
Ghita berjalan perlahan mengikuti Dimas yang berjalan lebih dulu dengan membawa barang bawaannya. Setelah kejadian pengemudi aneh yang menolongnya, tiba – tiba memeluknya, Dimas masih diam tak menanyakan apapun dan hanya mengajaknya ke suatu tempat.
Walaupun mereka sudah tidak bertemu sejak 5 tahun yang lalu, tapi Ghita merasa ada yang salah dengan laki – laki itu. Dimas yang dulu dikenalnya seseorang yang ceria dan sedikit cerewet seperti kakanya, sekarang menjadi pendiam.
“Kak Dimas, Bagaimana kabarmu?”
Ghita membuka pembicaraan terlebih dahulu karena tak mnyukai situasi seperti sekarang. Saling diam dalam fikiran masing – masing, padahal biasanya mereka bercerita banyak hal.
Dimas yang seumuran dengan Gilang, kakak laki – lakinya, membuat Ghita menganggapnya sebagai kakak sendiri, walalupun Ghita tahu jika Dimas tak sependapat.
Ghita mengenal Dimas 10 tahun yang lalu saat pindah ke rumah kontrakan bersama bibi pengasuhnya setelah kabur dari rumah. Keluarga Dimas yang merupakan tetangga sang bibi, ternyata cukup dekat dengan bibi pengasuhnya.
Dimas juga memiliki adik perempuan yang seumuran dengannya, Wulan namanya. Setiap hari mereka selalu berangkat sekolah bersama dan bermain bersama.
Seiringnya waktu berjalan, perasaan itu tumbuh di hati Dimas, tapi Ghita yang sudah menganggapnya sebagai pengganti Gilang tak menanggapi perasaan itu. Hingga 5 tahun yang lalu, saat orang tua Dimas meninggal, tiba – tiba mereka di usir dari rumah dengan alasan orang tuanya memiliki banyak hutang.
Tapi Ghita tahu, itu semua ulah ayahnya yang tak ingin Ghita didekati orang yang berasal dari kalangan bawah.
Sejak saat itu Ghita tak pernah melihat Dimas dan Wulan lagi. Bahkan saat pemakaman bibinya waktu itu dimas dan wulan tidak datang.
Tapi, tadi pagi saat Ghita keluar dari rumah pengemudi aneh itu, tanpa sengaja Ghita bertemu dengannya. Pertemuan pertama mereka pun tak memberikan kesan baik mengingat kejadian tadi pagi yang membuat Dimas diam seperti sekarang.
“Aku baik.” Jawab Dimas singkat dan masih tak mau melihat Ghita yang berjalan di belakangnya.
“Maafkan aku.”
“Untuk apa meminta maaf? Apa kau melakukan kesalahan?”
Dimas menghentikan langkahnya dan bebalik melihat Ghita. Sedangkan Ghita justru memainkan kakinya menendang angin, kebiasaan yang selalu dia lakukan jika sedang kebingungan dan mencari alasan.
“Aku tak tahu apa aku melakukan kesalahan atau tidak. Tapi, sepertinya aku harus meminta maaf padamu. Terlebih karena kejadian tadi.”
“Kau sudah banyak berubah Ghita.”
Seulas senyum yang memperlihatkan sepasang lesung pipi terukir di wajah tampan Dimas, walaupun mata Dimas hampir terpejam, tapi tetap saja tak mengurangi ketampanannya.
“Berubah bagaimana kak?”
“Setahuku, Ghita yang kukenal tak akan meminta maaf jika dia tak tahu kesalahannya. Bahkan jika dia memang melakukan kesalahan, dia tak akan meminta maaf tapi justru memperbaiki kesalahannya. Tapi sekarang, kau justru meminta maaf atas apa yang tak kau ketahui?”
Jelas Dimas yang terlihat sorot mata merindukan gadis yang berdiri di depannya ini.
“Benarkah? Aku rasa sama saja. Aku masih Ghita yang dulu.”
