
Bab 09
Sejujurnya, aku tak memiliki rencana apapun untuk menghadapi mereka semua. Meski begitu, yang bisa kulakukan hanyalah tetap maju. Jika tidak begitu aku tidak akan bisa menyelamatkan Ruka, Michelle, dan Erika.
Satu-satunya rencana yang bisa kupikirkan, hanyalah mengalahkan pria itu. Si keparat yang membuat semua kekacauan ini. Jika dengan menghabisinya bisa menuntaskan semua akar masalah saat ini, dengan senang hati aku akan melakukannya.
Dari dalam tubuh aku merasa ada sesuatu yang mulai terkuras, tetapi tiap kali hal itu terjadi tubuhku terasa panas dan ototku mengejang. Seolah, kekuatan dari dalam tubuhku begitu meledak-ledak. Sudah pasti, itu adalah aktivitas mana di dalam tubuhku.
Lightning Magic Transformation, [Discharge]!
Diiringi bunyi sambaran petir, tubuhku langsung dilahap sebuah aura percikan petir. Kecepatan lariku pun seketika meningkat drastis.
Setelah dirasa cukup berlari, aku pun melompat untuk untuk melakukan Skill berikutnya.
Lightning Magic Manipulation!
"Shockwave!"
Aku langsung menebas kosongnya udara ke bawah, dan sebuah sabit raksasa yang terbentuk dari elemen petir yang memadat segera menukik ke bawah.
Keempat undead yang tengah mendekat langsung terkena telak seranganku. Namun, mereka semua sudah kembali pulih dan terbebas dari efek stun. Seolah, seranganku barusan tak memiliki dampak apapun pada mereka.
Aku pun mendarat dengan cara berlutut.
Ada apa ini?
Sihir elemen tidak berguna?
Aku sepertinya terlalu meremehkan kemampuan fisik para undead tersebut.
Walaupun mereka memliki gerakan yang lambat dan terlihat lemah. Tapi, tubuh mereka memiliki ketahanan terhadap serangan sihir dan resistansi elemen yang kuat.
"Untuk seorang pemula, kemampuanmu memanipulasi sihir elemen boleh juga."
"Aku tidak ingin mendengar itu darimu."
"Begitu, aku akan membuat semua ini menjadi lebih meriah!"
Dengan meninggalkan senyum licik di wajah, pria itu lalu menancapkan Magic Wand-nya ke lantai dan merentangkan tangan kanan ke depan.
Meskipun kini aku hanya bisa menguasai sihir elemen, untuk keadaan saat ini semua itu sudah lebih dari cukup. Mengingat, aku juga harus bercermin pada kemampuan dan pengetahuanku yang masih terbatas.
[Discharge], kurasa skill ini sedikit mirip dengan sebuah Skill-Assist/Buff. Aku mengeluarkan mana yang mengalir di dalam tubuh dan melepaskannya untuk diubah menjadi aura percikan petir. Hingga pada suatu waktu, aku bisa memfokuskan seluruh aura tersebut ke satu titik. Entah itu untuk serangan langsung, maupun sebagai buff.
Pada akhirnya, aku harus pandai-pandai memanfaatkan potensi skill ini.
Beralih ke [Swiftness]. Jika skill ini disebut sebuah Skill-Teleportasi sepertinya itu terdengar kurang tepat. Karna kenyataannya, skill tersebut tidak membuatku berpindah tempat secara instan.
Aku hanya bergerak menyaingi kecepatan suara, tubuhku harus tetap digerakan supaya bisa berpindah. Meskipun tak mampu dipungkiri, jika gerakannya sangat cepat. Mengingat, aku memanfaatkan [Discharge] agar tubuhku bisa bergerak secepat kilat.
Dengan adanya kedua skill tersebut, sepertinya peluangku untuk memenangkan pertarungan ini menjadi lebih meyakinkan.
Benar-benar sebuah dunia fantasia.
Menciptakan dan menggunakan sihir untuk bertarung.
"Assist-Skill; Weapon Attribut: Poison!"
