
Bab 07
Di sela tarikan napas kami yang seirama, terdengar suara ombak yang menghantam tubuh kapal. Akibatnya, tak jarang kapal ini hingga dibuat bergetar dan terhuyung kecil.
Dari samping, pintu kamar terbuka oleh tangan seseorang dari dalam. Reflek, aku dan Erika yang terduduk di bangku segera menoleh.
Kami pun berdiri ketika mendapati Michelle yang muncul dari dalam dengan kedua pundak yang diturukan.
"Michelle, kau baik-baik saja?"
"... A–Ahh, umm." Balas Michelle setibanya di hadapan kami.
Baik aku maupun Erika bisa menyadarinya, jika ada yang salah dengan Michelle melalui tatapannya yang enggan menatap kami berdua.
Meskipun terhalangi oleh rambut poni-nya, aku mampu melihat kedua bola matanya terlihat redup. Hanya tersisa sedikit cahaya yang memantul di dalam sana.
Bahkan, air mukanya yang sebelumnya begitu menunjukan kepercayaan diri saat ini terlihat begitu pucat.
"Begitu, ya. Jadi kau gagal menghilangkan tanda kutukannya." ujar Erika sembari melipat kedua tangan di dada.
"...."
Tak ada respon berarti dari Michelle. Dia hanya mengangguk samar seraya memegangi siku kiri dan mencengkramnya lemah.
"Sepertinya, pola lingkaran sihirnya terlalu rumit bagimu, Michelle."
"... Umm, maafkan aku, Fate. Pada akhirnya, aku tak bisa menghilangkan tanda kutukan yang melekat pada tubuh Ruka." ucapnya menyesal.
"Tidak perlu meminta maaf, Michelle. Aku bisa mengerti itu, kok." Sautku.
"Benar, jangan coba-coba Kau menyalahkan dirimu. Karena, sejak awal ini semua di luar kemampuan kita."
Dengan berat hati Michelle mengangguk, tanda dia (ingin) mempercayai perkataan Erika. Walaupun sebenarnya kami berdua tahu, jika Michelle mengangguk karna tak ingin membuat keadaan semakin keruh.
Aku sangat yakin jika Michelle saat ini begitu frustrasi. Sikapnya yang seolah pasrah dan tak berdaya, sudah cukup bagiku melihat semua itu. Meskipun, Michelle dengan sepenuh hati berusaha tetap menutupinya.
Mungkin dia merasa bersalah. Setelah, apa yang dia katakan dan janjikan, pada akhirnya dia tidak bisa melakukannya.
Namun, baik aku maupun Erika sangat tahu satu hal. Jika Michelle, sudah berjuang dengan segenap hati dan nurani-nya untuk melakukan semua ini.
"Kau sudah berjuang dan berusaha keras, Michelle," ucapku seraya menepuk pelan kepalanya. "... kerja bagus, Healer."
"Benar apa yang Fate katakan. Kau selalu berusaha keras untuk menjalankan tugasmu." imbuh Erika seraya berdecak.
"Semua usahamu, tidaklah sepenuhnya sia-sia, kok. Karna berkat kau, keadaan Ruka sudah lebih baik. Setidaknya, luka serta demam pada tubuhnya sudah Kau sembuhkan."
Aku menarik tanganku dari atas kepalanya dengan tersenyum.
"...."
Michelle mendapatkan kembali kepercayaan dirinya yang telah runtuh. Terbukti, kedua matanya kembali membiaskan cahaya kehijauan yang terang, dan senyum manisnya yang lembut, sudah menghiasi wajahnya yang sedikit merah.
Aku ingin, Michelle bisa lebih menghargai dirinya.
Aku juga ingin, dia lebih bisa menghargai usaha dan kerja kerasnya ....
Aku juga ingin, memberinya kekuatan dan keberanian untuk tetap maju ....
Sebanyak apapun yang diperlukan.
Aku mengepalkan erat kedua telapak tangan, bukti jika tekadku telah terbentuk. Kemudian, mata ini melirik ke arah Erika.
Aku yakin, jika Erika pasti juga memikirkan hal yang serupa denganku. Terbukti, dia tengah tersenyum tak kalah manis seperti Michelle.