“Benar, Ghita kita sudah berubah sekarang.”
Seorang gadis tiba – tiba muncul dan berjalan ke arah Ghita dan Dimas berada, dialah Wulansari, adik perempuan Dimas yang usianya lebih tua beberapa bulan dari Ghita.
“Kau terlihat lebih cantik dan lebih ceria di banding saat pertama kita bertemu, benar begitu kak?” Wulan menyenggol lengan kakaknya dan terlihat semburat merah di wajah Dimas.
“Benar. Ghita kita telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang ceria.”
“Dan Kaka bertambah sayang padanya?”
“Ben...Yaa! Bisa - bisanya kau menjebak kakakmu sendiri, huh?”
Wajah Dimas bertambah merah saat tersadar ketika Wulan menjebaknya untuk mengulangi apa yang dia katakan. Dimas mencoba mengejar Wulam yang tiba tiba kabur terlebih dulu setelah mengatakan hal tadi. Dia bahkan bersembunyi di balik punggung Ghita.
“Aku hanya bercanda. Kau tahu kan Wulan suka begitu sejak kecil. Dan dia tak berubah.”
“Begitu juga dengan perasaan kak Dimas padamu Ghita, kak Dimas masih meyukaimu seperti 5 tahun yang lalu dan tak pernah berubah walaupun banyak wanita cantik mendekatinya.”
Wulan menjulurkan lidahnya dan kembali berkejaran dengan Dimas seperti anak kecil. Ghita merasa seperti de javu saat Dimas dan Wulan berlari mengelilinginya. Seulas senyum terukir di wajahnya mengingat bahwa dirinya tak sendiri setelah bibi pengasuhnya meninggal.
“Ghita Mahardika, Kenapa kau tak menerima cinta kakakku. Bukankah kau tahu dia menyukaimu dengan tulus. Sekarang, setelah dia menjadi polisi, apa kau tetap tak menerima cintanya?”
“Wulan, bukankah sudah kukatakan jangan ikut campur urusan kakak?”
Dimas tetap mengejer Wulan yang tetap berputar mengelilingi Ghita karena tak ingin adiknya bercerita lebih banyak lagi pada Ghita.
__ADS_1
“Aku tak ingin kalian terluka lagi.”
Ghita yang iri dengan kedekatan dua bersaudara ini akhirnya membuka mulutnya. Sontak mereka berdua berhenti berkejaran setelah mendengar perkataan Ghita barusan dan melihat Ghita dengan tatapan penuh tanya.
“Jika kau...”
“Sudahlah, sebaiknya kita segera tunjukkan rumah baru untuknya. Ghita kita butuh istirahat karena dia masih sakit sekarang.”
Dimas segerang memotong perkataan Wulan yang ingin mengatakan masalah pengusiran mereka dulu. Dia bahkan memberikan tas ransel milik Ghita agar Wulan merasa kesulitan dan melupakan apa yang akan dikatakannya tadi.
“Kak, kenapa kau memberikan tas ini padaku.”
“Diamlah dan bawa masuk tas itu. Ayo Ghita, aku yakin kau akan suka rumah barumu.”
Dimas segera menarik Wulan untuk berjalan mengikutinya dan Ghita yang seakan tahu jika Dimas menyembunyikan sesuatu, berusaha untuk tidak ikut membahasnya lebih lanjut dan berjalan mengikuti kakak beradik itu.
-o080o-
“Jangan fikirkan apa yang Wulan katakan, dia hanya bercanda karena sudah lama tak bertemu denganmu.”
Dimas berpesan sebelum dia pergi dari rumah baru Ghita.Setelah Wulan pergi lebih dulu saat merasa kakanya tak mau mendengar pendapatnya tentang hubungan Dimas dengan Ghita, Akhirnya Dimas yang membantu membereskan beberapa barang di rumah baru Ghita.
“Aku tahu dia tak bercanda. Kak Dimas tahu, bukan jika kakak seusia dengan kakakku. Oleh karena itu ...”
