
“Bianca, cepat bantu aku.”
Ucap Bagas meminta bantuan pada seorang gadis yang tengah asyik bermain dengan ponselnya, saat dirinya berjalan menuju sebuah kamar sambil menggendong seorang gadis yang tak sadarkan diri. Tak hanya itu, dia juga membawa tas ransel yang cukup besar di punggungnya dengan keadaan baju yang masih terlihat basah.
“Dia siapa kak?”
Bianca berbicara dengan sinis sambil mengikuti Bagas menuju sebuah kamar yang tahu jauh tempat Bianca bermain dengan ponselnya tadi. Gadis yang terpaut usia 2 tahun dengan Bagas itu, terlihat sekali tak menyukai gadis yang Bagas gendong yang wajahnya pucat itu.
“Nanti aku jelaskan. Sekarang buka pintunya dulu!”
Bagas berdiri di depan pintu kamarnya dan memberi kode dengan matanya berharap agar Bianca membuka pintu itu, karena kedua tangannya tak bisa melakukannya dengan kondisi menggendong seseorang seperti ini.
“Jawab dulu pertanyaanku, siapa gadis ini? Apa mungkin, dia...”
“Benar, dia kekasihku. Kau puas? Sekarang buka pintunya, dia butuh ... Yaa! Mau kemana kau?”
Bagas terkejut saat Bianca tiba – tiba pergi tanpa membantunya membuka pintu ini terlebih dahulu.
Walaupun sedikit kesusahan, tapi Bagas berusaha membuka pintu itu sendir, dan merebahkan tubuh gadis yang tak dia tahu namanya itu, di tempat tidurnya lalu menyelimutinya.
“Bajunya basah, bagaimana aku bisa menggantikannya. Dia bisa tambah sakit jika begini.”
Bagas mengusap kening gadis yang tengah berkeringat dingin itu. Gadis yang ditemuinya di tengah jalan lebih tepatnya. Gadis yang hampir dia tabrak bersama seorang anak kecil saat dia akan pergi ke studio latihannya.
Benar, gadis itu Ghita dan pengendara aneh tadi dalah Bagas, Bagas Alfiansyah. Bagas sengaja membawanya ke rumah bukannya ke rumah sakit karena tak ingin ada yang tahu.
Bagas Alfiansyah, dia adalah seoarang pablik figur. Dia seorang idol yang sedang naik daun saat ini. Oleh karena itu, dia tak bisa membawa Ghita ke rumah sakit. Dia lebih memilih memanggil dokter pribadinya untuk datang ke rumahnya, dari pada harus tersebar gosip murahan yang bisa menghancurkan karirnya saat Bagas membawa gadis ini ke sana.
Tapi, sampai sekarang pun dokter pribadinya yang dia telpon dijalan tadi, masih belum datang dan membuat Bagas semakin kebingungan.
“Seharusnya Bianca tak pergi begitu saja. Dia kan bisa membantuku mengganti baju gadis ini.”
“Bagaimana jika aku yang menggantikan bajunya?” Seseorang tiba – tiba datang saat Bagas tengah mengomel sendiri sambil tetap mengompres kening gadis itu.
“Dokter Anne, kenapa kau lama sekali. Kau tahu aku benar – benar tak tahu harus ...”
“Seharusnya kau membawanya ke rumah sakit.” Potong dokter Anne saat melihat kondisi Ghita yang terlihat buruk. Wajahnya pucat tapi bibinya mulai membiru menandakan dia kedinginan
“Apa?”
“Demamnya tinggi, badannya juga mulai menggigil, seharusnya kau membawanya ke rumah sakit .”
“Tapi, jika aku...”
“Aku tahu. Kau tak ingin terlibat skandal bukan?” Potong Dokter Anne yang sudah tahu alasan Bagas memanggilnya kemari. “Di mana baju gantinya?” ucap dokter Anne saat Bagas akan membuka mulut memberikan penjelasan.
“Ah, sebentar.” Bagas berlari menuju lemarinya dan mengambilkan baju ganti untuk Ghita. “Ini.” Ucap Bagas sambil memberikan piyama miliknya.
“Kau yakin?”
“Aku tak memiliki baju wanita dok, Hanya bajuku yang ada di rumah ini.” Ucap Bagas saat melihat tatapan dokter Anne. “Bagaiamana keadaannya? Apakah terlalu buruk? Apa dia...”
“Apa kau akan tetap disini?” Potong dokter Anne sambil melihat Bagas dengan tatapan jahil saat dia memegang kancing baju Ghita.
“HUH?”
