Living in the World Where I Can See a Stars

Living in the World Where I Can See a Stars
Bab 05 - Luka di bawah Langit Malam


__ADS_3

Bab 05


(Has been edited, by Radrael. Friday, July 12, 2019)


 


 


"Selamat makan!"


Saat kertas yang membungkus kentang bakarku telah tersobek, kepulan asap hangat segera terlihat keluar.


"E–Enak banget!" decak Michelle.


Aku menoleh ke samping, terlihat Michelle tengah memakan jananan yang tadi kami beli dengan susah payah. Terbukti, ubi ungu yang dia pegang dengan kedua tangan sesekali ditiup dan dimakannya dengan perlahan.


"Rasa bumbu Barbeque-nya begitu gurih, dan ubi ini manis banget!"


Aku tersenyum saat melihat ekspresi puas yang dia tampakan. Wajah seputih salju Michelle bahkan memerah, karena begitu hangatnya makanan yang dia makan.


Lalu, aku kembali fokus dengan jajananku. Dengan menelan ludah saat hendak memakannya, aku memilih untuk menggigit bagian yang begitu tebal dilapisi olesan keju putih.


Saat tergigit, tekstur kentangnya sungguh lunak. Olesan keju putih yang berada di atasnya, membuat semakin lembut saat dikunyah. Serta menimbulkan perpaduan rasa manis, asin, dan gurih.


Lezat sekali!


Sementara itu, Erika yang terduduk di samping kananku juga tengah berjuang memakan jajanannya yang berupa jagung panggang dengan olesan krim mayones pedas.


"Erika, apa kau suka makan-makanan yang pedas?" tanyaku.


"Begitulah. Kau sendiri gimana, suka?" tolehnya.


"Tergantung, sih."


"Twerganthuwng bwagaimwana?"


"Hei, jangan makan sambil bicara." Hardikku.


"... Jadi, kau juga suka makanan pedas?"


"Jika berkuah, asin, dan pedas aku sangat menyukainya, sih."


"Hmmm, selera kita hampir sama, ya. Ngomong–omong, biarkan aku mencicipi kentang bakarmu, dong." Pintanya.


"A–Ah, umm. Silahkan ...."


Aku lalu mengulurkan tangan kananku yang memegang kentang ke arah Erika.


Kemudian, tanpa menunggu aba-aba dariku. Erika langsung menggigit kentang bakarku, tepat disisi yang telah aku gigit.


Sejujurnya aku sedikit terkejut. Namun, karna Erika nampak tak begitu memikirkannya jadi kupikir ini baik-baik saja. Terbukti, dia saat ini malah menggigit kembali kentang bakar milikku dengan wajah tanpa dosa.


"E—Enak banget!" Serunya. "... jika aku tahu selezat ini, aku juga akan memesannya!"


"Begitukah? Kalau mau, kau boleh makan sisanya, kok."


"E–Eh? Seriusan, nih?" tanya Erika antusias.


"Tentu saja, silahkan."


"Ka-Kalau begitu, kau juga boleh makan jagung bakarku." Kata Erika seraya memberikan jagungnya.


"Baiklah, kita anggap saja ini barter."


"Umm!"


Saat jajanan milikku sudah berpindah ke tangannya, wajah Erika begitu nampak bahagia dan lucu.


Di mataku, wajahnya yang saat ini tak berbeda seperti seorang anak kecil yang mendapatkan hadiah terbaik dari ibunya.


Erika pun memakannya dengan lahap, walaupun masih sedikit panas. Dia dengan telaten meniupnya sesekali.


Dia memang bisa saja membuat apa yang dia makan nampak semakin nikmat, ya ....


"Hei, pelan–pelan saja makannya, Erika."


"Fate, bolehkah aku mencicipi kentang bakar milikmu?"


Suara semerdu musik itu berasal dari sisi yang berlawanan, membuatku tersadar akan keberadaannya yang semenjak tadi aku abaikan.


"Mi–Michelle, kah?" balasku sedikit terkejut. "... soal itu, minta saja ke Erika."


"Erika? Bukannya kau yang memesan kentangnya?"


"U–Umm, begitulah. Tapi, dia menukar kentang milikku dengan jagung bakar miliknya ...."


