Living in the World Where I Can See a Stars

Living in the World Where I Can See a Stars
Bab 03 - Tempat untuk Kembali


__ADS_3

Bab 03


(Has been edited, by Radrael. Wednesday, July 10, 2019)


 


 


Apakah pertemuanku dengan Erika, merupakan bagian dari takdir yang telah Tuhan rencanakan?


Jika demikian, aku ingin tahu.


Kira-kira, apa yang Tuhan pikirkan, saat menakdirkan hal ini untukku?


Aku sibak selimut dan terduduk untuk kesekian kalinya. Beberapa kali aku sudah mencoba untuk tidur dan beristirahat, seperti yang Michelle anjurkan supaya proses pemulihan tubuhku bisa lebih lekas.


Namun, aku malahan hanya sebatas merubah-ubah posisi tidurku, tanpa bisa terlelap. Karena, pikiranku tak kunjung berhenti memikirkan hal tadi.


Memikirkannya pun, sebenarnya akan sia-sia saja.


Karna memang seperti itulah takdir bekerja di kehidupan ini.


Penuh kejutan yang tak terduga.


Mencoba melupakan itu. Aku kemudian menyapu pandangan ke seluruh ruang kamar, yang lampunya telah dipadamkan karna sudah memasuki waktu tidur.


Meskipun keadaan sedikit gelap, aku malah merasa tenang dan terhanyut dalam notslagia kehidupan diriku sebelumnya. Seolah, aku kembali bertemu teman lama.


"Entah kenapa, aku merasa jika waktuku yang di dunia telah berhenti. Kini mulai berjalan kembali ...."


Aku melirik ke arah jam dinding. Tampak, jarum pendek sudah mencapai angka 10.


"Sepertinya, aku memang harus tidur. Mengingat, sudah selarut ini dan udara semakin dingin."


Namun, ketika aku hendak membaringkan tubuh dan bersiap dengan selimutku. Terdengar suara angin yang mengetuk-etuk jendela kamar ini dengan lembut.


Suaranya memang lemah, bahkan tarikan napasku masih terdengar lebih jelas. Tampak, gorden yang terpasang sedikit bergerak-gerak.


"Anginnya, memanggilku?"


Tubuhku tergerak, dan segera berjalan mendekat ke arah jendela tanpa mempedulikan kakiku yang menggigil karena berjalan di lantai kayu yang dingin tanpa alas kaki.


Sesampainya di depan jendela, kusibak pelan gordennya. Perlahan, remangan cahaya yang berasal dari luar membias masuk.


Mataku terbuka semakin lebar dan menahan napas ketika melihat apa yang di balik kaca.


"Bi—Bintangnya, banyak sekali!" Decakku terkagum.


Untuk sesaat, mataku tak kunjung berkedip di kala melihat jutaan bintang yang tengah menggantung menghiasi hitamnya langit malam [Yggdrallia]. Langit malam ini begitu bersih, tak berawan. Membuat pemandangan di angkasa terlihat sangat menakjubkan. Melihatnya, membuat jantungku berdebar-debar dan seluruh bulu romaku merinding.


Kusentuh permukaan kaca dengan gemetar, Iisanku mendadak sulit menutup karna masih saja terpaku dengan pemandangan di baliknya.


Merasa tidak puas, aku lalu membalik tubuh dan berjalan cepat ke arah almari. Setelah kubuka, aku langsung mengobrak-abrik pakaian di dalamnya untuk mencari pakaian tebal yang bisa digunakan.


Tanganku berhenti saat melihat sebuah mantel hitam polos yang tergantung dengan hanger. Segera kuraih dan memakainya dengan tergesa, kemudian beranjak dengan membiarkan almari tetap terbuka.


Bintang!


Aku bisa melihatnya!


Seperti yang Nenela katakan.


Cahaya berkelap-kelip, begitu banyak, dan sangat indah!


Aku keluar dari kamar seraya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada orang. Mengetahui keadaan telah sunyi, aku dengan hati-hati beranjak menuju pintu utama rumah ini.


Sesampainya di sana, aku melihat ada rak yang berisikan sepatu boot, sandal, dan payung. Dengan meminta maaf dalam hati, aku raih sepasang sepatu boot yang tersedia dan memakainya.


Ketika aku tengah membuka pintu, karna sudah sedikit tua pintu tersebut menimbulkan bunyi berdecit.


Ga-Gawat!


Tapi, syukurlah pintunya tidak dikunci.


Akhirnya, aku berhasil keluar. Hal yang pertama kali aku lihat adalah, panorama Desa Nimu dari ketinggian.


Dengan menahan udara dingin, aku lalu berjalan menuju halaman rumah.


"Jadi, selama ini aku berada di rumah yang terletak di dataran tinggi, ya?"