Bagas terlihat bingung dengan maksud dokter Anne. Tapi saat dia melihat kode yang dokter Anne berikan, lalu melihat ke arah tangan dokter Anne. Seketika wajah Bagas bersemu merah melihat tangan dokter Anne yang memegang kancing baju Ghita. Dia terlihat salah tingkah, yang awalnya akan berjalan menuju pintu keluar, justru berjalan menuju pintu kamar mandi.
“Pintunya di sana Bagas Alfiansyah.” Tunjuk dokter Anne.”
“Ah, ya, benar. Aku keluar dulu dok.” Bagas bergegas keluar dengan salah tingkah dan menutup pintunya sebelum dia melihat sesuatu yang tak seharusnya dia lihat.
-o080o-
Bagas melihat barang bawaan Ghita saat Dokter Anne masih memeriksa Ghita di kamar. Dia ingin tahu apa yang dibawa gadis itu hingga membawa tas besar seperti itu saat hujan seperti tadi.
“Apa dia kabur dari rumah? Apa mungkin kodok itu kabur karena bertengkar dengan kekasihnya seperti yang dia bilang tadi?”
Bagas mencoba menebak situasi Ghita yang membawa tas besar yang berisi pakaian seperti itu di hari hujan. Dia juga membuka tas kecil dan melihat isi dompetnya berharap menemukan identitas gadis itu.
“Siapa yang sedang bertengkar? Dan siapa kodok itu?”
Seseorang laki – laki dengan badan yang cukup tinggi memakai setelan jas tiba – tiba datang dan duduk di depan Bagas yang tengah mengobrak – abrik isi tas Ghita. Dialah Brian, kakak Bianca yang lebih tua 5 tahun dari Bianca.
Dia dan Bagas sudah bersahabat sejak mereka kecil. Bagas juga sudah menganggapnya kakak, tapi Bagas tak mau memanggilnya ‘kakak’ walaupun sebenarnya mereka berbeda 3 tahun. Bagas hanya akan memanggilnya Kakak di saat dia sedang serius saja atau sedang ada masalah saja.
__ADS_1
“Ghita Mahardika, 1 Januari 2002, seorang pelajar tingkat 3 di sekolah khusus wanita ‘Glory’.”
Bagas membaca kartu pelajar milik Ghita saat dia tengah melihat isi dompetnya.
“Woah, sekolah khusu wanita Glory? Berarti dia...”
“Benar. Dia mungkin bisa menjadi penerus Albert Einstein.” Potong Brian sambil merebut kartu pelajar yang Bagas pegang karena penasaran siapa Ghita.
Semua orang di kota ini tahu jika tak sembarang orang bisa masuk ke sekolah khusu wanita ‘Glory’. Jika kau tak pintar, walaupun kau orang kaya, kau tak akan bisa masuk ke sekolah ini. Jadi, hanya orang – orang pintar saja yang bisa masuk, dan terlebih hanya para gadis yang boleh masuk ke sana.
“Walaupun dia pintar, tapi dia pasti sering di bully. Dia baru berusia 18, tahun depan. Dia bahkan lebih muda dari Bianca.” Brian meletakkan kartu pelajar itu di atas meja.
“Kau benar, sepertinya dia terlalu awal saat masuk sekolah hinga di usia belum 17 tahun dia sudah akan lulus sekolah.” Bagas mengambil kartu pelajar itu dan melihat foto Ghita yang terlihat manis setelah dia melihatnya baik – baik “Ghita Mahardika”
“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” Wajah Brian terlihat mengingat sesuatu.
“Tentu saja pernah mendengarnya. Bukankah aku baru saja mengatakannya.“ ucap Bagas sambil melihat foto Ghita dengan seksama.”Ah, bicara soal Bianca, apa dia baik – baik saja?”
“Baik – baik saja? Apa maksudmu?”
Brian terlihat cemas saat Bagas menanyakan keadaan Bianca. Setahu Brian, Bianca tadi pagi saat berangkat ke kantor, adik perempuannya itu masih terlihat baik – baik, tidak terlihat sakit.
Tapi, saat Bagas menanyakan keadaan Bianca, Brian jadi mengkhawatirkannya, karena Brian langsung pergi ke rumah pengasingan, nama yang diberikan Bagas untuk rumahnya ini karena hanya orang – orang tertentu saja yang mengetahuinya.
“Begini, Tadi dia...”
Bagas menceritakan kejadian, yang dia pikir membuat Bianca marah padanya karena dia pergi begitu saja tadi. Bagas juga menceritakan kejadian saat Bagas bertemu dengan Ghita karena tak sengaja menabraknya.
