
Bab 06
(Has been edited, by Radrael. Saturday, July 13, 2019)
Suara gulungan ombak yang tenang terdengar beradu dengan hembusan angin laut. Cahaya bulan yang sebelumnya menerangi malam, kini kembali tertelan gelapnya awan.
Menjelang dini hari udara sudah sedingin es, bahkan hampir mencapai titik beku. Terbukti, tubuhku yang hanya terbalut kaos hitam, mulai menggigil karna salju yang turun mendarat di kulit begitu banyak.
"Lakukan, Fate."
Dengan gemetar, kudekatkan bilah pisau yang tipis ke leher Ruka. Lebih tepatnya, tepat di tengah tenggorokannya.
Napasku yang sedaritadi tak stabil, mulai memberat ketika menatap mata kanan Ruka yang sama sekali tak menujukan keraguan. Malahan, warna mata-nya kian pekat menatap ke arahku.
Ekspresi mukanya sudah tak mampu aku baca, seperti boneka. Entah dia saat ini merasa kedinginan, takut, sedih, atau senang. Namun yang pasti, aku mampu melihat rasa putus asa dibalik tatapannya saat ini.
Perasaan ini, sungguh tidak karuan ....
Mengetahui, sulitnya diriku untuk mengatasi semua ini.
"Kau tidak mau melakukannya?"
Napasku langsung tertahan dan membelalakan mata dengan pundak yang tersentak.
"Kenapa?"
"... Karena aku, tidak bisa melakukannya."
Semenjak datang ke dunia ini, di antara semua situasi yang telah terjadi, ini adalah situasi yang paling sulit aku lalui.
"Ruka ...."
"Apa?"
Kutarik menjauh tanganku yang menggenggam pisau dari lehernya.
"Bisa kita hentikan semua ini?"
"Kenapa?"
"... Mungkin, ini hanya pendapatku saja. Bagiku, melakukan semua ini sama saja kau mengkhianati dirimu sendiri."
"Apa maksudmu, Fate?"
"Maaf, aku tak bisa menjelaskannya dengan baik. Tapi, saat kau mendengar ini mungkin saja kau bisa menemukan jawabannya."
"...."
Ruka hanya menatapku datar seperti biasa. Dia seolah mengetahui diriku yang kini tengah mencari pembenaran agar bisa lolos dari situasi saat ini.
"Ruka, dengarkan aku," ucapku seraya meletakan pisau sedikit jauh dari jangkauannya. "... selama ini, apa ada sesuatu yang kau inginkan?"
"...."
Butuh beberapa jeda waktu bagi Ruka untuk menemukan jawabannya. Daripada disebut demikian, aku kira dia sedang mencoba mengingat-ingatnya. Jika memang seperti itu, syukurlah.
Itu berarti, dia masih memiliki suatu alasan tersisa agar dirinya bisa terus menjalani hidup. Walaupun dia sendiri sudah melupakannya, akan tetapi aku sangat yakin jika Ruka tidak akan pernah bisa berhenti untuk mengaharapkannya.
"Yang aku inginkan, ya ...."
"Umm, benar."
Sepertinya, ini berhasil ....
Pikiran dan niat Ruka mulai teralihkan.
"... Aku, ingin melupakan semuanya dan pulang." Ucapnya.
"Begitukah."
Apa yang Ruka inginkan, sejujurnya aku sama sekali tidak mengetahuinya. Pasalnya, aku sendiri tak tahu pasti mengenai kehidupan Ruka selama ini. Semisal tanah kelahirannya, jalan hidupnya, dan siapa dirinya yang sesungguhnya.
Namun yang pasti, ketika aku mendengarkan keinginan Ruka yang terucap melalui lisan keringnya. Sesungguhnya, ada bagian di dalam diriku yang merasa sangat lega dan bersyukur.
Mengetahui seseorang yang memintaku untuk mengakhiri hayatnya, karna sudah lelah setelah sekian lama tersesat dalam menjalani hidup. Dan aku, sebagai seseorang yang dimintainya mampu menuntunnya untuk menemukan jalan keluar.
Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal serupa, itu sudah membuat diri ini merasa terselamatkan.
"Jadi, itu keinginanmu?"
Ruka menolehkan kepalanya ke arahku, mengakibatkan untaian rambut peraknya yang berjatuhan di antara daun telinganya bergerak.
"... Umm. Tapi, kenapa kau mengatakan jika aku akan mengkhianati diriku?"
"Karena, bukankah jauh sebelum hari ini tiba, selama itu pula kau sudah berjuang untuk tetap hidup karena kau sendiri percaya jika suatu saat keinginanmu akan terwujud?"
"Lalu, apa ada hubungannya dengan keinginanku yang ingin kau membunuhku?"
Aku tersenyum tipis, "... Tentu saja ada. Seperti yang kukatakan barusan, bukan? Jika kau berniat mengakhiri hidupmu, itu sama saja kau ingin melupakan dan meninggalkan apa yang selama ini telah kau percayai serta perjuangkan."
"Jadi, jika aku memutuskan untuk mati. Maka, selama ini apa yang aku perjuangkan akan sia-sia?"
"Benar sekali. Bukankah, kau tidak menginginkan itu terjadi?" Anggukku. "... karena, selama ini itulah alasanmu agar bisa tetap menjalani hidup."
Kelopak matanya sedikit terbuka lebar, memperlihatkan utuh bentuk bola matanya yang bulat. Seolah, dia baru saja menyadari sesuatu.
Di saat yang bersamaan, angin laut berhembus dan langsung menerbangkan rambut peraknya. Hingga, asa yang disembunyikan oleh gadis itu terbawa bersama salju yang tersapu angin malam ini.
"Tapi, aku sangat lelah untuk menunggu. Jadi, aku sudah merasa tak bisa menahannya lebih lama lagi ...."
"Aku tahu ...."
"Benarkah?"
"Umm."
Sungguh ..., aku tahu itu, Ruka.
Dirimu yang saat ini, adalah bukti bahwa kau begitu dibuat menderita akan harapan yang telah begitu lama kau inginkan.
Kau dihancurkan berkeping-keping, oleh harapanmu sendiri sampai kau rusak ....
Namun, dengan harapan yang tersisa, kau dengan tertatih-tatih tetap ingin mempercayai dan menggapainya.
Hingga di saat kau sudah setengah mati, kau mulai menyadari, jika selama ini yang kau percayai tak akan pernah bisa digapai olehmu.
Takdir, memang terkadang lebih menyiksa ketimbang sebuah kematian ....
Meski begitu, jangan menyerah!
Jangan sesekali berpaling darinya!
Karna dibalik itu semua ... pasti, sebuah takdir indah akan menyambutmu.
Setidaknya, aku ingin kau mempercayai hal itu juga ....
"Fate ... kenapa kau menangis?"
Saat aku mendengar itu, aku langsung menyadari jika wajahku menjadi sangat dingin.
Aku sendiri tidak tahu kenapa saat ini aku malah menangis. Rasanya, aku baru saja mengingat jejak kehidupanku semasa hidup di dunia yang fana.
Mendengar curahan hati Ruka, aku merasa sedang berbicara dengan diriku yang dulu.
"Ma–Maaf, aku hanya—"
Ketika hendak mengusap air mataku, tanganku tertahan saat melihat butiran bening yang mengalir pelan dari sudut mata Ruka, dan membasahi pipinya yang pucat.
Aku membelalakan mata lebar saat menyadari iris ungu-nya berkaca-kaca. Tak lupa, lisannya yang bergetar pelan, seperti tengah menggumamkan sesuatu.
"Kenapa ini? Kenapa, mataku terasa perih?" Gumam Ruka kebingungan.
Saat Ruka hendak mengusap air matanya yang tetap mengalir, aku segera menahan tangannya.
"... Fate?"
Aku tersenyum dan menggunakan tangan kiriku untuk menggantikan tangannya mengusap air matanya.
Setelah sekian lama hatinya mengeras, akhirnya mulai retak ....
Ruka, dia bisa mengekspresikan lagi kesedihannya.