***
"Aku sudah menekan efek kekang yang diterima Ruka semisal tanda kutukannya akan aktif kembali. Jadi, kurasa kita bisa lebih tenang meskipin semua ini hanyalah masalah waktu, mengingat durasi skill-ku yang terbatas." Papar Michelle.
"Itu terdengar melegakan." Balasku.
"Apakah itu efek Buff dari Skill-Assist baru yang kau pelajari, Michelle?" tanya Erika.
"Umm, benar."
"Skill-Assist ternyata banyak juga macam dan kegunaannya, ya."
"Begitulah. Lalu, gejala keracunan mana yang Ruka milikki sudah berhasil aku netralisir dengan Vigor Potion. Tak lupa, dengan tubuhnya diberikan waktu istirahat yang cukup. Pasti, energi kehidupannya semakin lekas pulih." Imbuh Michelle.
"Berapa lama lagi dia akan sadar?"
"Mungkin, sekitar 5 jam lagi. Mengingat, proses pemulihan semua luka di sekujur tubuhnya yang lumayan memakan waktu."
"Apa karena luka-nya begitu banyak dan tersebar?"
"Umm, benar."
Erika mengela napas dan bersandar pada dinding lorong kapal.
"Lama juga, ya."
"... Umm."
Michelle menatap kami berdua bergantian, "Kenapa memangnya?"
"Kami memiliki rencana untuk menghilangkan tanda kutukan Ruka."
"Menghilangkannya?"
"Jangan-jangan, kalian ingin memaksa si Pengguna Sihir Pengekangnya, untuk melepaskan kontrak-nya, ya?" tanya Michelle curiga.
Aku mengangguk cepat, "Benar."
"Kalian bersungguh-sungguh?"
"Begitulah."
Michelle sedikit ragu mendengar rencana ini. Terbukti, kedua alis matanya terlihat melengkung ke atas dan napas berat dia hembuskan pelan.
"Tapi, bagaimana cara menemukan pelakunya? Meskipun kalian akan menanyakan hal ini pada Ruka, bukankah ada kemungkinan jika pelakunya tidak berada di jangkauan kita?"
Aku dan Erika hanya terdiam dan berakhir saling melemparkan pandangan.
"Benar juga, ya. Bagaimana jika si pelaku tidak di kapal ini? Bukankah rencana ini akan berakhir hanya sebatas wacana saja?"
Nampaknya, raut sadar dan bingung juga menghampiri Erika. Saat tertangkap olehku, wajahnya memerah dan membuang muka.
"Jadi, memang tidak bisa, ya ...." Gumamku dengan lesu.
Mungkin, karna terlalu terbawa emosi dan simpati membuat pikiran kami tak sejalan dengan keadaan sesungguhnya.
"Rencana terakhir dan memiliki peluang berhasil paling tinggi, yaitu hanya membawa Ruka ke Ibu Kota. Lalu, kita meminta tolong pada Dokter Spesialis Sihir-Medis di sana untuk menghilangkan paksa tanda kutukannya." Ujar Michelle.
"Tapi, sangat di sayangkan memang, sih. Karena kita tidak bisa menangkap pelakunya dan menuntaskan akar masalah ini." Kata Erika.
"Benar, walaupun Ruka berhasil kita selamatkan. Tak menutup kemungkinan si pelaku akan menggunakan lagi Sihir-Pengekangnya kepada orang lain."
"Lalu, kita baru saja memasuki hari ke dua perjalanan ini. Kita terlalu banyak memilik waktu tersisa."
Michelle mengangguk pelan, "... Umm. Durasi dari Skill Buff Damage Reduction-ku juga tak bisa bertahan selama itu."
Kami semua kompak menghela napas dan terdiam.
Dengan menurunkan pandangan, aku menggigit bibir bawah ketika menyadari jika semua ini tak segera di atasi langsung dari sumbernya, masalah ini akan berbuntut panjang dan kian bercabang.
Jika si Pengguna Sihir Pengekang tak segera ditangkap.
Maka, akan selalu ada Ruka yang 'selanjutnya' ....
