
Suasana pesantren pagi ini sangat ramai. Karna hari minggu, banyak santri wan dan santri wati bersih - bersih pondok. Mereka bergotong royong membersihkan lingkungan pesantren.
Asrama santri wati dan santri wan terpisah dengan pagar tembok panjang agar tidak saling melihat . Sedangkan ndalem atau rumah Kiai sendiri berdekatan dengan asrama putri. Apabila santri wan ingin ke Ndalem mereka harus melewati asrama putri terlebih dahulu.
Pesantren As Shafa adalah pesantren yang diasuh oleh Kiai Abdullah dan istrinya Nyai Zainab. Beliau biasa disapa santrinya dengan panggilan Abah dan Ummi.
Pesantren ini adalah satu-satunya tempat menuntut ilmu yang berada di desa Lembah cakar . Pesantren ini juga memiliki pendidikan sekolah mulai dari MI , MTS, dan MA. Banyak penduduk desa Lembah Cakar yang menyekolahkan anak - anaknya ke sekolah itu dan rata - rata dari mereka hanya sekolah tanpa nyantri di pesantren itu.
Di asrama putri, tepatnya di kamar pojok yang dekat dengan ndalem terdapat tiga santri wati yang sedang asik ngobrol dengan sesekali tertawa kecil di teras depan kamar mereka ,yaitu Ratih, Syeila dan Layla. Mereka merupakan teman sekelas Maryam dan sahabatnya sejak MTS. Hanya saja Maryam tidak nyantri seperti mereka karena masalah ekonomi.
"Tau gak putra Abah yang dari Mesir itu? .....ihhhh ganteng banget " ujar Layla tersenyum - senyum sendiri.
" Gus Atif maksud kamu ? " jelas Ratih
" Iya.... bener-bener idaman banget.... andai suatu saat dia milikku ...aduhaiii " Layla masih tersenyum bersama khayalannya.
Ratih dan Syeila hanya saling tatap melihat sahabtnya Layla yang masih tersenyum - senyum.
"Kumat lagi kan....kebiasaan deh ni anak... heh sadar, jangan ngekhayal tinggi-tinggi....sakit tau kalau jatuh... " ucap Sheila yang kemudian mencubit hidung Layla dengan gemas
" Aduh aduh, Syeila kenapa sih " keluh Layla
"makanya jangan suka ngekhayal " ucap Sheila
"Kamu tu ya, liat orang ganteng dikit pengennya digebet.... Sigit sama Furqan mau kamu taroh mana...." Sambung Ratih
"Hiiiihh nggak usah sebut-sebut mereka deh... aku tu nggak suka sama mereka, merekanya aja yang suka ngejar ngejar aku " jelas Layla membela diri
"Lahhhh.... katanya kemarin udah mulai suka sama Sigit , terus kemarinnya lagi suka sama Furqan... sekarang udah ganti sama Gus Atif.." ucap Ratih
"Hmmm gimana ya... terserah kalian aja lah..." jawab Layla
"Huuuu... dasar "
kemudian datanglah Nyai Zainab
"Eh ada Ummi.... udah udah diam " Ratih memberitahu kedua sahabatnya
"Nduk nanti kalian bertiga ke pasar ya beli sayuran sama ikan, soalnya nanti siang akan ada tamu..." suruh nyai Zainab kepada ketiga santri wati itu.
"Oh njih Ummi... habis ini kita akan langsung ke pasar " jawab Ratih dengan hormat
"Syeila tadi kamu dapat kirimam surat dari ayah kamu... nanti ambil ke ndalem ya " ucap Nyai Zainab memberitahu
"Njih Ummi ..." Jawab Sheila patuh
"Yaudah kalau begitu Ummi tinggal ya... "
"Njih Ummi... " jawab mereka bertiga berbarengan
Ratih dan Layla segera bersiap, sedangkan Sheila masih diam ditempatnya.
__ADS_1
"Sheila, kamu gak siap-siap?... " tanya Layla
" Bentar lagi " jawab Sheila yang terlihat tidak seperti biasanya
" Eh nanti main ke rumah Maryam yuk... sekalian ngasih surat dari kang Saiful...." ujar Layla dengan tawa kecil
"Hah surat lagi?.... kemarin dari kang Zafar, sekarang dari kang Saiful..... kapan kang Saiful ngasih suratnya? kamu nngak ketahuan Abah?..." tanya Sheila kaget
Saiful dan Zafar adalah santri wan pesantren As Shafa. hanya saja Saiful di dawuhi Kiai Abdullah untuk ngajar di MI sedangkan Zafar adalah kakak kelas Maryam. Mereka berdua sama - sama tampan dan juga banyak santri putri yang mengidolakan mereka.
"Nggak lah.... tapi hampir ketahuan sih... kang Saiful ngasih Surat ini tadi malam pas dia habis dari ndalem dan saat itu kebetulan aku juga dari ndalem habis bantuin Mbak Siti masak.....terus dia ngasih surat ini dan nyuruh aku untuk kasih ke Maryam....begitu... " jelas Layla
"Isinya apa... ?" tanya Sheila
" Ntah.... kata kang Saiful nggak boleh dibuka" jawab Layla
"Wihhh Maryam kerenn.... banyak banget laki-laki yang suka sama dia...sayangnya tidak ada yang memenangkan hati Maryam " ujar Sheila
"Sudah-sudah... ayo ke pasar, keburu siang... " ajak Ratih kepada kedua sahabatnya.