Tidak, kurasa bukan seperti itu. Selama ini, dia selalu saja mengungkapkan kesedihan melalui senandungnya.
Alasan mengapa senandungnya terdengar sangat menyedihkan dan memilukan, karena senandung itu merupakan bentuk kesedihan Ruka yang selama ini dia rasakan.
Dia tak memiliki seseorang untuk mendengarkan senandungnya. Oleh sebab itu, dia memilih untuk mencurahkannya kepada lautan dan langit malam.
Tiba-tiba, jemari kurusnya menyentuh pipiku dan mengusapnya lembut. Air mataku yang tersisa, segera dia seka, sama persis seperti apa yang kulakukan padanya.
Wajah polosnya saat ini menatapku begitu dekat. Ada rona merah yang timbul di pipinya, meskipun itu samar.
Padahal kau memiliki paras secantik ini ....
Tapi, kenapa hidupmu seolah kebalikan dari wujud indahmu?
Kenapa, hal mengerikan seperti ini bisa menimpamu?
Siapa yang bisa disalahkan saat ini?
Siapa yang akan bertanggung jawab atas semua ini?
"Fate ...."
"Hn?"
"Maukah kau mendengarkan sebuah kisah?"
__ADS_1
Di bawah cahaya bulan yang semakin bersinar terang dan tarian salju. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ruka tersenyum. Meskipun, itu terlihat begitu dipaksakan.
"...Umm. Mari aku dengarkan."
***
"Fate!"
"Cepat bangun! Hei!"
Kedua mataku perlahan terbuka, ketika mendengar suara bising yang memenuhi telinga.
Dengan mengandalkan pandangan mata yang masih berkunang, aku mencari-cari sumber suara itu dengan lemas.
Terlihat, membayang dua orang berujubah yang berdiri di hadapanku.
Aku memiringkan kepala kecil, saat melihat salah satu dari mereka memasang mimik muka jengkel. Lalu, di sebelahnya berdiri seorang yang memasang ekspresi kebingungan.
"Erika dan Michelle, ya? Selamat pagi."
"Se–Selamat pagi, Fate." Balas Michelle gugup.
Aku pun segera duduk, lalu meregangkan kedua tangan tinggi-tinggi ke atas dan menguap puas–puas.
"Hei, bisa jelaskan apa yang telah terjadi?" kata Erika.
"Apa yang harus aku jelaskan, 'sih?"
"Siapa gadis ini?"
Aku sedikit menaikan satu alis mata, "Huh? Gadis? Apa maksudmu? Kau meledekku lagi, ya?"
Saat aku akan bergerak, kedua lututku terasa berat untuk diluruskan seperti tertahan sesuatu.
"Berat sekali ... kenapa sih—"
Kedua mata seketika terbuka lebar, dan rasa kantukku segera sirna saat mendapati seorang gadis berambut perak tengah tertidur dengan menggunakan pangkuanku sebagai bantal.
Tunggu dulu, dia Ruka, 'kan?!
Kenapa dia tidur di sini?
Dengan mencoba tenang, aku pun segera membangunkannya.
"H–Hei, Ruka. Kenapa kau malah tidur di sini, sih? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur di ranjang."
"Ruka?"
"Wa-Wahh ...."
"Ayo bangun, Ruka," Kataku seraya menarik hidungnya. "... ini sudah pagi."
"Umh!"
Akhirnha, Ruka bersedia bangun dan terduduk di sampingku. Dia lalu menguap dan mengucek-ngucek mata kanannya.
"Sudah pagi, ya?"
"Be–Begitulah."
Dia lalu meringis tertahan saat menggeser salah satu kakinya untuk digerakan. Karena keseimbangan tubuhnya belum didapat sepenuhnya, dia pun terhuyung ke samping.
Reflek, kutarik tubuhnya yang akan ambruk ke lantai dengan cekatan.
"Hei, hati–hati. Jangan paksakan dirimu untuk bangun jika masih lelah."
"K–Kuh!" Pekiknya tertahan.