Dengan kata lain, akan selalu ada yang akan merasakan penderitaan disertai rasa keputusasaan yang mengerikan. Hanya karna keegoisan satu orang, banyak sekali orang yang harus menderita.
Jika bisa 'melihat' lagi, itu artinya bisa menyaksikan orang lain menderita ...
Jika aku 'dihidupkan' lagi, itu artinya hidup berdampingan dengan orang lain yang tengah menderita ...
Aku, tak tahu harus bagaimana menjalani semua ini.
Apakah aku sebaiknya hanya mengabaikan dan menganggap semua ini wajar jika terjadi di dunia ini?
Mengingat, seperti inilah dunia ini berjalan.
Aku lalu menggeleng dan mengepalkan tangan erat.
Tidak, itu mustahil.
Melihat orang lain menderita dan membusuk karna putus asa, aku sama sekali tidak menginginkannya.
Lebih buruknya, itu terjadi di hadapanku.
Apanya yang hidup damai jika dunia tempatku tinggal sejak awal tak lebih dari sebuah tong yang berisikan sampah?
Aku tahu, jika ada yang salah dengan semua pemikiran ini. Aku sadari hal itu.
Sebagai seorang 'tamu' di dunia ini. Yang diberi kesempatan kedua untuk meraih kebahagiaan yang sempat tertunda. Seharusnya, aku tinggal hidup mengikuti arus agar bisa meraih kebahagiaan yang telah dijanjikan.
Namun, apa aku mampu untuk melakukannya?
Di saat ada seseorang yang memutuskan untuk mati, karna begitu putus asa menanti harapan yang hanya sekedar angan-angan kosong?
Membayangkannya saja, sudah membuatku muak.
Sejujurnya, Semua ini sungguh di luar daya nalar dan imajinasiku. Meskipun, sesungguhnya aku pernah terbesit pemikiran semacam itu. Namun, aku selalu saja berusaha menepis dan tak mempercayainya.
Karna seperti yang sudah kulihat, dunia ini begitu memabukan dengan segala keunikan dan keindahan kulit luarnya.
Hingga kenyataan ini yang menyeret paksa diriku, untuk segera mempercayainya. Jika dunia ini, memiliki sisi lain yang sama busuknya dengan dunia diriku berasal–tidak, bahkan lebih.
Kecewa sekali saat aku mengetahui jika diri ini harus menerima semua kenyataan tersebut.
Yang saat ini kupikirkan, bagaimana cara menyesuaikan diri dan beradaptasi, dengan semua realita ini?
Sebaiknya, jalan apa yang harus aku pilih?
Menerima, atau melawan?
Ini konyol, keduanya merupakan pilihan yang buruk.
Menerima? Artinya, aku tiap harinya harus puas hanya melihat dan berdiam diri saja ketika melihat orang lain menderita.
Melawan? Ini lebih buruk sepertinya. Mengingingat, jika aku melawan balik aturan serta tatanan dunia ini. Dengan kata lain, aku sama saja melawan dunia ini sendirian.
Bodoh dan nekat sekali, mana mungkin bisa seseorang sepertiku melakukannya?
Tapi yang pasti, aku tidak akan berdiam diri saja. Jika keadaan seperti ini menghampiriku, aku hanya perlu melakukan apa yang bisa dilakukan.
Sekecil apapun itu dampaknya, akan kulakukan. Ini jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun.
Aku percaya itu!
__ADS_1
***
Ruka adalah seorang budak ...
Ketika hal itu terbesit di dalam pikiran. Roti isi yang tengah aku kunyah serasa ingin dimuntahkan. Apalagi, saat mengingat kembali luka dan penderitaan yang telah Ruka jalani selama menjadi seorang budak.
Aku yang tidak pernah melakoninya saja, bisa membayangkan rasanya hidup menjadi seorang budak.
Ketika Ruka telah menjadi budak, Hak Asasi-nya sebagai makhluk hidup yang ber-akal akan langsung dicabut dan diinjak-injak.
Ruka tak lagi memiliki hak dan masa depan. Karna, dia telah disamakan dengan sebuah "barang" yang mampu didapatkan, diperjual-belikan, dan dibuang kapan saja.
Dia akan tetap berguna jika masih mampu bekerja. Jika sudah tak berguna, dia pun harus rela tubuhnya dilempar dengan batu, ditendang, dan dicambuk.
