Kumpulan Cerpen Horor

Kumpulan Cerpen Horor
Teh Hijau (Part 1)


__ADS_3

Perempuan berjilbab hijau daun itu membanting pintu mobil hitam yang ia bawa. Meletakkan tas besar di samping tempat ia berdiri. Maniknya menelusuri sekeliling rumah yang akan ia tempati sampai waktu yang tidak ditentukan. Intinya sampai urusannya selesai di sini.


Suasana khas pedesaan begitu menenangkan apalagi sepanjang perjalanan menuju kemari ia disuguhkan pemandangan hijaunya dedaunan teh. Kalau dihitung-hitung sebanding dengan rasa lelahnya menyetir sendiri berjam-jam.


“Non Dara ya?”


Wanita paruh baya muncul dari balik pintu kayu yang lebar bersama seorang pria tua di sampingnya. Mereka berdua tersenyum ramah menyambut kedatangan perempuan muda itu.


Dirinya mengangguk. Menyalami mereka bergantian. Raut kaget mereka tampakkan atas tindakan cucu majikan mereka ini.


“Eh nggak usah sampe cium tangan Mbok Mi sama Mang Din, Non. Ayo Non, biar Mang Din bantu bawa tasnya Non ke dalam.”


“Eh iya makasih Mbok, Mang.”


Dirinya tahu sepasang paruh baya ini yang menjaga rumah kakeknya sudah sedari dulu, bahkan sebelum ia lahir. Meski tak pernah bertandang kemari, ia sempat mencari tahu informasi terkait rumah, perkebunan, pabrik, peternakan bahkan pekerja-pekerja di sini.


“Mbok, pesan saya sudah disampaikan ke yang lain?” tanyanya ketika menemukan Mbok Mi di dapur.


“Sudah, Non. Nanti malam mereka akan datang seperti yang Non Dara minta.”


“Makasih ya, Mbok. Saya mau keliling sekitaran rumah sebentar.”


Dirinya keluar rumah. Mengamati apa saja di sekelilingnya. Dari informasi yang ia pegang saat ini rumah hanya ditinggali Mbok Mi dan suaminya, Mang Din. Dirinya menemukan sosok tinggi berisi tengah memarkirkan motor di samping mobilnya. Manik mereka bertemu. Pria itu turun dan menghampiri Dara.


“Non Dara ya?”


Dara mengangguk masih dengan gaya tangan menyilang memegang satu sama lain. Alisnya naik sebelah.


“Saya Asep, Non. Yang ngurus perkebunan Bapak.”


Dara tersenyum sekilas menyambut jabat tangan pria pertengahan tiga puluh di hadapannya. Ia tahu Kang Asep –sapaan akrabnya– sudah bersama kakeknya dari jaman dulu sama seperti Mbok Mi dan Mang Din. Tapi Kang Asep bukan anak mereka. Orang kepercayaan kakeknya untuk mengurus perkebunan juga lainnya.


Dari hasil screening sekilas. Tidak pakai cincin, rambut hampir gondrong, tampilan sederhana cenderung agak lusuh karena warna kemeja yang ia pakai terlihat memudar. Juga celana kain yang ia kenakan terlihat pias. Kulit coklat terbakar mentari serta janggut dan kumis yang mungkin malas ia cukur. Terkesan tak terurus sekali dirinya.


“Ada apa, Kang?”


“Saya bawa camilan dari pabrik, Non.”


“Kasih aja ke Mbok Mi biar disimpan. Makasih, Kang.”


Dirinya hendak meninggalkan pria itu tapi tertahan karena interupsinya.


“Mau saya temani keliling, Non?”


“Nggak usah, Kang. Saya cuma mau liat sekitar rumah aja. Permisi.”


Ia berjalan terus dan berhenti di gerbang depan. Membalikkan badan mengamati rumah bergaya Belanda yang perlahan dimakan usia. Aura rumah ini dingin memberikan kesan teduh bagi yang melihat. Dari cerita yang ia tahu kakeknya membeli rumah ini pada tahun 50an. Beserta beberapa hektar kebun teh di sekitarnya.