Kedua pundak Michelle tersentak pelan, air mukanya yang sebelumnya begitu sumringah, kini terlihat sedikit kecewa.


"... Be—Begitu, ya."


Meskipun ini terdengar sepele, tetap saja ketika melihatnya membuatku sedikit merasa bersalah. Pasalnya, Michelle lah yang memintaku untuk memesan jajanan yang berbeda agar kita bertiga bisa saling mencicipi.


"E–Erika, sisakan juga untuk Michelle!"


"E–Eh? Sudah, aku tidak apa-apa, kok!"


Terlihat, Erika hendak menggigit bagian terakhir dari kentang yang tengah dia makan.


"Erika, berhenti memakannya!"


 


 


***


 


 


Aku duduk di atas ranjang dan segera ambruk ke belakang lemas. Dengan menghela napas panjang, aku kemudian menempatkan kedua tangan sebagai bantal.


Malam in, sudah dipastikan aku akan beristirahat di dalam salah satu kamar sewaan kapal ini.


Padahal, aku sudah meyakinkan Erika untuk tak perlu melakukannya. Sebab, aku bisa tidur di mana saja. Mengingat, jika menyewa kamar, maka biaya perjalanan menggunakan kapal ini juga akan bertambah.


Namun, Michelle malah mendukung niat Erika seperti biasa. Jika mereka sudah sepakat seperti itu, aku sendiri ragu bisa menolaknya. Lagipula, mungkin mereka ada benarnya.


Memaksa tidur di manapun, hanya akan membuat tubuhku kesakitan dan kedingingan saja. Akan semakin merepotkan malah jika aku jatuh sakit. Jadi, lebih baik aku terima saja.


Kamar sewaan ini memiliki 2 ranjang ukuran sedang dengan masing-masing selimut tebal, pencahayaan yang cukup, dan ruang yang luas jika hanya diisi oleh satu orang.


"Erika dan Michelle, mereka tidur di kamar nomor berapa, ya?"


Menyadari hal itu, aku pun terduduk dan mulai cemas.


Kuharap, kamar kita tidak terpisah jauh, mengingat aku merasa mawas semenjak menyadari jika selama perjalanan ini, kami telah dibuntuti.


"Sial ..., bagaimana ini?" gumamku seraya mencengkram sprei kasur. "Jika ada sesuatu yang tak terduga, aku tidak bisa melindungi mereka berdua."


Sebenarnya, aku terbesit ide lain di dalam pikiran supaya aku bisa berada di sekitar mereka. Namun, aku dengan yakin Erika dan Michelle akan menerikaiku orang mesum lebih sering jika aku melakukannya.


Tapi, aku tak bisa memikirkan cara lain lagi. Ditambah, mungkin jika aku terus berpikir aku akan kehabisan waktu.


Walaupun aku tak tahu pasti, apakah benar para orang misterius itu akan membuntuti kami hingga ke kapal. Meski begitu, apa salahnya melakukan tindakan pencegahan?


"Baiklah!"


Aku lalu segera bangkit dan berdiri sambil mengepalkan kedua telapak tangan erat.


"... Aku, akan meminta untuk tidur sekamar dengan mereka!"


Ugh, pasti mereka akan meneriakiku orang mesum ....


Persetan dengan itu, saat ini keselamatan mereka lebih penting . Walaupun aku sadar, jika aku tidaklah begitu kuat, sangat lemah malah.


Meski demikian, aku yakin pasti ada yang bisa aku lakukan dengan kemampuanku saat ini.


"Tapi, bagaimana aku mengatakannya, ya?"


Tiba–tiba, pintu kamar ini diketuk oleh seseorang dari luar. Aku pun menoleh kecil ke arah pintu kamar ini yang terbuat dari kayu jati.


Siapa itu?


"Fate! Buka pintunya, kami mau masuk!"


"Ssstt! E–Erika, jangan keras-keras. Mungkin, Fate sudah tidur."


"Huh?! Masa, sih?"


Aku pun segera bergegas mendekat ke arah pintu. Saat kunci berhasil kuputar ke arah yang berlawanan, gagang pintunya tiba-tiba diputar oleh tangan dari luar dan otomatis pintu ini terbuka.


"Fate!"


Karna terkejut, batang hidungku terbentur dan membuatku jatuh terduduk kebelakang.