Dari telapak tangan pria itu, muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hijau pekat. Lalu, dari dalam lingkaran sihir tersebut keluar banyak sekali serbuk bunga yang bergerak di udara menuju senjata para undead. Serbuk itu melapisi utuh tiap senjata para undead.
Attribut, Poison?
Jangan-jangan, senjata mereka diberi efek racun, ya?
Berbeda denganku yang menambahkan efek atribut elemen petir, pria itu sepertinya lebih memilih untuk memberikan efek atribut pada senjata undead-nya dengan racun.
Jika efek atribut elemen petir adalah sengatan (stun) dan memperkuat daya serang. Lalu, apakah efek dari atribut racun?
Sejujurnya, aku tidak terlalu memusingkan apa efek yang dimiliki atribut racun tersebut. Karna aku lebih memilih memikirkan cara bagaimana selama bertarung aku tidak terkena serangan langsung mereka.
"Baiklah! Maaf telah membuat kalian semua menunggu!"
Pria itu mencabut Magic Wand-nya dan mengacungkannya kepadaku.
"Majulah!"
Para Undead segera beranjak dan bergerak maju, akan tetapi ada satu di antara mereka yang tanpa senjata tetap tinggal, hanya berdiri di hadapan pria itu. Seolah, menjadi perisai.
Baiklah, ayo lakukan.
Dengan mengibaskan pedang kesamping untuk memberi keberanian pada diri sendiri. Aku lalu menahan napas dan melakukan konsentrasi mana.
"[Discharge]!"
Ditemani sambaran petir yang muncul, aku pun menerjang maju.
Aku lalu merubah laju lariku yang semula lurus, kini mulai diselingi dengan bergerak zig-zag. Ini aku lakukan untuk mengetahui reaksi mereka terhadap gerakanku yang berubah tiba-tiba.
Mulai sekarang, aku harus bisa memanfaatkan berbagai celah yang bisa ditemukan. Meskipun itu membuatku melakukan banyak gerakan yang percuma, hingga berujung boros penggunaan mana dan tenaga. Tapi, itu hanyalah satu dari sekian banyak resiko yang ada di dalam pertarungan ini.
Namun, perjudianku kalah seketika saat menyadari jika para undead itu tak menunjukan reaksi apapun. Tidak ingin merasa dirugikan lebih dari ini, aku segera mengambil celah yang sejak awal memang sudah terbuka.
Membagi fokus percikan petir menjadi dua, bilah pedangku segera dibalut cahaya tipis yang gemulai. Dengan meninggalkan kilat cahaya lurus, aku langsung menghunuskan ujung pedangku ke salah satu undead.
"Grah!"
Suara berat itu berasal dari gesekan rahang undead yang tertusuk telak di dada. Tubuhnya yang lunglai lalu terdorong kebelakang karna serudukan tubuhku.
Dadanya yang membusuk mengejang dan bergetar, seraya aku semakin dalam menancapkan pedang. Namun, undead yang lain tak membiarkanku melakukan hal itu lebih lama.
Sebelum mereka mendekat. Aku langsung mencabut pedang dan melakukan [Swiftness]. Mereka semua kebingungan, ketika tubuhku lenyap dan sudah berdiri jauh di hadapan mereka.
Sementara itu, undead yang terkena seranganku sudah pulih dan tak ada efek stun tersisa di tubuhnya.
Ternyata benar, sihir elemen tidak berguna, ya.
"Tusuk, tebas, dan hancurkan saja mereka sepuasmu!" teriak pria itu. "Mereka tidak akan mati, karna sejak awal mereka sudah mati! Dasar tolol!"
Mendengar perkataan pria itu, aku hanya menatapnya jengkel.
Aku benci mengakuinya, tapi apa yang dia katakan sepertinya benar. Pada akhirnya, jika aku ingin mengalahkan mereka semua aku harus mengalahkan langsung pria itu.
Tapi, sepertinya itu tak akan mudah.
Para undead itu pasti tidak akan tinggal di-
"Hei, fokuslah dengan pertarunganmu!"
Mendengar peringatan itu di dalam pikiran, aku segera tersadar. Tampak, sebuah bola cahaya berwarna jingga tengah melesat kearahku.
