
Pagi-pagi sekali seluruh muda-mudi Klan Xiao telah memenuhi area latih tanding, mereka semua begitu antusias ingin menyaksikan latih tanding antara Xiao Lan melawan Xiao Zhang.
Beberapa pemuda bahkan memasang taruhan besar pada Xiao Lan karena telan memperkirakan gadis itu akan memenangkan pertarungan dengan mudah dan tidak ada yang berani memasang taruhan pada Tuan Muda mereka.
Xiao Zhang seperti biasa melakukan latihan rutinnya, jauh sebelum para muda-mudi berkumpul di area latih tanding pemuda itu telah menyelesaikan latihannya dan mulai bersiap-siap untuk pertandingannya.
Xiao Zhang tersenyum kecut ketika melihat hampir seluruh penghuni Klan Xiao telah berkumpul di area latih tanding, dirinya benar-benar tidak nyaman ketika harus menjadi pusat perhatian. Tanpa banyak bicara pemuda itu segera memasuki area latih tanding dengan senyum canggung.
Sementara itu, Xiao Lan telah senang sejak pagi tadi karena tau ini akan menjadi kemenagan yang mudah namun beberapa hal menghantui pikirannya seperti kejadian di pintu gerbang kemarin.
Xiao Lan memasuki area latih tanding dengan senyuman yang bisa membuat laki-laki manapun betekuk lutut di hadapannya, gadis itu benar-benar mewarisi kecantikan ibunya, Xiao Yun.
"Adik Lan memeberikan hormat pada Kak Zhang," Ucap Xiao Lan seraya membungkukan badan memeberikan hormat dan Xiao Zhang melakukan hal yang sama.
Berbeda dengan Xiao Lan yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi Xiao Zhang merasa sedikit gugup karena menjadi pusat perhatian semua orang, apalagi ini menjadi pengalaman pertama baginya melawan Kultivator karena selama ini pemuda itu hanya menghabisi para siluman di Gunung Bambu.
Seorang pria yang memiliki usia tiga puluh tahun naik ke atas arena latih tanding dan mulai menjeleskan aturan yang tidak boleh di langgar dalam latih tanding tersebut. Pria itu menatap Xiao Zhang beberapa saat meresa kasian pada Tuan Mudanya itu sebelum memberikan aba-aba pertanda latih tanding telah di mulai.
Xiao Lan segera memasang kuda-kuda bela diri dan mancabut pedang-nya namun gadis itu tidak segera menyerang karena pemuda di depannya hanya diam mematung.
"Ada apa Kak Zhang!?" Tanya Xiao Lan penuh tanda tanya yang segera membuat Xiao Zhang tersadar dari lamunannya.
"Ahh baikla... " Xiao Zhang tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena mendapati pedang yang selalu berada di pinggangnya tidak ada.
"Ah sial aku melupakan pedangku!" Umpat Xiao Zhang dalam hati mengutuki kebodohannya sendiri.
"Ada apa Kak Zhang? Dimana senjatamu?" Lanjut Xiao Lan dan mulai geram merasa di permainkan oleh Xiao Zhang.
__ADS_1
"Anuuu... Aku terlalu gugup hingga pedang ku tertinggal di kamar," Xiao Zhang terseyum canggung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hal ini sontak membuat semua yang menyaksikan tertawa terkekeh-kekeh.
"Akhhh, sialannn!" Xiao Lan berteriak marah sebelum menerjang ke arah Xiao Zhang karena merasa di permainkan.
Xiao Lan melakukan serangan menusuk cepat ke arah Xiao Zhang membuat pemuda itu sedikit terkejut mendapatkan serangan tiba-tiba namun ia mampu menghindari serangan itu dengan cepat dan menyerang balik dengan tangan kosong.
Xiao Zhang hampir memukul dada Xiao Lan namun pemuda itu segera tersadar dan dengan cepat segera mengalihkan serangan ke bawah dan mengenai perut gadis itu dengan telak.
Xiao Lan terlempar ke belakang bahkan hampir saja keluar dari area pertandingan, Xiao Lan memenelalakan mata tidak percaya begitu juga semua yang menyaksikan pertandingan tersebut.
Xiao Lan bahkan tidak mampu bergerak untuk beberapa saat karena seluruh badannya kesakitan terutama area perutnya yang terkena pukulan.
"Kekuatan fisik macam apa ini!?" Gumam Xiao Lan dalam hati seraya menatap Xiao Zhang yang telah memasang wajah serius.
