
Tak terasa matahari pun tersenyum dari arah timur yang menembus beningnya kaca jendela kamarku dan mulai menyentuh tubuh yang terasa lelah tak berdaya ini. Aku pun segera bersiap dan setelah bersiap aku menuju dapur untuk sarapan, di tengah perjalanan menuju dapur aku teringat sesuatu.
“Kenapa Bunda nggak bangunin dan manggil aku ya,”
Setelah sampai di dapur, tepatnya di ruang makan aku melihat ayah, bunda lagi makan dan mereka melamun sepertinya pikiran mereka kosong. Tak seperti biasanya, mereka bersikap aneh seperti ini.
“Bun, Ayah selamat pagi,” Mereka tetap melamun dan tidak menghiraukan kalimat sapaku. Lalu aku pun duduk, mungkin saja ayah sama bunda lagi banyak pikiran sehingga mereka melamun. Setelah selesai makan aku berpamitan dan saat aku berpamitan, mereka tetap melamun. Lalu aku mulai kesal mengapa sih mereka bersikap seperti itu.
“Bunda, Ayah bisa gak sih kalian hargai aku, aku tanya ini kalian gak menghiraukan, tanya itu gak dihiraukan apa sih maksud kalian. Gak lucu,” ucapku dengan suara membentak. Aku pun langsung meninggalkan mereka dan menuju taksi yang sudah menjemputku.
Di dalam taksi aku masih memikirkan Bunda sama Ayah. “Kenapa sih, nggak kemarin, pagi ini semuanya aneh. Tadi malam bibi menghilang tadi ayah bunda seperti terhipnotis ada apa sih?” Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan Zaffa.
“Zaff, sini deh,”
“Ada apa Kayla?”
“Semalem mati lampu gak sih, di rumah kamu?”
“Iya kenapa?”
“Tadi malem aku ngerasaain hal yang aneh,”
“Maksud kamu apa?”
“Iya pokoknya aneh tahu gak, nanti di kelas aku ceritain,”
Aku pun mulai bercerita dari cerita Bibi menghilang dan kedua orangtuaku yang seperti terhipnotis.
“Kayla, mungkin kamu itu cuma terbawa perasaan,”
“Perasaan kata kamu, aku tuh bener-bener ngalamin tahu gak,”
Lalu dari pintu terlihat Dino masuk. Aku langsung memanggilnya.
“Dino,”
“Iya Kayla ada apa?”
“Tadi malam kamu nelepon aku gak,”
“Enggak tadi malam kan mati lampu, dan hpku kehabisan baterai jadi hpku mati nggak mungkin kan aku nelepon kamu,”
“Tapi tadi malam kamu nelepon aku,”
“Enggak kok, mungkin itu Dino-Dino yang lain,”
“Gak mungkin Dino, aku yakin itu kamu tapi suaranya perempuan,”
“Kamu pasti salah, coba cek lagi. Ya udah aku taruh tasku dulu,”
Tak lama kemudian bel masuk pun berbunyi. Dan *** pun dilaksanakan dengan baik dan lancar. Di tengah pembelajaran, perutku terasa kembung dan ingin buang air kecil. Aku pun segera izin kepada guru yang mengajar lalu aku segera menuju ke kamar kecil. Ternyata kamar kecilnya semuanya penuh akhirnya aku menunggu salah satu kamar kecil yang menurutku bersih. “Hei yang di dalam cepetan dong, aku gak tahan nih.” sambil mengetuk pintu.
Dan ternyata pintunya gak terkunci, aku mencoba untuk membukanya untuk mengecek apa ada orangnya atau tidak. Pelan tapi pasti aku mencoba membukanya, dan ternyata Tak ada orang. Jantungku mulai berdegup kencang dan bulu kudukku mulai berdiri. Dengan ketakutan aku pun masuk ke kamar kecil itu dan langsung pergi dengan berlari terbirit-birit.