Reflek, aku merentangkan tangan kiri kedepan dan menciptakan percikan petir.
"Railgun!"
Kilatan cahaya yang sudah memadat, segera melesat kedepan. Bola api itu seketika terbelah menjadi dua bagian, dan menyatu dengan udara.
"Tadi itu hampir saja, ya ...."
Pria itu meringis dan mengacungkan Magic Wand-nya padaku.
Bola kristal yang berada di ujung tongkatnya menyala terang. Ketika merespon mantra sihir yang dirapalkan olehnya. Kemudian, muncul banyak sekali lingkaran sihir berwarna merah di hadapannya.
"Bagaimana jika kau coba tahan yang ini juga?"
"Kau sinting, ya? Kapal ini akan terbakar, tahu!"
"Apakah aku terlihat peduli?"
Tiap lingkaran sihir mulai memunculkan bola api ukuran sedang yang perlahan semakin membesar. Lebih buruknya lagi, jumlahnya yang banyak. Seluruh bola api itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah kapal ini menjadi arang.
Remangan cahaya merah segera menerang, bahkan aku sampai dibuat menyipitkan mata. Tak lupa suhu udara perlahan naik, terutama di sekitar munculnya bola api itu.
"Sudah siap?"
Aku menggeretakan gigi dan semakin erat menggenggam pedang di tangan.
Sial, bagaimana ini?
Jika tidak aku hentikan, kapal ini bisa terbakar!
"Fa ... te ..."
Aku membelalakan mata perlahan ketika mendengar suara lemah tersebut.
Tanpa membalik tubuh untuk memastikannya, aku sudah langsung tahu siapa pemilik suara itu.
Suara itu telah memberikanku keberanian, terbukti aku segera memasang kuda-kuda. Pinggang aku putar ke kiri, kaki kanan digeser kedepan hingga menekuk kokoh. Tangan kanan yang menggenggam pedang aku posisikan di samping kiri pinggang.
Kuda-kuda ini, persis seperti seorang kesatria yang hendak menarik pedang dari pinggangnya.
Aku lalu memulai konsentrasi mana singkat, dan memejamkan mata. Tubuhku merespon hal itu dan mulai memanas, mana-ku terasa terkuras begitu banyak.
Lingkaran sihir berwarna hijau muncul di bawah kakiku dan berputar searah jarum jam. Tiupan angin mulai berhembus dari bawah, saat lingkaran sihir itu perlagan mulai melebar.
Bilah pedang yang tipis segera diselimuti hembusan angin yang membentuk spiral..
"Itu tidak akan cukup! Terbakarah kau!"
Pria itu mengejangkan Magic Wand-nya, membuat puluhan bola api yang menggantung segera menghujam kepadaku.
Wind Magic Manipulation ...
Aku langsung membuka mata dan menarik pedang yang digenggam kedepan sekuat tenaga hingga membuat tubuhku berputar kesamping karna tertarik gerakan tanganku yang lebar.
"Divider!"
Angin yang aku kibaskan segera menghempas ke depan dan menampar puluhan bola api yang menuju kemari.
Gesekan angin yang mengikis udara terdengar begitu bising, ditambah suara air laut yang ikut menjadi ribut membuat kapal ini terombang-ambing.
Pria dan keempat undeadnya segera tertelan sapuan udara yang memanas.
Beberapa detik kemudian, hembusan angin mulai mereda. Keadaan pun kembali seperti semula, hanya menyisakan asap panas yang memenuhi udara.
Kini terlihat jika pria itu berhasil berlindung di balik punggung undeadnya. Namun, seranganku belumlah usai sampai di sini saja.
Sekarang!
"[Discharge]!"
"Sial!"
Dengan tergesa, pria itu memerintahkan undeadnya untuk maju. Namun, itu percuma karna saat ini semua undeadnya tengah memulihkan diri setelah hangus terbakar.
Aku melompat dan menarik tangan yang menggenggam pedang ke atas.
Percikan petir ditubuh segera berpindah untuk membungkus bilah pedang. Setelah itu, aku langsung melemparkan pedang yang kugenggam ke bawah, lebih tepatnya ke arah kepala pria itu.