Namun belum seluas sekarang ini. Kakeknya sempat tinggal di rumah ini selama 10 tahun sebelum berpindah-pindah untuk memperluas jaringan bisnisnya. Dirinya sendiri tak pernah berkunjung kemari.


Maklum sedari lahir ia tinggal di pulau seberang, Sumatera. Ke pulau Jawa sekedar liburan itupun hanya ke ibu kota tempat saudara-saudara ibunya bermukim. Kakeknya menetap di Bali, pulau impian dirinya untuk tinggal dan menetap kelak.


Berkeliling halaman rumah, banyak jenis kembang yang bisa ia temukan di sini. Mang Din cukup terampil merawat tanaman-tanamannya. Di balik tingginya tanaman asoka yang menjadi pagar alami ada sosok cantik yang tersenyum padanya. Perlahan mereka bergeser terus saja bergeser hingga berhadapan satu sama lain. Sosok itu masih tersenyum ramah. Kulitnya putih bersih. Rambutnya hitam dikepang satu terjuntai di kiri bahunya. Matanya berbinar sendu meski senyumnya tak hilang.


“Non?”


Berbalik untuk melihat siapa yang memanggil dirinya. Asep. Dirinya berbalik lagi, sosok itu menghilang.


“Cari siapa, Non?”


“Enggak ada, Kang.”


Ia beranjak pergi melangkah menuju rumah. Di depan pintu utama dirinya dihadang sosok pria berparas bule. Seolah tak melihat sosok itu ia tembus saja hingga sosoknya kembali menghadangnya dengan wajah garang.


“Saya ke sini nggak mau ganggu kamu. Saya di sini kerja bukan nyari masalah,” tutur Dara yang membuat sosok itu perlahan bergeser.


“Non Dara bicara sama siapa?”


Mbok Mi muncul dari ruang tengah dengan wajah bingung.


“Nggak ada, Mbok. Saya permisi ke atas dulu. Sampai bertemu makan malam nanti, Mbok.”


Senja bergulir, ia bisa melihat sosok perempuan cantik tadi masih di sana di dekat pagar rumah ini. Dari balik jendela kamarnya Dara mengamati kalau perempuan itu tak melepas pandangannya dari Asep yang baru saja berjalan pulang mengendarai motornya.


Ia bergegas mandi sebelum senja habis ditelan malam. Alarm azan di ponselnya berbunyi. Magrib telah tiba, dirinya bersiap menunaikan salat. Dara menyadari ia tak sendirian di kamar ini. Ada sosok tak kasat mata yang tertangkap netranya.


Setelah mengucap salam dan berdoa ia berpaling ke arah kirinya. Menatap sosok yang duduk di pinggir ranjang dengan wajah tak suka.


“Saya mau baca Quran. Kamu bisa pergi dulu nanti kepanasan.”


“Darah Anggara mengalir kental di nadimu ya.”


Setelahnya sosok itu menghilang. Dara tak ambil pusing. Ia melanjutkan aktivitasnya.


Dirinya menuruni tangga menuju meja makan yang ramai sosok manusia yang baru ia temui hari ini.


“Malam semuanya,” sapanya ketika sampai di meja makan.


“Malam, Non Dara,” jawab mereka kompak.


“Duduk lagi aja nggak apa-apa.”


Dirinya masih berdiri dengan senyum ramah.


“Saya Dara cucu Pak Anggara. Saya di sini akan belajar mengurus perkebunan dan lainnya. Mohon bantuan akang dan mamang semuanya ya.”

__ADS_1


“Iya, Non. Pasti itu. Eh panggil saja Mang Cecep, Non. Yang ngurusin kebun. Istilahnya ya orang lapangan gitu, Non.” Mang Cecep yang duduk persis di sebelah Asep mengangkat jempolnya.


Dara mengangguk.


“Saya Mang Juki, Non. Yang mandorin pabrik teh. Kalo Non Dara teh mau keliling pabrik teh kasih tau Mang Juki saja ya, Non.”


