


“Aku tahu. Aku akan melakukannya.”


Pengacara Harry mencoba menghormati keputusan Bagas untuk lebih dekat dengan keluarganya walaupun mereka sudah membuang dan mengkhianatinya berkali - kali.


Inilah yang membuatnya tak bisa meninggalkan Bagas, kenaifannya dan kebaikkan hatinya yang telah disakiti berulang kali membuatnya kagum dan berjanji tak akan meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2