LARA SEBATANG KARA

LARA SEBATANG KARA
Hutan Jati


__ADS_3

Hutan jati tempat aku berdiri sekarang adalah hutan jati yang sudah lama tidak diurus pemiliknya. Walau cukup dekat dengan rumah-rumah warga, hutan jati ini penuh dengan semak-belukar yang rimbun. Tidak menutup kemungkinan juga ada berbagai macam hewan-hewan buas di dalam sini.


Aku dan mungkin bahkan beberapa warga desa Padang Lahu tidak tahu siapa pemilik hutan jati ini. Hutan ini sudah ada sejak aku lahir, ditinggalkan begitu saja sejak ditanam sekitar 20 tahun yang lalu.


Kalau saja aku tidak mendengar suara nafas tersengal-sengal itu, aku tidak akan mungkin masuk ke dalam hutan yang menakutkan ini. Jangankan malam, siang sekalipun belum tentu aku berani.


Sekarang aku benar-benar terjebak disini, ditengah hujan yang mengguyur sangat lebat. Aku harus memutuskan dengan cepat apakah harus melanjutkan pencarian Wo Sari atau buru-buru pulang sebelum hantu kukusan itu muncul.


Kalau aku pulang, aku sudah terlanjur masuk ke dalam hutan cukup jauh. Kalau Hantu Kukusan itu benar-benar ada, sudah pasti dia akan muncul karena aku sudah benar-benar basah kuyup disiram hujan.


Aku mencoba berpikir positive, dari pada pulang dengan tangan kosong lebih baik aku melanjutkan pencarian Wo Sari, aku tidak mau dia kenapa-napa.


Aku terus berteriak memanggil namanya, tetapi anehnya, suara nafas tersengal-sengal yang sebelumnya terdengar dekat, seperti hilang begitu saja.


Pikiranku jadi kacau, apa Wo Sari sudah pingsan karena sudah tidak kuat, atau…. jangan-jangan dia sudah bertemu dengan Hantu Kukusan itu.


Kepanikan langsung menyelimutiku, bersamaan dengan itu, tiba-tiba tercium bau amis yang sangat pekat. Aku kaget, bau apa ini sebenarnya? Apa benar ini hanya bau tanah yang tersiram air hujan? Tapi aku belum pernah mencium bau hujan seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


Bulu kudukku merinding, dan rasa takut akan kemunculan Hantu Kukusan semakin menguat. Mumpung dia belum muncul, aku harus buru-buru mencari tempat berlindung. Nenek bilang satu-satunya cara untuk terhindar dari hantu kukusan adalah dengan menghindari rintik hujan agar tidak terkena tubuh.


Aku teringat masa kecilku saat dipaksa temanku untuk masuk ke hutan ini. Di hutan ini ada sebuah anjung kecil yang sudah reot dan renta. Mungkin saja anjung itu masih ada, aku harus segera menemukannya sebelum hantu kukusan itu muncul.


Aku langsung berlari sekuat tenaga mencari anjung kecil itu. Bau amis semakin pekat, dan hujan semakin deras. Ketegangan dan ketakutan membuat adrenalin dalam diriku meningkat. Aku yakin ada yang membuntutiku dari belakang, dan aku yakin sekali itu adalah hantu kukusan. Entah di mana dia bersembunyi, tetapi aku tahu bahwa dia bisa saja muncul setiap saat.


Untunglah tak lama aku berhasil menemukan anjung kecil di sebuah sudut. Anjung itu sudah ditumbuhi semak belukar dan rusak dimana-mana.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk ke dalam anjung yang gelap. Aku mencoba menutup pintu anjung yang sudah goyah dengan sesuatu agar tidak mudah terbuka oleh angin kencang yang berhembus.


Dalam kegelapan, aku meraba-raba mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk melindungi diri. Tidak ada apa pun selain beberapa papan yang sudah lapuk dan tidak berguna. Aku merasa putus asa, tapi aku harus mencari cara untuk tetap selamat.


Dalam perjalanan mencari benda yang mungkin berguna, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh pundakku. Aku menoleh dan menyadari bahwa itu hanyalah cabang pohon yang masuk dari lubang atap anjung yang rusak. Namun, setiap sentuhan seolah-olah membuat bulu kudukku merinding.


Perasaan terganggu semakin kuat, dan aku memutuskan untuk mencoba mengusirnya. Dengan papan yang kumiliki, aku mencoba mengusir cabang pohon itu. Tapi sayangnya, usahaku tidak berhasil, dan cabang itu tetap menggelayut di atap anjung. Karena kesal dan panik aku tanpa sadar malah menghantam atap anjung itu dengan papan kayu yang ada di tanganku.


BRAKKK !

__ADS_1


Seketika bagian atap anjung itu roboh dan air hujan pelan-pelan masuk ke dalam anjung itu.


Suasana anjung langsung berubah. Aku merasa ada kehadiran misterius di sekelilingku. Aku berusaha mengendalikan ketakutan, tapi sepertinya perasaan ini tidak bisa kuat dihadapi. Aku yakin bahwa Hantu Kukusan sudah ada di dekatku.


Aku berbisik pelan, "Tolong pergilah, aku tidak ingin berurusan denganmu."


Suara angin kencang semakin memperkuat ketakutanku. Aku merasa seperti ada yang menatapku, meskipun aku tidak bisa melihat sosok apa pun. Tubuhku menggigil, dan keringat dingin mengalir di dahi.


Aku berusaha untuk tetap tenang, meyakinkan diri sendiri bahwa itu hanyalah imajinasi dan cerita tahayul saja. Tetapi setiap detik yang berlalu semakin membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres di anjung ini. Keringat dingin membasahi tubuhku, dan perasaan takut semakin menyatu dengan jiwa.


Tiba-tiba, suara gemuruh petir menggelegar di langit, menyamarkan suara langkah kaki di luar anjung. Aku hampir berteriak ketakutan, tapi aku menggigit bibirku untuk menahan suara. Rasanya seolah-olah waktu berhenti, dan aku hanya bisa mendengarkan detak jantung yang semakin kencang.


Saat petir menyinari langit, aku bisa melihat sesuatu di luar anjung. Suatu bayangan besar yang bergerak perlahan-lahan mendekat.


Tubuhnya seperti kain kusut yang menggantung, dengan wajah yang tak terlihat jelas karena tersembunyi di balik jumbai kusut. Tangan panjangnya menyentuh setiap daun dan ranting di sekitarnya, meninggalkan jejak yang menggelikan.


Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Setiap gerakan terasa lambat dan terhambat. Aku ingin berlari, tetapi tubuhku tidak bisa bergerak. Aku ingin berteriak, tetapi suaraku tercekik di tenggorokanku.

__ADS_1


__ADS_2