Rumah yang aku tempati selama dirawat, berada di dataran yang lebih tinggi ketimbang rumah-rumah penduduk Desa Nimu.


Erika dan Michelle juga menempati salah satu kamar di rumah ini, lebih tepatnya di lantai dua. Oleh sebab itu, saat aku keluar begitu berhati-hati agar tidak membangunkan mereka.


Dari sini, aku mampu menikmati pemandangan desa hingga pelosoknya. Walaupun wilayah Desa Nimu tak terlalu luas, akan tetapi desa ini sungguh megah jika dilihat dari ketinggian.


Semua atap rumah penduduk tertutupi salju, jalan setapak yang membentang di tengah desa dan blok antar rumah juga tak luput dari taburan salju.


Meski demikian, cahaya jingga remang yang berasal dari tiap rumah. Membuat suasana kini tetap terlihat hangat, persis seperti cahaya solus yang tengah terbenam.


Kusapu pandanganku ke lain arah. Pada wilayah timur desa, terdapat ladang yang tak digunakan. Mengingat tengah musim dingin, ladang tempat mereka bercocok tanam dan menggembala tertutup salju.


Di samping ladang, ada sebuah aliran sungai. Sungai tersebut, melintang mengelilingi desa, hingga bermuara ke sebuah danau yang berada di tengah Hutan Lux.


"Desa yang indah. Syukurlah penduduk desa ini sudah tak perlu takut lagi akan serangan Beruang Iblis yang menghuni Hutan Lux."


Napas yang aku hembuskan melalui mulut, berganti menjadi kepulan asap putih yang tebal. Menandakan, suhu saat ini sudah sedingin es.


Aku menoleh ke samping kanan dan kiri, terlihat ada beberapa bangunan yang sama seperti rumah tempat aku singgah. Namun, semuanya tampak gelap, menandakan tidak ada yang menempatinya saat ini.


Ada jalan yang dibuat tangga pada sebelah kanan dataran ini. Jalan tangga itu, sedikit panjang dan menjadi penghubung dataran ini dengan Desa Nimu. Setiap jarak sekitar 20 meter, terpasang sebuah lampu jalan yang menerangi.


"Mungkin, rumah-rumah yang dibangun di sini merupakan sebuah hunian yang sengaja dibuat untuk tamu, pendatang, dan para Petualang yang tengah singgah."


Sedaritadi, aku penasaran. Kenapa di saat malam hari seperti saat ini, pandangan mataku bisa begitu leluasa dengan jelas melihat pemandangan desa?


Segera teringat, aku pun mendongkakan kepala ke atas cepat. Dengan menahan napas, kedua kelopak mataku kembali terbuka lebar.


"Luar biasa! Bintang, bulan, dan langitnya tampak begitu dekat sekali!"


Di pusat langit malam ini, bulan yang berbentuk lingkaran sempurna begitu membuatku terpukau. Ukurannya yang besar dan bersinar terang, membuat diri ini paham mengapa mampu melihat sekeliling dengan jelas.


Aku menjulurkan tangan kanan, dan diangkat tinggi-tinggi seolah ingin meraih salah satu bintang di langit.


Tanpa kusadari, kedua kakiku yang memakai sepatu boot berjinjit. Tubuhku gemetar menahan dingin, angin meniup salju yang turun hingga menutupi mata. Walau begitu, semua itu tak membuat kedua mataku berkedip.


Akhirnya ... akhirnya ....


Harapanku, bisa terkabul.


Saat ini, aku bisa melihat bintang yang selalu Kau lihat, Nenela.


Bintang yang senantiasa Kau tunjuk dan ceritakan, apakah ada di atas sana?


Apakah, bintang yang selalu Kau inginkan sinarnya tetap terlihat, apakah ada di sana?


Lalu, katakanlah ...


Berapa banyak rasi bintang yang mampu Kau sebutkan?


Aku, sangat ingin mendengarnya lagi.


Aku menggigit bibir bawah ketika mengingat semua kenangan yang kumiliki bersama Nenela saat kami berada di bawah langit berbintang.


"Terlalu banyak, terlalu banyak kenangan yang bisa kuingat saat ini." Gumamku seraya mengepalkan tangan erat.


Aku kemudian berhenti berjinjit dan menundukan kepala. Kusapu air mata yang memaksa keluar. Meski hanya beberapa tetes, itu sungguh membuat wajahku menjadi dingin.


"Fate, kau sedang apa di luar?"


Mendengar suara semerdu musik itu di antara gesekan angin dan salju, membuat kedua pundakku tersentak. Kemudian, dengan pelan aku menoleh kebelakang.


Di teras rumah yang diterangi oleh cahaya lampu, tampak seorang gadis berambut pirang yang tiap surai rambutnya masih basah, dengan sehelai kain handuk di atas kepala.


