
Sudah seminggu lebih sejak bibinya meninggal, tapi dia masih larut dalam kesedihannya. Walaupun Dimas dan Wulan kadang datang ke rumahnya untuk menemaninya makan malam atau membawakan sarapan, Ghita masih merasa kehilangan.
Sama seperti dia kehilangan ibunya saat dia kecil. Butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka kehilangan yang dia alami.
Dalam waktu seminggu itu pula, kakaknya Gilang, juga tak kunjung datang menagih janjinya waktu itu pada Ghita. Ghita yang sudah tahu jika kakaknya mulai sibuk mengurus perusahaan orang yang dibencinya itu, berharap kakaknya melupakan janjinya waktu itu. Dia berharap kakaknya akan terus di sibukkan oleh dokumen – dokumen yang harus dia selesaikan.
“Kenapa kamu hanya melihatnya. Makanlah.”
Wulan tiba – tiba menyendokkan lauk ke nasi Ghita membuyarkan lamunan gadis itu.
“Iya, Akan aku makan.” Ghita mencoba memberikan senyum tulusnya.
“Kak Dimas pagi – pagi memasakkan semua ini untukmu dan tak mengizinkanku untuk mencicipinya. Jadi, makanlah jangan hanya kau lihat.”
“Wulan, tutup mulutmu.” Bisik Dimas penuh penekanan saat adiknya membongkar rahasianya.
“Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Tapi tetap saja, kau akan membuat Ghita justru merasa tidak nyaman.”
Tatapan Dimas mulai mengancam seakan ingin memakan wulan hidup – hidup.
“Sudah,, aku akan makan semuanya.” Lerai Ghita saat wulan akan menjawab perkataan Dimas. “Aku juga akan menghabiskan semuanya.” Lanjutnya sambil mengambil telur puyu terakhir yang akan Wulan ambil.
“Yah.. Kenapa kau...”
“Bukankah kau kak Dimas memasakkan semua ini untukku. Jadi telur itu milikku.” Ghita memberikan wajah meledek yang membuat Wulan kesal.
Tak lama kemudian, mereka berdua tertawa setelah sebelumnya saling menatap seakan sebuah pertengkaran akan terjadi, persis saat dia dan Wulan memperebutkan boneka saat mereka kecil.
“Ekspresi itulah yang selama ini aku tunggu.”
Dimas tersenyum lega melihat Ghita bisa tertawa kembali setlah pertemuan pertamanya setelah bibinya meninggal. Saat itu, dia hanya melihat awan mendung yang mengelilingi wajah Ghita. Walaupun dia mencoba tersenyum, itu hanyalah senyum palsu yang dia paksakan.
“Benar, tersenyumlah lebih sering. Jangan terlalu larut dengan kesedihanmu. Kamu masih memiliki kami berdua. Calon suamimu dan adik iparmu.” Celetuk Wulan.
“WULAN!! JAGA BIACARAMU.” Dimas terlihat salah tingkah danmembuat dua gadis di depannya justru tertawa semakin lepas.
“Jika Kak Dimas, masih bisa kupertimbangkan. Tapi, jika kau jadi adik iparku. Akan aku pikir ulang.”
Ledek Ghita yang tak tahu justru membuat hati Dimas berbunga dengan perkataan itu.
Kedua gadis itu masih sibuk saling mengejek dan tak menyadari jika Dimas merasa berdebar walau dengan ejekan yang Ghita berikan. Mencoba untuk pergi diam – diam, Ghita yang mengetahui Dimas akan pergi mencegahnya dengan menarik tangannya.
“Kak Dimas akan selalu menjadi kakak nomer 1 yang paling aku sayangi. Tapi, kau tidak akan pernah menjadi adik yang aku inginkan.” Ghita mendudukkan Dimas di kursi yang sebelumnya Dimas duduki. “Terima kasih kak Gilang.” Lanjut Ghita dengan seulas senyum tulus.
‘Benar, tak mungkin Ghita menganggapku sebagai laki – laki. Sejak dulu, dia hanya menganggapku sebagai kakaknya. Sebagai pelindungnya karena kakakny sudah meninggal.’ Batin Dimas menyemangati dirinya sendiri dan memberikan senyum tulus tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Baiklah, aku pergi dulu. Aku sudah terlambat untuk bertugas. Ayo Wulan, bereskan...”
“Aku yang akan membereskannya dan mengantarnya ke rumah kalian nanti sore.”
Ghita mendorong tubuh Wulan dan Dimas untuk keluar dari rumahnya karena sebenarnya dia ingin sendiri hari ini. Tapi Ghita juga bersyukur karena masih ada orang baik yang mau memperhatikannya seperti Dimas dan Wulan.
“Tapi Ghita, biarkan kami...”
