Kumpulan Cerpen Horor

Kumpulan Cerpen Horor
Terror Kuyang (Part 2)


__ADS_3

2 Hari Kemudian,


Wati berteriak keras memanggil suaminya saat melihat tubuh anaknya membiru di bagian belakang punggung. Aki Unggal bersama istrinya yang sedang menampi beras juga segera berlari ke kamar Wati setelah mendengar teriakkan itu. Mereka semua terkejut melihat tubuh Fahmi juga semakin kurus padahal selama ini mereka tahu Fahmi kuat saat menyusu bahkan Wati sendiri merasakan kalau anaknya menyusu dengan sangat baik.


“Abang panggil pak ustadz sekarang.”


“Cepat bang.” perintah Wati sambil ketakutan.


Sepelas magrib Romi pun berjalan kaki sendirian menuju rumah ustadz. Mulanya Romi tidak merasakan apa-apa, tapi matanya mulai nanar melihat ke sana kemari tidak fokus lagi melihat jalan yang berbatu kecil-kecil. Tidak jauh dari rumah ustadz ada pohon banyak pohon kelapa tiba di sana Romi langsung merinding. Sayup-sayup suara angin seolah tidak terdengar, mendadak suara jangkrik pun hilang. Suasana gelap dan sunyi meski di kiri kanan masih tampak rumah orang.


Syuppp


Suatu bayangan hitam seperti kepala terbang melintas secepat kilat di pucuk kepala Romi, bulu kuduk langsung berdiri. Romi enggan menoleh ke atas tapi bayangan tadi membuatnya penasaran, tiba-tiba di atas pohon kelapa terlihat oleh Romi ada api berwarna merah kehijauan terus menyala-nyala tetapi sama sekali tidak membakar dedaunan kelapa yang agak menutupi cayaha tersebut.


Sebelumnya Romi tidak pernah melihat keanehan, tapi saat melihat bola api yang terus berpindah-pindah dari pohon satu ke pohon yang lain itu membuat Romi merinding dan takut sehingga dia harus berlari kencang untuk sampai di rumah pak ustadz.


Setelah bertemu pak ustadz, Romi bercerita tentang apa yang dia alami saat menuju rumah pak ustadz tadi. Percaya tidak percaya begitu mendengar pernyataan pak ustadz mengenai kepala terbang yang memancarkan cahaya merah kehijauan itulah tanda-tanda kemunculan kuyang. Biasanya kemunculan kuyang juga ditandai dengan suara-suara burung yang suaranya nyaring bisa membuat telinga berdengung setelah mendengarkannya.


Masih di jam yang sama ditempat yang beda. Wati turun ke halaman belakang rumah yang di belakangnya terdapat kebun karet serta kebun kelapa. Wati turun mengambil jeruman pakaian anaknya yang sudah kering tapi lupa buat diangkat tadi sore. Meski masih dihantui rasa takut tapi Wati berusaha tetap memberanikan diri dengan sedikit bernyanyi-nyanyi pelan sembari tangannya meraih jemuran satu persatu menempatkannya ke dalam keranjang jemuran baju.


Tiba-tiba Wati mendengar suara menggeruduk dari bawah lantai rumahnya. Seperti kepala orang yang terhentuk ke lantai saat menyusuk ke bawah rumah. Wati takut itu anjing orang akan bersarang dan melahirkan di bawah lantai rumah lagi karna Wati tidak suka bau anjing. Selesai mengangkat jemuran, Wati pun memberanikan diri untuk melihat ke bawah lantai rumahnya dengan memakai sentar yang di bawa sebagai alat penerangan untuk mengusir anjing tersebut. Sebelumnya Wati sempat mengambil kayu, karna Wati tahu anjing ketika diganggu pasti akan menjadi galak jadi kayu itu digunakan untuk membuat anjing takut.


Terdengar lagi suara aneh seperti orang sedang mengunyah makanan tapi dengan cara terburu-buru. Sssrrr Wati langsung merinding dan panas dingin setelah mendengarnya. Pelan-pelan Wati pun menundukkan badannya ke bawah lantai rumah karna perutnya masih terasa sakit jika dipaksakan. Wati pikir itu anjing hitam sedang memakan bekas tulang-tulang sapi, tapi setelah disentarin lebih jelas ternyata kuyang yang mukanya penuh dengan darah sangat menyeramkan, matanya melotot tajam menatap Wati dengan taring-taring di rongga giginya seolah siap akan menjadikan Wati makan malam selanjutnya.


Ketika itu Wati langsung berteriak memanggil kedua orangtuanya, kemudian menjerit histeris karna menyadari kuyang itu berhasil memakan ari-ari anaknya yang ternyata selama ini suaminya simpan di dalam ember tertutup di bawah lantai rumah. Kuyang tersebut berhasil kabur ketika melihat orangtua Wati datang. Aki Unggal segera mengumpulkan warga untuk menangkap kuyang tersebut, sedangkan Wati dan ibunya bergegas ke kamar untuk memastikan anak Wati baik-baik saja.


Tetapi apa yang terjadi? Wati dan ibunya justru menyaksikan kejadian mengerikkan yang membuat mereka berteriak-teriak. Wati dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa selain mematung tapi mulut berteriak saat melihat kuyang tersebut menghisap darah anaknya. Kuyang itu langsung lari tapi anak Wati sudah mati mengenaskan perutnya robek berlumur darah di mana-mana, kuyang itu mengambil organ dalam bayi tak berdosa itu.


Melihat putranya sudah tidak bernyawa dengan mengenaskan Wati langsung pingsan. Ketika itu pak ustadz dan Romi sampai di rumah, barusan mereka melihat orang ramai-ramai membawa sentar serta bambu runcing dan jaring tapi di rumah mereka melihat ibu sedang menangis memeluk Wati yang masih pingsan.