Dia menggunakan piyama putih di balik jaket cardigan berwarna cream sepanjang lutut yang dia pakai. Kedua kakinya yang sedikit menggigil, beralaskan sandal berbulu domba.


"Mi-Michelle?"


 


 


***


 


 


"Maaf, apa aku mengejutkanmu?"


"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf. Karena bukannya istirahat, aku malahan keluyuran seperti ini."


Michelle lalu menarik handuk dari atas kepalanya, "Umm, tidak apa-apa kok. Mungkin, kau jenuh karena aku selalu menyarankanmu untuk beristirahat. Jadi, wajar saja jika Kau ingin bergerak."


Saat ini, kita tengah terduduk di sebuah bangku kayu jati yang memanjang, di samping halaman rumah. Lebih tepatnya, di bawah atap pondok kecil, kami berteduh dari hujan salju.


"Kau, kenapa belum tidur?" tanyaku memecah keheningan.


"Ahh, umm, begitulah. Aku tidak bisa tidur jika dalam keadaan tubuh belum bersih. Jadi, aku baru saja selesai mandi tadi."


"Mandi di tengah udara sedingin ini?"


Michelle menoleh ke arahku, "Tentu saja aku mandi dengan air hangat. Aku juga tidak seceroboh itu, kok!"


"Be-Begitu, ya."


Kedua iris hijau safir-nya, tampak begitu berkilau seperti berlian. Bahkan, aku mampu melihat salju yang turun saat ini terpantul di dalam matanya. Kulit wajahnya lembab, menandakan jika Michelle memang baru usai mandi.


Ada rona merah pudar yang menghiasi masing-masing pipinya. Lisannya yang mungil, tiap kali berkata selalu mengeluarkan asap putih yang tipis.


Dan yang terpenting. Bau harum tubuhnya yang wangi, mengingat Michelle baru saja mandi. Mungkin ini tidak sopan, tapi aku mampu mengendus aroma manis seperti teh dan bunga saat ini. Sudah pasti, itu datangnya dari Michelle.


Mengetahui semua itu, sejujurnya membuatku sedikit gugup.


"Lalu, Kau sendiri sedang apa tadi, Fate?"


"Oh, itu karena bintangnya."


"Bintang? Kenapa dengan bintangnya?" tanya Michelle ikut menatap ke langit.


"Indah sekali."


Saat kami tengah mengagumi keindahan langit bersama. Tiba-tiba, di antara bintang dan tarian salju yang turun. Ada sebuah kilatan cahaya lurus merobek langit.


Cahaya itu begitu ramah, dan terlihat indah. Namun hanya sebatas lewat, kemudian langsung menghilang ditelan langit malam.


"Lihat, Fate! Barusan ada bintang jatuh!" tunjuk Michelle kagum. "ayo kita buat permohonan!"


Aku menoleh ke arah Michelle, tampak dia tengah menyatukan kedua telapak tangan dan menundukan kepala.


Aku jadi penasaran, kira-kira apa yang Michelle sebutkan di dalam permohonannya, ya?


Dengan mata yang terpejam, Michelle lalu berkata lembut, "Semoga Fate tidak bersedih lagi."


Di saat udara tengah sedingin es, aku menjadi kesulitan untuk bernapas. Namun, ketika mendengar permohonan kecil Michelle, tubuhku terasa menghangat.


Kedua kelopak mata Michelle yang bulat lalu terbuka. Dia menatap salju yang turun dengan sayu, tangannya terlihat bergetar walau tengah disatukan.


"Michelle ...."


"Terima kasih, Fate. Karena telah menghibur Erika."

__ADS_1


"Ka-Kau mendengarnya, ya?"


"Umm ...." Angguk pelan Michelle mengakui.


"Semuanya?"


"Umm, semuanya."


"Ja-Jadi karna itu, kau telat menyiapkan makan malam tadi."


Dengan polos Michelle tersenyum, "Maaf, aku berbohong kepadamu dan Erika jika di dapur kehabisan garam."


"Tidak perlu kau pikirkan." Wajahku mungkin saat ini memerah, karena tahu jika Michelle mendegarkan perbincanganku dengan Erika tadi siang. "Pasti memalukan, ya?"


"Sama sekali tidak, kok. Karena aku pun berpikiran sama dengan Erika."


Daguku sedikit terangkat saat mendengarnya. Jika Michelle berkata demkian, itu artinya dia juga memiliki perasaan yang sama seperti Erika siang tadi.


"Sungguh, Kau sudah membantu kami terlalu banyak, Fate." Sambungnya pelan.


Aku lalu meliriknya, terlihat wajah Michelle begitu sedih. Tatapannya meredup, seiring rasa bersalah juga menghampirinya.


