
Saat bayangan besar Hantu Kukusan semakin mendekat, tubuhku tegang dan jantung berdegup kencang. Atap anjung yang bobrok membuat hujan semakin merembes masuk ke dalam, tetesan demi tetesan air jatuh ke lantai yang reot. Aku menyadari bahwa harus menghindari tetesan air itu agar Hantu Kukusan tidak berani mendekat.
Dengan cepat, aku berusaha berpindah dari satu sudut anjung ke sudut lainnya yang lebih kering, berusaha untuk tidak terkena tetesan air hujan yang masuk dari atap yang rusak. Sementara itu, suara langkah kaki Hantu Kukusan semakin mendekat, dan detak jantungku semakin cepat.
Aku melihat semak belukar tumbuh subur di salah satu sudut anjung, dan mendapatkan ide untuk bersembunyi di baliknya. Dengan gerakan lambat dan hati-hati, aku merangkak menuju semak belukar itu. Aku berusaha menghindari tetesan air hujan yang membasahi sekitar semak belukar di dalam anjung.
Di balik semak belukar yang rimbun, aku merasa sedikit lebih aman. Namun, tetap saja, ketakutan memenuhi diriku. Matanya yang merah terus mengintai dan mencari keberadaanku. Aku berusaha untuk menahan nafas, berusaha untuk tidak bergerak atau membuat suara apapun.
Langkah-langkah Hantu Kukusan semakin mendekat dan tubuhnya yang mengerikan tampak jelas dari balik semak belukar. Aku berusaha untuk tetap berpikir rasional, berusaha mencari cara untuk meloloskan diri dari bahaya yang mengancam.
Saat hujan semakin reda, aku mendapatkan ide. Aku harus mencari cara untuk keluar dari anjung ini tanpa terkena air hujan lagi. Maka, aku mulai merencanakan langkahku dengan hati-hati.
Aku memperhatikan pola tetesan air hujan yang merembes masuk ke dalam anjung. Aku harus mencari cara agar tetesan air itu tidak mengenai tubuhku. Dengan perlahan, aku berusaha mengarahkan tubuhku ke bagian yang lebih kering di balik semak belukar. Aku harus menghindari genangan air yang sudah terbentuk di sana.
Dalam posisi bersembunyi, aku terus memperhatikan langkah-langkah perlahan Hantu Kukusan yang semakin mendekat. Waktu terasa berjalan sangat lambat, dan setiap detik terasa seperti abadi. Aku harus bertahan dan menunggu momen yang tepat.
Tiba-tiba, langkah kaki Hantu Kukusan berhenti tepat di depan semak belukar tempat aku bersembunyi. Aku menahan nafas, berusaha untuk tidak bergerak atau membuat suara apapun. Jantungku berdegup begitu kencang, takut Hantu Kukusan bisa saja melihatku meski aku bersembunyi dengan rapat.
__ADS_1
Beberapa detik berlalu, namun Hantu Kukusan tak menampakkan tanda-tanda mengetahui keberadaanku. Dia terus berdiri di depan semak belukar, seolah-olah mencari-cari sesuatu. Entah apa yang sedang dicari oleh makhluk itu, tapi aku bersyukur karena berhasil menghindarinya untuk sementara waktu.
Aku mengambil nafas dalam-dalam, berusaha untuk tetap tenang. Bersembunyi di balik semak belukar ini adalah pilihan yang tepat. Hantu Kukusan tampak ragu dan bingung, tetapi aku harus tetap waspada.
Ketika hujan semakin reda dan tetesan air semakin berkurang, aku merasa kesempatan untuk melarikan diri semakin dekat. Namun, aku harus menunggu momen yang tepat. Aku harus mencari celah yang aman untuk keluar dari anjung ini tanpa terkena tetesan air yang masuk melalui atap yang rusak.
Setelah beberapa saat, Hantu Kukusan akhirnya bergerak menjauh dari semak belukar. Dengan perlahan-lahan, dia melangkah menjauh, meninggalkanku di balik semak belukar yang mengharapkan kesempatan untuk kabur.
Aku menunggu beberapa saat lagi, memastikan bahwa dia benar-benar pergi.
Dalam keadaan waspada, aku bergerak perlahan dan berusaha mencari jalan keluar dari anjung yang sudah renta itu. Tubuhku masih gemetar, tapi tekad untuk keluar dari tempat ini semakin menguat.
Aku meraba-raba di sepanjang dinding anjung yang gelap, berusaha mencari pintu keluar. Tapi anjung ini begitu tua dan reot, sulit untuk menemukan jalan keluar yang tidak tertutup oleh puing-puing atap yang roboh. Aku merasa seperti terperangkap di dalam labirin gelap yang mencekam.
Untunglah aku segera melihat cahaya samar di ujung lorong anjung. Itu adalah cahaya yang berasal dari luar, menandakan ada jalan keluar di sana. Aku merasa harapan kembali membara.
Namun, ketika aku hampir mencapai sudut yang relatif aman, tiba-tiba saja langkah kaki Hantu Kukusan muncul terdengar mendekat kearahku lagi. Aku tahu bahwa aku harus berpikir cepat.
__ADS_1
Dalam kepanikan, aku berusaha untuk meloloskan diri dari sana. Dengan gesit, aku berlari secepat mungkin menuju pintu belakang anjung yang roboh. Tetesan air hujan semakin deras, dan langkah menakutkan Hantu Kukusan terdengar semakin mendekatiku.
Tubuhku terbawa adrenalin, dan aku tidak merasa lagi bahwa aku basah kuyup oleh hujan. Aku hanya fokus pada satu hal: keluar dari anjung ini dan melarikan diri dari Hantu Kukusan.
Dengan napas terengah-engah, aku akhirnya mencapai pintu belakang anjung. Aku merasa seperti dalam arena balapan melawan waktu dan maut. Dengan sekali pukulan, aku mendorong pintu yang berat itu agar terbuka, dan berhasil keluar dari anjung yang menyeramkan itu.
Langit masih kelam dan hujan terus turun dengan derasnya, tapi aku tidak peduli. Aku berlari sekuat tenaga keluar dari hutan jati yang penuh misteri itu. Beberapa kali aku hampir tergelincir di lumpur, tetapi aku terus berlari tanpa henti.
Aku berusaha untuk menelusuri kembali jalur yang telah kulewati untuk mencapai anjung tadi. Tubuhku terasa lelah dan letih, namun ketakutan membuatku terus bergerak. Sesekali, aku melihat bayangan misterius di antara pohon-pohon, tetapi aku tidak berani berhenti untuk memeriksa lebih lanjut. Aku hanya ingin keluar dari hutan jati ini dengan selamat.
Langkahku semakin lama semakin pelan karena tubuhku sudah terasa lemas dan lelah. Bekas luka di kaki yang tergores duri semakin terasa sakit karena bercampur dengan air hujan.
Untunglah akhirnya aku melihat cahaya samar dari kejauhan. Itu adalah cahaya dari rumah penduduk. Aku merasa lega dan berusaha untuk mempercepat langkahku menuju sana.
Tak peduli betapa lelah dan lemasnya tubuhku, aku harus terus berlari menuju rumah penduduk. Aku berusaha untuk menghindari air hujan yang masuk ke dalam mata dan wajahku, tetapi sulit untuk menghindar dari tetesan-tetesan air yang berjatuhan.
Ketika aku sudah hampir keluar dari hutan jati, tiba-tiba terdengar suara nafas tersengal-sengal lagi. Aku kaget dan reflek menoleh ke belakang dengan cepat.
__ADS_1