Kumpulan Cerpen Horor

Kumpulan Cerpen Horor
Claustrophobia


__ADS_3

Pukul 18.00 WIB. Ruangan di gedung lantai 3 ini sudah sepi. Hanya ada aku dan Bosku, Bu Irma saja. ini lebih 2 jam dari jam pulangku. Siang hari tadi aku terpaksa membatalkan janjiku dengan Mas Fatih, tunanganku untuk bertemu karena meeting dadakan yang membosankan ini. Aku bersiap membereskan barang-barangku, mengambil jaket lalu bersiap pergi. Asyana dan teman-temanku sudah lebih dulu kabur saat ritual meeting itu selesai.


Bosku tiba-tiba saja keluar dari ruangan.


“Lana, bahan meeting untuk besok pagi sudahkah kau siapkan? aku akan berangkat pagi sekali karena ternyata meeting dijadwal ulang,” seru Bosku.


“Besok pagi akan saya siapkan Bu,” kataku.


“Apa kau yakin akan siap pagi itu juga? Aku tidak mau ambil risiko untuk proyek ini. Kita harus goal! Proyek ini bernilai milyaran, Lana. Aku tidak mau tahu. Persiapkan bahan meeting malam ini juga”


Bosku berlalu dan meninggalkan aku dengan segala umpatan dalam hati. Bu Irma baik, tapi dia tak pernah menyerah untuk urusan uang. Yah.. apa boleh buat. Akhirnya aku kembali duduk di depan komputerku menyiapkan segala bahan meeting.


Pukul 22.00 WIB. Aku masih saja belum selesai dengan pekerjaanku. Ternyata bahan meeting ini lebih banyak dari yang aku bayangkan. Mataku mulai tak bisa diajak kompromi. Aku pergi ke pantry untuk membuat segelas kopi. Ruangan Bu Irma sudah kosong. Barang-barangnya pun sudah tak ada. Ah.. dia pulang tanpa pamit denganku dan meninggalkan aku sendirian dengan bahan meeting tak jelas ini. Sendirian? tiba-tiba aku sadar kalau aku ada di kantor sendirian ketika aku kembali ke mejaku dengan secangkir kopi panas. Aku berkeliling melihat sekitarku. Sepi. Bahkan sangat sepi. Ini aneh. Aku menarik napas panjang dan menyalakan musik untuk mengusir kesunyian itu.

__ADS_1


Aku teringat dengan orolanku dengan Asyana tentang gedung kantor kami. Itu memang gedung baru kami, tapi itu adalah gedung bekas kantor perusahaan lain. Kabarnya pernah terjadi kasus bunuh diri di gedung itu. dan kabar baiknya, bunuh diri itu dilakukan di lantai 3, tempat yang sama dengan kantorku. Aku merinding. Baru 10 menit aku mulai lupa dengan keadaan sekitarku terdengar suara seperti diseret. Konsentrasiku buyar. Kucoba tak hiraukan suara itu dan kukeraskan suara musikku. Suara itu tak terdengar lagi. Aku bersyukur.


Pukul 23.30 WIB. Dokumen untuk meeting hampir selesai, dan yang aku butuhkan tinggal 1 dokumen lagi. Agak kacau juga perasaanku karena harus mengambil dokumen itu di ruang dokumen. Ruang dokumen selantai dengan ruanganku. hanya saja ruang itu terletak di ujung belakang dekat pantry. Siang hari saja aku enggan ke sana apalagi di malam seperti ini. Aku bertekad menyelesaikan bahan meeting itu malam ini juga. Jadi kubulatkan tekadku untuk ke sana dengan perasaan sedikit cemas.


Kulewati banyak meja kosong. Biasanya di sini ramai tapi ini benar-benar sunyi. Aku sedikit berlari. Akhirnya aku sampai di depan ruang dokumen. Aku agak ragu memutar knop yang sudah terlihat tua itu. umurnya sama dengan tuanya gedung kantorku ini. Setelah kuputar knop itu, terbukalah ruang dokumen. Bau kertas dan dokumen usang menyerbak. Banyak rak dan dokumen berjajar di ruangan ukuran 5×10 itu. Ruangan ini kecil tapi memanjang. yah memang ruangan itu terlau sempit dengan jumlah rak dan dokumen yang sangat banyak itu.


Kuraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Tapi percuma, lampunya mati. Kenapa harus sekarang mati, oh lampu. keluhku dalam hati. Akhirnya aku menyalakan lilin yang kuambil dari pantry. Aku berjalan masuk di sela-sela rak. Terlalu sempit karena jarak antar rak berdekatan.


Dokumen yang aku cari letaknya di rak paling ujung. susah payah aku mencapainya. Selain karena ruangan yang sempit sehingga aku tak leluasa bergerak juga karena udara yang terasa pengap. ya, ruangan ini tak ber-AC, gelap, sempit, dan bau. Aku mengeluh lagi. Akhirnya aku sampai di rak paling ujung. Kuambil salah satu dokumen dari jajaran dokumen yang tersusun rapi.


Tengkukku merinding merasakan hawa dingin di belakang leherku. Lilin yang aku bawa padam. Ini gelap! dan aku semakin merasa pengap dan takut. Aku berdiri mematung. Aku menutup mata dan mendekap dokumen itu erat. Aku tidak bisa berpikir jernih. Kakiku serasa lemas keduanya. Aku tak bisa berteriak, mulutku seakan terkunci.


Kudengar suara buku jatuh. Bukan terjatuh, tapi seperti dijatuhkan satu persatu. Suara cekikik dan seret itu berubah menjadi gelak tawa yang dahsyat. Kubuka mata tapi yang kulihat hanya gelap. Suara itu terus meraung-raung di telingaku. Aku sudah tak peduli dengan dokumen. Kujatuhkan dokumen itu dan kututup telingaku dengan kedua tangan. Aku mencoba berlari ke arah pintu. Sial, ini ruangan hanya 10 m tetapi kenapa jaraknya berubah seakan lebih jauh. Kurasa aku sudah berlari cukup jauh tetapi tak kunjung aku sampai ke pintu itu. Aku terjatuh. Entah, rasanya seperti tersandung, kakiku terkilir. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak bisa berlari lagi. Suara itu tak berhenti, semakin lama semakin menjadi-jadi. Aku pasrah. Aku hanya menangis keras. Tak mungkin meminta pertolongan karena tidak ada orang di kantor. Aku semakin merasa pengap dan pusing, dan kurasa tubuhku semakin ringan. Aku pingsan.

__ADS_1


Pukul 03.00 WIB.


“Lana, kau kenapa?” Bu Irma bertanya kepadaku. Aku menghambur memeluknya. Menangis. Entah berapa lama aku pingsan. Kuceritakan apa yang aku alami kepadanya. Aku bersyukur bertemu Bu Irma yang kembali ke kantor karena ada barangnya yang tertinggal. Bu Irma menenangkanku dan memberiku secangkir teh dan sepucuk sapu tangan untuk mengelap keringatku. Baru kusadari tubuhku basah oleh keringat.


Mataku sembab dan tenggorokanku kering. Bu Irma masih ada di depanku, menenangkanku.


Handphoneku berbunyi, Mas Fatih meneleponku. Tampak sekali dia cemas karena aku tak kunjung pulang dan tak bisa dihubungi. Akhirnya aku dijemput oleh Mas Fatih dan sebelum pulang aku berpamitan ke Bu Irma. Selama perjalanan pulang Mas Fatih masih menenangkanku dan mengingatkanku kalau aku mengidap claustrophobia. Ya! Phobia terhadap ruang sempit. mungkin itu alasan aku banyak berhalusinasi malam itu. Aku lega. itu hanya halusinasi. Aku tertidur pulas setelah itu.


Telepon dari Asyana membangunkanku. Aku berkata kalau aku tidak masuk kerja hari ini.


“Sebenarnya aku telepon tidak untuk menanyakan itu Na.. Bu Irma Na.. Bu Irma…” kata-kata Asyana.


Aku mematung. Kakiku lemas. Aku tidak bisa berkata-kata. Mulutku seakan terkunci. Kugenggam sapu tangan pemberian Bu Irma. Bu Irma, orang yang aku temui dini hari tadi, meninggal di tempat karena kecelakan sepulang dari kantor kemarin petang. Mungkin Bu Irma hanya ingin menengokku..

__ADS_1


END_


Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!


__ADS_2