LARA SEBATANG KARA

LARA SEBATANG KARA
Datuk Sulaiman


__ADS_3

Datuk Sulaiman hidup sebatang kara di rumah sederhananya yang ada di pojok kampung. Setelah istrinya meninggal 30 tahun lalu, ia tetap setia dan memutuskan untuk tidak menikah lagi meskipun tak memiliki keturunan.


Setiap harinya, selain menggeluti praktek pengobatan sederhana, Datuk Sulaiman juga membuat gula dari nira enau yang kemudian ia titipkan ke warung-warung di Padang Lahu.


Beliau biasanya libur membuat gula enau tiap hari jum’at. Hari itu dia menghabiskan waktu dengan datang ke kuburan mendiang istrinya. Membersihkan kuburan, dan tak jarang pula menaburkan bunga dan wewangian.


Batu ajaib yang dapat menghisap bisa ular yang tadi dipakai untuk mengobati Lara, menurut cerita orang-orang beliau dapatkan dari mimpi didatangi leluhurnya yang menyuruh menggali tanah di belakang rumahnya. Ketika digali, benar saja ada sebuah batu yang terkubur disana.


Entah ada kandungan atau khodam apa yang ada di dalam batu itu, yang jelas batu itu benar-benar bisa menghisap racun dari binatang buas, terutama ular.


Batu ajaib itu sudah terkenal dan melegenda kemana-mana. Banyak orang yang berdatangan, tak hanya dari Padang Lahu tapi juga luar kampung sampai luar daerah.


Selain melakukan dua kegiaatan itu, tak banyak yang tau apa yang Datuk Sulaiman lakukan sehari-hari. Orangnya cenderung tertutup dan jarang berinteraksi dengan sengan warga desa.

__ADS_1


Oleh karena sifatnya yang cenderung tertutup dan misterius itu, membuatnya sering menjadi perbincangan tetangga, lebih-lebih ada banyak barang antik dan kuno terpajang di rumahnya. Beberapa warga bahkan sering berguncing dan menuding kalau ia berpindah agama ke aliran sesat karena sudah jarang terlihat beribadah di masjid desa.


Namun, misteriusnya Datuk Sulaiman tak sebanding dengan kemistriusan perempuan yang baru saja mengenalkan dirinya dengan nama Lara ini.


Tak banyak yang ia ceritakan tentang dirinya setelah menyebutkan namanya tadi. Dia cuma cerita kalau selama ini dia tinggal di hutan Senibung seorang diri.


Dia hanya turun ke desa sebulan sekali untuk membeli kebutuhan dan menjual hasil hutan yang telah dia kumpulkan, terutama pinang dan sayuran-sayuran yang dia tanam.


Namun aku berusaha untuk tidak mempermasalahkannya. Bagiku, yang terpenting saat ini adalah membantu dan membuatnya merasa aman. Aku percaya bahwa kalau kita terlalu banyak tahu maka akan banyak pula rasa kecewa dan masalah baru yang akan kita dapatkan.


Beberapa saat kemudian, hujan yang turun sejak tadi akhirnya berhenti, meninggalkan kesan kesegaran di udara malam yang hening.


Namun, keheningan itu tiba-tiba berubah saat Datuk Sulaiman kembali bertanya serius padaku,

__ADS_1


"Sebenarnya, apa tujuan Nak Usman keluar malam-malam begini? Bukankah berbahaya berkeliaran saat hujan?"


Pertanyaan itu seketika membuatku teringat kembali tujuan awalku untuk mencari Wo Sari. Aku panik, tapi mencoba tetap tenang agar Datuk Sulaiman ataupun Lara tidak curiga. Sampai saat ini aku masih enggan membagikan masalah yang sedang keluargaku hadapi pada siapapun.


"Datuk, mohon maaf sebelumnya, tapi sepertinya ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Aku harus pulang sekarang juga. Kalau boleh tolong ijinkan Lara beristirahat disini sementara, sampai keadaanya aman dan kondisinya benar-benar pulih. Aku janji akan kembali secepatnya"


Datuk Sulaiman menatapku dengan tatapan bingung, seolah-olah bisa membaca kegelisahan dalam diriku. Tapi dengan bijaksana dia tidak bertanya lebih lanjut dan langsung mempersilahkanku pulang.


Begitupun Lara, saat melepasku pulang, dia hanya mengucapkan ucapan terimakasih sekali lagi karena sudah menolongnya dan membawanya ke rumah Datuk Sulaiman.


Dalam perjalanan pulang, ingatan tentang momen-momen indah bersama Wo Sari terus datang menghantui. Bagaimana dia selalu melindungiku dan menjadi penyelamatku saat dibutuhkan. Aku punya dua kakak yang lain, Ingah Ani dan Dang Ijal. Tapi rasanya cuma Wo Sari yang paling mengerti perasaanku. Aku sangat menyayangi dia walaupun dia bukanlah kakak kandungku.


Dimana dia sekarang ? Apa dia baik-baik saja di luar sana atau dia sudah bertemu Hantu Kukusan ?

__ADS_1


__ADS_2