Dengan tetap menumbuhkan napsu makan, kukunyah roti dan menelannya.
Ini menjengkelkan. Roti gandum yang kusantap memiliki isi yang beragam semisal daun selada, irisan tomat serta mentimun, dan daging kukus. Namun entah mengapa, semuanya terasa begitu hambar di lidah.
Lebih menjengkelkan lagi, saat mengetahui jika tak banyak yang bisa kuperbuat.
Aku benci mengakuinya, jika dunia ini aku bagaikan batu kerikil yang tak perlu diperhitungkan dalam hal apapun.
Ada dan tidaknya diriku di dunia ini, tak memiliki dampak apapun.
Semua itu bisa terpikir, karna aku tahu betapa lemahnya diriku.
Jika aku tahu akan menjadi seperti ini. Lebih baik, kuterima saja tawaran Michaella saat itu. Pasti, dengan mudah layaknya membalik telapak tangan aku bisa membalikan keadaan dan tatanan dunia ini.
Tsk ... dasar bodoh, tukang menghayal, dan lemah ...
Benar begitu, 'kan, Nenela?
Jikasaja ada dirimu di sini, aku ingin kau mendengar semua kenyataan dunia ini.
Melalui sudut pandangmu, bagaimana pendapatmu?
Bagaimana seharusnya dunia ini berjalan?
Apa yang sebaiknya diantisipasi agar semua ini tak berlarut-larut?
Jika itu kau, apa yang akan kau lakukan?
Rasanya, aku sudah lama sekali tak menyebut nama itu di dalam hati. Padahal, aku sudah menanamkan tiap kenangan ketika bersamanya di dalam pikiran.
Cukup sudah.
Aku segera memakan lagi roti isi yang dipegang.
Ayolah, berhenti memikirkan sesuatu yang sudah jelas tidak akan terjadi.
Jangan membuang-buang waktu dan energimu lebih dari ini ....
Masih banyak hal penting yang perlu aku pikirkan, bukan?
"Enak."
Aku sedikit terkejut, saat ada semacam perpaduan rasa yang timbul di dalam mulut.
Sepertinya, napsu makanku telah kembali muncul. Setidaknya, aku harus mengisi energiku terlebih dahulu sebelum bekerja.
"Fate, bukankah masih ada hal harus kau katakan pada kami?" tanya Erika seraya mengelap lisannya menggunakan sapu tangan.
"... Umm, benar." Tambah Michelle.
Aku yang hendak menggigit bagian terakhir dari roti isi yang kupegang segera menjauhkannya dari mulut, dan meletakannya di dalam bungkus kertas seperti semula.
"Tentang Ruka, ya?" tebakku seraya meraih botol kulit yang berisi air mineral.
"Umm, benar."
Setelah melarutkan dahaga, kuletakan kembali botol di tempatnya dan membenarkan posisi duduk.
Erika yang terduduk di samping kananku segera ikut memperbaiki posisi duduknya, Michelle yang berada di samping kiri, juga demikian.
Ugh, aku jadi bingung harus memulainya dari mana.
"Kalau begitu, aku menceritakan dari bagian pentingnya saja. Yaitu, jika Ruka seperti yang kalian lihat dia merupakan seorang Half-Elf."
"Kami sudah tahu itu, kok."
"Langsung ke intinya saja, Fate."
"Be–Begitu, ya."
Aku pun terbatuk pelan untuk ancang-ancang mengeluarkan suara.
"Ruka berasal dari Kerajaan Elf yang berada di bagian Barat benua ini. Lebih tepatnya, dia tinggal di Kerajaan Aegir."
Erika mengangguk, "... Kerajaan Aegir, negeri hijau tempat kelahiran para Elf yang berada jauh di dalam Hutan Yuirwood."
"Umm. Sebuah hutan yang disebut-sebut sebagai lahan suci nan alami, tempat Dewa Freyr tinggal. Konon, para Elf itulah yang menjaga sekaligus melindungi Dewa Freyr." imbuh Michelle.