Karna telah diberikan efek atribut elemen petir, kujamin membuat kekuatan lemparanku memiliki daya penghancur yang kuat. Kepalanya pasti akan meledak seketika jika tertembus seranganku kali ini.
Namun, lemparanku meleset tak mengenainya. Pedangku hanya lewat di sampig telinganya.
"Hah! Kemana kau melemparnya?!"
Aku lalu membalas perkataan pria itu dengan tatapan penuh percaya diri.
"A-Apa?!"
Seolah menyadari rencanaku, dia segera bergerak kesamping. Namun sayang sekali, karna itu sia-sia.
Sudah terlambat!
"[Swiftness]!"
Tubuhku yang masih melambung di udara segera lenyap diiringi sambaran petir dan telah berdiri di belakang pria itu.
Sesaat pedangku akan mengancurkan lantai kapal, segera kuraih lagi dan menggenggamnya erat.
Wajah pria itu memucat, ketika melihatku sudah berdiri di belakang tubuhnya.
Seolah tak ingin memberikan dia kesempatan untuk bereaksi, aku langsung menebas dadanya secara vertikal dari atas kebawah.
"Gahh!"
Darah segera mengucur deras, bahkan hingga mengotori wajah dan rambutku.
Setelah bersusah payah, dia masih beruntung karna bisa menghindari tebasan pedangku. Namun, sebagai gantinya aku berhasil memotong lengannya.
Tubuh pria itu segera tersungkur kasar di lantai diteruskan meliuk-liuk panik persis seperti cacing kepanasan.
__ADS_1
"Ha-Ahh!! Ta-Tanganku!!" Teriaknya. "***! Beraninya kau!"
Dari depan, undead yang sudah pulih segera menebaskan kapak yang digenggam padaku.
Aku pun lalu membalas ayunan kapaknya.
Bunyi nyaring dan percikan bunga api segera tercipta saat kedua bilah senjata kami bergesekan sama kuat.
Ketika aku tengah sibuk menyilangkan senjata dengan undead itu. Tanpa kusadari undead yang lain telah menyusul dan berhasil mengepungku.
"Awas!"
Terdengar lagi suara berat yang seolah memberikan peringatan. Namun, saat aku menyadarinya semua itu sudah terlambat.
Sedetik kemudian, aku merasa suatu benda yang tipis dan dingin memaksa masuk kedalam daging.
"Ap-"
"Bagus! Tusukan lebih dalam lagi!"
Dengan menahan nyeri yang luar biasa, aku menatap tajam kearah undead yang telah menikam perutku dari samping menggunakan belatinya.
Si-Sial!
"Mundur sekarang selagi sempat!"
S-Swiftness!
***
Setelah berhasil lolos, aku pun jatuh merangkak di lantai dengan napas yang tersengal-sengal.
Pedang yang aku genggam telah dirampas oleh undead tadi, tapi sebagai gantinya aku memiliki belati yang tertanam di perutku.
"Dasar ceroboh! Cebat cabut!"
Aku meringis dan mengerang tertahan saat kutarik belati yang menancap di perut.
"Akh!"
Darah segar segera mengalir dari luka tersebut. Merembas ke kaos dan jubahku, bahkan hingga menggenangi lantai.
Dengan susah payah, aku mencoba duduk dan menutupi luka tersebut menggunakan telapak tangan.
Sial ...
Ke-Kena juga aku ...
Saat kulirik lemah kearah belati yang tergeletak di lantai. Terlihat, bilah belati tersebut dilapisi dengan cahaya hijau tipis.
Ini buruk, racunnya sudah mulai bekerja!
Saat ini, aku tak hanya menahan sakitnya luka tusuk di perut, tapi juga efek attribut racun yang telah memasuki tubuh.
Kepalaku menjadi pusing, tubuhku menggigil, dan tenggorokanku sangat kering. Semua gejala itu kurasakan di saat yang bersamaan.
"Bukankah, kau terlihat sangat kacau?"
Aku menatap lemah kedepan. Terlihat, pria itu tengah berlutut seraya memegangi pundak kanan yang lengan kanannya telah terpotong hingga siku.