Saat aku mau menuju kelas aku melihat bayangan di balik pepohonan di depan kelas kosong tepatnya di taman depan kelas, aku melihat dan aku pun melihat sesosok perempuan berpakaian seragam yang dipenuhi dengan darah dan bekas infusan di tangannya. Aku berteriak sehingga anak-anak yang di kelas pun ke luar.
“Ada apa Kayla kenapa kamu teriak?” tanya guru kelasku.
“Bu, tadi ada perempuan yang berlumuran darah serius,”
“Mana Kayla, Ibu tidak melihatnya sepertinya kamu berhalusinasi. Kamu banyak menonton film horror?”
“Enggak Bu, aku serius tadi memang ada. Zaffa kamu percaya kan?”
__ADS_1
“Maaf Kay, tapi memang gak ada, masa secepet itu hilangnya perempuan yang kamu lihat. Mungkin bener yang Ibu guru katakan kamu akhir-akhir ini banyak berhalusinasi,”
“Astaga kenapa gak ada yang percaya sih?”
“Ya sudah Kayla ayo masuk kita lanjutkan pembelajaran kita,” ucap ibu guruku.
Kami pun melanjutkan pembelajaran dan seusai itu kami pulang. Dan ternyata aku gak dijemput, “Apakah mereka masih melamun.” ucapku dalam hati dengan kesal. Dan akhirnya aku pulang naik taksi lagi.
Beneran banyak hal aneh yang menimpaku hari ini. Sesampainya di rumah aku bertemu bibi.
“Bibi, apa bener tadi malam Bibi pergi ke toko pada saat mati lampu,”
“Iya non kenapa, tadi malam Bibi pergi ke toko dan pada saat sampai di toko mati lampu, akhirnya Bibi berdiam di sana sampai lampunya hidup. Maaf ya non Bibi gak nemenin non Kayla,”
“Terus yang bicara sama aku siapa,”
“Maksud non Kayla apa?”
“Sudahlah Bi, Kayla masuk aja ya,”
Aku pun masuk, dan saat aku di kamar lemariku terbuka sendiri, “Siapa? keluar kamu kenapa kamu selalu menggangguku, sudah tahu aku sendirian kenapa masih ganggu aku, ganggu yang lain saja yang rame, kenapa aku sih, aku salah apa sama kamu,” Aku merasa depresi dan stres karena itu semua. Malam pun tiba kembali, entah apa yang akan terjadi malam ini. Aku mengambil air di kulkas dan menutupnya kembali dan aku mendengar suara klakson mobil bundaku. “Bunda, bunda datang aku harus ke depan,”
Aku membuka pintu untuk menyambut kedatangan bunda. Dengan tersenyum aku menatap pintu mobil aku berpikir bunda ke luar dari mobil dan aku akan mendapat senyuman, jarang loh aku mendapati bunda pulang lebih awal dari biasanya. Saat aku tersenyum, senyummku berubah menjadi rasa takut karena yang ku lihat dari kaca mobil bukanlah bunda melainkan, perempuan seram di sekolah tadi.
Dia menatapku dengan kepalanya yang sedikit dimiringkan dan matanya melotot ke arahku dengan darah yang bertetesan dari kulit wajahnya. Aku masuk dengan membanting pintu depan dan masuk. Aku langsung pergi ke kamar dan menutup wajahku dengan bantal dan setelah lama aku pun tertidur dengan posisi seperti itu sampai pagi.
Di paginya sama seperti kemarin sikap bunda dan ayah tetap mereka seperti orang yang terhipnotis. Tapi aku tak lagi menghiraukan mereka, mungkin mereka sudah tak sayang lagi sama aku sehingga mereka hanya memikirkan pekerjaan dan tidak memikirkan aku. Andai aku punya saudara selain bibi dan pak satpam.
Tanpa berpamitan aku pun berangkat dan sesampainya di sekolah aku tidak berbicara sama sekali, aku masih kesal kenapa tidak ada orang yang percaya sih tentang sesosok perempuan yang ku lihat. Saat istirahat tiba aku tetep di kelas, meskipun Zaffa mengajakku ke kantin aku tak mau.