“Siap, iya Mang.”


“Panggil saja Kang Adang, Non. Yang ngurusin pabrik produksi olahan daun tehnya Tuan. Kalo camilan Non Dara habis kabarin saya saja atuh, Non. Nanti Akang siap anterin ke sini.”


“Oke makasih Kang Adang.”


“Eh Kang Asep nggak memperkenalkan diri gitu?” lanjutnya.


“Nggak usah, Kang Adang. Tadi saya udah ketemu sama Kang Asep pas sore.”


“Duh Kang Asep mah curang ambil start duluan.”


“Kamu yang nggak gercep, Dang,” sahut Mang Cecep.


“Pabriknya kan paling jauh atuh dari sini. Keduluan Kang Asep deh jadinya,” balasnya lesu.


“Udah-udah. Sekarang kita makan ya akang-akang, mamang-mamang.”


Mereka mengangguk kompak.


Makan malam dimulai. Suasana hangat di desa dengan orang-orang yang akan bekerja bersamanya entah untuk waktu berapa lama kedepan.


“Non Dara teh dari Jakarta ya?”


Dara menggeleng, mulutnya masih mengunyah.


“Dari Bali?”


Ia masih menggeleng.


“Udah atuh, Dang. Itu Non Dara masih ngunyah sudah kamu tanya-tanya saja,” tegur Mang Din.


Dara meneguk minumnya, “Saya dari Sumatera, Kang.”


“Wah dari daerah mananya, Neng?” sahut Kang Adang antusias.


“Saya dulu pernah 5 tahun kerja di Sumatera, Non. Di Jambi,” Mang Juki memberitahu.


“Saya tinggal di Palembang, Mang.”


“Non Dara bisa masak pempek, dong?” tanya Kang Adang tertarik.


Dara mengangguk.


“Heh Dang, kamu ini nyuruh-nyuruh ibu bos. Dipecat tahu rasa kamu,” komentar Mang Cecep.


“Eh eh maaf atuh, Non. Kang Adang terlalu antusias ini hehehe… Jangan pecat saya ya, Non.”


Dara hanya tersenyum tipis menanggapi.


Yang lain tersenyum simpul melihat tingkah Kang Adang.


Selesai makan malam mereka bubar kembali ke tempat tinggal masing-masing.


“Biar Mbok aja Non yang beresin. Non Dara istirahat saja.”


“Makasih, Mbok. Saya permisi ya.”


Dara melangkah ke pintu depan. Ia sempat mendengar kalau Mang Din akan membuat perapian di halaman depan.


“Sini atuh, Non. Eh tapi teh hangatnya cuma segelas. Biar Mamang ambilkan dulu ya di dalam.”


“Enggak usah, Mang. Saya sudah kekenyangan ini.”


“Mari Non Dara duduk dekat apinya biar tidak kedinginan.”


“Iya, Mang.”


Mereka terdiam sejenak. Dara beradaptasi dengan perpindahan udara di sekelilingnya.


“Non Dara teh anaknya Bu Inggrid ya?”


“Iya, Mang. Saya yang bungsu.”


“Pantesan saya tidak pernah lihat Non Dara ikut berlibur ke sini.”


Dara hanya tertawa pelan.


“Beberapa kali keluarga besar Tuan berlibur ke sini. Mamang tidak pernah lihat Bu Inggrid bawa anak perempuannya.”


“Saya nggak terlalu akrab sama sepupu-sepupu saya yang lain, Mang. Mereka terlalu berisik.”


“Ehh iya, Non.”


“Mang Din yang ngurus peternakan ya, Mang?”


“Iya betul, Non. Tapi tetap dibantu sama pekerja lainnya. Kang Asep suka bantuin Mamang untuk perah susu sapi. Kang Asep itu ya Non keliatannya saja kayak orang tidak punya kerjaan.