"Oh iya... ayoo "
Mereka bertiga segera pergi menuju pasar.
-------------------
"Assalamualaikum Abi... " Atif mengucap salaam kepada abinya yang berada di dalam kamar
"Abi kan tadi bilang untuk pulang cepat.... jadi Atif segera pulang " ucap Atif dengan sangat hormat pada Abinya.
"Bagaimana tadi keadaan sawahnya? " Tanya Kiai Abdullah lembut
"Sangat subur abi, Alhamdulillah " jawab Atif yang di dawuhi abinya untuk melihat keadaan persawahannya.
"Alhamdulillah.... " Kiai Abdullah ikut merasa senang
"Apakah ada yang ingin abi bicarakan kepada saya? " tanya Atif
"Iya nak.... bagaimana kuliahmu di Mesir? " tanya Kiai Abdullah
"Alhamdulillah sae Abi... " jawab Atif
"Berapa umurmu Atif ?" tanya Kiai Abdullah yang membuat Atif agak terkejut.
" 22 Abi " jawab Atif tenang.
"Tidakkah kamu memiliki rencana untuk menikah nang? " tanya Kiai Abdullah
Atif yang mendengar pertanyaan Abinya terperanjak kaget . Ia berusaha menenangkan diri.
"kenapa abi bertanya seperti itu ? " tanya Atif heran
__ADS_1
"Abi hanya ingin tau apakah kamu memiliki rencana untuk menikah di usiamu sekarang? "
Tanya Kiai Abdullah untuk kedua kalinya.
Atif hanya tersenyum
"Atif belum berfikir sampai situ Abi " jawab Atif
" Besok jum'at Kiai Salim dan keluarganya akan berkunjung ke pesantren kita.... sekalian Abi ingin memeperkenalkanmu dengan putrinya yang bernama Hasyifa... siapa tau kamu cocok dengannya.... " jelas Kiai Abdullah
Atif hanya mengangguk - anggukan kepala pertanda faham
" Bagaimana Atif ? " tanya Kiai Abdullah memastikan
" Hanya berkenalan kan Abi? " tanya Atif
"Iya.... lebih juga gak papa " jawab Kiai Abdullah yang kemudian diiringi tawa mereka berdua
"insyaallah Abi... Atif akan mencoba " jelas Atif.
" Mas Atif.... " panggil Nadia adik perempuan Atif yang tiba-tiba datang dan memeluk Atif
"Iya adikku sayang....lain kali kalau mau masuk ucap salam dulu " jawab Atif sambil mengelus kepala adiknya yang terbalut hijab.
"Iya mas... lupa tadi... Nadia kangen banget sama mas..... " Ucap nadia dengan polosnya
"Mas juga kangen dengan Nadia....tambah cantik adik Mas " Ucap atif kepada adiknya yang umurnya berjarak 8 tahun dengannya.
"Sudah Nadia... biarkan masmu istirahat dulu.... " terang Kiai Abdullah
"Ih Abi jangan jadi penghalang.... Nadia lagi kangen - kangenan sama Mas Atif.... " Ucap Nadia yang masih memeluk masnya.
"Nadia nggak boleh gitu sama Abi... turuti kata Abi " jelas Atif kepada adiknya
"Nadia minta maaf Abi..." ucap Nadia menundukan kepala
"Iya nduk... selalu abi maafin " ucap Kiai Abdullah lembut dengan tersenyum
"Kalau begitu Nadia pergi dulu.... Nadia mau bantuin ummi di dapur.... Assalamualaikum " pamit Nadia
"Waalaikumsalam " jawab Kiai Abdullah dan Atif bersamaan.
Atif segera masuk ke kamarnya. Ia kemudian melaksanakan sholat Dhuha . setelah sholat ia berencana untuk istirahat sebentar karena masih lelah setelah perjalanan dari mesir malam tadi dan nanti siang harus mengajar ngaji di mushola desa Lembah Cakar.
Sejenak saat Atif merebahkan tubuhnya di kasur, ia teringat seorang gadis yang tidak sengaja ia tabrak tadi. Ia mengingat nama gadis itu. Maryam . Ya, itulah nama gadis yang sedang ia ingat-ingat.
Maryam adalah gadis pertama yang tangannya disentuh oleh Atif selain Ibu dan adiknya. namun Atif tidak mempunyai keinginan untuk menyentuh perempuan yang bukan mahramnya. Kalau bukan karena darah yang keluar dari pergelangan tangan Maryam, Atif tidak akan menyentuh tangannya.
Kemudian Atif sadar. Ia menyadari bahwa ia memikirkan gadis itu .
'astagfirullah, kenapa aku malah mikirin Maryam ' batin Atif yang kemudian mengucap istigfar sebanyak mungkin sampai ia tertidur
__ADS_1