LILYA

LILYA
Jovan dan Leon


__ADS_3

Baru saja, Lia dan Hana ingin sampai ke Kantin, mereka berdua sempat mendengar suara benda yang jatuh dengan keras, membuat mereka berdua terpaksa berhenti lalu menatap ke arah suara berisik tersebut.


"Lia itu suara apa yah?" Tanya Hana.


"Gue juga gak tau Han, tapi suara nya seperti dari arah gudang sekolah deh". Ujar Lia menunjuk gudang sekolah yang agak berdekatan dengan Kantin.


"Ayo kita kesana Han". Ucap nya lagi lalu menarik lengan Hana. "Tapi kalau itu Hantu gimana dong, gue takut". Ujar Hana yang tetap ikut berjalan.


"Gak mungkin Hantu Han, siang-siang gini mana ada Hantu sih, gue cuma takut nya ada orang dalam gudang itu yang ketimpa". Balas Lia sedangkan Hana hanya memeluk erat lengan Lia. ia beneran merasa takut.


Sesampai nya di depan Gudang, baru saja Lia ingin membuka pintu Gudang yang tak terkunci itu, ia dan Hana malah di kejutkan dengan suara benda yang jatuh lebih keras lagi. "Lia gue takut beneran sumpah, kita pergi aja yuk". Ajak Hana.


"Tenang Han, biar gue intip dulu ke dalem". Ujar Lia lalu membuka pintu Gudang dengan perlahan lalu mengintip nya.


Lia langsung saja terkejut setelah melihat ke dalam. ternyata di dalam Gudang ada Jovan dan Leon anak kelas 12A5 sedang memukuli Siswa cupu anak kelas 12A2 bahkan sampai sudah babak belur.


"Han gawat Han". Ujar Lia panik


"Kenapa Lia ada apa di dalem??. Tanya Hana yang juga ikutan panik.


"Di dalem ada Jovan dan Leon lagi mukulin anak orang, mana sampe babak belur". Ujar Lia beralih menatap Hana yang juga ikut terkejut mendengar nya. "Terus gimana dong Lia".


"Ayo kita bantuin". Ujar nya lalu membuka pintu Gudang tersebut.


"Eh t-tapi Lia tunggu du..lu". Ujar Hana, tapi Lia keburu masuk.


Jovan terus menerus menginjak Sahar yang terus mengerang kesakitan sedangkan Leon terus tertawa melihat Sahar yang berusaha melindungin diri nya.


"Haha dasar lemah baru segitu aja dah kesakitan". Ujar Leon.


Jovan yang masih menginjak Sahar pun ikut tersenyum. "Cih Lemah".


"Bentar Van, sebagai penutup gue mau timpah nih anak pake kurs-".


Crek...


Jovan pun berhenti, begitupun dengan Leon yang berhenti ingin mengangkat kursi, tak kalah mendengar suara seseorang memotret, ia pun beralih melihat siapa yang berani memotret nya dan ternyata itu Lia.


Lia pun lantas mengirim beberapa hasil foto nya itu ke grub sekolah dan juga ia mengirim nya langsung ke kepala sekolah nya. sedangkan Hana yang melihat Lia yang berani seperti ini merasa takut.


Lia pun beralih melihat Jovan dan Leon yang juga sedang menatap diri nya. "Apa yang lo lakuin?". Tanya Jovan dingin. Lia pun menatap Jovan datar. "Nih gue fotoin lo yang lagi ngebully, sekalian gue kirim ke grub sekolah dan kepsek". Ujar nya sambil memperlihatkan hasil foto nya.


"Sialan lo Lia, hapus gak!". Ujar Leon marah.


"Emang gue peduli?". Balas Lia menatap Leon, sedangkan Leon terlihat kesal dan ingin menghampiri Lia dan Hana. tapi di tahan oleh Jovan. "Jangan".