Lukanya jelas lebih parah dariku, tapi pendarahannya sudah berhenti meskipun aku yakin masih ada rasa sakit yang tertinggal.
Terbukti pria itu sesekali meringis nyeri dan keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat.
Aku lalu melihat sebuah botol keramik transparan tergeletak di samping pria itu. Isinya sudah kosong, hanya menyisakan beberapa noda cairan biru.
Be-Begitu, ya ...
Dia meminum sebuah potion untuk menghentikan pendarahan sekaligus mengurangi rasa sakitnya.
"Bagaimana kondisi tubuhmu?" tanya lagi pria itu, seolah dia tahu betapa saat ini aku tengah dibuat menderita karna efek attribut racun.
"Setidaknya, masih jauh lebih baik daripada aku harus kehilangan lenganku." Balasku sambil tersenyum lemah.
Terpicu dengan balasanku. Pria itu menggeretakan gigi jengkel dan berdiri. Lalu, dia raih Magic Wand-nya yang tergeletak di lantai dengan.
"Akan kubuat kau membayarnya! Tangkap dia!"
Para undead kembali bergerak kearahku, satu di antara mereka yang tanpa senjata tetap tinggal seperti sebelumnya.
Di keadaan tubuhku yang terkena racun, tak banyak yang bisa aku perbuat.
Tubuhku mulai terasa berat, kedua kakiku mulai mati rasa dan menjadi sulit untuk digerakan.
Ini buruk sekali, langkahku telah dimatikan!
Aku menjadi panik dan bingung.
Ba-Bagaimana ini?
Jika aku berakhir di sini maka Ruka, Michelle ... dan Erika.
Mereka semua akan-
"Tarik daku."
"Tak ada lagi yang mampu Engkau perbuat saat ini."
"Engkau telah kehabisan waktu dan pilihan.Hanya daku yang bisa membalikan keadaan saat ini."
"Jadi, tunggu apalagi, tariklah daku!"
Aku melirik ke belakang jengkel, lebih tepatnya ke arah sarung pedang kosong yang menggantung dipunggung.
Sejak tadi kau semakin berisik saja, dasar sarung pedang tidak berguna!
"Ho ho ..., ada gerangan apa ini? Engkau mau membalas perkataanku?"
"Daku kira, Engkau tuli selama ini."
Be-Berisik.
"Dinginnya, bukankah selama ini kita selalu bersama?"
A-Apa rencanamu?
"Sudah jelas, bukan? Tarik daku."
Berhentilah bercanda, bukankah kau seharusnya yang paling tahu?
Jika tak ada yang bisa ditarik dari sebuah sarung pedang kosong sepertimu?!
"Engkau salah, Fate."
H-Huh?
"Karna sejak awal, pedang itu sudah tersimpan di dalam sarungnya."
Kalau begitu cepat beritahu aku bagaimana cara menggunakannya!
"Imajinasi dan ambisi."
Apa?
"Bayangkanlah, Engkau akan menarik sebuah pedang dari sarungnya. Lalu, dengan berbekal keinginan apa Engkau ingin menariknya."
"Dengan begitu, Engkau pasti bisa menarik pedang yang selama ini tersimpan di dalam sarung pedangmu."
Ambisi?
Sudah jelas, bukan?
Aku ingin melindungi mereka!
***
Aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, akan tetapi keinginanku untuk bertarung tetaplah utuh.
Meskipun menyakitkan, aku paksa tubuhku bergarak.
"Cepatlah!"
Aku tahu. Balasku sambil berhasil berlutut.
Hanya menyisakan 5 langkah tersisa, undead dengan pedangnya akan menjemputku.
Dengan menyulut api imajinasi yang dengan susah payah dilakukan. Aku segera memposisikan tangan kanan di atas sarung dan meraih kosongnya udara tepat. Seolah, aku hendak menarik sebuah pedang.
Peduliku dengan bentuknya, yang penting aku bisa menariknya!
"Penggal kepalanya!" Teriak pria itu.
Tiba‐tiba, sarung pedang dipunggungku mulai memercikan petir hitam dan suatu benda yang dilapisi cahaya muncul di dalam sarung pedangku.
A-Ap-?