Saat membaca novel di kelas, aku pikir Zaffa yang duduk di sampingku, tapi saat aku ajak bicara dia tidak menjawab dan lama kelamaan aku mencium bau anyir dan tidak enak. “Bau kamu kok gak enak sih Zaf, kamu gak mandi ya,” candaku.
Saat aku tidak mendengar balasan dari setiap pertanyaanku yang aku ajukan, aku merasa heran dan akhirnya aku menoleh. Saat menoleh yang ku tatap adalah sosok perempuan kemarin yang aku lihat. Dia mentapku sambil tersenyum menakutkan.
“Ke mana semuanya, kenapa aku sendirian keanehan apa lagi ini?”
Aku pun bersimpuh di depan kelas dengan menangis. Di tengah tangisan Aku Dino datang.
“Kayla kenapa kamu menangis?”
“Dino,” aku langsung berlari dan tanpa sadar aku langsung memeluknya.
“Kamu kenapa.. kemana yang lain?”
“Entah mereka menghilang Dino, aku pikir sudah tidak ada yang menginginkanku. Sehingga mereka pergi ninggalin aku. Aku ketakutan Dino, sosok perempuan itu selalu muncul. Aku cape,”
“Sudah Kayla, ayo kita pulang semuanya sepi. Aku akan mengantarmu,” ucap Dino.
“Makasih Dino,”
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamar dan melamun di sana. Tak terasa aku melamun sampai jam menunjukkan pukul 4 sore. Aku langsung berganti pakaian dan bibi datang sambil membawa jus. Dan tak terasa aku tertidur sampai jam menunjukkan pukul 19.00. Aku terbangun dan aku langsung pergi ke luar. Kenapa semuanya gelap, jangan-jangan mati lampu lagi. Astaga. Apa lagi yang akan terjadi.
Aku mencari bibi dengan membawa lilin yang ada di kamarku, mungkin bibi yang menaruhnya. “Bi, Bibi di mana?” Tak ada sahutan dari Bibi. Aku pun menyerah dan aku duduk di kursi. Dan sepertinya ada bayangan di belakangku yang terlihat melalui cahaya lilin. Aku menoleh ke belakang tapi tidak ada apa-apa. Aku pun mulai merasa ketakutan dan aku melihat bibi berjalan ke ruang tengah.
“Bibi,”
Tapi bibi berjalan dengan tidak berkedip dan memiringkan kepala.
“Bibi, bibi kenapa, mau ke mana Bi?”
Aku menyentuh tubuh bibi, dan tiba-tiba bibi jatuh pingsan, “Bibi, Bibi kenapa bi kenapa Bibi pingsan Kayla sama siapa?”
Aku pun makin ketakutan dan menangis bersimpuh di sana. “Kenapa, kenapa ini terjadi, kenapa sosok itu selalu menggangguku?”
__ADS_1
Saat aku menunduk dengan air mata yang terjatuh, mataku merasa silau dan saat aku mengangkat wajahku ada Bunda dan Ayah yang membawa kue dengan di atasnya lilin. Dan diikuti dengan teman-teman sekelasku dan ibu guru dan bibi juga ikut bangun dan semuanya tersenyum padaku.
“Bunda, Ayah,”
“Sayang,” ayah dan bunda langsung memelukku.
“Ada apa ini Bunda?”
“Ini adalah rencana Bunda dan semuanya agar kamu tidak kesepian,”
“Maksud Bunda?”
“Waktu itu Bunda melihat Zaffa ke luar dari rumah dan Bunda bertanya Zaffa ngapain, dan Zaffa cerita semuanya sama bunda dan setelah itu bibi ke luar dan bertemu bunda dan bibi cerita bahwa Kayla melamun di kolam dengan berkata buat apa rumah mewah kalau keadaannya sepi benarkah sayang? lalu Bunda bikin rencana agar kamu tidak merasa kesepian dengan menghadirkan Dinda,”
“Jadi Dinda itu belum meninggal Bunda,”
“Sudah kalau yang asli, kalau yang palsu sih ada tuh,” menunjuk ke arah belakang tubuhku.