Lia yang melihat itu pun berdecak kesal, ia pun beralih menatap Sahar yang berusaha bangkit. "S-sini gue bantuin". Ujar Hana lalu membantu Sahar. "Lia kek nya kita harus bawa Sahar ke UKS dulu deh". Ujar Hana dan Lia mengangguk setuju, ia pun menatap kembali Jovan dan Leon sejenak, lalu mereka bertiga pun keluar dari Gudang.

__ADS_1


"Kenapa lo tahan gue sih Van, pengen banget gue hajar tuh cewe, gak peduli gue dia anak donatur sekolah ini". Ujar Leon terlihat marah, bisa-bisa nya ada yang berani memotret diri nya. jika foto itu sampai ke orangtua nya bisa mampus dia.


"Yang ada lo yang di babak belur bego, Lia emang cewe, tapi dia lumayan kuat, kalau lo lupa Lia pandai taekwondo dan tinju". Ujar Jovan dan Leon mengerang kesal. "Bngst bisa mampus gue". Gumam nya.


"Jovan lo yakin dengan kata-kata lo itu? jangan bilang lo masih suka sama Lia? sampe l-".


"Lo tenang aja Gue udah gak suka". Ujar nya lalu beralih keluar dari Gudang di ikuti oleh Leon di belakang nya


"Terus kenapa lo nahan gue tadi, padahal gue mau ngasih pelajaran ke tuh cewe". Ujar nya.


"Gue dah bilang, yang ada lo malah babak belur anjng, jangan di remehin". Sahut Jovan.


"Satu lagi, lo jangan gangguin Lia, biarin Lia jadi urusan gue". Ujar nya lagi sedangkan Leon yang mendengar itu hanya mengeleng-geleng pelan


"Bilang aja masih suka dasar bego". Gumam Leon.


"JOVAN LEON!". Teriak Seseorang membuat kedua nya lantas berbalik.


"Anjrlah Pak Ferdi anjng, mati gue". Ujar Leon panik karna Pak Ferdi berjalan ke arah mereka.


"Apaan kalian Hah! dasar berandalan, bukan nya rajin belajar malah ngebully, mau jadi apa kamu nanti? Preman! Bagus sih kalian juga sudah mulai tampak Preman". Ujar Pak Ferdi marah. Jovan yang mendengar nya hanya terdiam, beda hal nya dengan Leon yang nampak semakin panik.


"Kalian berdua ikut Bapak sekarang ke ruang BK".


"Pak..Pak tunggu dulu Pak, i-itu anu..yang bapak liat itu kami hanya main-main Pak itu kami gak serius mukulin Sahar Pak". Ujar Leon membelah diri nya dan Jovan hanya tetap terdiam.


"Beneran?". Tanya Pak Ferdi.


"Baiklah, Kalau gitu kalian tetap ikut Bapak ke Ruang BK dan kamu Leon jelasin ulang setelah orangtua kamu datang kesekolah nanti". Ujar Pak Ferdi berjalan duluan.


Leon yang mendengar itu terkejut, ia pun menatap Jovan yang juga ikut menatap nya. "Van mati gue Van, bisa abis gue sama Bokap gue". Ujar nya sambil mengusap wajah nya. "Udah nasib lo itu". Balas Jovan sambil mengikuti langkah Pak Ferdi.


"Leon! Cepat!". Panggil Pak Ferdi berbalik melihat kedua Siswa brandalan nya itu. "I-iya Pak". Ucap Leon berlari lalu berjalan di samping Jovan.


...***...


"Permisi Pak". Ujar seseorang lalu masuk ke Ruang BK.


"Eh iya Pak silahkan duduk Pak". Ujar Pak Ferdi setelah bersalaman sejenak.


"Paa.." Gumam Leon menatap Papa nya yang juga sempat menatap anak nya yang berdiri di pojok ruangan dengan Jovan.


"Begini Pak Anto, anak Bapak berulah lagi". Ujar Pak Ferdi memulai percakapan nya.


"Iya Pak, kalau boleh tau Leon buat masalah apalagi Pak?" Tanya Anto Papa nya Leon.


