
"Hm, sekarang bagaimana caraku pulang ya!?" Xiao Zhang larut dalam pikirannya, ia kemudian memikirkan kuda yang di tungganginya dulu harus menjadi santapan siluman karena ia tidak bisa melindunginya ketika baru sampai di Gunung Bambu.
"Jika berjalan kaki maka aku membutuhkan waktu hampir satu bulan untuk sampai ke Klan Xiao dan jika berlari sepertinya aku bisa sampai lebih cepat," Gumam Xiao Zhang tak jelas.
"Ah, sudahlah besok pagi aku akan pulang ke Klan Xiao. Lagipula aku rindu pada ayah dan ibu," Xiao Zhang kembali teringat ayah dan ibunya yang menangis sedih ketika ia memutuskan untuk pergi mengasingkan diri.
Meskipun Xiao Zhang memiliki Dantian yang cacat dan di juluki Tuan Muda sampah, ayah dan ibunya selalu menerima Xiao Zhang sepenuh hati, keduanya tidak pernah membedakan dan membandingkan Xiao Zhang dengan saudaranya yang lain.
Xiao Yuan ayah Xiao Zhang bahkan sudah mencari dan mengeluarkan banyak uang serta sumber daya untuk mengobati Xiao Zhang meskipun banyak pihak yang menentang hal itu termasuk anak-anaknya sendiri karena menganggap hal yang percuma dan buang-buang uang Klan.
"Baiklah, selamat malam dunia tipu-tipu," Xiao Zhang merentangkan tangan dan kakinya sebelum membaringkan diri di samping api unggun. Beberapa saat kemudain pemuda itu terlelap dalam tidurnya.
Pagi hari sekali bahkan ketika ayam bahkan belum berlotek Xiao Zhang sudah selesai melakukan pemanasan yang rutin ia lakukan, pemain itu begitu bersemangat hari ini.
"Satu... Dua... Tiga. Aku datang Klan Xiao," Pada hitungan ketiga Xiao Zhang berlari sekuat tenaga seperti sedang lomba lari meskipun pada kenyataannya tidak ada seorang pun yang menjadi lawannya.
***
Dikediaman Klan Xiao terlihat seorang pria yang memancarkan aura tegas dan berwibawa duduk bersama seorang wanita yang memiliki kulit seputih salju dan tentunya sangat cantik, kedua-nya memandangi kolam yang ada sangat indah. Keduanya tidak lain adalah Xiao Yuan ayah Xiao Zhang sekaligus Patriak atau pemimpin Klan Xiao dan Xiao Yun istrinya.
"Sudah 5 tahun Zhang-er pergi dan entah bagaimana kabarnya saat ini!?" Xiao Yun menghela nafas, kesedihan tersirat jelas dalam suaranya. "Anak itu memang nakal! Bahkan tidak sekalipun dia mengirim surat untuk ibunya ini," Lanjut Xiao Yun menggerutu.
Xiao Yuan hanya bisa tersenyum getir mendengar keluhan istri cantiknya itu, "Tenanglah, Xiao Zhang itu laki-laki yang kuat dan sudah selayaknya laki-laki seperti itu," Xiao Yuan tertawa kecil namun langsung mendapatkan pukulan di bahu oleh istrinya.
__ADS_1
"Mengapa kau begitu kejam, hah!? Membiarkan anak itu pergi seperti itu dan menempatkan dirinya dalam bahaya!?" Xiao Yun tak habis pikir pada suaminya itu, padahal ia tua suaminya bisa menjemput Xiao Zhang secara paksa.
Xiao Yuan tersenyum masam tak bisa membalas perkataan istrinya itu. "Yan-er bagaimana kalau kita pergi ke halam saja? Hari ini kan jadwal untuk anak-anak muda Klan Xiao kita latih tanding!" Xian Yuan mencoba mengalihkan perhatian.
"Issss dasar kejam!" Xiao Yun kembali menggerutu panjang lebar tapi pada akhirnya mengiyakan juga ajakan-kan suaminya.
Di halaman Klan Xiao sudah berkumpul banyak anak-anak yang mengelilingi area latih tanding, mereka tidak sabar untuk menguji kemampuan mereka dan menaikan peringkat mereka.
Klan Xiao memang rutin mengadakan latih tanding tiap bulan, hal ini dilakukan untuk memantau sejauh mana anak-anak muda Klan Xiao-nya berkembang tiap bulannya.