“Bu, Wati kenapa?” tanya Romi.


“Lihat di kamar kalian.” lirih Uwan Imai sambil menangis.

__ADS_1


“Innalillahi” ucap pak ustadz


“Romi, kita datang terlambat anakmu sudah meninggal dunia.”


Kemudian Romi pun menyesal. Diangkatnya putra kecilnya yang sudah kaku berlumur darah itu ke dalam pelukkannya. Dia menangis sejadi-jadinya.


“Tidak ada gunanya sekarang untuk menyesal, yang perlu dilakukan kita harus segera menemukan kuyang itu dan mencari tahu siapa yang sudah sesat menjelma sebagai kuyang agar warga tidak diresahkan lagi.” tutur ustadz.


“Iya ustadz” berusaha untuk tetap tegar serta menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran.


“Bu, bapak mana?”


“Dia pergi bersama warga beramai-ramai untuk menangkap kuyang itu.” kata Uwan Imai.


Romi bersama ustadz segera ikut mengejar bapak dan para warga. Dan beberapa ibu-ibu pun mulai berdatangan ke rumah Wati untuk membantu proses pemakaman anaknya Wati.


Penangkapan kuyang berlangsung sengit. Bagaimana pun kuyang kodratnya adalah manusia tapi ketika dia melepaskan kepala dari tubuhnya maka wujudnya akan berubah jadi setan yang punya kekuatan, sehingga membuat warga kesulitan untuk menangkapnya.


Kuyang itu dengan bebas terbang melayang-layang di atas pepohonan, sesekali tertawa cekikikan mempermainkan warga yang masih terus mengejar meski harus berlari-larian membuang banyak tenaga.


“Pakcik, sepertinya kita tidak kuat lagi sudahi saja rencana menangkap kuyang.”


“Mustahil bagi kita untuk menangkapnya karna malam memang waktu makhluk ini menjadi kuat, kita cuma manusia biasa Pakcik.” protes beberapa warga pada Aki Unggal. Terpaksa Aki Unggal menuruti kemauan mereka tetapi mereka semua harus siap untuk mendapat teror kuyang di kemudian hari. Dan para warga sepakat untuk lebih hati-hati saat teror kuyang datang, bersamaan dengan kesepakatan yang mereka buat, Romi datang bersama pak ustadz.


Dengan bergabungnya Romi dan pak ustadz bersama mereka untuk membasmi itu kuyang rupanya kembali membangkitkan semangat warga untuk ikut menangkapnya lagi.


“Siapa kamu sebenarnya hei makhluk yang tersesat dalam kemungkaran?” Pak ustadz mencoba menghadapi kuyang itu.


Kamu kamu semua tidak bisa menangkapku karna aku sudah kekal selama-lamanya.


aarghhh


“Tunjukkan wujud aslimu sebelum saya membakarmu dengan api yang menyala-nyala.”

__ADS_1


Api itu tidak akan membakarku karna aku setan yang terbuat dari api neraka.


Kamu semua tidak bisa membunuhku, aku yang akan membunuh kalian.


“Atas izin Allah dan hanya dengan bantuannya, saya akan membakarmu.”


“Cepat ambilkan bensin, lalu ratakan ke dalam lingkaran yang sudah saya garisi.” kata ustadz setelah membuat lingkaran besar tepat di bawah kuyang itu melayang.


“Tetap fokus baca surat-surat pendek dan ingat sang pencipta selalu, ayo fokus jangan takut pada setan sesungguhnya manusia makhluk yang paling sempurna.” pinta ustadz pada semua warga.


Beberapa warga yang lain berhasil menyirami garis lingkaran tersebut sampai ke dalam-dalam lingkaran, tetapi kuyang itu sama sekali tidak takut kemudian menggigit salah satu warga yang masih berada di dalam lingkaran.


Keadaan mulai panik, membuat warga menjadi ketakutan. Pak ustadz langsung masuk ke dalam lingkaran kemudian menarik kepala kuyang tersebut dari leher warga yang berhasil dia gigit. Pak ustadz tidak akan melepaskan kuyang tersebut, lalu dia melilitkan kain yang dibawanya untuk membungkus kepala kuyang tersebut, sedangkan warga tadi langsung lari terbirit-birit dengan kondisi lunglai mendekati kerumunan warga lainnya.


“Romi, lempar korek apinya sekarang.”


Kamu tidak akan bisa membunuhku


Aku sudah kekal


Kuyang yang sudah dibungkus itu masih memberontak berusaha keluar sambil berkoar-koar tidak terima kekalahannya.


“Jika Allah mengizinkan saya membunuhmu, maka kamu akan mati di dalam api-api ini.”


Aargghhh… coba saja


Kuyang itu masih menantang dan tetap menyangkal keabadian yang dia miliki akan berakhir. Pak ustadz langsung membakar lingkaran tersebut kemudian segera menjauh dari kobaran api yang sangat cepat membesar.


Setelah itu Pak Ustadz mengajak warga untuk sama-sama berdoa dan membaca ayah suci Al-Qur’an dengan memohon harapan kepada Allah Swt supaya kuyang tersebut benar-benar musnah dan tidak akan mengganggu ketentraman warga lagi.


Suara jeritan serta makian jelmaan kuyang masih terdengar di telinga mereka. Sepertinya kuyang itu tidak terima dikalahkan serta nyatanya hidup yang kekal tidak bisa dia dapatkan. Pak Ustadz dan para warga tetap sabar mendengarkan celotehan dari kuyang tersebut sambil terus memanjatkan doa kepada Allah Swt. Hingga beberapa saat kemudian api itu padam perlahan-lahan dan membakar kuyang tersebut hingga menjadi debu.


END_

__ADS_1


Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!


__ADS_2