Walaupun Brian mengerti seperti apa posisi Bagas saat itu, tapi dia tetap kesal karena mendengar Bianca pergi dengan marah setelah mendengar Bagas mengatakan Ghita kekasihnya.
“Seharusnya kau tak perlu mengatakan gadis itu kekasihmu agar Bianca membuka pintu. Hanya karena, sebelumnnya gadis itu mengatakan kau kekasihnya, dan orang – orang yang memarahimu karena dikira menabraknya justru berbalik membantumu, kau juga melakukan hal yang sama pada Bianca? Kau tahu bukan, Bianca menyukaimu sejak kecil.”
“Aku tahu, aku salah. Tapi mau bagaimana lagi. Saat itu aku lelah harus menggendong kodok itu sedangkan Bianca tak cepat membuka pintunya.”
Bagas mencoba membela diri walaupun dia tahu dialah yang bersalah. Dan sebelum perdebatan mereka bertambah panjang, dokter Anne keluar dari kamar dan membuat mereka diam.
“Aku tak menyangka jika kalian masih bertengkar seperti ini, bahkan saat kalian sudah besar.”
“Hehehe, Dokter Anne.” Brian berdiri lalu membungkuk memberi salam.
“Sudahlah, aku harus pulang.”
“Lebih baik kalian membawanya ke rumah sakit. Walaupun keadaannya sudah lebih baik, tapi dia akan mendapatkan perawatan lebih lengkap disana.”
Dokter Anne memberi saran saat Bagas dan Brian yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri saat mengantarnya keluar rumah.
“Jika aku membawanya kesana, aku akan terlibat masalah.”
“Walaupun kau tak membawanya ke rumah sakit, kau juga sudah terlibat masalah di sini?” Brian menyindir Bagas mengingatkan tentang masalahnya dengan Bianca.
“Bagiku, di rumah sakit atau di sini sama saja, yang terpenting adalah dokter yang menanganinya.”
Bagas mencoba mengalihkan pembicaraan yang terlihat jika Brian tak terima adiknya sakit hati karna masalah tadi.
“Pastikan untuk memberinya makan saat dia bangun. Aku rasa dia belum makan sejak dua hingga tiga hari yang lalu, jadi aku memberinya infus.”
“Apa? Selama itu? Bagaimana bisa orang tak makan selama itu?”
Brian terkejut dan mulai merasa prihatin pada gadis itu walaupun dia belum melihatnya.
“Jangankan 3 hari.” Celetuk Bagas. “Di beberapa negara saja ada yang ...”
“Tapi ini...”
“Sudah – sudah, Kenapa kalian mulai bertengkar lagi.”
Dokter Anne kembali menengahi Bagas dan Brian yang kembali berdebat dengan masalah kecil soal makan. Dokter Anne sudah hafal dengan sifat mereka berdua yang tak mau mengalah jika tak ada yang melerai mereka.
“Aku pulang dulu dan jangan lupa turuti perintahku.”
“YES MA’M”
Bagas menjawab dengan tegas sambil memberikan hormat layaknya seorang prajurit kepada komandannya. Sedangkan Brian menutup pintu mobil dokter Kim.
“Dan kau, pulang saja.”
__ADS_1
Celetuk Bagas menyuruh Brian untuk pergi saat mobil Dokter Anne sudah pergi dari halaman rumah pengasingan dan berjalan meninggalkan Brian di luar.
“Yaa! Apa maksudmu? Kau mengusirku?”
Brian memprotes perkataan Bagas yang menyuruhnya pergi tapi tetap mengikutinya seperti anak kecil mengikuti ibunya. Walaupun kesal, Brian tetap membantu Bagas mengangkat sofa saat Bagas kesulitan membawa sofa sebesar itu sendirian yang mau dia pindahkan ke kamarnya.
“Kau harus melihat Bianca. Bukankah kau sangat menyayanginya. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya saat ini. Aku tidak akan mau bertanggung jawab” Jelas Bagas.
“Ah, jadi ini kodok itu.” Brian terpana saat melihat Ghita tertidur saat dia masuk ke kamar Bagas. “Sepertinya, kodok itu baru lepas dari sihirnya dan menjadi seorang putri.”
“Berhenti memandanginya!”
Bagas tiba – tiba memperlihatkan wajahnya tepat di depan Brian saat dia terpana melihat kecantikan Ghita hingga membuat Brian tersungkur ke lantai karena terkejut.
“YAA! KAU GILA. Bisa – bisanya kau muncul seperti itu.”
“Sebaiknya kau keluar sebelum aku mengusirmu dengan kasar.”
