LARA SEBATANG KARA

LARA SEBATANG KARA
Lara


__ADS_3

Tepat diujung mataku, terlihat seorang perempuan muda tengah bersembunyi di balik rerimbunan semak belukar. Sosoknya tidak begitu jelas terlihat karena gelapnya malam dan juga hujan yang terus mengguyur. Satu hal yang pasti, sepertinya perempuan itu bukan Wo Sari.


Tubuhku menegang. Takut, cemas dan penasaran berpadu menjadi satu. Awalnya aku berniat untuk mengacuhkan perempuan itu karena rasa takut yang begitu besar. Tapi saat aku mau berbalik, terlihat tangannya yang lemah melambai ke arahku. Aku benar-benar kalut dan seketika jadi tidak tega melihat itu.


Dengan penuh keberenaian akhirnya kuputuskan untuk mendekati sosok itu.


Begitu dekat, aku akhirnya bisa melihat dengan jelas perempuan itu. Keadaannya sangat menggenaskan dengan luka dan lebam di sekujur tubuhnya.


Tatapannya yang lemah dan penuh ketakutan membuat hatiku merasa hancur. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja di tengah hutan yang gelap dan mencekam ini. Hatiku bergetar, tidak tahu apa yang sebenarnya sedang aku hadapi. Tapi rasa kemanusiaanku yang tulus lebih kuat dari ketakutanku.


Dia menatapku dengan mata lemah yang penuh harap. Sosoknya tampak rapuh dan terluka. Rasa simpati memenuhi hatiku, dan aku bertekad untuk membantunya, meskipun aku tidak tahu siapa dia sebenarnya.


"Siapa namamu? Apa yang terjadi padamu?" tanyaku, berusaha mencari tahu lebih banyak tentang dirinya.


Dia masih terdiam, tampak ragu untuk membuka mulutnya. Namun, tatapannya yang memelas membuatku bertahan untuk menunggu. Akhirnya, dia dengan susah payah menyampaikan beberapa kata.


"Luka ini... digigit ular," gumamnya dengan suara serak sambil menunjukkan luka besar di kakinya.


Hatiku bergetar mendengarnya. Dia baru saja mengalami serangan ular yang berbahaya, dan luka di kakinya tampak cukup parah. Aku tidak punya pengetahuan pengobatan yang memadai, tetapi aku tahu dia membutuhkan pertolongan segera.


"Aku akan membantumu. Mari, biarkan aku membawamu ke tempat yang lebih aman," ujarku dengan tekad, berusaha untuk membantunya berdiri.


Namun, begitu aku mencoba mengangkatnya, ternyata tidak semudah yang kuduga. Berat tubuhnya membuatku yang sebenarnya sudah lemah jadi nyaris jatuh. Namun, aku tidak menyerah begitu saja. Aku terus mencoba, mengangkatnya perlahan, sementara dia menahan rasa sakit dengan wajah kesakitan.


Di tengah usahaku untuk membantunya, tiba-tiba suasana berubah drastis. Angin semakin kencang, dan hutan yang sudah gelap menjadi lebih menyeramkan. Dari bayangan pohon, sekelebat muncul sosok yang menakutkan – Hantu Kukusan!

__ADS_1


Tubuhku kaku, dan jantungku berdegup makin kencang. Aku terlalu takut untuk bergerak, dan rasa takut itu menguasai diriku. Namun, aku tidak akan membiarkan hantu itu menyakiti perempuan itu. Meskipun ketakutanku meluap, aku harus tetap berdiri tegar.


Namun, apa yang terjadi kemudian membuatku semakin tercengang. Perempuan itu, dengan tenang dan penuh misteri, mulai mengusir Hantu Kukusan dengan bahasa yang aneh. Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan, tapi hantu itu seolah-olah tak bisa mendekatinya.


Mataku membulat, takjub melihat adegan yang menegangkan di depan mataku. Dalam sekejap, hantu itu seolah-olah terpukul mundur oleh kekuatan gaib yang tidak terlihat.


Dalam keadaan yang masih terkejut, aku mendekatinya lagi. "Siapa... siapa kamu sebenarnya?" tanyaku dengan gemetar, mencoba mencari tahu tentang perempuan misterius ini.


Namun, dia hanya tersenyum misterius, tak menjawab pertanyaanku. Senyumnya terasa penuh teka-teki, membuat hatiku semakin penasaran dan sedikit takut-takut. Siapa sebenarnya perempuan ini? Dan apa hubungannya dengan Hantu Kukusan?


Aku memutuskan untuk fokus pada membawanya keluar dari hutan ini. Dengan hati yang berdebar kencang, aku menggandengnya dan bersama-sama, kami melanjutkan perjalanan dalam hutan yang misterius, yang masih diselimuti oleh hujan deras yang tak berkesudahan.


