
Tahukah kamu di Indonesia terdapat beragam jenis hantu yang namanya sangat melekat dengan masyarakat sekitar, salah satunya adalah Palasik/Kuyang/Jeroan jika di Sambas kami menyebutnya sebagai Kerowakkan. Hantu yang senantiasa akan melepaskan kepala dari tubuhnya ketika akan mencari mangsa ketika melayang hanya ada kepala beserta jantung, hati, usus dan ginjalnya yang akan membuat orang ketakutan sekaligus mual saat melihatnya.
Orang yang ingin menjadi palasik mulanya harus menuntut ilmu hitam dan mengerjakan berbagai ritual sesat salah satunya adalah memakan darah atau ari-ari bayi yang baru saja dilahirkan. Ilmu palasik biasanya juga diwariskan atau diturunkan oleh orangtua yang sebelumnya pernah menuntut ilmu palasik. Orang yang sudah sesat itu percaya bahwa dengan menjadi palasik bisa hidup dalam keabadian dan selalu terlihat lebih muda, namun ingatlah sebelum kita ikut terjerumus dalam aliran sesat bahwa sejatinya takdir seorang manusia ada di tangan Tuhan dan sampai kapanpun tidak ada satu pun manusia yang bisa menghindar dari kematian. Parahnya lagi orang biasa akan sulit membedakan siapa jelmaan palasik sebenarnya karna mereka biasa berbaur dengan masyarakat layaknya orang awam, selain itu semakin tinggi ilmu palasik itu sendiri semakin membuat si penjelma mudah untuk menghilangkan bekas luka penanggal di antara tubuh dan leher mereka.
Baiklah mari kita simak kisah hantu palasik!
Di sebuah desa bernama Desa Simpang Empat ada dusun yang namanya Dusun Arung Kuang. Dusun ini salah satu dusun yang ada di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat letaknya cukup jauh dari Sambas Kota dan lumayan terpencil yang membuat kampung Arung Kuang pernah mengalami kejadian-kejadian mistis seperti di teror hantu palasik beberapa tahun lalu.
Kejadiannya tepat terjadi di Rt 12 / Rw 02, salah satu rumah warga yang sedang mengadakan acara syukuran untuk cucunya yang baru lahir beberapa hari lalu. Acara dilangsungkan pada malam hari selepas shalat isya, orang-orang mulai berbodong-bondong datang lalu mengadakan acara potong rambut serta pengajian. Setelah acara syukuran berakhir dan para tamu juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Ketika tengah malam si bayi tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Tubuhnya panas dingin dan mulai kaku, matanya merah melihat ke atas atap rumah sambil menangis tapi tidak mengeluarkan air mata sedikit pun.
Sang ibu yang baru melahirkan sebut saja namanya bu Wati itu tentu saja cemas dan panik melihat anaknya kejang-kejang serta menangis terus-menerus bahkan menolak untuk disusui. Sang Kakek sebut saja Aki Unggal ayahnya Wati kakek si bayi juga tak henti-henti membaca surat-surat pendek seperti tiga Qul dan ayat Al-Kursi, sedangkan si nenek atau Uwan Imai neneknya si bayi pergi memanggil Pak Ustadz.
Pak Ustadz bersama Uwan Imai sampai di rumahnya. Baru satu senti Pak Ustadz menginjakkan kaki ke pintu masuk, dia langsung merasakan aura panas membelai serta meniup tengkuk lehernya. Aura negatif yang begitu pekat akan panasnya hampir menyelimuti seluruh ruangan rumah tersebut. Suara si bayi masih terdengar berteriak-teriak, Uwan Imai langsung mengajak Ustadz bergegas lari ke kamar di mana si bayi berada bersama ibu dan kakeknya.
“Boleh saya lihat anak adik?” kata si ustadz seraya meminta izin. Wati pun tak tanggung-tanggung menyerahkan putranya ke tangan ustadz.
“Astarghfirullah” saat anak itu digendong oleh ustadz sontak ustadz kaget melihat sosok kepala dengan rambut aur-auran dari pantulan bola mata bayi tersebut.
“Ustadz, sebenarnya anak saya kenapa?”
“Dari tadi dia nangis kejang-kejang dan gak mau nyusu.” ujar Wati setengah menangis karna sangat takut terjadi sesuatu pada anak pertamanya itu.
“Ada sosok kuyang di atap kamar ini yang dilihat olehnya, itulah sebabnya kenapa anak ini sakal menangis.” jelas ustadz yang membuat Wati beserta orang tuanya kaget.
“Dari mana kuyang itu berasal ustadz? Untuk apa dia mengganggu anak saya?” Wati panik setengah mati.
