Kumpulan Cerpen Horor

Kumpulan Cerpen Horor
Pusaka Membawa Petaka (Part 2)


__ADS_3

“Energinya kuat banget! gue gak bisa ngelihat wujud pusaka itu dan wujud penunggunya juga,”


“Terus gue coba buat ngerahin seluruh kekuatan dan energi yang gue punya, tapi yang gue lihat cuma sebatas bayang-bayang kabut, seakan terhalangi oleh sebuah tabir yang kuat!” tuturnya sangsi. Aku pun langsung kembali mencoba menjelaskan dan memberi saran kepadanya.


“Lif.. kalau emang sekiranya kita merasa gak sanggup, lebih baik jangan dipaksakan, demi keamanan kita semua,” kataku.


“Biar aja, lepasin aja.. anggap aja bukan rezeki kita, daripada terjadi apa-apa sama kita dan mumpung Pak Purwonya juga belum ngirim duitnya sama kita..” lanjutku lagi.


“Gimana guys, bener gak?” tanyaku kepada mereka berdua. Tapi tak disangka, Alif menolak mentah-mentah semua saran yang ku berikan, sedangkan Farid cuma diam saja.


“Tapi Van, uang sebesar itu kapan lagi bisa kita dapatkan?!”


“Lo kan tahu sendiri, paling gede orderan kita berapa duit sih? cuma sepuluh juta! itu juga kita jarang-jarang dapat orderan yang segitu..” kilahnya coba meyakinkanku.


“Selama ini dan sampai detik ini, gak pernah gue gagal dalam menarik pusaka. Mau raja jin atau setan perewangan kayak gimana juga bisa gue hadapin dan taklukin, baik secara tempur atau barter. Gue yakin gue mampu Van! tenang aja..” egonya mulai ke luar berkata.


Allif pun terus menerus nyerocos tanpa henti tentang keoptimisannya dan kini digelayuti pula oleh egonya. Ditambah lagi dia bilang, dengan bahan-bahan ritual yang lengkap dan nomor wahid yang nanti akan kita gunakan, jauh kemungkinannya dari kata gagal. Intinya Alif tidak ingin mundur dan tetap menerima job kakap ini. Ya sudah.. aku dan Farid hanya bisa mengikuti kemauannya. Mau bagaimana lagi? toh dia ini yang punya perhitungan dan kemampuan. Waktu berlalu. Hari “H” pun akhirnya tiba. Tepat setelah dua minggu yang lalu sejak Pak Purwo meneleponku.


Dari siang kami bertiga sudah berkeliling belanja bahan-bahan untuk keperluan ritual tarik pusaka nanti malam menggunakan mobil operasional kami. Uang sebesar dua puluh juta pun sudah kami tarik di ATM dan sudah hampir habis kami belanjakan. Tinggal sisa untuk beli bensin mobil saja.


Tapi uang bonus sebesar dua puluh lima juta rupiah pemberian Pak Purwo tetap masih utuh di saldo rekening kami, tidak kami ambil. Pantang bagi kami untuk memakainya selama tugas belum selesai, walaupun itu uang pemberian secara cuma-cuma, bukan termasuk uang jasa kerja.


Selesai belanja, Alif pun meminta aku untuk langsung mengemudikan mobil menuju arah Bogor, rumah kakeknya itu. Lalu tak ku sangka bahwa kakeknya Alif ingin ikut dan membantu kami untuk menarik pusaka nanti malam dan menyelesaikan tugas besar ini.


Ada sedikit rasa tenang yang menggelayuti hatiku sekarang, karena akhirnya ada sebuah bala bantuan yang kami dapat, yaitu dari kakeknya Alif yang notabenenya adalah seorang paranormal kawakan dan tentunya lebih hebat dari Alif, cucunya.