"Ya ampun! Kau baik-baik saja, Fate?"


Dengan mengaduh tertahan, aku pun mengusap pelan batang hidungku.


Setelah rasa sakit mereda, terlihat Erika yang berdiri di hadapanku dan Michelle bersimpuh di sampingku.


"A–Ahh, kalian berdua, ya ...."


"Kau baik-baik saja?" tanya Michelle.


"... U-Umm, aku baik-baik saja, kok."


"Syukurlah ...."


"Kenapa lama sekali sih membukakan pintunya?" protes Erika sambil berdecak pinggang.


Aku berdiri dan menepuk-nepuk celanaku, "... Maaf, aku melamun tadi. Lalu, ada apa kalian kemari?"


"Huh? Sudah jelas bukan, kami ingin tidur ...." Balas Erika seraya berjalan melewatiku.


Michelle berdiri dan menutup pintu, lalu menguncinya rapat.


"Michelle, kita tidur di ranjang yang ini saja, ya ...."


"Umm!"


"Wahh, empuk juga!"


Michelle berjalan melewatiku yang membeku untuk mendekat ke arah Erika.


"Kukira di kapal yang sederhana ini, kasurnya bakalan keras."


"Bagaiamana? Pilihanku tepat, 'kan? Kapal ini memang murah biaya perjalanannya, tapi kualitasnya cukup memuaskan."


"Umm umm! Erika memang hebat!"


Mendengar kehebohan mereka yang begitu riang-gembira. Membuatku mulai ragu akan keberadaan diriku di mata mereka.


Aku ini, seorang pria, 'kan?


Tapi, kenapa mereka malah begitu tenang dan acuh akan keberadaanku?


Jangan-jangan?!


Aku tidak dianggap demikian oleh mereka?


Tapi yasudahlah, terserah saja. Justru dengan begini, aku bisa mengawasi mereka.


 


 


***


 

__ADS_1


 


"Kukira kalian akan menyewa kamar sendiri."


"Jangan bodoh, aku tidak mau menghamburkan tabungan kita lebih dari ini." Balas Erika seraya melepaskan ikatan sabuk pedangnya.


Kemudian, dia menyenderkan pedangnya di dinding kamar. Setelah itu, baru dia melepaskan kancing jubah yang dipakai, dan melemparkannya sembarang di atas ranjang.


"Se–Sebenarnya, sewa kamar ini harganya lumayan mahal, sih." saut Michelle seraya mengambil jubah Erika dan melipatnya dengan rapih.


Aku kemudian duduk di sebuah bangku yang tersedia di sudut ruangan.


"Lagipula, bukannya Kau yang meminta kita agar tetap bersama?" kata Erika berdecak.


"Iya sih." balasku seraya bersandar pada dinding kayu. "... aku hanya tidak menyangka, jika kita semua akan berakhir di dalam kamar yang sama."


Erika lalu merangkak di atas ranjang ke arah Michelle yang terduduk sisi ranjang. Lalu, dia memeluk Michelle yang telah melepaskan jubahnya dan hanya berbalut kemeja.


"E–Erika, ada apa ...?"


"Jangan-jangan, kau gugup ya, Fate?" Ledeknya.


"...." Aku hanya mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Pfftt! Wajahmu memerah lagi!"


"Be–Berisik!"


"Erika, berhentilah menggoda Fate." Tegur Michelle.


Dengan memeluk bantal sebagai pengganti tubuh Michelle, Erika kemudian berhenti tertawa.


"Sudahlah, aku dan Michelle tak terlalu memikirkan jika kau sekamar dengan kami, kok."


"...."


"... Lagipula, kau sendiri pasti tidak berani melakukan apapun." imbuhnya enteng.


"A–Apapun(?)" kata Michelle pelan seraya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Be–Begitu, ya."


Itu sejujurnya terdengar menyakitkan bagiku. Namun biarlah, lagipula kami sama-sama sudah dewasa.


Lagipula, saat ini aku memiliki sesuatu yang lebih penting untuk dicemaskan ketimbang hal sepele seperti barusan.


"Lalu, sebenarnya ada apa, sih?" tanya lagi Erika.


"... Umm, apa yang telah terjadi?" tambah Michelle.


"Semenjak kita sampai di Kota Mandesh. Perilakumu aneh, Fate."