Aku tak terlalu mengerti mengenai rincian Kerajaan Aegir yang merupakan tanah kelahiran para elf, lebih tepatnya tempat tinggal Ruka. Namun, seperti yang Erika katakan jika Kerjaan tersebut berada jauh di dalam sebuah hutan.
"Lanjutkan, Fate."
"Ruka dijadikan budak, karena dia diculik oleh seorang pedagang manusia saat dia tak sengaja tersesat di luar hutan Yuirwood."
"Diculik, ya."
"Kasihan banget ..."
"Selang satu bulan dirinya dijadikan budak pekerja oleh pedagang tersebut. Ruka berhasil kabur dan mencoba untuk pulang ke Kerajaan Aegir.
"Be–Benarkah?"
"Tapi, sebagai gantinya Ruka harus membayar tawaran itu dengan bekerja padanya."
Michelle manatap ke arahku bingung, "Bekerja? Apa pekerjaannya?"
"Entahlah. Ruka tak memberitahukanku rincian mengenai hal itu, tapi jika dilihat dari kondisi tubuhnya yang penuh luka, dia tetap dijadikan budak."
"Tsk, dasar bodoh ..." decak Erika.
"E–Erika, ada apa?" tanya Michelle.
"Tidak. Aku hanya jengkel saja mengenai Ruka yang harus membayar tawaran orang yang berniat akan mengantarkan dirinya pulang."
"Kenapa?"
"Sudah jelas, bukan? Ruka hanya dimanfaatkan olehnya." Jawab Erika sembari melipat kedua lengan.
Aku mengangguk setuju ketika mendengar perkataan Erika, "... Kurasa, memang begitulah akhirnya dari kisah yang Ruka ceritakan."
Air muka Michelle terlihat begitu prihatin, "Malang sekali ..."
Tak terasa, kedua tanganku sudah dikepalkan erat ketika kembali mengingat kisah Ruka semalam.
Ya, benar ...
Selama ini, harapan yang senantiasa Ruka perjuangkan hingga dirinya hancur. Adalah pemberian oleh seseorang yang sama sekali tak memiliki sedikitpun niatan untuk mewujudkannya.
Aku menggeretakkan gigi kuat dan menatap sengit ke depan.
Dengan kata lain, selama ini bukanlah takdir yang mempermainkan hidup Ruka.
Melainkan, seseorang yang seolah menjadi si pembuat takdir itu sendiri.
"Jadi, ada kemungkinan jika si Pengguna Sihir Pengekang pada Ruka, adalah orang yang sama dengan yang menipunya, bukan?" ujar Erika menyadari.
"Memang, itu cukup meyakinkan, sih." imbuh Michelle.
"Erika, Michelle ..." Panggilku.
"Hmm?"
"Ada apa, Fate?"
"Apa kalian tahu, kenapa Ras Half-Elf begitu dibenci oleh Ras Manusia?"
"...."
Mereka hanya saling pandang, dan berakhir menatapku.
"Kami tahu, kok. Malahan, hal itu sudah menjadi rahasia umum di Kerajaan ini."
"Kalau begitu, beritahu aku."
"Tentu. Lagipula, cepat atau lambat kau juga akan mengetahuinya, kok. Michelle, kau saja yang memberitahunya. Aku payah dalam bercerita."
"Umm, dengan senang hati."
***
"Dahulu kala, Ras Elf adalah ras yang selalu menjaga kelestarian habitat hutan dan tinggal jauh di dalamnya. Sedangkan Ras manusia yang pada saat itu hidupnya masih sangat bergantung pada alam, seringkali keluar masuk ke dalam hutan untuk mencari tanaman obat, sayuran, hingga berburu hewan untuk dijual maupun memenuhi kebutuhan hidup."
"... Begitu, ya."
"Gawat, aku mulai mengantuk." Celetuk Erika seraya menyenderkan kepalanya ke pundakku.
"Hei, aku sedang mendengarkan Michelle bercerita."
"Dih, dasar pelit."
"Lanjutkan, Michelle."
Michelle lalu mengangguk dan tersenyum kecil.