Jika diperhatikan, air mukanya saat ini tak jauh berbeda dengan Erika tadi. Hanya saja, aku tahu jika Michelle itu memiliki pemikiran yang lebih dewasa. Jadi, dia mampu menerima dan mengampuni dirinya sendiri.


Namun, tetap saja dia tak bisa melakukan itu berdasarkan asumi diri sendiri. Dia perlu seseorang yang bisa membantu dirinya untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi. Itulah yang Michelle butuhkan saat ini.


"Michelle ...."


Dia lalu menoleh dan menatapku sayu, "...."


"Ma-Mau aku elus rambutmu juga?"


Wajah Michelle yang sebelumnya murung, kini berubah menjadi merah dan menatapku bingung.


"A-Apa yang Kau katakan? Jahat sekali, sih! Menggoda seorang gadis yang sedang bersedih." Balas Michelle jengkel. "Kau memang me-mesum, seperti yang Erika katakan."


Aku menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tak gatal dengan wajah yang panas menahan malu, "Ma-Maaf, lupakan saja."


Mendengar Michelle mengatakan itu, aku jadi teringat perkataan Erika padaku juga.


Menjengkelkan!


Dia, membuat Michelle yang polos ikut menyebutku orang mesum!


"Pfftt!"


Aku menoleh kecil saat mendengar suara tawa yang tertahan tersebut. Tampak, Michelle yang membungkam mulut menggunakan handuk dengan kedua matanya terpejam.


"Ma-Maaf, aku hanya tak tahan melihat ekspresi jengkelmu tadi. Pasti, kau sedang membayangkan wajah Erika saat mengatakan itu padamu, 'kan?" tebaknya.


"Dih, mana mungkin ak—"


"Terima kasih, Fate. Sungguh, aku lega bisa menyampaikan padamu juga."


Sejujurnya, mendapatkan ucapan "Terima kasih" jika terlalu sering membuatku merasa tidak nyaman.


Apakah, mereka berdua sebegitu tertolongnya?


Aku hanya tidak ingin, mereka menjadi merasa berhutang budi padaku.


Bagaimana jika selama ini, Michelle dan Erika mau merawatku karena mereka berhutang budi padaku? Mengingat, akulah yang telah menemukan sekaligus memancing beruang iblis di Hutan Lux keluar dari persembunyiannya?


Hanya membayangkannya saja sudah membuatku muak, jika itu memang benar.


Meski begitu, aku percaya jika Michelle dan Erika merupakan gadis yang baik. Jadi, tak mungkin mereka memiliki pemikiran sekejam itu. Namun tetap saja, ketika aku membayangkannya. Itu sejujurnya membuatku takut dan bimbang.


"Kuharap, setelah semua ini selesai. Kita tetap bisa berteman dan berjumpa."


Kalimat itu terucap dari lisannya yang mungil dengan tulus. Mendengarnya, seolah memberikanku keberanian.


Rasa terima kasih kalian yang tulus, sudah tersampaikan padaku.


Semenjak kita semua bertemu.


"Tentu saja, bukan? Karena kita, sudah menjadi teman tidak mungkin aku melupakan pertemuan ini, bahkan seumur hidup." sautku seraya mencoba menyembunyikan perasaan senang.


"Umm! Aku sangat senang mendengarnya." Balas Michelle tersenyum manis. "Ngomong-omong, seperti yang Erika katakan tadi saat makan malam, kita akan berangkat besok setelah sarapan."


"Kenapa pagi sekali?"


"Begitulah. Aku dan Erika harus bergegas kembali ke Ibu Kota untuk melaporkan selesainya Quest yang kita penuhi." Kata Michelle seraya menyatukan kedua telapak tangan dan mengusap-usapnya.


Aku lalu melepaskan mantelku, "Melaporkannya? Kemana?"


Setelah terlepas, kuberikan kepada Michelle yang semakin gencar mengusap-usap kedua telapak tangannya.


"Ahh, terima kasih," Michelle menerimanya dengan wajah yang sedikit merah. "kemana Kau tanya tadi, ya? Tentu saja ke Serikat Petualang Kerajaan Aegis, yang berada di Ibu Kota Kerajaan, Centoaria."


"Begitu, ya."


"Hangatnya ..." Kata Michelle seraya memeluk tubuhnya nyaman. "Astaga! Maaf, apa Kau tidak kedinginan, Fate?"


"Tak perlu cemas. Aku telah mengganti pakaianku dengan pakaian yang berbahan tebal, kok."


"Begitu, ya. Syukurlah."


"Lalu, kenapa kalian harus buru-buru?"


"Kau besok akan tahu sendiri, kok. Sesampainya kita di Centoaria."


"Be-Begitu, ya."


"Umm. Lalu, kondisi tubuhmu bagaimana?"