"Itu Pak, Leon dan teman nya ini Jovan ngebully teman nya, tadi di Gudang sekolah, dan ada Siswi yang tidak sengaja melihat mereka berdua ini sedang memukul teman nya, dan ada bukti nya juga Pak, ada beberapa foto mereka dua". Ujar Pak Ferdi sambil memperlihatkan beberapa foto yang di kirim oleh Lia tadi.

__ADS_1


Pak Anto yang melihat itu pun, menghelah nafas nya pelan. "Terus bagaimana dengan kondisi Siswa yang di pukuli oleh anak Saya". Ucap Pak Anto sambil memijat kening nya.


"Hm itu ko-".


"Pa bukan aku yang mukul, tapi Jovan yang mukul sampe babak belur, aku tadi hanya liatin, itu pun aku mukul nya pelan..." Ujar Leon pelan di kalimat terakhir nya dan langsung memotong ucapan Guru nya.


Jovan yang mendengar itu pun mengangguk-angguk setuju. "Bener Pak, yang mukul nya itu saya, Leon gak terlalu. ia lebih banyak ketawa aja". Ucap Jovan santai menatap Pak Ferdi.


"Iya Pak yang di katain Jovan bener". Ujar Leon.


Pak Ferdi yang mendengar perkataan Jovan berdecak kesal, bisa-bisa nya Jovan dengan santai nya mengatakan itu.


"Jovan. Bapak sudah capek menegur kamu, padahal dulu kamu gak senakal ini, sampai lukain teman sendiri, kali ini orangtua kamu harus da-".


"Pak, saya kan udah berapa kali bilang, mau seusaha apa bapak manggil orangtua saya, mereka gak akan peduli". Ujar Jovan dengan malas nya menatap Pak Ferdi.


"Lebih baik Bapak skor saya saja, seperti biasa nya". Ujar nya lagi lalu pergi dari Ruang BK, menyisahkan Leon, Pak Anto dan Pak Ferdi.


"Ha dasar anak kurang ajar". Ucap Pak Ferdi.


"Kalau gitu Pak, terima kasih sudah mau datang atas panggilan saya tadi". Ujar Pak Ferdi lagi.


"Iya Pak, emang seharus nya saya datang, apalagi anak saya buat masalah di sekolah, dan saya minta maaf atas kenakalan anak saya, saya bakalan didik lagi dengan benar. Iya kan Leon!". Ujar Pak Anto lalu menatap Anak nya itu yang terperanjak karna terkejut. "Iya Pak.." Ujar nya lalu menunduk.


"Iya Pak saya paham, anak-anak kadang suka bercanda di luar batas mereka juga, dan saya sebagai Guru BK bakalan lebih mendidik mereka lagi di sekolah".


"Iya Pak tolong bantuan nya tolong didik Leon di sekolah". Ujar Pak Anto sambil beranjak, begitupun Pak Ferdi. "Iya Pak".


"Kalau gitu saya permisi dulu Pak, pekerjaan kantor saya belum selesai".


"Iya Pak Iya".


"Sebelum itu, Saya mau ketemu sama Siswa yang anak saya bully dulu". Ujar nya.


"Iya Pak boleh-boleh sini saya Antar ke Ruang UKS". Ujar Pak Ferdi beralih menatap Leon.


"Kamu harus ikut juga sekalian minta maaf". Ujar Pak Ferdi yang di setujui oleh Pak Anto Papa nya Leon.


Leon pun menghela nafas nya kesal lalu ikut berjalan keluar Ruang BK. "Sialan emang". Batin nya.


Ting!


...Papa...


Leon!


Pulang sekolah nanti langsung ke ruangan Papa

__ADS_1


Leon yang mendapatkan Pesan dari Papa nya pun beralih menatap punggung Papa nya.


"Pa..bahkan luka yang Papa buat masih belum semua nya pulih". Gumam Leon pelan.


__ADS_2