Dalam perjalanan kami, hujan masih terus mengguyur dengan derasnya, menciptakan suasana semakin mencekam dan gelap. Perempuan misterius itu tetap tidak banyak bicara, tapi aku bisa merasakan bahwa dia begitu terima kasih dengan bantuanku. Tatapannya penuh dengan rasa syukur.


Kami berdua berjalan terus melintasi hutan yang semakin lebat dan misterius. Kekuatan dan keteguhan perempuan itu membuatku terkesan. Aku kembali mempertanyakan siapa dia sebenarnya, bagaimana dia bisa mengusir hantu, dan mengapa dia berada di tengah hutan seperti ini.


Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, akhirnya kami sampai di pinggiran desa. Namun, perempuan itu tampak semakin lemah, dan akhirnya dia pingsan di pelukanku. Hatiku berdebar kencang, takut dia akan semakin terluka.


Aku merasa putus asa. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, dan tidak ada rumah yang tampak terbuka di sekitar sini. Mencoba untuk tidak panik, aku mengingat kata-kata tentang Datuk Sulaiman dan batu ajaibnya yang bisa menghilangkan bisa ular.


Akhirnya, aku mengambil keputusan membawa perempuan itu ke rumah Datuk Sulaiman secepatnya. Dengan langkah cepat dan penuh perjuangan, aku menggendong perempuan itu lagi dan berlari menuju rumah Datuk Sulaiman yang tidak jauh dari sana.


Saat aku tiba di depan rumah Datuk Sulaiman. Aku mengetuk pintu dengan keras, berharap dia akan segera keluar. Namun, tidak ada jawaban. Aku mulai panik, tak tahu apa yang harus kulakukan.


Tiba-tiba, pintu rumah itu terbuka dengan perlahan. Dan di depan mataku, berdirilah seorang pria yang tampak tua dan bijaksana. Itulah Datuk Sulaiman.

__ADS_1


Dia terkejut melihat kami, basah kuyup di tengah hujan malam. Aku segera menjelaskan situasi perempuan itu, bagaimana dia mengalami gigitan ular dan bagaimana dia mengusir Hantu Kukusan. Datuk Sulaiman tampak tertarik dengan kisah itu.


"Datanglah masuk ke dalam," kata Datuk Sulaiman dengan suara lembut.


Kami masuk ke dalam rumahnya yang penuh dengan barang-barang mistis dan buku-buku tua. Perempuan itu dibaringkan duduk di tempat tidur, sementara Datuk Sulaiman merawat luka di kakinya dengan cermat.


"Aku membawa perempuan ini karena luka gigitan ularnya sangat parah. Bisakah datuk membantunya dengan batu ajaib yang Anda miliki?" tanyaku dengan harap.


Datuk Sulaiman mengangguk dan mengambil batu itu dari salah satu laci meja. Dia menempelkan batu itu ke luka di kaki perempuan itu dengan lembut. Aku melihat dengan takjub bagaimana batu itu secara ajaib menempel pada kulitnya dan perlahan-lahan menghisap bisa ular.


Tak lama, perempuan itu akhirnya sadar. Aku merasa lega melihatnya dalam keadaan yang lebih baik. Datuk Sulaiman menjelaskan bahwa proses ini membutuhkan waktu, dan kami harus menunggu sampai batu itu benar-benar menghisap semua bisa ular.


Sementara menunggu, Datuk Sulaiman mulai bertanya tentang perempuan itu dan bagaimana dia bisa memiliki kekuatan untuk mengusir Hantu Kukusan.


Perempuan itu tetap misterius dan tidak mau banyak bicara tentang dirinya. Namun, dia memberikan sedikit petunjuk bahwa dia memiliki ikatan khusus dengan dunia gaib. Aku semakin penasaran tentang dirinya, tetapi aku merasa perlu memberinya ruang untuk membuka diri jika dia mau.


Waktu berlalu, dan akhirnya batu itu benar-benar menghisap semua bisa ular di kaki perempuan itu. Dia tampak merasa lega dan berterima kasih pada Datuk Sulaiman.


"Aku tidak tahu bagaimana cara membalas budi Anda," katanya dengan suara lembut.


"Jangan khawatir, kita semua di dunia ini saling membantu," jawab Datuk Sulaiman dengan bijaksana.


Dia kemudian menoleh padaku dan memberi senyuman penuh makna. "Kamu telah berbuat baik, dan aku yakin akan ada balasan baik untukmu suatu hari nanti."


Senyum itu membuatku merasa hangat. Aku merasa bahwa apa yang kulakukan adalah hal yang benar, dan aku bahagia bisa membantu perempuan misterius ini.

__ADS_1


Akupun mulai berani bertanya nama perempuan itu. Perempuan itu menjawab singkat,


“Namaku Lara”


__ADS_2