Aku pun menoleh dan benar kata Bunda itu adalah sosok yang menghantuiku akhir-akhir ini.
“Coba bunda ceritain dari awal kenapa Bunda bisa berhasil nakut-nakutin Kayla,”
“Begini Bunda bikin rencana sama temen-temen Kayla. Pada saat mati lampu itu memang sengaja bunda matiin listriknya coba kalau Kayla lebih pintar pasti Kayla lihat listriknya beneran mati atau dimatiin, lalu bibi datang dan menemui kamu dan pergi ke dapur untuk mengambil lilin sebenarnya bukan ngambil lilin tapi bibi sembunyi dan pada saat itu Ayah juga bantuin, Ayahmu rela cuti bekerja demi menyukseskan rencana ini. Dan Bunda suruh pak satpam untuk bilang bahwa Bibi lagi beli-beli di toko.
Lalu yang narik selimut kamu itu Bunda karena kamu mau melihat ke bawah ranjang dan Bibi kamu tahu dia dengan sembunyi-sembunyi mematikan lampu minyaknya agar kamu tidak melihat Bunda di bawah ranjangmu,”
“Lalu yang di sekolah itu rencana Bunda juga,”
“Iya Bunda bekerja sama dengan guru kamu sebelumnya. Yang di kamar mandi itu memang ada anaknya yaitu Rina. Dan Rina naik ke atas kamar mandi agar kamu tidak melihatnya. Lalu sosok itu adalah seorang anak perempuan ya temen kamu. Dia itu namanya Citra bunda suruh dia berpakaian ala Dinda yang meninggal itu.
Dan di mobil malam itu ya itu si Citra dan pada saat Dinda tiba-tiba muncul di samping kamu, pada saat Zaffa ke luar Si Citra masuk dan duduk di samping kamu dengan membawa darah sapi di sakunya agar kamu berbau anyir, kata si Citra dia juga gak betah dengan baunya. Lalu yang semua kelas sepi itu juga rencana bunda nyuruh mereka semua ada di gudang saat kamu ke luar nantinya. Kayla nangis, dan temen kamu Dino dia gak tega akhirnya dia nyemperin kamu,”
“Bunda pinter banget sih nyusun rencana ini, sampai-sampai Kayla ketakutan,”
“Maafin Bunda ya sayang, Bunda gak punya waktu untuk nemenin Kayla sepulang sekolah,”
“Terus Bunda hari ini kan Kayla gak ulang tahun terus kenapa ada kue?”
“Ini buat Kayla dan teman-teman untuk dimakan bersama hari ini,”
“Benarkah bunda?”
“Iya sayang,”
Bunda dan ayah pun memelukku, “Sayang maafin Ayah juga ya,”
“iya ayah,” ucapku
“Oh ya Bunda, yang kalian melamun itu kok bisa sih,”
“Bunda dan Ayah memang sengaja agar kamu gak bertanya sama Ayah dan Bunda tentang kejadian yang menimpa kamu, kamu kan tahu Bunda dan Ayah kalau berbohong itu terlihat,”
“Iya juga ya Bund, bodoh banget sih Kayla,” ucapku.
“Sudah-Sudah ayo kita makan kuenya sudah gak tahan nih,” ucap Zaffa.
Kami pun makan bersama, dan Sejak saat itu aku tidak akan merasa kesepian lagi karena takut Dinda-dinda yang lain akan menemani aku dan mengganggu aku lagi. Hari itu adalah hari yang memiliki banyak makna di balik semuanya.
Aku bisa tersadar bahwa aku harus mengerti dengan keadaan bunda dan Ayah. Bunda dan Ayah juga sudah mengerti kalau mereka juga harus meluangkan waktunya untuk menemaniku. Hari itu kami saling memaafkan dan sejak saat itu hidupku serasa lebih bahagia daripada sebelumya Dan semuanya berjalan seperti biasanya tanpa ada sosok itu lagi.
END_
Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!
__ADS_1