“Terima kasih banyak. Aku sangat menyayangi kalian.” Ucap Ghita memeluk mereka berdua bersamaan saat Wulan memberontak ingin masuk membereskan tempat makanannya.
Mereka berdua pun mengalah dan memilih menuruti apa yang Ghita ucapkan untuk pergi. Selain karena mereka memang sudah terlambat untuk pergi bekerja, Dimas harus ke kantor polisi di area tersebut dan Wulan sudah jamnya untuk kerja sambilan menjaga minimarket. Mereka juga ingin memberikan ruang untuk Ghita yang mereka tahu masih merasa terluka karena kepergian bibinya.
-o080o-
Setelah bibinya meninggal, Ghita merasa jka hidupnya terasa lebih berat. Bukan karena dia harus bangun lebih pagi, karena jarak tempuh sekolah dengan rumah barunya semakin jauh. Bukan juga karena dia sudah kelas 3, dan jam sekolahnya semakin bertembah, sehingga Ghita tak memiliki waktu kerja lebih, banyak di banding dulu.
Tapi, karena dia harus melihat rumahnya kosong setiap kali pulang ke rumah. Tak ada lagi sambutan dan peluk cium bibinya yang membuat semangatnya kembali naik.
10 tahun ini Ghita sudah terbiasa hidup dengan bibinya. Dia selalu menceritakan setiap hal yang terjadi padanya seharian itu. Tapi sekarang, hanya temboklah yang menjadi temannya setiap malam dia pulang kerja.
Terkadang, Ghita menitihkan air mata tanpa dia sadari. Entah saat dia berjalan, saat dia makan, atau saat dia menerima pelajaran dari sang guru. Dan sebelum ada orang yang menyadarinya, Ghita segera mengusap air mata yang tiba – tiba jatuh itu.
Seperti saat ini, Saat Ghita akan mengantarkan pesanan ke ruang karaoke, tempatnya bekerja sambilan di akhir pekan, air matanya tiba – tiba menetes tanpa dai minta. Tapi sayang, kali ini salah satu temannya melihatnya menangis.
“Terasa berat bukan?”
Ucap Rika saat melihat Ghita menghapus air matanya. Gadis yang lebih tua dua tahun dari Ghita itu terkenenal sebagai senior yang dingin. Tapi entah kenapa, hari ini dia terlihat bersahabat.
“Apa? Ah, aku baik – baik saja kak.”
“Carilah angin sebentar. Aku akan menggantikan tugasmu saat kau keluar.”
“Aku benar – benar...”
__ADS_1
“Sudahlah.” Rika mengambil nampan berisikan makan ringan yang akan di antar ke ruang karaoke. “Hal yang langkah bukan jika aku menawarkan kebaikan padamu.”
“Terima kasih Kak Rika”
Ghita, tersenyum tulus mendapat tawaran dari seniornya itu yang hanya di balas dengan anggukan dan senyum tulus dari wajah Rika yang terlihat cantik.
Tapi, saat Ghita akan berjalan keluar, salah seorang rekan kerjanya tiba – tiba menyuruh Ghita mengantarkan pesanan ke salah satu ruang. Walaupun Rika sudah mengatakan jika dia yang akan mengantarnya setelah ini, tapi Ghita justru mengiyakan perintah rekan kerjakan karena tugas itu diberikan untuknya.
“Setelah mengantarkan pesanan satu ini, aku akan istirahat sebentar.” Ucap Ghita.
“Baiklah. Untuk kali ini aku biarkan kau mengantarnya. Tapi setelah itu, carilah angin segar, aku yang akan mengurus selanjutnya. Mengerti?”
Ghita mengangguk sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan yang diberikan rekan kerjanya tadi. Sedangkan Rika berjalan di belakangnya mengantarkan pesanan ke ruangan yang lain.
Walaupun mereka tidak dekat, tapi Ghita dan Rika berhubungan dengan baik karena mereka sama – sama pekerja part time. Hanya saja Rika lebih tua, dan sudah kuliah.
-o080o-
“Maaf kak. Saya hanya bertugas mengantarkan makanan dan minuman ini.”
Ghita menolak dengan halus pada pelanggan yang berniat menggodanya. Tadi, setelah Ghita selesai mengantarkan pesanan, tiba – tiba para laki – laki yang ada dalam ruangan itu menariknya mengajaknya berdansa. Dalam hati dia merutuk dirinya sendiri karena tak mau pergi saat Rika menyuruhnya. Dan sekarang, Ghita harus menerima buah dari keras kepalanya.
“Hanya sebentar. Temani kami minum. Tak ada salahnya bukan.”
“Maaf kak, saya mohon jangan begini.”
Laki – laki itu terus menarik Ghita bahkan hingga baju seragamnya berantakan. Sedangkan Ghita, setelah cukup lama berusaha melepaskan diri dari laki – laki mabuk itu, akirnya bisa keluar walaupun dengan dandanan yang cukup berantakan karena aksi tarik menarik tadi.