"Sepertinya, minuman obat racikanmu bekerja dengan baik. Aku merasa kondisiku sudah sepenuhnya pulih." Jawabku jujur. "... tidak, bahkan aku merasa sangat sehat sekarang!"


"Benarkah? Senang mendengarnya."


"Benar juga, ya ... " balasnya seraya menghela napas. "kurasa, musim dingin baru saja dimulai."


 


 


***


 


 


Kusibak gorden dengan semangat. Cahaya solus putih-kekuningan langsung melesat masuk, membuat seisi ruangan segera mengering dan terang.


Kuteruskan membuka jendela agar udara dingin yang semalaman terjebak di dalam ruangan bisa ditukar dengan udara hangat pagi ini.


Begitu jendela terbuka, kuhirup perlahan udara yang ada di luar jendela. Bau sinar matahari yang kering, aroma salju yang mencair, dan dedaunan yang dihinggapi salju. Rasanya begitu nyaman dan menyegarkan di dalam tubuh.


Mengetahui suasana yang langka, aku melakukan peregangan secukupnya pada tubuhku yang terasa kaku.


Tubuh yang sedikit ditumbuhi otot ini segera mengejang saat kurentangkan kedua tangan tinggi-tinggi ke atas. Rasa sakit pada persendian, sedikit membuatku meringis. Mungkin, ini bisa terjadi karna hampir selama 2 hari tubuhku hanya terbaring lemas di ranjang.


Aku berdecak dan mengakhiri peregangan, lalu menatap keluar jendela.


"Baiklah, sepertinya aku harus bergegas."


Singkat cerita. Setelah menyambut datangnya hari dengan serangkaian aktivitas kecil. Kini, aku sudah mandi dan berpakaian seperti saat baru datang ke dunia ini. Berupa jubah hitam yang memiliki banyak bulu halus pada kerah dan beberapa bagiannya. Tak lupa, sepasang sepatu boot hitam, serta celana yang sewarna.


Kubuka kancing jubah dan membiarkannya terbuka, hingga memperlihatkan dadaku yang bidang terbalut kaos hitam berkerah putih.


Saat kuperiksa bagian perut, aku sedikit keheranan. Karena tak ada bekas robekan di sana, padahal sebelumnya sudah terkoyak. Aku juga mengendus aroma jubah ini. Begitu wangi dan lembut, tak seditikpun aroma darah yang anyir dan bau tanah yang tertinggal.


"Aku tidak begitu mengerti bagaimana penenun desa ini melakukannya. Tapi, aku sangat senang jika semua perlengkapanku sudah diperbaiki dan menjadi semakin nyaman dipakai." Gumamku seraya berkaca di depan almari. "... terlebih, ini adalah hadiah berharga yang Michaella berikan."


Saat aku berkaca, di dalam pantulan cermin aku melihat sarung pedang hitam polos yang disandarkan pada dinding kamar ini.


Dengan membalik tubuh, aku lalu berjalan mendekat untuk menjemputnya.


Aku berlutut dan memperhatikannya dengan seksama. Tak ada lagi sabuk penahan pedang yang akan digunakan agar sarung pedangnya tetap menempel di punggungku.


"Apa aku memerlukan ini, ya?"


Sedikit kebingungan, aku lalu teringat jika bagian punggung jubahku sudah ditambahkan semacam pengait untuk menopang sebuah sarung pedang yang terbuat dari kain sabuk.


Jadi nantinya, aku hanya perlu mengencangkan masing-masing pengaitnya. Dan sarung pedangku bisa terus menempel di punggung tanpa memerlukan sabuk penahan lagi. Begitu praktis, bukan?


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dua kali dari pintu kamar ini.


"Hei, Fate. Apa kami boleh masuk?" saut seseorang dari luar.


"Kau sudah selesai, 'kan?"


Aku segera berdiri, "Iya, masuk saja."


Pintu terbuka dari luar, terlihat Erika yang telah terbalut jubah biru lautnya masuk. Disusul di belakangnya, Michelle yang juga sudah siap dengan balutan jubah putihnya.


"Kalian sudah selesai berkemas?" balasku bertanya.


Erika berjalan menuju almari dan segera bercemin, "Tentu saja? Lihat saja aku, cantik sekali, 'kan."


"Percaya diri sekali, sih."


"Kau sudah yakin, jika tidak ada lagi barang milikmu yang tertinggal, Fate?" tanya Michelle berjalan mendekat ke arahku.


"Sepertinya tidak ada. Karna sejak awal aku tak membawa banyak barang."


Erika yang sudah selesai berkaca, lalu ikut mendekat. Dia menatapku dari atas hingga bawah dengan seksama, seolah tengah meneliti.


"A-Ada apa?"


"Erika, apa ada yang salah?" tambah Michelle.


Erika membuat mimik wajah yang rumit, dia lalu menegakan posisi berdiri dan menyentuh dagu lancipnya.