Dari Bogor kami langsung tancap gas ke arah selatan menuju kota Sukabumi, karena lokasi yang ditentukan berada di sana. Tapi bukan di kotanya, melainkan terus ke pelosok dan hampir beberapa kilometer lagi sudah mendekati pantai, yaitu di sebuah perkebunan karet milik kolega Pak Purwo, dan beliau pun sudah menunggu di sana.


Dari jalan raya kami pun berbelok ke sebuah jalan setapak besar yang belum di aspal, dan terus mengikuti jalan tanah tersebut yang kanan kirinya diapit oleh pohon-pohon karet yang tinggi dan besar-besar. Hingga kira-kira satu kilometer kemudian, dari jauh lampu mobilku menyorot beberapa mobil jeep hitam yang sudah terparkir di depan sana.


Ternyata itu mobil Pak Purwo dan para bodyguardnya yang jumlahnya hampir sepuluh orang dan mengenakan setelan safari hitam-hitam. Setelah sampai tujuan dan ku parkirkan mobil sedikit di samping jalan tanah besar itu, segera kami pun ke luar dari mobil. Pak Purwo langsung mendatangi dan menyapa kami hangat.


Tanpa banyak basa-basi Pak Purwo segera mengajak kami semua untuk langsung mengikuti dia, masuk ke dalam hutan karet dengan berjalan kaki dan meninggalkan mobil kita semua di pinggir jalan besar perkebunan itu. Dengan dibantu beberapa bodyguard-nya, kami membawa segala peralatan dan bahan ritual dari dalam mobil kami. Sebagian bodyguard-nya yang di depan menerangi jalan kami dengan lampu senter di tangannya.


Pak Purwo berjalan paling depan ditemani kakeknya Alif sambil bercakap-cakap. Sepuluh menit berjalan kaki akhirnya sampai juga kami di lokasi penarikan yang tanahnya agak lapang di antara deretan pohon-pohon karet di sekeliling kami.


Jam ku lihat sudah menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit dini hari. Berarti penarikan pusaka bisa langsung bisa dilaksanakan. Lalu kami bertiga pun segera memasang alat-alat dan bahan ritual. Sebuah kain mori putih besar berbentuk segi empat mulai dibentangkan di depan kami, di ujung empat sisi kain itu ditancapkan dupa yang telah ditempeli madat nomor wahid.


Lalu di sebelah depan kain mori itu ditaruh satu buah kelapa hijau yang sudah dikupas ujung-ujungnya. Persiapan sudah siap!!! Lampu-lampu senter pun dimatikan semua. Dupa yang telah ditempeli madat pun segera dibakar. Tak lama kemudian semerbak aroma harum menyengat dari dupa dan madat pun mulai tercium santer, menambah suasana mistis di tempat kami berada.

__ADS_1


Aku dan Farid segera mundur ke belakang, sejajar dengan Pak Purwo dan para bodyguardnya. Hingga hanya tinggal Alif dan kakeknya yang berada paling depan, di belakang altar kain mori tersebut. Kakeknya Alif segera mengeluarkan sebuah bungkusan kain berwarna hitam yang tadi diberikan oleh Pak Purwo kepadanya.


Sewaktu berjalan ke masuk hutan ini, yang ternyata bungkusan itu berisi segumpal tanah berwarna cokelat kehitaman dan segera menaburkannya di atas kain mori putih tersebut, diikuti oleh taburan kembang setaman, dan terakhir disiram oleh minyak-minyak khusus ritual yang kami bawa. Selanjutnya Alif dan kakeknya langsung memotong leher sepasang ayam cemani di atas kain mori itu.


Sehingga terlihat darah-darah berwarna hitam pekat berceceran mengguyur tumpukan tanah dan kembang di atas kain mori itu. Tak lama bangkai-bangkai ayam cemani itu pun dilemparkannya jauh-jauh ke arah semak belukar oleh mereka berdua. Lalu mereka berdua pun duduk bersila dengan tangan bersidekap di depan dada mirip orang yang sedang bertapa di belakang altar kain mori itu. Duduk hening dan diam.