Tapi dia yang paling sibuk, Non. Pagi ngecek kebun, lanjut ke pabrik, kadang pulang-pergi dua kali ke kota ikut ngantar produk. Beli keperluan kebun, pabrik, dan peternakan. Masih saja sempat bantuin Mamang di kandang.

__ADS_1


Mamang teh kasihan sama Kang Asep mungkin dia sibuk kerja biar lupa sama masalahnya. Tapi ini sudah bertahun-tahun dia tidak juga berubah, Non. Makin hari makin kelihatan tidak terurus.”


“Ada masalah apa emangnya, Mang?”


“Itu… Tuan tidak cerita apa-apa ke Non Dara?”


Dirinya menggeleng.


“Mamang teh tidak jadi cerita ya, Non. Biar nanti Non sendiri yang mengerti.”


“Hmm oke. Saya mau tanya sama Mamang. Kang Asep pernah dekat dengan perempuan cantik berambut hitam yang suka dikepang ya, Mang?”


Mang Din terkejut, “Dari mana Non Dara tahu?”


“Bener ya?”


“Eh bukan itu… anu. Duh nanti Mamang tidak enak sama Kang Asep kalau Mamang cerita hal ini.”


“Kenapa?”


“Itu ciri-ciri perempuan yang Non sebutkan, dia mantan tunangannya Kang Asep.”


“Mereka pisah karena si perempuan sudah nggak ada ya, Mang?”


“Non Dara kok tahu?”


“Saya lihat perempuan itu tadi sore.”


“Hah?!”


Mang Din mengeratkan jaketnya celingak-celinguk ke sekelilingnya.


“Non Dara teh beneran?”


Dara mengangguk yakin.


“Sudah 12 tahun berlalu sejak peristiwa itu terjadi. Jadi benar Neng Mira tidak tenang di sana.”


Dara mengernyitkan dahi, “Dia meninggal kenapa, Mang?”


“Depresi, Non.”


“Karena?”


“Mamang tidak tega untuk cerita tentang Neng Mira.”


Dara yakin ada yang tidak beres di sini. Melihat Mang Din enggan cerita dan ekspresi sendu sosok Mira yang tak jauh dari pandangannya, dirinya tahu Mira dilanda masalah ketika ia pergi selamanya. Sosok bule itu muncul dengan wajah tak suka di dekatnya.


“Mang, saya duluan ke dalam.”


Dara melangkah masuk ke rumah. Berjalan menuju lantai atas, kamarnya.


“Kamu siapa?” tanyanya setelah ia berada di kamar.


“Joseph.”


“Pemilik rumah yang sebelumnya?”


Sosok itu mengangguk.


“Kamu tahu Mira?”


Ia mengangguk lagi.


“Kenapa dia depresi?”


Sosok itu menatapnya lekat seolah tanya yang Dara lontarkan adalah kesalahan.


“Aku hanya ingin tahu. Dia terlihat menyedihkan.”


Joseph mendekati jendela yang terbuka tirainya. Rembulan di atas sana bersinar terang.


“Malam nahas bagi Mira ia terjebak kalimat rayuan pria bajingan itu untuk mencari Asep ke kebun teh.”


Dara duduk bersandar di kepala ranjang menghadap Joseph yang berdiri di kanan ranjang menghadap keluar.


“Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya menyesal.”


“Siapa pria itu?”


“Baron.”


Joseph beralih menatapnya lekat. Sementara Dara mengernyitkan dahi.


“Kenapa kamu tidak memberitahu orang-orang?”


“Tidak ada bukti. Mira juga terlalu takut bersuara.”


Hening agak panjang. Dara beralih menatap ke depan. Joseph kembali melihat keluar. Perlahan matanya berat, lelah di tubuhnya baru terasa sekarang.


“Saya heran kenapa kamu bisa menyadari keberadaan saya dengan mudah. Sedangkan hal itulah yang selama ini saya lakukan tapi tak pernah bisa.”


Dara tak mendengarkan, dirinya larut dalam lelah yang berujung lelap masih dalam balutan jilbabnya.


Bersambung_

__ADS_1


Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!


__ADS_2