
Ayahku adalah orang yang pendiam dan paling anti berbasa-basi. Hidupnya lebih banyak dia habiskan dengan menyendiri mengurus kebun kakao di lereng bukit. Pohon kakao yang jadi sumber penghidupan kami selama ini. Ayah bahkan sudah merawat kebun kakao itu sejak dia masih bujangan.
Selain pendiam, Ayahku juga bukan tipe manusia yang cengeng, seumur-umur baru dua kali aku melihat beliau menangis.
Pertama, saat Ibunya atau mendiang Nenekku meninggal dunia. Dia menangis saat berpisah di liang lahat. Awalnya aku pikir Ayah sosok yang tegar, rupanya sejak kematian Ibunya dia berusaha menahan air matanya dan air mata itu sudah tidak bisa dibendung saat melihat Ibunya mulai dikubur dalam tanah.
Air mata itu tentu saja jatuh bukan tanpa alasan, Ayahku adalah anak tunggal yang sudah ditinggal mati Ayahnya sejak dia masih berumur 15 tahun. Tak ada satupun lagi yang tersisa dari keluarganya, cuma dia seorang.
Dan, tangisan kedua itu tercurah malam ini.
Tangisan itu rupanya terus berlanjut. Selesai sholat tahajud kulihat dia berdoa dengan linangan air mata menyertai.
Aku tak bisa mendengar bagaimana bunyi doanya, yang terdengar hanya suara isak tangis yang dalam, barangkali mungkin sedalam sumur di ladang kakao kami.
Aku benar-benar kalut menghadapi situasi ini. Kalau beberapa menit yang lalu aku begitu mengutuk dan menyalahkan Ayah karena sudah mengusir Wo Sari, sekarang entah mengapa emosiku menjadi gamang. Aku tidak bisa menyalahkan Ayah sepenuhnya, air mata langka yang jatuh itu menjadi gambaran bagaimana perasaan Ayah saat ini.
__ADS_1
Ingin rasanya kupeluk Ayah dari belakang, tapi aku takut malah bikin Ayah jadi semakin emosional. Demi tuhan aku tidak ingin melihat Ayah menangis lagi. Tak mengapa kalau seumur hidupku tidak kuliah, asalkan air mata di ujung tahajudnya tadi menjadi air mata terakhirnya.
Di ujung malam, saat malam sudah hujan sudah mulai reda. Tiba-tiba,
BRUMM ! BRUMM !
Terdengar suara motor butut Ayah diengkol.
Kami yang sedang duduk mematung di ruang makan kaget mendengar itu. Aku buru-buru keluar, kulihat Ayah baru saja meninggalkan teras rumah naik motor bututnya. Aku tidak berani bertanya, tapi aku yakin kalau Ayah keluar untuk mencari Wo Sari.
Ibu dan Nenek sebenarnya mau ikut, tapi karena malam sudah semakin larut serta besar kemungkinan hujan akan turun lagi, aku menyarankan agar mereka di rumah saja.
Di luar suasana kampung tampak sepi dan kelam mencekam. Tak ada satupun warga yang aku temui di sepanjang jalan, yang terdengar hanya suara katak bersahut-sahutan dan bau tanah yang makin lama makin pekat, mendekati amis.
Setengah jam keliling kampung, tidak ada tanda-tanda keberedaan Wo Sari. Aku hampir putus asa dan mulai khawatir kalau Wo Sari benar-benar sudah dibawa Hantu Kukusan seperti cerita nenek.
__ADS_1
Sampain kemudian, ketika melewati pinggiran hutan jati, tiba-tiba samar-samar aku mendengar suara nafas yang tersengal-sengal.
“Hhhkkk…. Hhhhkkkk….”
Suara itu benar-benar terdengar sangat menakutkan. Hampir saja aku lari dari sana, untungnya sebelum mengambil langkah seribu, aku teringat kalau Wo Sari punya riwayat penyakit asma kambuhan. Mungkin saja itu Wo Sari, bathinku.
Dengan mengumpulkan keberanian, aku putuskan untuk mencari sumber suara itu. Kusibak semak-belukar di hutan jati itu. Dan benar saja, semakin aku masuk ke dalam hutan, suara nafas itu semakin lama semakin jelas.
Aku langsung berteriak memanggil Wo Sari.
“Woo…. Woo…..”
Tapi……
Tanpa aba-aba tiba-tiba hujan datang mengguyur tempat itu, aku panik dan ketakutan setengah mati, terlebih saat menyadari posisiku yang sudah berada di tengah-tengah hutan jati.
__ADS_1