LARA SEBATANG KARA

LARA SEBATANG KARA
Hujan


__ADS_3

Di kampungku, terdapat sebuah pantangan keramat yang tak boleh dilanggar, yaitu larangan untuk berkeliaran di luar saat hujan turun. Pantangan itu sudah ada sejak zaman dahulu dan asal usulnya pun tak diketahui. Begitu hujan mulai turun, semua orang di kampung akan menghentikan aktivitasnya, menciptakan suasana hening seperti desa mati.


“Hantu kukusan itu akan muncul dan membuntutimu dari belakang, setelah keadaan aman dia akan menyeretmu dan mengajakmu ke sarang mereka. Dikasih makan cacing, ulat dan makanan menjijikkan lainnya, sampai lama-kelamaan kamu akan menjadi seperti mereka” Cerita nenek saat aku masih kecil.


“Makhluk itu seperti apa nek? ” Tanyaku penasaran.


“Susah untuk digambarkan, yang jelas makhluk itu seram dan berbau sangat busuk. ” jawab nenek penuh keyakinan.


Oleh sebab itu, di musim penghujan seperti sekarang ini, warga desa lebih banyak melakukan kegiatan di dalam rumah. Membuat tikar, menyulam, menenun, membuat perkakas dan kerajinan lainnya untuk dipakai sehari-hari atau dijual ke pasar. Jarang sekali ada yang beraktivitas di kebun atau ladang.


Selain itu, warga desa biasanya juga mendendangkan sebuah lagu keramat saat turun hujan.


“Ding kediding ngambik humbut….


Singgah ke talang nebang pisang…

__ADS_1


Jangan disedih ayam luputt….


Tambangan kaba nian….”


Menurut cerita yang dituturkan orang-orang terdahulu, lagu itu dipercaya bisa mengusir Hantu Kukusan agar pergi jauh dari tempat mereka.


Makanya selain mendengar suara gemericik hujan yang menenangkan, kalau kalian main ke kampungku, kalian juga akan mendengar senandung saat hujan bersahut-sahutan.


Di musim penghujan ini, warga juga tidak ada yang berani membuat acara apapun, entah itu sekedar acara makan-makan, apalagi acara syukuran atau hajatan pernikahan. Khawatir hujan tiba-tiba turun saat acara sedang berlangsung. Biasanya, kami harus bersabar menunggu dua atau tiga bulan sampai musim penghujan benar-benar berakhir.


Malam itu, secara mengejutkan. Sari, kakak perempuan tertuaku, tiba-tiba datang menghadap Ayah dan bilang kalau dia ingin menikah minggu depan. Hal ini tentu saja membuat kami sekeluarga kaget, malam dingin yang menusuk tulang itu seketika berubah menjadi panas, mendidih.


Seharusnya ini menjadi kabar bahagia. Kami sekeluarga sebenarnya sudah lama ingin mendengar kabar ini. Wo Sari, begitu caraku memanggil kakak perempuan tertuaku itu, sudah berumur 31 tahun tapi tak kunjung mendapatkan jodohnya. Dia bahkan sudah dilangkahi dua kakakku yg lain. Beberapa tahun yang lalu, Ibu sudah sempat membawanya ke dukun untuk berobat, takut ada yang mengguna-guna kakakku sampai dia sulit dapat jodoh. Tapi sayangnya semua usaha itu tidak membuahkan hasil.


“Kenapa harus buru-buru, ” Tanya Ayah. “Apa tidak bisa menunggu dua atau tiga bulan lagi, sampai musim penghujan selesai”.

__ADS_1


Wo Sari hanya tertunduk. Sejurus kemudian keluarlah bulir-bulir air mata itu, air mata yang membuat Aku, Ayah, Nenek dan juga Ibu jadi yakin kalau ada sesuatu yang besar yang dipendam Wo Sari.


Ibu langsung inisiatif menghampiri Wo Sari seraya mengelus-elus punggungnya.


“Apakah sudah dibicarakan dengan calonnya Wo, kan di Padang Lahu ini pantangan melangsungkan pernikahan di musim penghujan ” tanya Ibu lembut.


“Lagipula kita belum kenalan dengan calonnya, ini bukan tentang bagaimana kita memandang calon dan keluarga calon Wodang. Kita semua percaya dengan pilihan Wo. Tapi, alangkah baiknya kalau calonnya diajak ke rumah kita dulu untuk sekedar silaturahmi, sebagaimana adat di kampung kita. ” Timpal nenek dengan nada yang tak kalah lembut.


Tapi, lagi-lagi Wo Sari hanya menjawab dengan isak tangisnya yang terdengar amat dalam sekali. Hal ini tentu saja membuat Ayah yang tadinya cuma terdiam mematung setelah pertanyaannya tidak dijawab Wo Sari, seketika langsung berubah jadi emosi.


“Kamu kenapa Sari ? tolong jawab pertanyaan Ayah ! “ Bentak Ayah dengan suara bergetar.


Tangis Wo Sari langsung pecah sejadi-jadinya saat itu, dengan suara terisak dia membuat sebuah pengakuan yang membuat kami kaget sekaget-kagetnya.


“Maafkan Wo Ayah, Wo tahu ini salah. Wo sudah mengandung 3 bulan, kalau tidak segera dilangsungkan pernikahan itu, Wo takut perut Wo akan semakin membesar dan semua orang di kampung tahu soal kehamilan Wo. ”

__ADS_1


__ADS_2