Selain itu para anak-anak muda bersemangat karena lewat kesempatan ini mereka bisa menaikan ranting mereka di Klan Xiao, sebab semakin tinggi ranting mereka maka akan semakin banyak mereka mendapatkan uang dan sumber daya dari Klan Xiao.
Untuk menaikan ranting para murid saling menantang dan pihak yang memang akan mendapatkan poin pengalaman dari pihak yang kalah, semakin banyak poin pengalaman yang di kumpulakan semakin naik juga ranting mereka.
Posis kedua sendiri di pegang oleh Xiao Feng, adik Xiao Xuan, di usia yang masih 19 tahun pemuda itu telah mencapai Ranah Ahli Bintang Empat dan merupakan jenius tak tertandingi. Posisi ketiga sendiri di amankan oleh putri satu-satunya Xiao Yuan yang telah mencapai Ranah Ahli Bintang Satu di usia yang baru genap 17 tahun, Xiao Lan.
Tiga bakat luar biasa milik Klan Xiao ini banyak membuat Klan lain iri dan ketiganya telah di incar oleh sekte-sekte besar untuk di rekrut nantinya.
Xiao Yuan dan Xiao Yun menyaksikan dua pemuda di atas panggung latih tanding yang sedang saling memenerikan hormat.
Xiao Feng memeberikan hormat pada kakak tertuanya Xiao Xuan, setelah itu keduanya menarik pedang seraya memasang kuda-kuda bela diri masing-masing.
"Bersiaplah kak Xuan! Ini tidak akan berakhir seperti terakhir kali." Ujar Xiao Feng seraya maju menyerang lebih dulu.
__ADS_1
Xiao Feng langsung mengeluarkan tehnik pedang terkuatnya yaitu Tarian Kematian miliki klan Xiao. Sebenarnya Klan Xiao memeliki banyak tehnik bela diri perpedang namun Tarian Kematian lah yang paling kuat dan hanya di ajarkan pada jenius klan tersebut.
Tarian Kematian yang di praktekan Xiao Feng sangat mematikan seperti namanya, setiap ayunan pedangnya menargetkan titik-titik vital Xiao Xuan. Namun pemuda itu berhasil menangkis setiap serangan yang masuk ke arahnya tanya kesulitan yang berarti.
Xiao Xuan hanya mengambil langkah bertahan meskipun seperti itu dia sama sekali tidak terpojok dan dalam beberapa tarikan nafas saja ia mulai berbalik menyerang.
Xiao Xuan tak menggunakan Tarian Kematian tetapi teknik pedang lain dari Klan Xiao yang kekuatannya tidak kalah dari Tarian Kematian. Hal ini dibuktikan dengan Xiao Feng yang mulai terdesak dan kesulitan menghadapi setiap serangan yang ditujukan ke arahnya.
Beberapa tarikan nafas berlalu dan Xiao Xuan telah menguasai pertarungan sepenuhnya, hanya butuh beberapa gerakan lagi maka dirinya akan memenangkan duel ini.
"Ah, sial! Aku kalah!" Xiao Feng hanya tersenyum kecut ketika pedang Xiao Xuan terlah bersarang di lehernya dan berhenti satu inci sebelum menyentuh kulitnya. Xiao Feng sadar tidak akan mampu mengalahkan kakaknya itu tapi ia tidak menyangka akan kalah dengan mudah padahal Ranah kultivasi mereka setara dan perbedaannya tidak terlalu jauh.
"Xuan-er memang sangat hebat seperti ayahnya!" Dari kejauhan Xiao Yuan terkekeh kecil melihat hasil pertandingan ke dua putranya tersebut. Xiao Yun hanya menanggapi ucapan suaminya dengan agukan pelan, pikirannya masih terpaku pada nasib anak ketiganya yang entah bagaimana, Xiao Zhang.
Di atas panggung kembali terdengar sorak-sorak meriah ketika seorang gadis muda yang mewarisi kecantikan ibunya, Xiao Lan naik ke panggung latih tanding, diikuti pemuda yang memiliki Ranah sama dengannya.
Ketika keduanya akan memulai pertandingan tiba-tiba terdengar keributan dari arah gerbang utama Klan Xiao, sontak saja Xiao Yuan dan Xiao Yun segera pergi ke arah sumber suara di ikuti semua murid Klan Xiao.
...***...
...Support Legenda Kegelapan dengan memberikan dukungan dalam bentuk Like, Komen, Gift dan Vote sebanyak-banyaknya. ...
...Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!!! ...
__ADS_1