Sudah setengah jam berlalu. Posisi mereka berdua pun sudah mulai berubah. Alif masih tetap duduk bersila dan bersidekap sambil sesekali tangannya bergerak maju mundur seperti orang yang sedang menarik sesuatu. Sedangkan kakeknya sudah dalam posisi berdiri dan bergerak kian ke mari seperti orang yang sedang silat dan selalu diakhiri dengan gerakan tangan seperti sedang menarik sesuatu pula, sama dengan yang dilakukan Alif.


Satu jam pun sudah berlalu, tiba-tiba Alif dan kakeknya mengeluarkan gerakan yang sama dan seirama secara berbarengan, yaitu sama-sama menggebrak tanah di bawahnya. Alif menggunakan tangannya sedangkan kakeknya menggunakan satu kakinya. Lalu mereka berdua mengusap muka mereka masing-masing dengan tangannya. Alif pun bangkit berdiri, lalu mereka berdua berjalan ke belakang mendekati kami semua.


“Tunggu saja.. sebentar lagi keluar. Kita lihat!” ujar kakeknya Alif kepada Pak Purwo.


Suasana hening beberapa saat,


Hingga tiba-tiba..


DHUUAAARRRR!!!


DESSSSSHHH!!


BRRRRRRR!!


Kami dikejutkan oleh sebuah ledakan yang cukup besar seperti suara petir menggelegar dari atas pohon karet di depan sana, diringi dengan percikan api yang juga sangat besar menyertainya. Dan berbarengan dengan suara ledakan itu, ke luar pula sebuah benda yang besar dan panjang serta merah menyala yang meluncur dengan cepat ke bawah dan menancap tepat di tengah-tengah altar kain mori itu. Sehingga karuan saja tumpukan tanah dan kembang yang berada di atasnya juga kelapa hijau di depannya berhamburan tak tentu arah.


Segera Alif dan kakeknya berjalan pelan mendekati benda yang menancap di tanah itu, diikuti Pak Purwo berserta para bodyguardnya di belakang. Sedangkan aku dan Farid tetap diam di tempat, dan melihat dari kejauhan saja. Dengan susah payah, Alif dan Kakeknya berusaha untuk mencabut benda itu dari tanah, dan.. Blebbb.. Srakk.. Pusaka itu akhirnya tercabut juga dari tanah, yang segera diangkat dan dibopong oleh mereka berdua dan diberikan pada Pak Purwo dan sebagian dipegangi oleh bodyguardnya.


“Hahaha! akhirnya dapat juga!” serunya sambil tertawa puas.


“Ternyata pusaka ini bukan hanya legenda omong kosong belaka, tapi memang benar adanya. Hahaha..” kembali dia tertawa.


Ternyata benda pusaka itu adalah sejenis tongkat trisula bermata tiga yang mungkin terbuat dari emas, karena warnanya begitu kuning dan berkilauan walau di hutan yang gelap seperti ini, apalagi jika terkena sorot lampu senter itu, biasnya memancar seantero di tempat kami berada.


Melihat ukuran panjang dan besarnya, aku memperkirakan beratnya bisa mencapai dua puluh kiloan. Dan jika memang pusaka itu terbuat dari emas, maka bila dijual bisa jadi uang puluhan milyar! Waw! pantas saja beliau berani membayar kami segitu. Toh dia bisa dapat keuntungan yang berpuluh-puluh kali lipat.


“Hmm.. Licik juga. Menang banyak dia..” gumamku sinis dalam hati.


“Kalian HEBAT!! Kalian HEBAT!! tidak percuma saya meminta jasa dan kemampuan kalian. Hahaha..” ujarnya memuji.


“Lain kali, saya akan menggunakan jasa kalian lagi yah? Hahaha,” timpalnya lagi. Sementara Alif dan kakeknya hanya bisa senyum-senyum sumbringah dipuji seperti itu.

