
Vito mulai menggagahi tubuh Melisa dengan nafsu yang sudah hampir meledak,dia memang tipe pria yang sangat tinggi hasratnya dan saat di pertemukan dengan wanita yang pandai memanjakan dirinya di atas ranjang dan hal itu di balasnya dengan memanjakan wanita itu dengan memberikan apa pun yang dia mau.
"Sayang....Aku sudah tidak tahan!! ayolah," Melisa terus mendesah saat Vito terus memasukkan miliknya ke area sensitif milik Melisa hingga akhirnya wanita itu terkulai lemas.
Melisa memeluk erat tubuh Vito,seakan tidak membiarkan ada wanita lain di hati pria itu,dia begitu cemburu saat Vito memberikan sedikit perhatian kepada keluarganya dan juga istrinya.
Vito mulai mengenakan pakaiannya,setelah puas menggagahi tubuh selingkuhannya dia membuka dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus lalu dia letakkan di depan Melisa.
"Pergilah ke dokter dan lakukan perawatan ****** mu,sepertinya kamu sudah jarang pergi ke dokter rasanya sudah mulai tidak enak,tidak seperti biasanya." Ucap Vito setelah merapikan pakaiannya.
"Sayang,aku ingin pergi bersama mu,aku malas kalau hannya pergi sendiri." Ucap Melisa manja sambil beranjak dari tempat duduknya lalu memeluk pinggang pria itu.
"Sudahlah,aku banyak urusan,sudah hampir seminggu aku tidak masuk kantor,aku masih butuh perusahan ini kalau aku tidak bekerja memangnya kamu bisa mau aku tidak punya uang."Jawab Vito lalu dia melepaskan tangan Melisa dari tubuhnya dan segera keluar dari rumah Melisa.
Vito segera pergi ke kantornya,sesampainya di sana suasana masih lumayan sepi mungkin karena masih terlalu pagi.Saat Vito sampai di ruangannya dia mulai memeriksa laporan dia cukup kaget saat melihat banyak laporan permintaan barang yang belum di kirim karena barang belum juga datang dari pabrik.
"Sialan kenapa begitu banyak permintaan,kenapa tidak dikirim barang dari toko,apa yang terjadi saat aku liburan satu Minggu ini." Ucapnya sambil membanting laporan yang ada di tangannya.
Vito menghubungi beberapa kariawan yang bertugas mengurusi semua pengiriman barang dan menyuruh mereka segera datang menghadapnya.
"Kalau begini terus lama-lama perusahan akan hancur,apa yang dilakukan Naura selama beberapa hari ini,kenapa dia tidak mengirim barang kesini." Ucapnya penuh emosi lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Naura.
Vito semakin kesal saat Naura tidak mengangkat panggilannya,dia beberapa kali memukul mejanya.Pada saat itu pintu ruangannya di ketuk dari luar.
__ADS_1
" Selamat pagi pak!! ada apa bapak memanggil kami?" Tanya seorang pria yang masih muda.Vito yang sudah sangat emosi langsung mengambil kertas yang ada di mejanya lalu melemparnya tepat di wajah pria itu hingga dia kaget.
" Apa maksud semua ini? kenapa semua laporan ini tidak ada yang beres,apa saja yang kalian lakukan saat aku cuti beberapa hari ini,kalian tidak kerja,kalian mau makan gaji buta hah..." kedua pria itu menunduk ketakutan.Vito sadar tidak seharusnya dia melampiaskan emosinya kepada kariawan itu tapi karena dia tidak bisa menahannya lagi akhirnya dia melampiaskan amarahnya kepada mereka.
"Maaf pak,kami juga tidak tau apa yang terjadi hingga supir dari pabrik tidak mengantar barang sudah dua hari ini,sementara permintaan dari pasar cukup banyak."Jawab pria itu dengan wajah ketakutan.
"Keluar...."
" Iy_iya_"
"Keluar....Brang.." Vito melempar pas bunga ke dinding hingga semuanya hancur berantakan,dan kedua pria itu segera meninggalkan ruangan itu karena tidak ingin menjadi korban amukan dari pria yang tidak tau malu itu.