Tapi sayang, laki – laki itu mengikuti Ghita dan kembali menariknya masuk ke ruang karaoke.
BUUUGGKKK- Sebuah pukulan mendarat di wajah laki – laki itu saat dia memaksa Ghita untuk masuk kembali ke ruangan tadi dan segera menarik Ghita ke belakang punggungnya.
“YAA! SIAPA KAU? BERANINYA MEMUKULKU.”
Laki – laki itu mengusap hidungnya dan terlihat marah karena melihat darah dari di tangannya.
“Aku? Aku kekasihnya. Kenapa?”
Ucap laki – laki yang menolong Ghita.
Ghita terkejut saat laki – laki yang memakai masker dan topi itu mengatakan jika dia kekasihnya. Sejak kapan Ghita memiliki kekasih padahal selama ini dia tak pernah berteman dengan laki – laki seusianya karena teman sekolahnya semua perempuan.
“Apa kau sedang bermain denganku?” Ucap laki – laki pemabuk kesal.
“Kaulah yang ingin bermain dengan kekasihku. Dan aku tak terima!”
“Sialan, rasakan ini.”
Laki – laki pemabuk itu mencoba untuk memukul orang aneh tadi. Tapi dengan sigap orang itu menghindar dan membalas pukulan laki – laki pemabuk tadi. Ghita yang melihatnya mencoba untuk melerai perkelahian itu karena dia takut di pecat karena hal ini
“Lapaskan dia.”
Ghita menarik pemuda aneh itu yang sedang memukuli laki – laki tadi dengan membabi buta.
“YAA! DIMANA KALIAN SEMUA? CEPAT KEMARIIIIII!!!”
Laki – laki itu berteriak saat pemuda aneh itu memukulnya dan tak lama kemudian, beberapa orang keluar dari kamar karaoke dan bersiap untuk memukul pemuda aneh itu. Menyadari akan terjadi sesuatu yang lebih buruk, pemuda itu mundur dan menggenggam tangan Ghita erat.
“Dalam hitungan ke tiga, kita lari.”
“Apa?” Ghita bingung saat laki – laki yang menolongnya membisikkan sesuatu yang tak jelas.
“Satu...”
Ghita terlihat bingung saat pemuda itu mulai menghitung dan semakin erat menggenggam tangannya saat beberapa orang tadi semakin mendekati meraka.
“Dua...”
Pemuda itu sudah bersiap dan Ghita semakin sulit untuk menelan ludahnya karena takut. Dia bahkan menggenggam tangan pemuda itu dengan kedua tanganya.
“LARIIIII......”
Mereka berdua akhirnya berlari bersama menghindari kejaran preman tadi. Di tengah jalanan kota yang ramai mereka harus berlari sambil menghindari beberapa penguna jalan dan masuk ke gang sempit. Beruntung mereka bisa lolos dan preman – preman itu tak terlihat mengejar mereka lagi.
Pemuda aneh itu berhenti karena tak melihat ada lagi preman yang mengejar mereka lagi. Dan juga karena menyadari Ghita tak kuat lagi berlari, terlebih dengan heels yang dia pakai.
“Sepertinya mereka tak ...YAA! Apa yang kau lakukan?”
Pekik pemuda aneh itu kesakitan saat Ghita tiba – tiba menendang kakinya bahkan saat nafasnya belum kembali normal.
“Itu balasan karena kau ikut campur urusanku.”
__ADS_1
Ghita menjawab dengan nafas yang tak beraturan lalu pergi meninggalkan pemuda aneh itu yang masih meringis kesakitan.
“Yaa! Kau mau kamana?” Pemuda itu menahan tangan Ghita yang akan pergi
“Tentu saja kembali ke sana.”
“Apa? Aku sudah menolongmu dan kau justru kembali ke sana? Apa kau kau tak waras, huh?”
“Benar, aku sudah tak waras karenamu. Aku sudah mau gila jika harus mencari pekerjaan lagi karena di pecat dari tempat itu.”
Ghita tetap berjalan menjauhi pemuda aneh itu dengan langkah tertatih karena kakinya sakit. Berkali – kali pemuda itu menarik tangannya, berkali – kali pula Ghita menghempaskannya.
“SUDAH KUKATAKAN JANGAN KEMBALI KE SANA!”
“AKU HARUS KEMBALI UNTUK MENGAMBIL BARANGKU. Kau puas?”
Ghita berbalik berteriak saat pemuda aneh itu meneriakinya. Sesaat dia merasa kesal karena pemuda ini terlalu ikut campur urusannya. Tapi, dalam hati dia juga berterima kasih padanya karena berkat pertolongannya dia bisa selamat dari laki – laki pemabuk tadi.