__ADS_1


“Nah, oke.. sekarang tinggal bagian saya yang akan menepati janji saya kepada kalian! ayo mari kita langsung pulang dan langsung menuju rumah saya. Saya akan membuatkan Cheque tunai sebesar satu miliar rupiah yang saya janjikan itu beserta surat kuasa untuk pencairannya ke Bank dari saya, Mari!!” ajaknya kepada kami sambil masih menimang-nimang dan mengelus tongkat trisula berwarna emas itu yang sebagian gagangnya dipegang oleh bodyguardnya.


Aku dan Farid pun gembira sekali mendengarnya, karena sebentar lagi kami akan dapat uang satu miliar rupiah!! Wow.. mimpi apa aku semalam? celotehku dalam hati. Baru saja kami berbalik badan dan ingin melangkah pergi dari tempat itu, tiba-tiba!


WUSSSSSHHH!!!


Segulung angin yang begitu besar datang dari depan sana, tempat tadi altar kain mori berada. Saking kencangnya angin itu, membuat kami jadi sempoyongan dan mencoba untuk terus mempertahankan keseimbangan. Setelah angin besar itu berhenti, tampak dari arah kejauhan di antara deretan pohon-pohon karet yang menjulang tinggi itu, terlihat dua titik sinar merah di kegelapan yang makin lama makin bertambah dekat diiringi suara gemuruh berisik gesekan tanah dan alang-alang yang tersibak. Kami pun panik tapi seperti terpaku, seakan menunggu apa sebenarnya gerangan yang mendatangi kami itu.


Hingga tak lama kemudian terlihatlah jelas sosok yang mendatangi kami itu. Tepat di depan kami berada saat ini sedang berdiri sesosok perempuan berbadan ular raksasa yang menjulang tinggi hampir lima meter. Bermata merah menyala seakan menatap dengan penuh amarah kepada kami. Terlihat sepasang taring tajam yang berkilauan di sela-sela bibirnya dan sosok perempuan berbadan ular itu juga mengenakan sebuah mahkota kecil di atas kepalanya. Rambutnya yang panjang terurai ke depan menutupi bagian dadanya.


“DASAR PENCURI KALIAN! KEMBALIKAN TONGKATKU!!” bentaknya kepada kami sambil menunjuk kami semua dengan tangannya yang berkuku runcing tajam dan diiringi suara mendesis, khas suara ular. Tiba-tiba kakeknya Alif pun berlutut dan bersimpuh di depan sosok itu.


“Ampun NYI BLORONG .. kami tidak tahu kalau tongkat itu kepunyaan Nyai..” lirihnya.


“Kami hanya disuruh oleh orang-orang ini!” lirihnya lagi seraya menunjuk pada Pak Purwo dan para bodyguardnya.


“Sekali lagi, kami mohon ampun Nyi..” pintanya memohon belas kasihan kepada sosok perempuan mengerikan itu, masih dengan posisi setengah menyembah.


Dan aku baru menyadari bahwa makhluk mengerikan yang sekarang sedang berdiri di depan kami itu adalah Nyai Blorong. Dia adalah salah satu dari panglima kepercayaan Sang Penguasa Laut Selatan. RATU KIDUL. Pantas saja Alif waktu itu tidak berhasil untuk menerawang foto tanah yang dikirim Pak Purwo itu, walaupun dengan mengerahkan seluruh energi dan ilmu yang dia punya. Ini toh lawannya? sesosok mahluk gaib yang sudah sangat melegenda dan punya nama besar, yang konon terkenal dengan segala kengeriannya itu!


“AKU TAK PEDULI!!”


“KALIAN SUDAH MENGGANGGUKU DAN SUDAH MEMBUAT KESALAHAN YANG BEGITU BESAR!”


“SEKARANG KALIAN HARUS MATI SEMUA!!!” bentaknya lagi.