Setelah kedua kariawan keluar dari ruangan itu,Vito menghubungi ibunya dan menanyakan tentang Naura yang ternyata dia masih di rumah dan tidak berangkat ke pabrik.
"Sialan dia masih di rumah jam segini,apa yang dia lakukan sampai tidak berangkat ke kantor." Ucapnya lalu dia mengambil kunci mobilnya dan meninggalkan ruangannya yang masih berantakan.
Sementara itu Naura yang sudah kembali dari sekolah mengantar kedua anaknya,langsung ke dapur menemui pembantunya yang sedang sibuk di kamar mandi.
"Bibi...Apa kamu lakukan di kamar mandi?" Tanya Naura basa-basi padahal dia sudah jelas-jelas melihat wanita itu sedang membersihkan pakaian.
"Aku sedang mencuci pakaian bapak yang kemarin dia bawa pulang Bu?" Jawab Marni sambil terus mengeluarkan semua pakaian dari dalam mesin cuci.
"Oohh...Bibi..Aku mau tanya,selama ini kan bibi yang mencuci pakaian bapak,pernah tidak bibi menemukan hal yang janggal...Hmm bibi sudah mengerti lah apa tujuan pertanyaan ku?" Ucap Naura ragu-ragu.
__ADS_1
Melihat begitu banyaknya uang keluar dari buku rekening mereka membuat Naura semakin curiga kalau suaminya ada menyembunyikan sesuatu darinya ditambah mertuanya yang selalu menyinggung tentang suaminya yang punya wanita lain di luar sana.
Selama ini memang Naura terlalu mempercayai suaminya,mengingat begitu baiknya dulu suaminya kepadanya,dan dia selalu yakin kalau suaminya tidak akan selingkuh karena dialah mesin perusahan mereka.Tapi setelah melihat gelagat suaminya bahkan banyaknya pengeluaran yang sama sekali tidak dia tau membuatnya semakin tidak percaya kepada suaminya itu.
Marni menatap Naura dengan tatapan sayu,dia sudah menduga kalau majikannya yang baik sudah mulai curiga kepada suaminya dan Marni berharap Naura segera mengetahui semuanya karena dia begitu kasihan dengan Naura yang hannya di manfaatkan suami dan keluarga suaminya.
"Bu....Aku tidak berhak menjawab apa pun dari pertanyaan ibu,yang perlu ibu ketahui jangan terlalu baik dan jangan terlalu polos,tanyakan hati ibu apa ibu yakin kalau suami ibu tidak bermain di luar sana dengan sikap bapak yang begitu acuh selama ini?"
Deg....
Jantung Naura langsung berdebar mendengar jawaban dari Marni,dia semakin bingung tapi dia yakin Marni tau akan satu hal.
" Naura.....Naura Dimana kamu!!" Tiba-tiba pintu di dorong dengan kasar dari luar hingga daun pintu terbuka lebar,Sarah dan Lisa sangat kaget melihat Vito kembali ke rumah dengan wajah penuh kemarahan.
"Ada apa sih Vito,kenapa kamu sangat marah,memangnya kesalahan apa yang di lakukan oleh istrimu?" Tanya Sarah masih dengan wajah bingung.
"Naura kamu dimana?" Vito berjalan ke dapur dan mengabaiakan pertanyaan ibunya,saat itu Naura sudah kembali dari dapur dan menghampiri Vito yang masih sangat emosi.
"Ada apa?"
"Ada apa kamu bilang,kamu sudah gila ya,kenapa kamu tidak bekerja di pabrik hingga semua pengiriman barang terkendali,kalau kamu sudah tidak mau melakukannya kamu hannya memberi tahu ku caranya agar kamu bisa melakukan sesuka mu,kamu ingin usaha ini bangkrut!! dasar istri kurang ajar kamu?" Maki Vito sambil menatap Naura dengan tatapan yang begitu sinis.
🌺🌺🌺 bersambung 🌺🌺🌺
__ADS_1