Legenda Petarung Terkuat

Legenda Petarung Terkuat
Sebuah Makan Malam.


__ADS_3

Setelah Ling Yuan telah menghilang dari tatapan ketiga sosok yang masih diam di tempat, Ling Yan segera berbalik dan menatap kedua orang yang semula di belakangnya.


"Kalian tidak apa-apa?..." Ling Yan bertanya dengan khawatir.


Kedua orang yang ditanyai segera menggeleng dan Ling Yan menghela nafas lega.


Liyan membungkuk untuk memberi hormat. "Terimakasih atas bantuannya, tuan muda Yan. Jika anda tidak datang, mungkin saya akan gagal melindungi tuan muda..." Ucapnya.


Ling Yan tersenyum tipis, ia mengangkat telapak tangannya dan menepuk pundak Liyan dua kali.


"Kau sudah melindunginya dengan baik..." Ucapnya dengan lembut dan Liyan meresponnya dengan anggukan kepala.


"Kakak, omong-omong, kenapa kau kemari? Apakah hanya kebetulan lewat?..." Ling Shentian bertanya dengan wajahnya yang terbilang menggemaskan dimata Ling Yan.


Ling Yan melihat ke arah Ling Shentian dengan senyuman hangat. "Ayah mengetahui bahwa kau sudah keluar dari rumahmu. Jadinya dia memerintahkan ku untuk mencari mu dan mengajakmu makan malam..."


"Baiklah, kalau begitu ayo pulang..." Ujar Ling Yan dan berjalan membelakangi kedua sosok.


Melihat Ling Shentian dan Ling Yan berjalan di depannya, Liyan segera membungkuk untuk yang kedua kalinya.


"Tuan muda, karena hari akan gelap, saya harus undur diri..." Ucapnya.


Ling Yan mengangkat alisnya dan segera berbalik. "Tidak, kau juga diundang oleh ayah. Jadi kau harus ikut..." Ujar Ling Yan.


"Baiklah, jika itu perintah patriak, maka saya akan menurut..." Ucapnya dan mereka bertiga kembali berjalan pulang.


.


Malam hari, dikediaman Ling Futian.


Di dalam sebuah ruangan, ada sebuah lampu yang sumber cahayanya berasal dari energi cahaya yang terkandung didalamnya.


Lampu ini menerangi setiap sudut ruangan yang besar tersebut.


Di tengah-tengah ruangan yang cukup besar ini, tampak meja makan yang terbilang besar dengan beberapa kursi yang mengelilinginya dan makanan mewah telah tersaji di atasnya.

__ADS_1


Di empat kursi, sudah ada empat sosok yang duduk untuk bersiap menyantap makanan lezat di meja.


Keempat sosok ini adalah Ling Yan, Ling Shentian, Ling Futian dan istrinya. Sementara Liyan berdiri di belakang kursi Ling Shentian.


Ling Futian menatap Liyan. "Liyan, kenapa kau tidak duduk?..." Ucapnya.


Liyan memberi hormat. "Saya hanyalah pengawal tuan muda, tidak pantas bagi saya untuk makan bersama dengan anda sekalian..." Ucapnya.


Ling Yan mendengus dengan senyuman tipis. "Liyan, kau bukanlah pengawal dari Shentian. Sejak awal kau tak pernah di pekerjakan oleh keluarga. Selama ini kau bukanlah pengawal yang menjaga Shentian. Kau sama sepertiku, sebagai seorang kakak yang menjaga adiknya..." Ucapnya lalu menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.


"Itu benar..." Ling Futian mengangguk setuju.


"Sejak adik ipar mengadopsimu, kau bukan hanya menjadi muridnya. Kau sudah menjadi anak angkatnya dan kakak angkat dari Shentian. Jadi, jangan bicarakan status diantara kita..." Ucap ibu Ling Yan yang bernama Ning Fei dengan lembut.


Ling Shentian tersenyum samar, hatinya benar-benar merasa nyaman dengan orang-orang di meja makan saat ini.


"Kaluarga ini, meskipun lemah. Tapi saling menyayangi..." Ucapnya dalam batin.


Ling Shentian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke bangku di sebelahnya yang masih kosong.


"Kak Liyan, yang dikatakan kakak dan bibi benar. Kau adalah anak dari ayahku juga. Jadi, mulai sekarang aku akan memanggilmu kakak. Sekarang duduklah dan kita makan bersama..."


Liyan tersenyum, matanya hampir menjatuhkan air mata, ia lalu mengangguk dengan lembut.


"Baiklah, terimakasih..." Ucapnya dan duduk.


Keempat orang akhirnya melanjutkan acara makan malam mereka dengan tenang.


Ketika ketenangan itu terjalin selama beberapa menit, Ling Futian mendongak dan melihat ke arah Ling Shentian.


"Shentian, bagaimana dengan penyakit dinginmu? Apakah benar sudah baik-baik saja?..."