Lalu tanpa diduga, ekornya yang panjang dan begitu besar itu serta merta berkelabat kencang menyepak ke arah kami. Kontan saja orang-orang yang sedang berdiri tepat di depannya, Pak Purwo, para bodyguard, Alif dan kakeknya berpelantingan tersepak ke arah batang-batang pohon karet di sekitarnya. Beruntung posisi aku dan Farid saat itu jauh dari tempat mereka berada, sehingga tak terkena sabetan ekor Nyi Blorong itu. Aku lihat mereka semua banyak yang sedang meregang nyawa akibat dari terlempar serta menabrak batang-batang pohon dengan begitu kencang dan begitu kerasnya. Beberapa dari mereka pecah kepalanya, termasuk Alif dan kakeknya. Sedangkan Pak Purwo masih meregang nyawa mengerang-ngerang bergulingan di tanah menahan sakit.


Tiba-tiba mahluk itu pun mencekik lehernya dan mengangkatnya ke atas. Lalu diambilnya tongkat trisula miliknya yang tergeletak di tanah dan langsung dihujamkan berkali-kali ke perut Pak Purwo sambil tertawa kencang terkekeh-kekeh, yang membuat Pak Purwo tewas seketika di tangannya, lalu melempar mayatnya ke tanah, meninggalkan suara bergedebukan. Setelah berhasil membunuh Pak Purwo, mahluk perempuan berbadan ular raksasa itu mulai bergerak kembali dan mendatangi beberapa sisa bodyguardnya Pak Purwo yang masih sekarat itu untuk dibunuhnya kembali satu per satu. Kesempatan itu pun tak ku sia-siakan!!! aku dan Farid langsung lari sekencang-kencangnya yang kami bisa untuk ke luar dari dalam hutan karet ini, ke arah di mana mobil kami berada, sebelum mahluk mengerikan menyadari kepergian kami dan mengejarnya.


Karena kami berlari sangat cepat tanpa berhenti sedikit pun, hanya kurang dari lima menit kami sudah sampai di tempat mobil kami terparkir. Lalu dengan tergopoh-gopoh dan napas masih terasa ngos-ngosan, aku merogoh kunci mobil kami yang ada di saku celanaku. Dan segera masuk ke mobil. Starter ku hidupkan dan langsung ku tancap gas tanpa ragu-ragu, menyusuri jalan tanah besar untuk ke luar dari areal perkebunan karet itu. Tak berapa akhirnya mobil kami pun sampai dan ke luar menuju jalan raya setelah ku belokkan dengan kasarnya tanpa ku injak rem sedikit pun, yang hampir saja membuat mobil kami seakan mau terbalik.


Beruntung jalan raya itu masih gelap dan sepi. Dan kembali mobil ku gas poll sekencang-kencang di jalan raya yang masih sepi itu, langsung menuju ke arah kota. Di dalam mobil ku lihat Farid menangis terisak-isak, karena Alif teman karib kami itu telah tewas secara mengenaskan. Beberapa kali ku lihat ia memukul-mukul pahanya sambil sesekali menutup wajah dengan tangannya. Sedangkan aku sembari menyetir mobil, merasa sangat bingung dan kalut memikirkan bagaimana nasib kami berdua kedepannya setelah kejadian barusan.


“Bagaimana jika besok orangtuanya Alif datang ke rumahku dan menanyakan perihal keberadaannya? karena yang mereka tahu, Alif terakhir kali pergi denganku dan Farid..”


Lalu, “Bagaimana jika besok atau lusa ada polisi yang datang ke rumahku dan menginterograsiku!? karena telah ditemukan mayat-mayat di sebuah perkebunan karet dan ada mayat Alif juga di sana..” Atau, “Bagaimana jika nanti atau besok malam, Nyi Blorong datang ke rumahku dan membunuhku?!” Hiii..


“Bukannya untung, malah buntung.” lirihku dalam hati, sambil menatap kosong ke depan.

__ADS_1


END_


Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!


__ADS_2