LARA SEBATANG KARA

LARA SEBATANG KARA
Wo Sari


__ADS_3

Dulu sekali, ada seorang anak kecil tinggal bersama ibunya di tengah hutan yang jauh dari peradaban, sekitar 10 km dari Padang Lahu. Mereka mengasingkan diri karena sudah tidak punya tempat tinggal, setelah ayahnya hanyut dan hilang di tengah laut ketika mencari ikan.


Awalnya semua baik-baik saja, mereka bertahan hidup dengan bercocok tanam dan memanfaatkan apa saja yang ada di hutan itu.


Tapi sayangnya musim kemarau kemudian melanda daerah itu. Tak ada apapun yang bisa ditanam untuk dijadikan bahan makanan. Mereka bertahan hanya dengan memanfaatkan umbi gadung yang bahkan sudah mulai langka saat itu.


Dua bulan berlalu. Karena musim kemarau tak kunjung berakhir, umbi gadung jadi semakin susah didapatkan. Karena rasa sayang pada anaknya, si ibu rela menahan rasa laparnya dan hanya makan dedaunan selama beberapa hari demi memastikan anaknya tetap hidup.


Sampai suatu hari, seperti sebuah keajaiban, tiba-tiba hujan turun membasahi hutan tempat mereka tinggal itu. Si anak sangat bahagia, dia langsung berlari menghampiri ibunya yang saat itu tengah terbaring di dalam anjung tempat tinggal mereka.


Si anak menyuruh ibunya bangun untuk melihat hujan yang selama ini sudah mereka tunggu-tunggu, tapi sayangnya ibunya tak kunjung bangun, bahkan saat tetes air hujan merembes membasahi gubuk mereka.


Anak itu sedih, seharian dia hanya menangis di sebelah ibunya yang masih terbaring di tengah hujan yang terus mengguyur tempat itu. Hanya satu harapannya saat itu, berharap ibunya bisa bangun kembali. Sampai ia tak sadar kalau tubuhnya perlahan mulai melemah.

__ADS_1


Anak itu adalah Wo Sari. Ayahku menemukannya dalam keadaan pingsan keesokan harinya saat sedang mencari rotan di hutan.


Singkatnya, dengan bantuan warga desa yang dekat dengan hutan itu, si Ibu akhirnya dikebumikan dengan wajar dan Wo Sari kemudian diangkat oleh ayahku menjadi anak pertamanya. Entah jodoh atau cuma kebetulan, memang saat itu ayah dan ibuku belum mendapatkan keturunan sejak 5 tahun menikah.


Walaupun bukan kakak kandungku tapi aku sangat menyayangi Wo Sari bahkan melebihi rasa sayangku pada kakak-kakakku yang lain. Dialah orang yang paling mengerti aku, disaat aku terpuruk dan hancur saat melihat teman-temanku melanjutkan kuliah dan permintaanku untuk melanjutkan pendidikan ditolak oleh Ayah, dialah yang menguatkan dan membesarkan hatiku. Dia jugalah yang memberikanku ide untuk menjadi penjual baju keliling yang hasilnya bisa aku tabung untuk biaya kuliahku kelak.


Kini, semua orang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tidak pernah terpikirkan oleh kami kalau Wo Sari akan melakukan hal sekeji itu.


“Siapa laki-laki itu” tanya Ayah dengan suara tersengal. Ada nada penyesalan bercampur kekecewaan yang mendalam dari pertanyaan singkat itu.


“Tega kamu wo. Puluhan tahun ayah membesarkanmu, apa selama ini kasih sayang yang ayah berikan kurang ? atau didikan ayah selama ini salah ? ” tanya Ayah yang kemudian diikuti dengan tangisannya yang pecah.


Seolah tak kuasa mendengar tangisan itu, Wo Sari langsung memeluk Ayah dan kembali meminta maaf. Tapi secara mengejutkan, Ayah langsung mendorong tubuh Wo Sari sampai terjerembab ke lantai.

__ADS_1


BRUKKK !!


Kami semua shock.


Ibu langsung berusaha mau membantu Wo Sari, tapi sebelum itu terjadi Ayah sudah terlebih dahulu berteriak melarang.


Ibu mencoba menenangkan Ayah, tapi yang terjadi Ayah malah menyeret Wo Sari keluar rumah.


“Keluar kamu ! jangan pernah pernah kembali ke rumah ini kalau tidak membawa laki-laki bajingan itu. “


Kami semua panik. Ibu berusaha menahan dan mengingatkan Ayah sekali lagi, terlebih malam itu hujan masih mengguyur sangat deras. Tapi Ayah yang sudah teramat kecewa malah menutup pintu dengan keras dan meminta tidak ada seorangpun yang keluar dari rumah.


Suasana rumah seketika menjadi hening.

__ADS_1


Dari celah jendela, kulihat Wo Sari pelan-pelan melangkahkan kakinya menembus hujan dan kegelapan malam. Aku menangis dan berusaha meminta Ayah memaafkan Wo Sari, tapi lagi-lagi Ayah tak menghiraukannya.


Aku tak bisa berkata-kata lagi, hanya satu harapanku malam itu. Semoga Wo Sari tidak bertemu Hantu Kukusan.


__ADS_2