Bagas menunjukkan adegan bela dirinya yang terlihat lucu. Bukannya marah, Brian justru merasa geli melihat Bagas bertingkah seperti itu.
“Dasar anak kecil.”
“Yaa! Bukankah sudah kukatakan aku tak suka kepalaku di sentuh orang lain.”
Bagas protes saat Brian mengacak – acak rambutnya dan pergi begitu saja setelah puas membuat Bagas kesal.
“Aku akan tidur sebentar di kamar biasanya. Aku yakin Bianca akan baik – baik saja. Dia sudah besar, dan pasti tahu jika yang kau katakan hanyalah lelucon. Lagi pula, aku ingin mengobrol dengannya sebentar saat dia bangun nanti.” Ucap Brian sambil mengedipkan matanya sebelum keluar kamar.
“Kenapa justru dia yang antusias dengan kodok ini.”
Bagas merasa kesal dengan ucapan Brian dan menaikkan selimut Ghita hingga menutupi seluruh tubuhnya sebelum dia keluar kamar.
-o080o-
Terdengar suara gaduh dari arah dapur saat Brian masih terlelap dalam tidurnya. Karena merasa terganggu, Brian bangun dan segera memeriksanya karena dia tahu tak ada pembantu di rumah ini.
Lagi pula, Bagas juga tak mungkin memasak karena dia lebih suka makan di luar walaupun sebenarnya dia bisa memasak, walau hanya masakan yang mudah.
“Kau sudah bangun?”
Bagas menyapa Brian lebih dulu saat melihat sahabatnya itu berjalan seperti zombie. Dengan rambut yang acak – acakkan dan mata yang masih setengah terpejam. Tapi Bagas akui, wajah blesterannya masih terlihat tampan walaupun Brian masih terlihat mengantuk.
“Apa yang kau lakukan?” Brian berjalan ke arah Bagas setelah mengambil segelas air dan meminumnya. “Kau membuat bubur? Untuk siapa?”
“Tentu saja untuk kodok itu. Aku hanya menuruti perintah dokter Anne untuk memberinya makan saat bangun, jadi aku memasakkannya bubur sebelum aku pergi latihan.”
“Apa?”
Mata Brian langsung terbuka mendengar pernyatan Bagas. Orang yang di kenalnya lebih memilih membeli makanan dibanding memanaskan makanan ini justru memasakkan bubur untuk seseorang yang justru baru di kenalnya.
“Coba kau cicipi. Apa kurang sesuatu?”
Bagas tak mempedulikan tatapan tak percaya Brian mendengar jawabannya dan segera menyuapi Brian dengan sesuap bubur yang sudah di tiupnya agar dingin.
“Bagaimana? Enak kan?”
“Sejak kapan kau...”
PRAANNKKKK~~ suara aneh terdengar dari kamar Bagas saat Brian akan berbicara. Mereka berdua pun segera berlari ke asal suara. Dari depan pintu, Bagas dan Brian dapat melihat jika gadis yang semalam tertidur pulas sekarang tengah membersihkan pecahan gelas di lantai.
“Ah, maafkan aku. Aku tak sengaja menjatuhkannya.”
Ghita yang menyadari kehadiran dua laki – laki yang tengah melihatnya mencoba meminta maaf dan menganggukkan kepalanya sambil kembali membersihkan pecahan gelas itu.
“Biarkan saja, kau bisa terluka nanti.”
Bagas menghampiri Ghita dan menarik tangannya yang sedang mengambil pecahan kaca karena tak ingin pecahan kaca itu melukainya.
“Ini salahku. Jadi aku yang harus membersihkannya. Aku benar – benar meminta maaf”
“SUDAH KUKATAKAN BIARKAN SAJA.”
Bentak Bagas saat Ghita bersikeras membersihkan pecahan gelas itu hingga membuat Ghita dan Brian terkejut. Bahkan Brian tak menyangka Bagas dapat bersikap seperti itu.
“Maaf, aku tak bermaksud.” Gumam Bagas merasa bersalah melihat Ghita diam mematung. “Kita makan saja. Biar kakakku yang membersihkannya.”
__ADS_1
Bagas menarik tangan Ghita dan meminta Brian untuk membersihkannya. Sejenak, Bagas sendiri juga tak mengerti kenapa dia bisa seperti itu, membantak seseorang yang tak dikenalnya hanya karena dia membersihkan pecahan kaca. Padahal sebelumnya dia tak pernah membentak siapapun.
Bahkan, Brian memandangnya dengan tatapan bingung yang akhirnya mengiyakan apa yang Bagas katakan tadi, memebrsihkan pecahan kaca itu.