"Penampilanmu membuatku bingung."


"Kenapa bisa begitu?"


Erika lalu melipat kedua lengan di depan dada, "Habisnya, dia memakai jubah seperti Penyihir. Tapi, dia nantinya akan membawa sarung pedang layaknya seorang Kesatria."


Aku menjadi kikuk sendiri saat mendengarnya. Satu-satunya orang yang bisa aku salahkan setelah mengetahui semua ini tentu saja adalah Michaella.


Hadiah perpisahan yang dia berikan, sebetulnya lebih cocok disebut sebuah lelucon di antara teman. Namun, mau bagaimana lagi, bukan? Ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pasalnya, aku memang sangat tertolong oleh hadiah yang Michaella berikan. Terutama jubah hitam berbahan tebal saat ini kupakai.


"Tapi ...," saut Michelle seraya ikut menatapku. "... aku suka dengan gaya penampilanmu ini, Fate. Karena, kau terlihat berbeda dari para Petualang di Kerajaan ini."


"Ya ampun Michelle, seleramu buruk sekali, sih?"


"Eh, masa? Tapi, aku benar-benar menyukainya, kok."


Dengan mencoba percaya diri, aku kemudian memasang tampang tenang dan berkata.


"Y-Ya, apa yang Michelle katakan benar. Penampilanku ini, merupakan ciri khas diriku!"


"Umm! Umm!" angguk Michelle menanggapi.


Erika hanya menghela napas, "Terserah kalian saja."


"Lalu, bagaimana? Kita akan berangkat sekarang, Erika?"


"Benar juga. Tapi sebelum itu, kita harus menghadiri jamuan makan pagi ini sebelum beranjak."


"Jamuan makan?"

__ADS_1


Michelle berjalan mendekat ke arah Erika, "Begitulah. Kepala Desa Nimu mengundang kita untuk hadir sebelum kita meninggalkan desa ini."


"Begitu, ya."


"Beliau berkata, jika jamuan makan ini sebagai bentuk rasa terima kasih dari seluruh penduduk desa karena telah berhasil memusnahkan beruang iblis yang menghuni Hutan Lux."


"Nah, begitulah."


Aku lalu tersenyum kecil, "Penduduk desa ini, mereka ternyata orang yang baik, ya."


"Umm, benar sekali. Mereka bahkan memberikanku banyak sekali panganan khas desa ini kemarin."


"Roti Labu misalnya." Tambah Erika cepat.


"Begitu, ya. Syukurlah, aku jadi semakin senang karena bisa membantu."


"...."


Terjadi sepersekian detik jeda saat ini. Terlihat, Michelle dan Erika saling lempar pandangan, seolah tengah menimbang-nimbang sesuatu. Setelah selesai, mereka mengangguk bersamaan.


"Fate, kita akan membicarakan sesuatu yang penting." Kata Erika memasang mimik muka serius.


"Umm, benar." tambah Michelle.


"Begitu, ya. Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di luar sa—"


"Tidak, Kau tak perlu melakukannya. Tetap di sini dan dengarkan." Potong Erika.


Michelle kemudian berjalan ke arah pintu dan menutupnya, "Ini tidak akan memakan waktu lama, kok."


Aku sejujurnya kebingungan sendiri saat ini. Namun, mengingat mereka meminta ini dengan baik dan aku juga merasa mereka tidak merencanakan sesuatu yang buruk. Jadi, aku turuti saja kemauan mereka.


"Umm, baiklah. Aku akan tetap tinggal."


Erika mengangguk ke arahku, Michelle yang sudah berdiri di samping kanan Erika pun demikian.


"Jadi begini ...."


"Aku dan Michelle, semalam sempat mediskusikan hal ini,—tidak, bahkan sudah jauh hari kami sudah sering mendiskusikannya."


Aku menyimaknya dengan seksama, sesuai permintaan mereka. Mengingat ini merupakan obrolan penting bagi mereka berdua, ditambah mereka menambahkan kata "diskusi" di dalamnya.


Mungkin, alasan mereka menyuruhku tetap tinggal, karena mereka ingin aku mendengar dan memberikan pendapat.


"Jadi, setelah sekian lama bimbang dan meragu. Akhirnya, kami berdua telah memutuskannya ...."


Mengangguk samar, aku menatap mereka lekat karna penasaran, "Jadi, apa yang telah kalian berdua putuskan?"


"Fate, apa Kau bersedia bergabung di dalam Party kami?" kata Erika lantang.


Dengan wajah yang sedikit merah, Michelle menambahi, "Ka-Kau bersedia, Fate?"


Kemudian, mereka kompak menurunkan punggung ke arahku.


Terjadi sepersekian detik jeda saat ini. Itu bisa terjadi, karna pikiranku menjadi lambat dalam memproses kata.