"Apa mataku membohongiku!? Bagaiman seorang manusia biasa bisa mengeluarkan kekuatan semacam itu!?" Ujar salah satu penonton masih tidak percaya dengan apa yang di saksikannya.
"Kak Zhang, aku enggan melakukan ini karena tidak ingin di cap sebagai menindas yang lemah namun sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Kak Zhang lah yang membuat semua ini dan jangan salahkan aku jika aku melukaimu," Tukas Xiao Lan seraya memasang kuda-kuda-nya dengan wajah yang sangat serius.
Xiao Lan masih berpikir jernih dengan menyuruh seseorang untuk memberikan sebilah pedang pada Xiao Zhang namun pemuda itu segera menolaknya.
"Sudah terlanjur seperti ini," Xiao Zhang mengangkat bahunya, "Maka aku akan menyelesaikannya dengan ini," Pemuda itu menunjukan kepalan tangannya pada Xiao Lan.
Sontak apa yang di lakukan Xiao Zhang membuat Xiao Lan dan semua yang menyaksikan terkejut bukan main dan mereka kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan situasi ini.
Xiao Lan tidak bisa lagi menahan dirinya dan menerjang Xiao Zhang dengan penuh emosi. Xiao Lan memainkan pedang nya dengan cepat namun semua serangannya hanya menebas angin kosong tidak mampu mengenai targetnya yang terus menghindar.
Xiao Lan semakin naik pitam karena semua serangan yang ia keluarkan tidak mampu mengenai Xiao Zhang, gerakan gadis itu semakin cepat namun tidak efisien.
__ADS_1
"Jangan biarkan emosi mengendalikannya-mu!" Ucap Xiao Zhang seraya menakap pedang yang di ayunkan Xiao Lan ke arah kepalanya dengan menjepit menggunakan kedua telapak tangannya.
Xiao Zhang merebut pedang Xiao Lan dan mendaratkan tendang keras ke arah perut, membuat gadis itu kembali terhepas dan darah segar segera keluar dari sudut bibirnya.
Sebelum Xiao Lan ingin bangkit kembali Xiao Zhang bergerak dan dengan cepat telah berdiri di depan gadis itu.
"Semua seranganmu sangat tidak efisien, banyak celah dari setiap gerakanmu, dasarmu belum kuat dan yang terpenting pedangmu mengandung banyak emosi," Xiao Zhang menghunus pedang ke leher Xiao Lan.
Seluruh panggung hening, mereka tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat, sangat tidak masuk akal seorang manusia bisa mengalahkan kultivator. Tidak mungkin, itulah yang ada di pikiran semua orang saat ini namun realita yang ada di depan mereka mematahkan seluruh teori itu.
Xiao Lan menetap kosong ke arah depan, pikirannya sangat kacau saat ini setengah dirinya belum sadar dengan apa yang terjadi dan tidak mampu mencerna situasi saat ini.
"Pemenangan latih tanding, Xiao Zhang," Seorang pria segera mengumumkan pemenang sekaligus memaksa Xiao Lan tersadar.
Setelah mendapat kesadarannya kembali Xiao Lan tertunduk. Dirinya tidak tau harus marah, harus malu atau hal-hal lain. Xiao Zhang menyadari hal itu dan segera mendekati adiknya itu.
"Dunia selalu kejam kepada apa yang lemah, bunga yang tumbuh di taman serta dirawat dengan baik tidak akan tau caranya bertahan hidup. Bahkan sampah lemah sepertiku menjadi kuat setelah mengerti apa itu rasa sakit," Xiao Zhang mengulurkan pedang hendak mengembalikannya.
"Apa maksudmu berengsek!?" Teriak Xiao Lan marah dan dengan cepat menyambar pedangnya.
Xiao Lan berdiri dengan cepat menarik kerah jubah Xiao Zhang, " Bagaimana!? Bagaimana samapah sepertimu bisa..!? Kau pasti berbuat curang!" Ucap gadis itu penuh emosi.
Xiao Zhang hanya diam tidak menanggapi hal tersebut, pemuda itu melepaskan genggaman Xiao Lan dan segera melangkah meninggalkan gadis yang tak mampu lagi membendung air matanya.
...***...
...Support Legenda Kegelapan dengan memberikan dukungan dalam bentuk Like, Komen, Gift dan Vote sebanyak-banyaknya. ...
__ADS_1
...Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!!! ...