“Anak adik akan dijadikan tumbal oleh orang yang menjelma sebagai kuyang itu untuk kepentingan pribadi dia sendiri.” jelas ustadz
“Bantu cucu saya ustadz, tolong singkirkan kuyang itu.” rintih Uwan Imai sambil menangis mengusap kepala cucunya.
“Ada sesuatu yang memancing kuyang itu datang kemari, boleh saya tanya sesuatu?” Pak Ustadz mulai serius, Wati kembali dikagetkan oleh ustadz benda apa yang kira-kira bisa memancing kuyang datang.
“Apa ari-ari anak adik sudah dikubur dengan benar?”
“Ari-ari ustadz?”
“Benar sekali itu salah satu penyebab anak adik diganggu.”
“Pa, bu, siapa kemarin yang ngurus ari-ari dedek?” tanya Wati pada orang tuanya. Wati tidak tahu apa-apa soal ari-ari anaknya karna dia melahirkan di puskesmas dan dia juga sempat pingsan beberapa jam setelah lahiran.
“Ibu suruh Romi buat ngubur itu ari-ari karna papamu pas kamu lahiran masih di ladang.” tutur ibu. Romi adalah suami Wati yang berprofesi sebagai nelayan. Malam ini Romi juga pergi melaut seperti malam-malam sebelumnya dan pulang ketika pagi hari.
“Sepertinya Romi belum mengubur ari-ari itu.” kata ustadz
“Lalu bang Romi simpan di mana bu?” Wati benar-benar panik dan bingung sama seperti ibunya yang tidak tahu apa-apa.
Uwan Imai kemudian mencari-cari di sekitar dapur dan pelecehan kamar mandi namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan ari-ari cucunya. Wan Imai bertambah panik serta takut karna tidak berhasil menemukan penyebab kuyang itu datang sementara cucunya masih dalam cengkraman kuyang.
Masih di kamar,
Ustadz menyuruh Aki Unggal buat ngambil segelas air putih untuk dibaca-bacakan doa. Aki Unggal datang membawa segelas air dan langsung memberikannya pada ustadz, kemudian air itu pun dibacakan doa selamat dari gangguang jin atau makhluk halus lalu dipercik-percikkan kesetiap sudut kamar serta tempat tidur bayi dan ibunya. Usai diberi doa penenang sang bayi berhenti menangis dan mau menyusu pada ibunya.
“Yang saya lakukan tadi hanya bersifat mengusir makhluk halus sementara, sebelum kuyang itu datang lagi kita harus segera menemukan ari-ari itu di simpan.” kata ustadz dan didengarkan baik-baik oleh Wati beserta orangtuanya.
__ADS_1
Esok paginya Wati sedang duduk santai sambil menggendong anaknya sembari menunggu suaminya di teras rumah. Tiba-tiba ada beberapa warga berlarian di jalan depan rumahnya, Wati pun keheranan serta penasaran. Diberhentikannya lah salah satu tetangganya yang lewat itu.
“Pakcik ada apa lari ramai-ramai?” Wati bingung dan penasaran.
“Anak Pak Hasim semalam melahirkan.”
“Oh mau lihat anaknya ya Pakcik?”
“Bukan nak Wati tapi mau lihat anaknya yang dimakan sama kuyang sampai badannya membiru berlumur darah.”
degdeg
seketika bulu kuduk Wati merinding bersamaan dengan jantung yang berdegup-degup kencang, sembari teringat kejadian yang juga menimpanya semalam.
“Pakcik jangan nakutin Wati ah.”
“Tidak nak Wati, Pakcik juga tahu dari warga.”
“Kayaknya kampung kita sudah tidak aman, mulai sekarang nak Wati dan perempuan hamil lainnya harus hati-hati jaga anaknya.”
“Nak Wati, pakcik langsung ke sana ya!”
“Iya pakcik makasih infonya ya.”
Wati kembali duduk mengelus pelan-pelan kepala anaknya kemudian dipeluknya, dadanya yang makin sesak tanpa sadar air matanya sudah tumpah. Wati tidak bisa membayangkan betapa hancur dan syoknya ibu yang baru melahirkan itu ketika melihat bayinya mati mengenaskan, mungkin jika itu terjadi pada dirinya Wati bisa menjadi gila atau bahkan rela mati sebagai ganti asal anaknya bisa terbebas dari gangguan makhluk mengerikkan itu.
Tak lama kemudian, Romi suami Wati pulang dari melaut. Hari ini tangkapan ikannya sangat banyak beda dari hari-hari sebelumnya. Romi sangat bergembira serta semangat ketika memperlihatkan baskom yang berisi penuh dengan ikan kepada istrinya, tetapi dia juga bisa merasakan Wati tampak murung.
“Cium anaknya dulu kek ini malah ikan yang didahuluin” gerutu Wati dengan raut wajah kesal.