“Aku tahu.” Potong Dimas cepat
Dimas yang sudah tahu, alasan Ghita menolak dirinya mencoba menghibur Ghita agar tak merasa bersalah dengannya. Dimas lebih memilih untuk memendam perasaannya dibanding harus melihat Ghita selalu menjauhinmya.
“Aku yakin, kakakmu tak akan suka jika adiknya berkencan dengan orang seumuran dengannya. Jika kita berkencan, aku yakin kakakmu akan datang dari surga untuk memukulku.”
Selama ini Ghita mengatakan pada semua orang jika keluarganya sudah meninggal karena kecelakaan dan akhirnya dia dirawat oleh sang bibi. Oleh karena itu, Dimas tak tahu jika sebenarnya kakak Ghita masih hidup.
“Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan sering kemari saat akhir pekan.”
“Baiklah, terima kasih sudah mencarikan rumah baru untukku. Aku janji akan mengganti biaya sewanya.”
“Tak perlu sungkan. Ah, aku minta maaf karena tak bisa datang ke pemakaman bibimu saat itu.”
“Ehm. Kalau begitu istirahatlah, tak perlu mengantarku.”
"Kak Dimas." Panggil Ghita sebelum Dimas keluar dari rumah kontrakan kecil itu. "Terima kasih sudah mencarikan rumah baru untukku. Aku akan mengganti biaya sewanya saat aku mendapat gaji nanti." lanjutnya.
"Tak perlu sungkan. Anggap saja ini hadiah selamat datang dariki dan wulan karena kita akhirnya bertemu."
"Tapi, bagaimana kakak tau jika aku tidak tinggal di rumahku yanh dulu?"
"Lain kali. Lain kali aku akan menceritakannya. Aku harus pergi dulu" ucap Dimas sesaat setelah ponselnya berbunyi dan bergegaa pergi. Sepertinya ada urusan mendesak."
Ghita melihat kepergian Dimas dengan rasa bersalah. Bahkan saat pintu rumahnya sudah tertutup dan Dimas sudah menghilang, Ghita masih menatap pintu itu hingga akhirnya dia mumutuskan untuk beristirahat karena merasa sedikit pusing.
Suara ketukan pintu membangunkannya yang ternyata hari sudah mau malam. Ternyata, cukup lama Ghita tertidur tadi, padahal dia berniat ingin tidur sebentar untuk memulihkan tenaganya. Dengan malas Ghita berjalan ke arah pintu yang sebelumnya menyalakn lampu rungan, karena sudah mulai terliaht gelap.
“Kakak???”
Seorang laki – laki memakai topi dan pakaian serba hitam langsung masuk saat Ghita membuka pintu. Sedangkan Ghita hanya menghembuskan nafas kesal dan kembali menutup pintunya setelah melihat keadaan di luar yang tak ada orang melihat laki – laki itu masuk.
-o080o-
Gilang memeriksa rumah baru Ghita setelah dia masuk, bahkan sebelum Ghita menyuruhnya masuk. Sedangkan Ghita, dia hanya duduk di lantai sambil mengawasi kakanya yang mengelilingi rumah barunya yang terbilang kecil tanpa berkomentar apapun.
Ghita mencoba menebak bagaimana kakaknya menemukan dirinya bahkan setelah dia pindah dari rumah lama. Terlebih, tak biasanya kakaknya itu mengunjunginya di sore karena Ghita selalu berpesan agar bertemu saat malam agar tak ada orang yang tahu.
“Baiklah, sudah cukup. Ayo kita pergi.”
Gilang kembali memakai topi dan maskernya lalau berjalan ke arah pintu keluar. Sedangkan Ghita masih tenang duduk di lantai membiarkan kakanya pergi. Melihat Ghita tak bergeming dari tempatnya, Gilang kembali menutup pintu dan berbalik melihat Ghita.
“Kenapa kau diam saja? Ayo pergi.”