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


Jika mereka sudah merasa ternganggu dan menanyakan alasan semua ini. Sepertinya, aku sepatutnya menjelaskan situasi yang sebenarnya juga kepada mereka.


"Sepertinya, selama perjalan ini kita sedang dibuntuti."


Erika memicingkan mata, "Diikuti?"


"Be–Benarkah?" tanya Michelle.


"Begitulah."


"Sejak kapan kau menyadarinya?"


"Semenjak kita berada di Desa Nila—tidak, lebih tepatnya, saat kita mulai meninggalkan Desa Nila."


Michelle hanya mampu terdiam dan memangku tangan cemas. Sementara Erika, dia terlihat lebih tenang dan malah terlihat tengah meneliti semua situasi saat ini, seolah dia memiliki petunjuk di balik ketenangannya.


"Kau tahu pasti jumlah orang yang mengikuti kita sampai di sini?" tanya lagi Erika.


Aku melirik ke samping seraya menyentuh dagu, dan mengingat kembali terakhir aku mendapatkan mereka.


"Sepertinya 3 ..., 4—tidak, 5 orang yang terakhir kulihat."


"Siapa sebenarnya mereka?" tanya Michelle kian cemas.


Erika semakin erat memeluk bantal yang ada di dalam pelukannya, "Dilihat dari jumlah mereka. Mungkin, mereka ada sekelompok Bandit."


"Bandit?"


"Kenapa mereka mengikuti kita?"


"Entahlah ...."


Kulirik Erika singkat. Dia tetap diam dan terlihat tengah memikirkan sesuatu. Lalu, kedua pundaknya tersentak, seolah menyadari sesuatu.


"Erika, ada apa?"


"Sepanjang perjalan tadi, bukahkah banyak sekali penduduk yang menyapa?"


Michelle menatap Erika bingung, "Memangnya ada yang salah dengan itu, Erika?"


"Ditambah, Paman penjual jajanan tadi berkata, jika Petualang seperti kita itu adalah pelanggan yang jarang dia dapatkan."


"Lalu, di mana yang salah dengan semua itu?"


Aku yang menyimak dan ikut mengingat-ingat perkataan Erika, seketika bisa langsung mengerti mengenai petunjuk apa yang dia temukan.


Jika dipikirkan kembali, semuanya memang menjadi masuk di akal. Tapi, kenapa aku bisa telat menyadarinya? Bodoh sekali.


"Kita diincar, karena kita adalah seorang Petualang, 'kah?" ucapku seraya melipat kedua tangan.


Michelle menoleh ke arahku, "... Kenapa begitu? Apa itu terdengar aneh?"


"Bagi kita mungkin tidaklah aneh, tapi bagi para penduduk desa terpencil di Kerajaan ini, itu terlihat sangat aneh dan jarang."


Erika mengangguk, "... Umm, benar yang dikatakan Fate. Karena, jarang sekali ada Petualang yang dengan senang hati mengambil Quest bayaran rendah, mudah, dengan jarak perjalanan yang memakan waktu berhari-hari. Mendengarnya saja sudah melelahkan, bukan?"


"Jadi maksudmu, kita saat ini sudah diincar oleh para Bandit itu, karena diduga membawa banyak uang?"


"Sepertinya begitu. Ini semakin memburuk, karna kita memilih pemberangkatan kapal ini di malam hari."


"Ini mungkin hanyalah rumor yang beredar di antara Petualang beranggotakan Party sedikit. Yaitu, jika kita hendak menyebrang pulau, lebih baik memilih waktu pada pagi hingga siang hari saja. Karena, arus lalulintas lautan masih ramai kapal yang melintas." Jelas Michelle. "... namun, jika nekat menyebrangi lautan malam hari yang keadaannya sudah sepi. Maka, biasanya akan ada kapal pembajak milik para Bandit, yang akan merampok harta hingga nyawa penumpangnya."


"Jadi, Party dengan anggota yang cukup, jarang diincar, ya."


"Umm, begitulah rumor yang beredar."


Aku menghela napas panjang, lalu kusentuh dagu dan mencoba memikirkan semua ini.


Walaupun hanyalah sebatas rumor.


Tetap saja membuatku takut, mengingat keadaan kami saat ini begitu mencerminkan rumor tersebut ....