“Bang semalam Fahmi diganggu sama kuyang gara-gara abang gak nanam itu ari-ari dia, dan hari ini anaknya Pakcik Hasim yang baru melahirkan itu abang tahu cucunya mati di makan kuyang dan kuyang itu sama dengan yang udah gangguin Fahmi.”
Pernyataan Wati sepertinya justru malah membuat perut Romi serasa tergelitik. Romi tak tahan untuk menertawakan istrinya yang begitu tampak cemas.
“Astaga sayang jangan percaya yang begituan.”
“Kuyang itu tidak ada sayang kalau ada mungkin orang udah pada lihat itu wujudnya, kuyang hanyalah cerita rakyat yang menyebar dikalangan masyarakat untuk menakut-nakuti ibu hamil.”
“Abang sesumbar banget sih, ustadz yang bilang bang kalau anak kita diganggu kuyang karna itu ari-ari gak dikuburin.”
“Bang itu ari-ari kotor bau amis darahnya sangat pekat, janganlah abang main-main ah.”
“Udahlah sayang abang gak percaya yang begituan, abang mau mandi dulu amis bau ikan.”
“Percayalah sama abang tidak perlu khawatir jangan takut tidak akan terjadi sesuatu sama anak kita.”
“Abang enak jarang di rumah tapi Wati yang lihat Fahmi nangisnya sakal banget kan takut bang.”
“Shalat 5 waktu terus ngaji udah cukup gak perlu parnoan gitu sayang ntar itu setan juga hilang sendiri kalau memang ada.”
“Itu ari-ari abang simpan dimana? pak ustadz nanti mau datang buat ngubur itu barang.”
“Udah abang simpan di tempat yang aman.”
__ADS_1
Romi berlalu masuk ke dalam rumah, sedangkan Wati masih mengomel-omel kecil di teras. Wati hanya tahu mencemaskan anaknya tapi suaminya itu tidak percaya dengan adanya makhluk yang sedang mengancam anak mereka dan itu membuat Wati kesal pada Romi sekaligus takut kehilangan Fahmi.
“Nak, mukamu kok pucat?”
“Kamu demam ya? Kita masuk aja ya nak mataharinya juga udah mulai naik.”
Wati pun memutuskan untuk masuk karna merasa anaknya sedang demam. Begitu baru selangkah meninggalkan teras tiba-tiba terdengar suara orang memanggil namanya. Wati langsung berbalik badan melihat ke arah jalan ternyata Santi yang datang.
“Ayo San masuk ke dalam, duduk-duduk dulu biar aku buatin air minum.”
sembari mengajak Santi masuk tetapi wanita itu hanya diam saja sambil ikut berjalan masuk. Kala itu Wati langsung merasa aneh, aura panas mulai terasa bertiup di tengkuknya yang membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
“Kamu lihat apa San?” Wati mencoba bertanya setelah mencurigai Santi yang aneh ketika menatap ke arah kamarnya.
“Tidak ada. Maaf ya aku baru jenguk kamu soalnya aku baru tahu kalau kamu habis lahiran.” kata Santi seolah mengalihkan pembicaraan.
“Gak pa-pa kok San biasa aja.”
“Udah berapa lama kamu melahirkan, Wat?”
“Sepuluh hari. Oh ya emang selama ini kamu kemana, San?”
“Aku pulang ke kampung ibuku setelah pisah dengan suamiku.”
“Udah lama ya San?”
“Baru dua bulan yang lalu.”
“Maaf ya San aku gak tahu soalnya selama hamil aku di rumah aja gak keluar-keluar jadi gak tahu kalau kamu udah pindah.” Santi tersenyum sambil manggut-manggut gusar.
“Aku buatin air teh dulu ya bentar, kamu di sini aja San.”
“Boleh aku gendong anak kamu?”
“Boleh kok, ini.” Wati tak tanggung-tanggung menyerahkan anaknya untuk digendong oleh Santi tetangga lamanya. Saat berpindah tangan si anak langsung menjerit menangis seolah anak itu tahu ada mata jahat yang sedang mengawasinya.
“Anakku demam jadi agak rewel.” tutur Wati.
“Tidak pa-pa nanti juga diam dengan sendirinya, mungkin karna dia belum pernah melihatku.”
Santi memang penyayang sama anak kecil jadi Wati tidak heran kalau anaknya cepat berhenti nangis setelah ditimang-timang oleh Santi.
“Wat, anakmu habis diganggu makhluk halus ya?” tanya Santi tiba-tiba sehingga Wati menahan diri untuk membuatkan minuman.
“Kok kamu tahu?”
“Aku mencium bau amis keluar dari tubuh anakmu, ini amis darah.”
“Apa suamimu tidak mengubur ari-ari anakmu?”
“I-iya benar.” jawab Wati ragu-ragu, sontak sorot mata Santi langsung berubah sangat menakutkan.
Bersambung_
__ADS_1
Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!