Aku menatapnya curiga saat ini. Terlihat, Ruka menggigit bibir bawah kuat dan wajahnya begitu jelas jika dia tengah menahan sakit.
"Ada apa, Fate?" tanya Erika bingung.
"Entahlah."
"Tahan dulu."
Michelle yang menyadari sesuatu segera berlutut di depan Ruka dan menyibak jubah yang menutup bagian bawah tubuhnya.
"Sudah kuduga. Dia terluka parah dipergelangan kaki kanannya." Kata Michelle.
"Apa?!"
Perkataanku seolah tersangkut di tenggorokan, ketika melihat luka lebam yang mengeluarkan air nanah. Dan hal ini diperparah, karna air nanah yang keluar mulai bercampur dengan darah.
"Ini sepertinya luka hasil dari penganiayaan, bahkan tak hanya di kakinya saja." Imbuh Erika. "Perlakuan yang bisa mengakibatkan semua ini, jawabannya hanya ada satu ...."
Dengan menghela napas panjang, aku pun menunduk lemah dan mengepalkan tangan erat.
Ternyata seperti yang kutakutkan, jika selama ini Ruka hidup sebagai seorang budak ....
"Jangan cemas. Aku akan merawat lukanya sebelum semakin parah." Ujar Michelle seraya berdiri dan menanggalkan jubahnya.
Lalu, dia mengambil buku sihir yang tersimpan di dalam wadah pada pinggangnya.
"Fate, tolong baringkan dia di ranjang." Pinta Michelle.
"Baiklah."
Dengan bantuan Erika, akhirnya tubuh Ruka berhasil aku rebahkan di ranjang.
Terlihat, wajah Ruka semakin merah dan napasnya memberat. Banyak sekali keringat yang membasahi dahi dan wajahnya.
"Jangan-jangan, dia demam, ya?" tebakku.
"Benar. Sepertinya, luka di sekujur tubuhnya saat ini dalam kondisi paling parah. Hingga tubuhnya tak kuat menahan semua rasa sakit itu di saat yang bersamaan." Jelas Michelle. "Kaliam berdua, berikan aku beberapa tananam obat yang dijual di kapal ini. Cepat!"
"Biar aku saja. Erika, kau tetap di sini saja membantu Michelle." Sautku.
Singkat cerita, sekembalinya dari membeli tanaman obat yang dijual oleh beberapa pedagang yang kebetulan adalah penumpang kapal ini. Aku segera menyerahkannya kepada Michelle, yang sudah siap dengan penumbuk dan mangkuknya.
"Mau digunakan untuk apa tanaman tersebut?" tanyaku seraya tetap memperhatikan kesibukannya.
"Ini akan kujadikan penetral racun, kuman, dan bakteri yang telah masuk ke dalam tubuhnya. Siapa tahu, di dalam tubuhnya memiliki racun." Jawab Michelle seraya mulai memasukan seluruh tanaman obat dan menumbuknya.
"Obat dalam, ya."
Kukira, hanya dengan Sihir Pemulihan yang Michelle kuasai semuanya bisa diselesaikan. Namun, sepertinya semua ini tak se-sederhana yang kukira.
Mungkin, Michelle juga bersusah payah seperti saat ini ketika merawat lukaku ....
Aku lalu melirik ke arah Ruka, yang tengah dikompres menggunakan kain lap basah oleh Erika. Sesekali, Erika dengan telaten mengelap bersih keringat dan noda darah yang mengotori wajah Ruka.
Air muka Ruka yang sebelumnya begitu pucat pasi, kali ini terlihat lebih baik. Terbukti, tarikan napasnya yang sudah lebih stabil, suhu tubuhnya tak semendidih di awal, dan pergelangan kakinya yang mengeluarkan air nanah sudah dibersihkan.
Namun, raut wajahnya masih terlihat menderita karna tengah menahan rasa sakit di sekujur tubuh.
Dia pasti sudah menahannya sejak semalam.
Tapi, kenapa aku tidak menyadarinya?
Padahal, semenjak dini hari aku menghabiskan banyak waktu dengannya.
"Fate!"
"A–Ada apa?"