Lalu, jika mereka memang mengincar kami. Berarti, keberadaan kami saat ini tak jauh dengan mereka, 'kan?


Tapi, bagaimana cara mereka mengejar kami sampai ke sini?


Aku membenarkan posisi duduk dan menatap ke depan. Terlihat, air muka Michelle semakin pucat sementara Erika justru terlihat biasa saja dan tengah menenangkan Michelle.


"Tidak usah terlalu memikirkannya. Lagipula, siapa tahu aku salah mengira niat mereka," ucapku seraya berdiri. "... ditambah, mungkin rumor itu hanyalah sebatas rumor saja, tak lebih."


"Umm, kuharap begitu." Angguk Michelle pelan.


"Jangan cemas Michelle, karena kita akan selalu bersama." Hibur Erika sambil menggenggam tangan Michelle.


Aku mengangguk setuju, "Benar. Jadi, malam ini kalian istirahat saja."


"Lalu, kau sendiri bagaimana, Fate?"


"Aku belum mengantuk, jadi jangan pikirkan aku."


"Kau masih malu–malu, ya?"


"Berisik, cepatlah tidur."


 


 


***


 


 


Sapuan angin laut di kala malam membuat raga ini menggigil. Salju yang terbawapun berterbangan, hingga semakin tebal menutupi atap dan tubuh kapal.


Saat ini, aku tengah terduduk di bangku yang terletak di bagian sisi kapal, dan bersebalan langsung dengan penahan jangkar. Ya, benar, saat ini aku sedang di luar.


Sejauh mata memandang, yang mampu kulihat adalah bentangan laut lepas disertai gulungan ombak yang tenang. Tak lupa, saat kutatap langit, awan yang berbentuk guratan tebal serta melebar begitu gelap.


Namun, aku merasa sedikit tenang ketika ada titik-titik cahaya bintang yang memaksa untuk tetap bersinar. Seolah, para bintang ingin memberi tahu jika malam ini tak sepenuhnya kelam, masih ada harapan meskipun itu kecil.


Melupakan semua itu. Aku tahu jika tak baik terduduk di luar sendirian, di saat angin yang membawa salju semakin dingin menerpa.


Namun, pikiran ini yang membuatku ingin menyendiri dan mengakali perihal tadi. Lebih tepatnya, mengenai beberapa orang misterius berjubah coklat yang membuntuti kami selama perjalanan.


Lebih buruknya lagi mereka diduga merupakan sekelompok Bandit. Meskipun hanya sekedar rumor, keberadaan mereka yang masih misterius justru perlu dianggap serius bagiku.


Meskipun aku sudah menghimbau agar kita tetap bersama, aku sendiri malah sendirian berada di luar.


Padahal, Erika dan Michelle menyuruhku untuk tetap tinggal ....


Tapi, aku ingin memastikan semua ketidakpastian ini secepatnya.


Supaya, mereka berdua tidak merasa terganggu ....


Jadi, kuharap mereka bisa mengerti,


... karena, memastikan mereka tetap merasa aman dan nyaman selama perjalan.


Adalah sesuatu yang ingin kulakukan, meskipun aku sediri ragu bisa melakukannya.


Setelah kuteliti lebih rinci tiap situasi yang telah terjadi, pada akhirnya aku bisa lebih santai.


Ini semua bisa terjadi, karna aku sama sekali tak menemukan kejanggalan di sekitar kami semenjak keberangkatan kapal ini dari Pelabuhan Kota Mandesh.


Penumpang kapal, semuanya telah bersitirahat dan terlelap di kamar sewaan mereka masing-masing. Pula, semua barang bawaan milik para penumpang telah dipastikan aman oleh para awak kapal.


Jadi, menurutku tindakan pencegahan tersebut cukup membuatku bisa bersantai dan meringankan pikiran negatifku.


Mungkin, hanya perasaanku saja yang berlebihan karna setelah mendengar rumor tadi.


Tapi tetap saja, tatapan itu membuatku resah.


Walaupun bukan aku yang mereka tatap, hal itu malah membuatku semakin wasapada ....


Pasalnya, yang mereka tatap adalah Michelle dan Erika.