I-Ini?!
"Akhirnya, daku bebas!"
Undead dengan pedangnya sudah berada tepat di depan mata dan mulai mengayunkan senjatanya.
Telapak tanganku yang sebelumnya kosong, kini telah berhasil menggenggam benda yang dingin, keras, dan nyata.
Melupakan kekaguman sesaat, aku segera menarik benda yang tersimpan di dalam sarung pedangku dan membalas tebasan undead itu.
Be-Berat sekali!
Sedetik kemudian, terdengar tebasan yang saling beradu begitu nyaring disertai bunyi retakan suatu benda.
Melihat itu, mataku terbuka lebar seolah tak percaya ketika menyadari bilah pedang milik undead itu telah melayang di udara menjadi dua.
"Simpan kekagumanmu nanti saja!"
"Sekarang mundur, Fate!"
Tsk! Berhentilah memerintahku!
"[Swiftness]!"
Setelah berhasil pindah kebelakang, kutancapkan pedang yang aku genggam ke lantai untuk menopang tubuhku yang berlutut.
Seraya masih menahan nyeri di seluruh tubuh, aku melirik ke arah pedang yang kini kugenggam.
Ja-Jadi, inikah wujud pedang yang selama ini tersimpan di sarung pedangku?
"Benar. Bagaimana menurutmu jika daku dalam wujud ini?"
"Bukankah daku terlihat gagah?"
Dia mengatakan hal itu tanpa malu dan bercermin pada kenyataan. Seolah dunia serta isinya adalah miliknya seorang.
E-Entahlah ...
Sebuah pedang hitam legam, dihinggapi debu, dan kotor. Yang paling menggelikan adalah bentuk pedangnya yang sama sekali tidak bisa dibanggakan, untuk ukuran sebuah pedang.
Bukankah wujudmu yang saat ini tak berbeda dengan sebuah besi tua?
"Tidak sopan!"
"Salahkan imajinasimu, karna telah membuat wujudku saat ditarik menjadi seperti ini."
Tapi, selama pedang ini masih layak untuk diayukan bagiku itu sudah lebih dari cukup.
"Ho-Hoi ..."
Mendengar suara itu, aku lalu menatap kedepan. Tampak, pria itu menatap ke arahku dengan tatapan yang tak percaya.
__ADS_1
"Bocah, sebenarnya be-benda apa yang Kau milikki itu, huh?!"
"...."
"Kenapa, kau bisa menarik sebuah pedang dari benda yang mirip rongsokan itu?!"
Aku lebih memilih untuk mengabaikannya, karna menurutku menjawab pertanyaannya juga tak akan memberikan keuntungan apapun di keadaan saat ini.
Terlebih, di keadaanku yang kini tengah terluka dan terkena racun. Berbicara adalah hal yang susah dan melelahkan untuk dilakukan.
Aku tidak ingin membuang sisa tenagaku lebih dari ini. Mengingat, pertarungan ini belumlah usai.
"Chi! Kalian semua, tangkap dia hidup-hidup!"
Para undead segera berjalan mendekat kearahku.
Aku lalu mengeratkan genggaman tangan pada pedangku seolah meminta sebuah petunjuk.
Ba-Bagaimana ini?
Rasanya, tubuhku semakin berat untuk digerakan.
Jika pun aku memaksa bergerak, pendarahan pada lukaku akan semakin ba-
"Tenanglah, Fate."
"Jika Engkau panik, itu hanya akan memperburuk kondisi tubuhmu."
A-Aku mengerti.
"Dengar ...."
"Debuff dari atribut racun hanyalah sementara mengingat itu masih level 1. Efeknya tidak akan bertumpuk."
"Meskipun tak bisa dipungkiri, jika energi kehidupanmu perlahan mengurang dan tubuhmu semakin melemah."
Bu‐Bukankah itu terdengar buruk?
Mana mungkin aku bisa tenang setelah mendengar semua itu!
"Begitulah. Tapi, Debuff tersebut akan hilang dalam waktu 60 detik kedepan."
"Jadi, bertahanlah selama itu."
Begitu, ya.
Itu terdengar sedikit melegakan.