"Jangan melamun. Lihat, aku sudah selesai menumbuk semua tanaman obatnya." Kata Michelle seraya berjalan mendekat, dengan menenteng cangkir di tangan.
"Begitukah. Lalu, apa selanjutnya?"
"Sepertinya, Ruka mengalami gejala keracunan mana dan kekurangan energi kehidupan."
"... E–Energi kehidupan?"
Dengan mengangguk pasti, Michelle berjalan mendekat ke arah ranjang Ruka berbaring.
"Erika, bagaimana gejalanya?"
"Umm. Dengan sedikit bantuan kompres air dingin yang diberi daun mint. Demamnya sudah mulai mereda, hanya saja dia masih merasa panas, terutama di bagian dada."
Michelle membusungkan dada ke arah Ruka yang terbaring.
Kedua mata hijau safir-nya meneliti tiap sudut tubuh Ruka yang terbalut jubah usang dengan serius. Lalu, pandangannya segera tertahan saat menatap dada Ruka yang naik-turun dengan berat.
"Jangan-jangan ...."
Tanpa aba-aba, dia langsung menyibak jubah dan merobek kaos usang Ruka yang berada di balik jubah.
Ketika tersobek pada bagian tengah dada Ruka yang pucat, lebih tepatnya di antara buah dadanya, terlihat ada semacam lingkaran sihir berwarna ungu gelap mengeluarkan cahaya remang. Lingkaran sihir tersebut memiliki ukuran sedang, dan pola yang sangat rumit.
"A–Apa itu?" gumam Erika bingung.
"I-Ini ...."
Aku membelakan mata bingung saat menyaksikan lingkaran sihir itu tiba-tiba menyala semakin terang, dan Ruka langsung menjerit kesakitan diiringi tubuhnya yang meronta-ronta liar.
"Akh!!"
"Gahh!!"
"Ruka!"
Akupun langsung mendekat dengan menumpukan kedua tangan di atas ranjang.
__ADS_1
Tangan kanan Ruka langsung meraih salah satu pergelangan tanganku, dan segera dicengkramnya kuat-kuat.
Urat serta otot-otot yang tersisa di balik kulit pucatnya segera mengejang hebat. Tubuhnya yang berantakan, meliuk-liuk kasar di atas ranjang. Tak lupa mata kanan Ruka membelak lebar, bahkan nyaris melotot.
"Tidak salah lagi! I–Ini kutukan." kata Michelle gemetar.
"Kejam sekali ...." Geram Erika.
"E–Erika, Michelle, bagaimana ini?" tanyaku mulai panik.
"Jangan cemas, Fate. Aku berjanji, pasti aku akan menyelamatkan Ruka."
***
Aku terduduk seorang diri di luar kamar tempat Michelle merawat Ruka, yang juga merupakan kamar sewaan kami.
Sesekali, aku mendengarkan teriakan Ruka yang begitu menderita. Bahkan, beberapa penumpang lain yang lewat, menatap ke arahku heran serta curiga.
Ya ampun, yang benar saja ...
Jujur saja, aku tak pernah membayangkan jika diriku akan terombang-ambing dalam situasi semacam ini.
Mengesampingkan hal itu, aku tak begitu tahu mengenai metode Michelle untuk melepaskan tanda kutukan yang melekat pada Ruka. Namun, dia begitu percaya diri dengan kemampuannya saat ini.
Melalui penjelasan singkat yang Erika dan Michelle tuturkan. Tanda kutukan yang melekat pada tubuh Ruka berasal dari sebuah Sihir Pengekang yang digunakan untuk memberikan kendali untuh si Pengguna sihir tersebut kepada sesuatu yang dia berikan tanda kutukan itu. Dan tentu saja, ini hanya berlaku untuk makhluk hidup.
Sihir Pengekang, adalah salah satu sihir terlarang di Kerajaan Aegis. Bagi siapa saja yang berani menggunakannya dan menyalahgunakan fungsinya, si pengguna diijinkan dibunuh di tempat jika ditemukan, tak peduli siapapun itu.