“Kenapa aku harus pergi. Ini rumahku.”
__ADS_1
“Rumahmu? Laki – laki itu memberikan gudang kecil ini dan kau sebut rumah? Apa kau bodoh?”
“Tidak. Ini memang rumahku karena aku menghuninya mulai sekarang.”
“Ica, sudahi perselisihan ini. Ini sudah 10 tahun. Bahkan bibi pengasuh sudah meninggal dan tak ada lagi yang menjagamu. Jadi ayo kita pulang.”
“Bukankah sudah kukatakan ini rumahku. Jadi aku tak akan pulang kemanapun. Kak Gilang saja yang pulang ke rumah kakak.”
Ghita bicara dengan tegas. Ghita memang keras kepala dan sifat itu didapatnya dari sang ayah. Oleh karena itu, tak ada yang bisa menghalangi Ghita kecil yang ingin keluar rumah 10 tahun lalu.
“Kak, ngat apa yang kukatakan 10 tahun yang lalu saat pergi dari neraka itu. Aku sudah mengatakannya dengan jelas, aku bukan bagian dari keluarga kalian dan kalian tak perlu peduli padaku bagaimanapun keadaanku. Lagi pula, kalian sudah melakukan dengan baik bukan selama ini. Tapi kenapa akhir – akhir ini kalian justru terlihat menyebalkan dengan ikut campur urusanku.”
“Ikut campur urusanmu kau bilang. Ica, kau itu keluarga kami, kau adikku dan kamu masih memiliki ayah. Sudah sepantasnya aku membantumu saat kau dalam kesulitan.”
“Sudah cukup kak Gilang mengunjungiku setiap akhir pekan. Jadi, jangan bertindak lebih jauh dari itu.”
“Dulu aku melakukannya karena ada Bibi pengasuh yang menjagamu jadi aku bisa merasa tenang walau hanya mengunjungimu seminggu sekali. Tapi sekarang kau hidup sendiri. Jadi kakak harus ikut campur pada urusanmu karena aku kakak kandungmu.”
“Jangan menjadikan hubungan kita sebagai alasan.”
“Lalu kau fikir ada alasan lain yang lebih tepat selain hubungan darah yang kita miliki, huh?”
Gilang merasa lelah menghadapi adiknya yang keras kepala, sama kerasnya seperti ayahnya. Dia bahkan sampai terduduk di depan pintu melihat Ghita yang sama sekali tak bergeming dari tempatnya dan tak ada keraguan di matanya saat mengatakan perkataan tadi.
“Ibu pasti sedih dan menyalahkanku karena tak bisa menjagamu. Ibu pasti juga kecewa melihat sikap keras kepalamu. Kau tahu sendiri jika Ibu meninggal bukan karena Ayah, tapi...”
“BERHENTI MENGATAKAN HAL ITU! Aku tak ingin mengingatnya.”
10 tahun yang lalu terjadi krisis pada Golden Group. Pak Prabu, sebagai presdir perusahaan itu tak ingin pertumbuhan anak – anaknya terganggu karena krisis tersebut. Dia dan istrinya memutuskan membawa mereka ke Kota lain dengan alasan liburan. Sementara istrinya menjaga anak – anak mereka, Pak Prabu menyelesaikan krisis itu sendiri.
Tapi, suatu malam di hari hujan tragedi itu terjadi. Ibu mereka terjatuh dari tangga karena penyakit asma yang di deritanya sejak kecil tiba – tiba kambuh. Saat itu tak ada obat dan tak ada siapapun.
Gilang yang saat itu berusia 14 tahun berlari dalam hujan untuk mencari orang yang bisa membantu mereka. Sedangkan Ghita yang berusia 7 tahun menemani sang ibu dan berusaha menelpon ayahnya agar segera pulang dan membawa ibu mereka ke rumah sakit.