Ketika aku begitu cemas memikirkan semua itu, samar di antara suara gesekan angin dan terpaan ombak, aku mendengar suara seseorang yang sedang bersenandung.


Dengan tetap memfokuskan pendengaran, aku kemudian menegakan posisi duduk dan menoleh ke arah sumber suara itu.


Dari balik awan, cahaya bulan yang semula remang kini mulai bersinar bebas menembus asa, mengakibatkan suasana menjadi terang.


Tampak, di ujung kapal yang tumpul ada seseorang berjubah coklat tengah berdiri menatap hamparan samudra.


Tudung jubah yang dia pakai, tiba-tiba tersibak oleh sapuan angin yang menerpa dengan kuat.


Aku membelalakan mata saat menyaksikan untaian sulur perak miliknya menari-nari di udara. Bersama salju yang turun dan siraman cahaya bulan yang berwarna biru, dia begitu terlihat mulia.


Seorang gadis, ya ....


Suara senandung miliknya yang terdengar begitu lara. Seolah, dia tengah mencurahkan kesedihan miliknya kepada sang Luna dan lautan.


Seiring rambut peraknya berhenti menari-nari karena angin berhenti berhembus, senandung gadis itu pun mulai berakhir. Digantikan oleh kesunyian yang lebih kelam daripada senandung miliknya.


Entah intuisi dari mana, gadis itu menoleh ke samping kiri. Seolah, dia mengetahui keberadaan seseorang selain dirinya yang tengah berada di bawah langit bersalju.

__ADS_1


Bersyukur cahaya bulan tengah bersinar terang, menjadikan aku mampu untuk melihat dengan jelas rupanya meskipun hanya dari samping.


Perban?


Benar, wajah bagian kiri gadis itu dililit sebuah perban yang sedikit usang. Menjadikan mata dan batang hidungnya tersembunyi di balik perban itu. Akan tetapi, lisan tipisnya yang gemetar, terlihat bebas menggumamkan sesuatu.


Tiba-tiba, kapal ini sedikit bergetar. Aku yang menyadari itu, kemudian berdiri dan berjalan menuju sisi kapal untuk melihat gerangan yang terjadi.


Aku menatap heran saat melihat ada pecahan kayu yang terombang-ambing oleh ombak.


Kayu, ya?


Tapi, kenapa bisa hanyut sampai di sini?


Yang aneh, pecahan kayu itu terlihat masih baru ....


Aku kemudian menatap ke arah sekitarnya guna mencari petunjuk lain. Mataku berhenti mencari, saat menjumpai sebuah dayung yang juga terombang-abing.


Dayung?


Mungkinkah—


"Kau ...."


Mendengar suara itu, reflek aku membalik badan. Kedua alis mataku terangkat perlahan, saat mengetahui si pemilik suara itu adalah gadis dengan rambut peraknya.


Saat ini, wajah pucatnya membelakangi cahaya bulan. Perban usang yang menutupi bagian kiri wajahnya membuat dia memilki penglihatan satu mata. Meski begitu, tak mampu kupungkiri jika ini memiliki wajah polos yang begitu cantik.


Iris mata kanannya yang berwarna violet, begitu lurus menatap ke dalam mataku. Seolah, dia merasuki diri ini melalui tatapannya.


Kemudian, saat angin kembali berhembus menerbangkan rambut peraknya. Aku membelakan mata pelan, ketika melihat sepasang daun telinga miliknya yang panjang dan meruncing sampai keujungnya.


Gadis ini, bukan manusia?


Dia ... Half-Elf, ya?


Tiba-tiba, gadis itu menunjuk wajahku. Akan tetapi tatapan matanya yang datar bergeser pandang pada sesuatu yang berada di belakang punggungku.


"Sarung pedang itu ...."


"...."


"... Konon, adalah pembawa malapetaka dunia ini."


 


 


***


 


 


"Maaf, tadi itu hanya lelucon, kok. Lupakan saja." Ucapnya seraya berhenti menunjukku.


"U–Umm, syukurlah itu hanyalah sebatas lelucon." Balasku lega.


Tanpa memberiku kesempatan untuk bereaksi, dia sudah terduduk di bangku yang sebelumnya aku duduki.


Kemudian, dengan gerakan yang anggun, jemari lentiknya menyisir rambut perak yang berjatuhan di antara daun telinganya.