Dengan berkedip sebanyak 2 kali, aku menatap mereka heran, "Pa-Party? Apa itu?"


Keheningan kembali melanda, mereka berdua tersentak pelan dan membenarkan posisi tubuh.


"Aku lupa, jika kau itu orang linglung." Keluh Erika sambil mengusap keningnya. "Aku merasa konyol sendiri ketika mengingatnya."


"U-Umm, kau benar, Erika."


"Ma-Maaf." balasku sungkan.


"Baiklah, kalau begitu mari kita coba ganti kalimatnya!" Kata Erika mencoba kembali semangat.


Michelle tertular antusias saat mendengarnya, "Wah, benar juga! Apa ya kira-kira?"


"Aku tahu!" Erika lalu mencengkram jubahnya pada bagian dada, "Fate, apa Kau bersedia berpetualang bersama kami berdua dan menjadi rekan seperjuangan?"


"Benar! Jadi, apa Kau bersedia menjadi rekan kami, Fate?" tambah Michelle seraya tersenyum manis.


Aku sejujurnya tak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, yang jelas aku paham mengenai maksud perkataan mereka. Ajakan mereka untuk mengundangku menjadi bagian dari mereka, telah tersampaikan.


 



 


"Tahan dulu, kenapa kalian memintaku untuk bergabung?" tanyaku bingung. "Erika, seharusnya kau adalah orang yang paling tahu, 'kan?"


Erika menatapku bingung, "Apa maksudmu?"


"Ya ampun. Apa kau lupa, jika aku ini linglung, lemah, dan seorang Penyihir aneh yang membawa sebuah sarung pedang di punggungnya. Kau tahu itu, 'kan?"


"Justru karena semua itulah, kami ingin Kau bergabung bersama kami, Fate."


"...."


Dengan mendengus kesal, Erika kembali membalas, "Kami juga sama lemahnya sepertimu, bodoh."


"Huh?"


"Begini, Fate," Sanggah Michelle menengahi. "Party kami yang hanya beranggotakan dua orang, sejujurnya membuat kami kerepotan."


"Kerepotan?"


"Umm, terlebih kami belum terlalu kuat. Petualang dengan ranking menengah seperti kami, seharusnya sudah memiliki banyak anggota Party."


"Lalu, kenapa kalian pikir diri kalian sama lemahnya sepertiku?"


"Karena, Quest yang bisa kami ambil dengan anggota yang terbatas ini. Adalah Quest Ranking A termudah." imbuh Erika.


"Jadi, maksudmu selama ini, kalian selalu mengambil Quest yang sejak awal bisa diselesaikan dengan mudah, pada Ranking kalian yang saat ini?"


Dengan berat Michelle mengangguk, "Umm, begitulah."


"Menyedihkan sekali, bukan?"


"Petualang Ranking A yang memiliki anggota Party yang cukup, seharusnya sudah mampu mengambil Quest yang lebih sulit dan bisa menjelajah masuk ke dalam Dungeon." Jelas Michelle. "sementara itu, kami malahan masih memburu iblis yang berkeliaran di hutan."


"...."


Teruntuk yang kesekian kalinya, keheningan kembali melanda. Kebenaran yang mereka tuturkan, sejujurnya sedikit membuatku terkejut. Namun, setelah mendengar penjelasan mereka aku bisa mengerti.


"Ahh, begitu ya." Kataku seraya menghela napas. "... sungguh, kalian memang memalukan dan menyedihkan."


Erika lalu membuang pandangan dan menggeretakan gigi. Sementara Michelle, dia hanya memejamkan mata dan menunduk, untuk menyembunyikan rasa malunya.


Mereka sama sekali tidak melakukan pembenaran, 'kah?


Begitu, ya.


Jadi, sejak awal mereka tidak memiliki alasan untuk melakukannya.


Karena, memang begitulah keadaan mereka saat ini ....


Wajah mereka saat ini bisa sedemikian kecewa, karena setelah sekian lama mengelak dari kenyataan. Kenyataan bahwa diri mereka memanglah begitu lemah, dan hingga pasa akhirnya, setelah lelah mengelak mereka bisa benar-benar mengakuinya,


Itu lumrah saja. Namun, karena saking kecewanya membuat mereka melupakan sesuatu yang telah diperjuangkan sekaligus peroleh. Ini bagian yang sangat disayangkan sejujurnya, karna mereka hanya mementingkan hasil ketimbang proses.


"Tapi ..." ucapku angkat bicara lagi.


Mereka lalu menatapku, walaupun masih terlihat di dalam masing-masing mata mereka ada sesuatu yang menghalang-halangi pandangan, hingga menutupi hati mereka.


"Berkat orang lemah seperti kalianlah, penduduk desa ini bisa terselamatkan," sambungku seraya tersenyum kecil. "benar, bukan?"