Karna pada dasarnya, Sihir Pengekang digunakan untuk mengendalikan hewan buas, roh jahat, dan monster yang mengamuk. Oleh sebab itu, sangat tidak dianjurkan jika digunakan pada tubuh makhluk hidup yang memiliki kekuatan fisik dan energi kehidupan yang terbatas. Meskipun efek kekang dan rasa sakit yang ditimbulkan masih bisa dikendalikan, sesuai keinginan si Pengguna. Namun, tetap saja, rasa sakit yang dirasa tak mampu diterima.
Simbol lingkaran sihir akan menyala, dan langsung menjalarkan rasa sakit setengah mati kepada si korban ketika si pengguna merasa korbannya tak menuruti perintah. Hal itu akan terus terjadi berulang kali, hingga si korban menuruti atau menjalankan tugas mutlak yang diberikan oleh si pengguna Sihir Pengekang.
Pengguna atau si pemilik Sihir Pengekang, biasanya adalah mereka yang berprofesi sebagai Dukun. Di dunia ini, Dukun lebih dikenal dengan julukan Shaman.
Demikianlah yang Erika dan Michelle jelaskan padaku. Sejujurnya, setelah mendengar semua penjelasam itu aku benar–benar merasa marah dan muak.
Siapa, sebenarnya yang memberikan tanda Kutukan itu kepada Ruka?
Apa yang si pengguna perintahkan kepada Ruka, hingga Ruka sendiri malah menolak perintahnya?
Kutatap telapak tangan kiriku, dan memicingkan kedua mata. Dengan mengimajinasikan sesuatu, di atas telapak tangan. Munculah percikan petir hitam yang sesekali meletup-letup.
Jika aku menemukannya, sebailnya akan aku apakan dia?
Ganjaran apa yang pantas aku berikan padanya?
Supaya, penderitaan Ruka bisa berakhir?
"Bunuh!"
Apa?
"Bunuh saja!"
Benar juga ....
Itu ... terdengar menarik sekali.
"Bagus, daku suka ini. Tetaplah seperti ini!"
"Lihatlah, Engkau saat ini begitu dipenuhi kebencian dan rasa murka."
"Menyebabkan, kekuatan elemen yang Engkau milikki menjadi ikut berwarna hitam."
"Buatlah daku terhibur lebih lama lagi!"
"Buatlah daku merasakan semua ini lebih lama!"
"Hingga, Engkau sendiri yang akan meminta daku untuk menariknya!"
"Sekarang, tarik daku!"
"Tari—"
"Huh?!"
Kedua pundakku tersentak kuat saat tersadar dari lamunanku. Entah mengapa, tubuhku tak mau berhenti gemetaran. Tanpa disadari. Napasku sudah tersenga-sengal, keringat dingin membasahi dahi dan telapak tangan.
Rasanya, aku baru saja terjatuh ke dalam jurang yang tak memiliki dasar. Begitu dingin, kelam, dan gelap.
"Sebenarnya, apa yang baru saja aku lewatkan?" Gumamku. "... siapa, yang barusan berbicara padaku?"
Entah intuisi darimana, aku malahan melirik pelan ke belakang. Lebih tepatnya, ke arah sarung pedang kosong yang senantiasa menempel pada punggungku.
"Fate."
Aku segera menoleh dan melihat si pemilik suara itu yang telah berdiri di hadapanku. Tubuh rampingnya yang berada di balik jubah biru lautnya, berdecak pinggang dan menatap lurus.
Terlihat, sepasang bola mata biru yang menatap ke arahku cemas— tidak, lebih tepatnya dia sedikit kebingungan saat ini.
Namun, entah mengapa saat aku melihat kilau biru yang terpantul di dalam matanya, semua perasaan aneh yang timbul barusan langsung menghilang.
"E–Erika ...."
"Kau ini kenapa, sih? Melamun terus."
"Begitukah."
"Apa kau baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat, lho."
Aku hanya melirik ke lain arah dengan pelan, karna sejujurnya saat ini aku juga tengah ragu dengan keadaan diriku.