Daun telinganya ternyata memang asli.


Jadi, di dunia ini ..., di [Yggdrallia] tak hanya dihuni oleh ras manusia saja, ya ....


Karna begitu terpukau dengan bentuk daun telinganya yang asli, aku jadi tak menyadari jika sipemilik daun telinga tersebut juga tengah menatap ke arahku.


"Ma–Maaf ...."


"Tidak apa–apa, lagipula aku sudah terbiasa." Balasnya acuh seraya kembali menatap ke depan.


"Terbiasa?"


Dia hanya mengangguk samar tanpa sedikitpun niatan untuk mengelak.


"Boleh aku duduk?" tanyaku.


"Umm."


"Terima kasih."


Dengan tetap acuh, dia memainkan rambut peraknya yang menjuntai panjang. Melilitkannya di antara sela jari, lalu menggulungnya, dan membebaskannya. Hal itu ia lakukan beberapa kali, hingga berhasil membuat suasan di antara kami membeku.


Dari samping, aku bisa melihat tatapan ungu-nya yang meredup. Itu terlihat kelam, karna tak ada cahaya kehidupan di dalam sana. Lisan tipisnya senantiasa lurus, di bagian sudutnya ada bercak merah yang sudah kering.


Melupakan itu, tubuhnya menggigil hebat, akan tetapi dia sama sekali tidak melukiskan perasaan itu pada air mukanya. Jika aku tidak jeli akan ekspresinya, mungkin aku akan menganggap dia sudah membeku saat ini.


Meskipun dia orang asing dan tak kukenal, setelah melihat keadaannya yang seperti ini mana tega aku meninggalkannya. Apalagi, dia seorang gadis.


"Bagaimana kalau kita masuk saja ke kapal?"


"Kenapa?"


"... Karena, kau sangat kedingingan."


Ya, dia sangat kedinginan. Jubah tipis dan kotor yang dia kenakan, sama sekali tak cocok menempel pada tubuhnya yang memiliki kulit seputih awan. Sebab, itu terdapat banyak robekan dan jahitan.


Bahkan, beberapa bagian tubuhnya bisa terlihat dengan bebas. Aku semakin menatapnya prihatin saat melihat ada banyak sekali luka lecet dan lebam di tubuhnya. Dan, semua luka itu, telah mengeluarkan darah yang sudah kering.


Saat tak sengaja melihat ke bawah, tampak sepasang kaki jenjangnya yang lemah seolah tak bertulang. Berada di permukaan lantai kayu kapal yang dingin, tanpa alas apapun selain telapak kakinya yang kotor.


Aku tak bisa menahan diri lagi, segera kulepaskan jubahku dan memakaikannya.


"Dengan begini, tubuhmu pasti menjadi lebih hangat ...."


Sarung pedangku masih menempel di sana, tapi sepertinya itu baik-baik saja. Karena sejak awal, sarung pedang itu memiliki beban yang sangat ringan.


"Kau memang orang yang baik, ya."


"...."


"Sepertinya, ada banyak sekali yang ingin Kau tanyakan padaku ...."


Tanpa dikatakan pun, itu sudah jelas. Namun, aku sebisa mungkin menahan diriku untuk bertindak lebih jauh. Karna aku sadar, semua itu memiliki ranah dan batasan untuk orang asing sepertiku.


Namun, aku tak yakin jika aku yang saat ini tahu kenyataannya bisa tetap acuh. Apalagi saat aku menyadari, jika nada suaranya yang datar sudah tak memiliki melodi kehidupan.


Yang paling mengerikan dari semua itu adalah tatapan matanya, sangat suram. Terlebih, warna violet–nya yang sudah memudar, seolah dia sudah melihat masa depan apa yang akan menantinya.


Meskipun ini lancang karna aku menyimpulkannya demikian, mengingat baru kali pertama ini kami bertemu. Namun, itulah kenyataan yang telah melekat padanya.


Setiap mata pasti mampu menyadari betapa hancurnya gadis ini hanya dengan sekali tatap.


Aku lalu menatap ke atas, mencoba mencari bintang yang masih bertahan untuk tetap bersinar.


Dunia yang damai, ya?


Naif sekali diriku ini ....