“Pakai ini untuk membersihkan lukamu.”
Ghita memberikan sapu tangannya saat melihat kepala pemuda itu berdarah. Ghita tak bisa membantu membersihkan luka pemuda itu karena dia harus kembali ke tempatnya bekerja. Dia takut masalah tadi menimbulkan masalah untuk rekan kerjanya.
Terlebih, Ghita khawatir jika dia dipecat. Dia tak akan bisa mencari pekerjaan baru saat dia sudah di tahun akhir sekolahnya, terlebih pekerjaan di akhir pekan yang gajinya cukup lumayan akan sulit untuk di dapat
“Dasar wanita kejam, bisa – bisanya membiarkan orang yang menolongmu terluka seperti ini. Benar – benar tak bertanggung jawab!”
Pemuda tadi terlihat kesakitan memegangi sebelah kakinya yang ditendang Ghita tadi. Saat melihat darah segar menetes dari balik topi yang dipakainya tanpa pemuda itu sadari, Ghita merasa kasihan, karena biar bagaimanapun pemuda itu terluka karena menolong Ghita.
“Ikut aku.” Ucap Ghita ketus antara merasa kesal dan kasihan.
“Apa?”
“Kau bilang ingin aku bertanggung jawab, cepat ikut aku.”
Ghita berjalan menuju sebuah minimarkert yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sedangkan pemuda tadi, terpaksa mengikutinya dengan langkah yang sedikit pincang karena sakit di kakinya yang mulai berangsur menghilang.
“Untuk apa semua itu? Kau membutuhkannya?”
Tanya pemuda tadi saat Ghita pengambil beberapa barang dan meletakkannya di dalam keranjang.
“Tidak.”
“Lalu untuk apa kau mengambil semua itu jika tidak membutuhkannya? Untuk keluargamu?”
“Issshhh kenapa kau cerewet sekali?”
Ghita merasa kesal dan tak tahan dengan pertanyaan yang pemuda itu berikan padanya.
“Tentu saja untukmu. Bukankah kau bilang aku harus bertanggung jawab. Dan ini bentuk pertanggung jawabanku padamu.”
Ucap Ghita sambil mengambil tisu yang dia ambil tadi dan mengusap darah yang mulai mengering di balik topi pemuda tadi.
“Aaaa aku...”
“Apa kau tidak risih ada darah yang menetes di wajahmu.” Potong Ghita saat pemuda tadi hanya bergumam. “Lagi pula untuk apa kau memakai Topi dan masker di malam hari? Kau sakit apa kau seorang psikopat?” Ucap Ghita asal.
“Yaa.. Aku sudah menolongmu tapi kau menyebutku psikopat?”
“Lalu apa jika bukan psikopat? *******?” Bentak Ghita. “Sudahlah, aku masih ada urusan dan aku juga sudah bertanggung jawab padamu seperti yang kau minta. Jangan lupa untuk membayar semua barang ini.”
Ghita memberikan keranjang yang dia bawa sebelumnya kepada pemuda itu yang terlihat jika dia salah tingkah. Dan berjalan meninggalkan pemuda itu yang terlihat bingung.
“Kenapa harus aku yang membayarnya. Kau yang mengambil semua barang ini.”
Pemuda itu menarik tangan Ghita yang berayun sehingga menahannya untuk pergi. Sejenak, pemuda itu terdiam karena wajah mereka hampir berdekatan akibat pemuda itu menarik tangan Ghita sehingga membuat Ghita tertarik ke arah tubuhnya.
“Karena aku tak membawa dompet.”
Ghita mencoba melepaskan tangannya namun gagal karena genggaman pemuda itu terlalu erat. Terlihat dari matanya, pemuda itu seakan puas melihat Ghita kesulitan untuk melepaskan tangannya dari tangan pemuda itu.
“Tersenyumlah, maka aku akan melepaskan tanganmu.” Ucap pemuda itu. “Lagi pula bukankah kau juga harus berterima kasih padaku karena menyelamatkanmu. Jadi, tersenyumlah.”
“Jangan harap.”
Ghita menggigit tangan pemuda itu dan akhirnya berhasil lepas dari genggaman pemuda itu. Terlihat pemuda itu mengusap tangannya yang kesakitan karena gigitan Ghita tadi.
“Terima Kasih banyak.” Ucap Ghita dengan senyum tulus sebelum dia keluar dari minimarket tersebut. “Jangan lupa bayar semua itu.” Lanjutnya
Ghita pun akhirnya pergi dengan bebas meninggalkan pemuda tadi yang terlihat seperti membeku.
Sepertinya gigitan Ghita beracun, bagaiaman pemuda itu bisa membeku setelah Ghita menggigitnya tadi. Padahal gigitannya pun tidak terlalu keras.
__ADS_1