Ling Shentian menatap Ling Futian ketika namanya disebut. "Paman, penyakit dingin dalam Meridian ku mulai membaik dan sepertinya perlahan menghilang. Mungkin aku sudah bisa melatih tulangku dari sekarang..." Ucapnya.


"Haha, itu bagus. Aku yakin bahwa kau akan melebihi bakat dari Ling Xiaofan itu..." Senyuman lebar terbentuk di wajah Ling Futian.

__ADS_1


"Adik, kau tenang saja. Setelah kau selesai melatih tulang, kakak mu ini akan mengajarimu ilmu berpedang. Kakakmu ini telah menyamai kemampuan dari Liyan..." Ucapnya dan tampak membanggakan dirinya di mata setiap orang.


Liyan tersenyum pahit mendengar kebanggaan dari diri Ling Yan. "Tuan muda Yan, jika saja kau tahu, bahwa tuan muda Shentian telah mencapai Mahir tertinggi. Aku penasaran bagaimana reaksimu..." Ucapnya dalam batin.


"Haha, iya. Tapi, aku tak mau melatih pedang. Rasanya pedang tidak cocok untukku. Aku lebih baik jika melatih tombak..." Ucap Ling Shentian.


Mendengar hal ini, Liyan tersenyum pahit untuk kedua kalinya. "Mencapai tingkat mahir tertinggi dalam satu percobaan, masih merasa tidak cocok dengan pedang? Lalu bagaimana denganku yang telah berlatih pedang selama 12 tahun dan masih ditingkat Menguasai tertinggi? Sampah?..." Rasa sakit menyelimuti hatinya ketika ia memikirkan ini di dalam hati.


Sementara Ling Yan, ia mengangkat aslinya ketika mendengar keputusan dari Ling Shentian, ia merasa heran dan bingung, karena ayah Ling Shentian adalah ahli pedang yang luar biasa, bagaimana anaknya bisa memiliki keinginan menjadi ahli tombak?


Ling Yan menghela nafasnya. "Baiklah. Apapun itu, kakakmu ini akan mendukungmu. Kau tenang saja, kakak akan mencarikan logam yang bagus untuk menempa pusaka tombak untukmu..." Ucapnya dengan senyuman lembut.


"Baiklah. Karena Shentian akan memulai pelatihannya, maka tidak ada alasan lagi bagi paman untuk menahan ini lebih lama lagi..." Ucap Ling Futian dan mengeluarkan sebuah cincin penyimpanan.


"Ini adalah cincin penyimpanan milik ayahmu. Sebelum meninggal, ia berpesan untuk memberikan ini padamu saat kau akan memulai pelatihan. Sekarang tampaknya adalah waktu yang tepat..." Ucapnya dan memberikan cincin penyimpanan itu kepada Ling Shentian.


Ling Shentian meraih cincin yang diberikan oleh pamannya. "Paman, terimakasih. Aku akan menggunakan ini dengan baik..." Ucapnya dan Ling Futian mengangguk.


Ling Futian kembali menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya sebelum menatap Ling Shentian lagi.


"Aku tidak tahu apakah kalian sudah tahu atau belum. Tapi, satu minggu kemudian, Ling Xiaofan akan dijemput oleh perwakilan dari Kelompok Tinta Darah di kota Api. Mereka tertarik dengan kualitas tulang yang didapat oleh Ling Xiaofan dan berniat menjadikannya penerus dari ketua Kelompok Tinta Darah..." Ucap Ling Futian dengan tatapan serius.


Ling Yan mengangguk. "Aku baru tadi telah mendengarnya dari para tetua saat mencari Shentian. Tidak disangka ternyata ini benar..." Raut wajah Ling Yan ikut serius saat masuk dalam pembicaraan ini.


Ling Shentian mengangkat alisnya heran. "Paman, memangnya apa yang salah dengan ini? Bukankah keluarga kita akan memiliki pendukung besar?..."


Ling Futian melirik Ling Shentian. "Shentian, kau selama ini sakit dan tak pernah tau tentang urusan internal keluarga kita. Meskipun kita semua adalah keluarga, tapi Ling Huo sangat berambisi untuk merebut posisi patriak dari paman. Jika Ling Xiaofan benar-benar menjadi penerus ketua Kelompok Tinta Darah, maka tak ada harapan bagi paman untuk mempertahankan posisi patriak. Dan saat itu tiba, kemungkinan akan ada perang internal berdarah di keluarga kita..."


"Ketua Kelompok Tinta Darah ini adalah Petarung Jiwa delapan lingkaran. Hanya menunggu waktu bagiku untuk mengalahkannya..." Pikir Ling Shentian dengan serius.


"Paman, kau tenang saja. Aku Ling Shentian akan berusaha keras untuk berlatih dan mencegah itu..." Ucapnya.


Ling Futian mendengus kecil dengan senyuman, ia tampaknya tak begitu berharap dan yakin jika perkataan dari Ling Shentian adalah benar.


"Haha, paman percaya padamu..." Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2