Mereka berdua membuka mata lebar, seolah berhasil menyadari sesuatu. Setelah apa yang mereka lakukan tentunya.


Masing-masing bola mata mereka berdua, yang memantulkan cahaya berbeda. Membuat pandangan mereka terlihat lebih bersemangat saat ini. Lalu, mereka saling tatap seperti dua orang anak kecil polos yang baru menyadari kesalahan mereka.


"Benar. Berkat kalian, penduduk desa ini bisa selamat, mereka tak lagi perlu khawatir jika pergi ke hutan, dan aku masih hidup." Imbuhku. "... bukankah karena itu, alasan penduduk desa ini mengadakan jamuan makan sebelum kepergian kalian?"


Sejak awal, Erika di mataku selalu bertingkah seenaknya dan tak memikirkan akibatnya. Namun sebenarnya, dia tengah mencoba untuk menjadi dewasa dengan caranya sendiri.


Yaitu, memiliki pemikiran dewasa tanpa mempengaruhi perilakunya. Padahal, hal itu merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan.


Kemudian, untuk Michelle. Dia memang sudah beranjak dewasa, akan tetapi terkadang dia masih bisa kehilangan sifat dewasanya karna hal sepele. Ini bisa terjadi, karena kepribadiannya belum terbentuk seutuhnya.


Ternyata, seorang gadis yang tengah tumbuh menjadi wanita dewasa. Bisa memiliki kepribadian yang serumit ini, ya?


Dengan membasuh air mata yang tertahan di kelopak mata, Michelle mengangguk, "... Umm, seperti itu. Kami berdua membutuhkan seseorang sepertimu, Fate."


"Hm?"


"Mungkin, kami berdua seharusnya lebih menghargai perjuangan yang telah kami lakukan," Kata Erika yang sepertinya sudah mengerti. "sepahit apaun itu."


"Kau benar, Erika. Kenapa kita bisa menjadi mudah mengeluh begini, ya? Bukankah kita selalu berusaha melakukan sesuatu sebaik mungkin."


"Aku benci mengakuinya, ta—tapi begitulah." Balas Erika dengan wajah yang sedikit merah.


Untuk yang kesekian kalinya, aku tersenyum kecil. Melihat mereka berdua yang menyadari kesalahan dan segera mencoba memperbaikinya. Menurutku, itu sesuatu yang cukup indah.


"Jadi, bagaimana, Fate?"


"Hmm?"


"Apakah kau, bersedia bergabung dengan kami yang selemah ini dalam segala hal?" sambung Erika dengan tersenyum kecil.


Aku bisa melihat tekad mereka saat ini. Dua orang gadis yang memiliki sekian banyak perbedaan. Namun pada akhirnya, mereka memiliki hati yang sama rapuhnya.


Setelah sekian lama bersama, menderita, berjuang, dan saling memahami. Akhirnya, mereka bisa mengerti letak kekeliruan yang selama ini bersarang dalam hati mereka.


Mereka berdua, bukankah begitu indah, Nenela?


Mereka sama sepertimu, kau tahu?


Ya walaupun, ada yang benar-benar mirip denganmu, sih.


Tapi tenang saja. Dia kebalikan sosokmu, kok.


Dan, yang paling membuatku bahagian saat melihat mereka adalah ...


Mereka membutuhkanku, bersedia menerimaku, dan memberiku tempat untuk kembali.


Persis, seperti apa yang telah Kau perbuat padaku, Nenela.


Saat ini, sejujurnya aku tengah menahan rasa haru. Mengingat, di dunia yang asing bagiku ternyata aku menemukan tempat di mana aku bisa pulang, di hati orang-orang yang membutuhkanku.


Nenela ....


Saat ini, aku sudah menemukannya.


Sebuah tempat seperti yang pernah Kau berikan padaku, aku kini berhasil menemukannya.


Di dunia, tanpa adanya dirimu.


Jadi, sekarang Kau bisa berhenti mencemaskan diriku.


Karena, ada mereka kini yang akan mengawasiku ....


"Kenapa tidak? Sembari menunggu ingatanku pulih, aku akan ikut dengan kalian dan berpetualang bersama."


Aku menghela napas , "Pasti ini akan merepotkan, tapi akan tetap aku lakukan. Sembari menunggu ingatanku pulih, aku akan ikut berpetualang dan mengawasi kalian."


Saat aku menatap mereka secara bergantian, tampak wajah mereka seolah berkata, "Selamat datang!"


Ini mungkin memalukan, tapi aku benar-benar merasa sangat senang sampai-sampai ingin menangis.

__ADS_1


"Erika, Michelle. Terima kasih banyak, karena telah bersedia menjadi tempat untukku kembali di dunia ini."


__ADS_2