Tapi, berapa kali Ghita menelpon, panggilan itu tak pernah tersambung. Sekalipun tersambung, sekertaris ayahnya yang mengangkatnya dan mengatakan jika ayahnya sibuk dan tak bisa di ganggu. Berkali – kali Ghita menelpon jawabannya itu tetap sama hingga akhirnya ibu mereka meninggal dipangkuan Ghita.
Ghita kecil yang tahu jika ibunya sudah meninggal hanya menatap sang ibu yang terbaring kaku di tempat tidur dengan pandangan kosong. Bahkan saat ayahnya datang, dia tak membiarkan ayahnya untuk menyentuh sang ibu. Dan saat itulah kebencian itu muncul. Ghita menganggap jika ketidak pedulian ayahnyalah yang membuat ibunya meninggal.
“Baiklah. Jika kau tak ingin pulang, pindahlah ke Paradise High School. Setidaknya Kakak akan...”
“Tidak akan pernah. Bukankah sudah kukatakan aku tak ingin berurusan dengan semua hal yang berhubungan dengan Golden Group. Dan sekarang Kakak memintaku bersekolah di sana?”
“Sekolah itu diluar kuasa Golden Group. Kau tahu sendiri jika sekolah itu Ibu yang membuatnya untuk kita tanpa campur tangan Ayah. Jadi, sekolah itu tak berhubungan dengan perusahaan.”
“Tapi tetap saja, sekolah itu dikelolah oleh perusahaan itu.”
“Dan selanjutnya, kau yang akan mengelolahnya.”
“Apa? Apa maksud Kak Gilang?”
Ghita terlihat bingung dengan penjelasan sang kakak barusan. Sepertinya sang kakak harus diperiksakan ke dokter THT karena sejak tadi dia tak mendengar apa yang Ghita katakan. Jika Ghita tak ingin berurusan dengan Golden Group.
Terlebih bagaimana bisa Ghita mengelolah sekolah itu jika dia saja sudah memutuskan hubungan dengan keluarganya. Bukankah, itu artinya dia harus kembali pada Golden Group. Dan terlebih, Ghita masih di bawah umur, tidak mungkin dia mengelolah sesuatu sebuah sekolah padahal dia masih harus belajar.
“Kau akan tahu jika saatnya tiba. Yang jelas, Kakak ingin kau bersekolah di sana setidaknya untuk meringankan beban kakak agar tak terus menerus mencemaskanmu. Lagi pula, sekolah itu jauh lebih dekat dengan ‘rumahmu’ yang sekarang bukan.”
Gilang memberikan penekanan pada kata rumahmu yang menandakan dia akhirnya mengalah dengan sikap keras kepala Ghita yang tak akan bisa di rubah dan membiarkannya tinggal di sini.
“Tapi tetap saja...”
“Seminggu.” Potong Gilang saat Ghita akan menolaknya dan beranjak dari tempatnya.
“Seminggu? Maksud kak Gilang?”
“Aku memberimu waktu seminggu hingga aku pulang dari perjalanan bisnis. Saat aku kembali, aku harap kau bisa memberikan jawaban yang kakak inginkan.”
“Kak Gilang tak akan mendapatkan jawaban yang Kakak inginkan.”
“Jaga dirimu baik – baik. Kakak akan membawakan oleh – oleh untukmu saat kembali.”
__ADS_1
Gilang keluar dan mengacuhkan perkataan Ghita karena dia yakin, jika dia tetap di sana, dia akan terus terlibat perselisihan dengan Ghita karena perbedaan pendapat mereka. Gilang tahu hal itu karen dia berada di pihak sang ayah, pihak yang Ghita benci.
Tapi Setidaknya, Ghita masih mau menemuinya selama peperangan antara Ghita dan ayah mereka sudah membuat Bagas merasa dekat dengannya. Dia tidak bisa membayangkan jika adiknya itu juga akan memusuhinya seperti dia memusuhi ayahnya, pasti hidupnya akan membosankan karena selalu di kelilingi dengan berkas –berkas yang membuat kepalanya pusing.