"Tsk, jangan bergerak," Kata Erika seraya membusungkan tubuhnya ke depan.
"A–Ada apa?"
"Diam dan menurut saja."
Erika tiba-tiba menyentuh kepalaku pada bagian belakang. Lalu, dengan lembut dia memajukan kepalanya hingga tak disangka dahi kami menyatu saat ini. Menyebabkan, rambut poni Erika yang selembut awan, bersentuhan dengan rambut hitamku.
Dari jarak sedekat ini, aku mampu mendengar tarika napas kami yang beradu, dan merasakan kehangatan tubuhnya. Tak lupa, kedua mata bulatnya terpejam lurus, dengan dihiasi bulu mata yang begitu lentik dan lebat.
Sentuhan kulit dahinya yang halus, ditambah aroma tubuhnya yang menenangkan, membuat perasaan ini terasa nyaman mengetahui ada seseorang yang kuanggap berharga ada di dekatku.
"...."
"...."
Keadaan saat ini terjadi hingga beberapa saat. Hingga Erika membuka kedua mata, lalu menjauhkan kepalanya dariku.
"Syukurlah, sepertinya kau tidak tertular demamnya."
"Begitu, ya. Sepertinya, kau juga tidak."
"Jangan meremehkan daya tahan tubuhku, bodoh." Balasnya kemudian terduduk di sampingku.
"Lalu, bagaimana kondisi Ruka?"
"Michelle sedang berusaha menghilangkan tanda kutukannya. Namun, karena pola lingkaran sihirnya terlalu rumit, itu membutuhkan waktu untuk bisa menghilangkannya."
"Lalu, luka disekujur tubuhnya bagaimana?
"Jangan cemas. Dengan Sihir-Pemulihan dan racikan tanaman obat milik Michelle, setidaknya kondisinya tidak akan bertambah buruk, kok."
"Begitu,ya. Syukurlah ...."
Mendengar hal itu, sejujurnya sangat membuatku lebih baik. Setelah dipaksa merasakan kecemasan ketika menunggu Ruka yang tengah dirawat oleh Michelle.
"Jadi, yang saat ini masih menjadi masalah adalah tanda kutukan itu, ya ...."
Erika mengangguk samar, "Umm."
"Apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membantu Michelle?"
"Tidak ada. Malahan, jika kita memaksa membantu, Michelle akan kerepotan. Karena, kita hanya akan mengganggu konsentrasinya ketika mempelajari lingkaran sihir yang merupakan tanda kutukan itu." Jelas Erika. "seseorang seperti kita yang tak memiliki pengetahuan apapun tentang Sihir-Medis, Sihir-Pemulihan, dan Sihir-Penyembuhan. Hanya bisa menyerahkannya kepada Michelle."
"Sayang sekali, ya."
Kukira, tadinya ada yang bisa aku lakukan. Tapi, jika sudah seperti itu. Aku hanya bisa terdiam dan mempercayakan sisanya kepada Michelle.
Menjengkelkan, aku tidak menyukai ini.
Hanya bisa berdiam diri saja dan menunggu tanpa berbuat apapun, ketika situasi masih tak pasti. Sejujurnya, hal ini membuatku sangat tidak nyaman dan semakin gelisah.
Setidaknya, aku harus ikut disibukan dengan sesuatu. Karena bagiku, sekecil apapun tindakan atau sesuatu yang bisa kuberbuat itu jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun.
"Ada ...." Ucap Erika tiba-tiba seolah membaca pikiranku.
"E-Ehh, benarkah?"
Dengan mengangguk pasti, wajah Erika menjadi serius.
"Kita bisa melakukan sesuatu supaya keadaan ini langsung berbalik, walaupun hanya dengan sekali gerak."
"A–Apa yang bisa kita lakukan?" tanyaku semakin penasaran.
"Kita harus menemukan si pengguna Sihir Pengekang-nya, dan memaksanya untuk menghilangkan utuh kontrak pengekangnya dengan Ruka."
"Tapi, jika dia menolaknya?"
"Kita tak punya pilihan lain, selain langsung menghabisinya."
__ADS_1