"Jadi untuk saat ini Engkau tak perlu bertarung, cukup bertahan saja."
Aku mengerti.
Aku lalu memaksa berdiri. Dengan menghela napas, aku melakukan konsentrasi mana.
"[Discharge]!"
Saat petir menyambar tubuhku, aku sedikit bingung sekaligus terkejut karna elemen petir yang aku keluarkan telah berganti warna menjadi hitam.
A-Ada apa ini?
"Saat ini daku tidak memiliki waktu untuk menjelaskannya."
"Tapi yang pasti, kekuatan daku yang selama ini tertidur kini telah dibangkitkan lagi."
"Tentu saja karna Engkau telah menarikku, menjadikan Engkau memiliki sedikit kekuatanku."
"Berbahagialah dengan itu."
Begitu, ya.
Sedikit sulit bagiku untuk mempercayainya, mengingat saat dia mengatakannya terdengar sangat angkuh.
Namun, sepertinya mulai saat ini aku bisa berhenti meragukannya dan mempercayai perkataannya. Karna, dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan.
Mana-ku, pulih ...
Ya, benar. Mana di dalam tubuhku yang seharusnya telah banyak terkuras karna terlalu sering digunakan, kini terasa terisi kembali dengan sendirinya.
Meskipun itu tidaklah dalam porsi yang banyak, akan tetapi itu sudah sangat menguntungkan bagiku yang gemar menggunakan sihir.
Tak hanya berhenti di situ saja, sepertinya kelima panca indraku berfungsi semakin baik. Terutama, pandangan mataku yang menjadi sangat tajam.
Lalu, yang terakhir aku merasa jila kekuatan sihir elemenku terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Begitulah singkatnya, jadi manfaatkanlah itu dengan bijak."
U-Umm!
"Lihat, mereka datang!"
Karna telah memiliki insting layaknya seekor hewan buas, aku dengan mudah bisa membaca pola serangan mereka dan menghindarinya dengan cekatan.
"Tiga-puluh detik lagi."
Karna frustrasi serangan semua undead-nya tak mampu menjangkauku, pria itu jengkel dan menancapkan Magic Wand-nya di lantai.
"Chi! Dasar tidak berguna!" perintah pria itu. "Cepat kembali!"
Semua undead lalu ditarik untuk mundur.
Aku pun jatuh berlutut lagi dan menumpu pada pedang yang kutancapkan.
Saat ini aku benar-benar kacau. Napasku sangat berat, serta tak jarang terputus-putus. Tubuhku juga lemas dan lunglai serasa tak bertulang.
Se-Sepertinya, racunnya sudah menyebar keseluruh tubuhku ...
Padahal aku hanya bergerak seperlunya saja, tapi tubuhku menjadi selelah ini.
"Itu wajar."
"Jika Engkau memaksa tetap bergerak di saat tubuh terkena racun, ditambah Engkau tengah mengalami pendarahan sama saja Engkau menggali kuburanmu semakin dalam."
"Bertahanlah, semua itu akan berakhir sebentar lagi."
U-Umm ....
"Tapi, Engkau tahu, 'kan?"
"Selama luka yang terkena racun itu tidak dibersihkan dan disembuhkan, sisa racun yang tertinggal akan tetap ada dan perlahan masuk kedalam tubuhmu."
Aku tahu.
"Ini dia!" teriak pria itu tiba-tiba.
Terlihat, pria itu berdiri di belakang barisan undeadnya tengah menggenggam sebuah buku tebal bersampul usang.
Sebuah buku?
Kira-kira, apa yang dia rencanakan?
"Itu bukanlah buku biasa, itu adalah Grimoire."
Ada apa dengan itu?
"Grimore merupakan sebuah Kitab Sihir yang berisikan banyak mantra sihir kegelapan, tata cara melakukan ritual sihir untuk memanggil setan, iblis, dan monster."
Begitu, ya.
"Sepertinya sebentar lagi pesat ini akan usai. Karna, aku akan mendatangkan tamu yang spesial untuk menari bersamamu!"
Pria itu lalu mengangkat tinggi-tinggi Grimoire yang dia pegang.