Terbuai oleh memukaunya kulit luar dunia ini, hingga membuatku mengasumsikan jika daging dunia ini juga indah.


Seharusnya aku tahu hal ini sejak awal ....


Jika dunia yang damai itu tidak pernah ada, kecuali di akhir kisah sebuah cerita dongeng.


"Apa yang tadi kau lihat, err ...."


"Fate, itu namaku. Kalau kau, siapa namamu?"


Dia menoleh kecil ke arahku, dengan ekspresi yang tetap datar. Namun, bola mata di dalam matanya aku mampu menangkap setitik cahaya seperti bintang malam ini, yang memantul indah di sana.


"Ruka Tingel ...."


Saat dia menyebutkan namanya, ada sedikit perubahan intonasi nada di sana, dan itu sungguh terdengar jauh lebih hidup.


"Ruka, ya," balasku seraya menoleh kecil ke arahnya. "... jadi, apa yang ingin Kau tanyakan?"


"Tadi, apa yang kau lihat?"


"Tadi? Ah, itu, aku melihat banyak pecahan kayu dan dayung kapal yang hanyut."


"Apa ada yang salah dengan itu?"


"... Tidak, sih. Hanya saja, aku sedikit penasaran."


"Mungkin, pecahan kayu itu dulunya merupakan sebuah kapal milik para nelayan Kota Mandesh. Dan dayungnya, tentu saja sepasang dengan kapalnya."


"Begitu, 'kah."


Aku sedikit menaikan alis mata saat mendengar jawabannya. Ini kulakukan bukan karena aku keberatan atau kebingungan dengan jawabannya. Melainkan, kurasa Ruka seharusnya bisa menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang lebih tepat.


Kira-kira, para nelayan menangkap ikan apa, ya?


Sampai berlayar ke tengah samudra?


Lagipula, kenapa dia bisa langsung menyimpulkan jika pecahan kayu itu merupakan kapal milik para nelayan Kota Mandesh? Mengingat, dia sendiri tidak melihat langsung pecahan kayunya.


Bukankah itu seperti, dia seolah menjawab semua itu karna sudah tahu jika aku akan menanyakannya?


Terlebih, pecahan kayu yang kulihat jelas–jelas masih baru. Jika sudah lama terapung di laut, seharusnya wujudnya sudah hancur.


Ya, itu semua hanya sebatas pemikiranku saja. Namun entah mengapa, aku sedikit meragukan jawaban Ruka.


Karna itu tidak terlalu penting, jadi aku anggap saja ini sudah selesai.


"Apa profesi-mu?" Tanya Ruka.


"Saat ini aku masih menganggur, tapi saat sampai di Ibu Kota nanti. Aku akan menjadi seorang Petualang." Jawabku jujur, walaupun itu sedikit memalukan.


"Begitu."


Sepertinya, aku tak perlu mengatakannya sedemikian jelas ....


Dasar bodoh. Bisa-bisanya aku dengan entengnya memamerkan kehidupan damai yang menantiku pada Ruka.


Aku tidak keberatan jika dia memaki-maki dan menamparku dengan keras saat ini.


"Fate ...."


"Hmm?"


Ruka menunduk kecil dan memperhatikan jemarinya yang kurus penuh luka. Beberapa kuku jemarinya sudah tumpul dan kotor, bahkan ada yang sudah terlepas hingga lukanya mengering.


"Apakah aku boleh menganggapmu orang yang baik?"


Orang baik, ya?


Sejujurnya aku sendiri bingung definisi "orang baik". Lagipula, aku tidak tahu kebenaran yang berlaku di dunia ini.


"Entahlah. Jika aku orang baik, pasti aku akan melakukan sesuatu saat melihat keadaanmu."


"Jadi, kau ingin melakukan sesuatu untuk merubah keadaanku?"


"Jika aku memiliki kekuatan untuk melakukannya, pasti aku tanpa diminta akan melakukannya."


Ruka menyentuh punggung telapak tanganku. Kasar, keras, dan dingin sekali telapak tangannya, seperti batu karang.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu untuku. Kau bersedia, Fate?"


"Jika aku mampu, akan kulakukan."


"... Kalau begitu."


"...."


Tiba–tiba Ruka memberikan sebilah pisau padaku.


"Bunuh aku, Fate."


 

__ADS_1


 


__ADS_2