Padahal tidak ada angin yang berhembus, Grimoire itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya dan menyibak kasar tiap lembar halamannya.
"Kupanggil Engkau, sang kestaria dunia kematian yang abadi,"
"Penuhilah panggilanku, untuk menunjukan siapa penyandang prajurit kematian yang sesungguhnya."
"Hingga membuat siapapun yang berhadapan denganmu, akan merasakan rasa takut dan putus asa hingga mati!"
"Dark-Magic, Summon Death Knight!"
Tiba-tiba, sebuah lingkaran sihir bertumpuk, dengan masing-masing warna hitam dan putih muncul di hadapan barisan undead.
Kedua lingkaran sihir itu melebar dan mulai saling menjauh ke atas dan ke bawah.
Hawa dan suasana sekitar berubah menjadi mencekam dan kelam. Lalu, muncul sebuah tangan tengkorak besar dari dalam lingkaran sihir.
"Ini dia! Tamu spesial yang aku undang untukmu!"
Kapal ini bergoyang-goyang saat sosoknya yang besar mulai merangkak keluar dengan paksa.
Yang benar saja ...
Apa yang sebenarnya dia pikirkan hingga memunculkan makhluk tersebut di atas kapal?
"Anggap saja dia sudah tidak waras."
Semua lingkaran sihir yang menjadi gerbang dimensi telah menghilang. Hanya menyisakan aura kegelapan yang begitu tebal mencemari kabut.
Kini jelas terlihat, sosoknya yang disamakan dengan sebuah keputusasaan dan ketakutan.
Meskipun hanya tulang-belulang yang dibalut dengan jubah hitam compang-camping, untuk ukuran sebuah kerangka manusia itu sungguh keterlaluan. Pasalnya, Death Knight tersebut memiliki tinggi hampir 4 meter.
Lebih buruknya lagi, Death Knight itu membawa sebuah pedang laras panjang yang memiliki ujung tumpul dan besar.
Death Knight itu lalu meraung, matanya yang berbentuk bulat segera menyala terang berwarna merah.
"Baiklah. Bagaimana jika kita lanjutkan saja pesta ini dan mengakhirinya?"
Seolah merespon perkataan pria itu, Death Knight tersebut menghempaskan udara dengan sekali ayunan pedangnya.
"Tuan-tuan, silahkan meriahkan pestanya."
Death Knight tersebut segera maju diikuti tiga undead yang mengekor di belakangnya. Seolah, mereka kini hendak terjun menuju medan perang.
"Fate, Debuff racunnya sudah hilang sekarang."
"Bagaimana kondisimu?"
Aku lalu berdiri tegap dengan bertumpu pada pedang di tangan.
Seperti yang kau lihat.
Kurasa, ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Meskipun, rasa nyeri di perut dan sisa racunnya sedikit menyiksa.
"Tahanlah sedikit lebih lama lagi."
"Karena sepertinya, semua ini baru saja dimulai."
Aku tahu.
Aku lalu mengibaskan pedang hitam kesamping untuk menumbuhkan lagi rasa percaya diriku yang sempat meredup sebelumnya.
"[Discharge]!"
Kilat hitam segera menyambar dari atas, dan saat usai hanya menyisakan percikan petir di tubuh.
Tanpa diminta, bilah pedang hitamku sudah dibalut cahaya perak transparan yang mengeluarkan aliran petir hitam.
Entah mengapa, aku tak merasa takut dan ragu saat ini. Padahal, ada musuh yang menyandang sebuah perasaan keputusasaan dan ketakutan tengah mendekat kemari.
Apakah ini bisa terjadi, karna kini aku merasa tidak lagi sendirian untuk menghadapi semua itu?
Atau lebih tepatnya, mulai sekarang aku tidak akan bertarung sendirian?
Aku melirik kesamping, lebih tepatnya kearah pedang yang aku genggam erat.
Kurasa, memang begitu.
"Apakah Engkau mengatakan sesuatu?"
Tidak, bukan apa-apa.
"Lalu, apalagi yang Engkau tunggu?"
"Ayo maju, Fate!"
Tsk!
Sudah kubilang jangan memerintahku!
__ADS_1