"Karena merasa terusik oleh para manusia yang setiap hari datang ke dalam hutan. Para Elf mulai menjahili mereka (para manusia) dengan menyanyikan lagu dan senandung ciptaan mereka yang ketika didengar, akan membuat siapapun linglung. Lalu, para manusia yang ada di dalam hutan jadi lupa arah jalan pulang, dan berakhir tersesat berhari-hari di dalam hutan."
"Hmm, begitu ya–"
Duk!
Pundakku mendadak terasa berat, saat kutolehkan kepala, tampak Erika yang sudah tertidur dengan bersandar pada bahuku.
"Ya ampun, yang benar saja. Dia sungguh tertidur."
Michelle lalu tertawa kecil, "Erika memang akan tertidur jika mendengarkan seseorang menceritakan sebuah kisah yang mirip dongeng pengantar tidur. Menggemaskan sekali, bukan?"
"Yasudah, kita biarkan saja dia dan lanjutkan ceritanya, Michelle. Aku, juga akan berusaha untuk tidak tertidur, kok." Sambungku seraya membenarkan posisi tubuh Erika yang bersandar padaku agar lebih nyaman.
"Umm, baiklah."
Singkat cerita. Setelah mendengarkan hingga rampung cerita Michelle, aku langsung bisa menarik kesimpulan mengenai alasan kenapa Ras Manusia begitu membenci Ras Elf dan Half-Elf.
"Jadi, sebenarnya kedua belah pihak sama–sama melakukan perlawanan untul bisa bertahan hidup, ya."
"Umm, begitulah. Ras Elf yang gemar menjahili para manusia, agar hutan tempat mereka tinggal bisa berhenti diusik. Sedangkan Ras Manusia, mereka terpaksa berkeliaran di dalam hutan karena ingin bertahan hidup, mengingat mereka dahulu masih sangat bergantung pada alam." Jelas Michelle menyimpulkan.
"Tapi, aku tak menyangka jika kedua Ras tersebut sampai berperang, hanya karena memperebutkan hak memanfaatkan hutan."
"Begitulah, itu memang sangat disayangkan. Tapi syukurlah, setelah perang itu baik Ras Manusia dan Ras Elf memutuskan untuk menjalin perjanjian damai."
"Sebagai bukti, mereka menyetujui diadakannya perkawinan silang antara Ras Manusia dan Ras Elf. Kemudian terlahirlah Ras hybrida yang merupakan persilangan antara Ras Manusia dan Ras Elf. Oleh sebab itu, mereka disebut Ras Half-Elf, kah."
"Tepat sekali. Namun, beberapa bangsawan Ras Manusia mengecam hal itu karena dianggap penghinaan. Akan tetapi, karena kedua belah pihak telah sepakat untuk memutus rantai kebencian di antara mereka. Pada akhirnya, perjanjian damai tetaplah terbentuk, dan hingga kini perjanjian itu masih terjaga utuh." Imbuh Michelle. "... meskipun, masih banyak orang yang membenci keberadaan Ras Elf dan Half-Elf. Oleh karna itu, kedatangan mereka ke Kerajaan Aegis kadang tak diterima baik oleh para penduduk. Bahkan, beberapa pedagang nakal nekat untuk menjualnya atau dijadikan budak. Ditambah, karna paras mereka yang cantik, jika mereka tak beruntung akan berakhir menjadi budak seks pemiliknya."
__ADS_1
"Tapi, syukurlah pemerintahan Kerajaan Aegis selalu bersiap untuk menindak tegas hal itu. Jadi, sangat kecil kemungkinan jika perang antara Ras Elf dan Ras Manusia kembali tersulut."
"Jadi karena itu, para Ras Half-Elf lebih memilih tinggal di Kerajaan Aegir, tempat asli kelahiran para Ras Elf. Karena di sana, mereka diterima dan diperlakukan dengan baik. Dengan kata lain. Mereka (Ras Elf) memang bersungguh-sungguh menghargai bukti Perjanjian Damai tersebut dengan Ras manusia, ya."
Teruntuk yang kesekian kalinya, Michelle mengangguk.
"Benar sekali. Aku sendiri tidak tahu, kisah ini harus disebut akhir yang bahagia, atau malah sebaliknya."
Mendengarnya, membuat diri ini sedikit terkekeh pelan, "Entahlah. Tapi, setidaknya kedua Ras masih berdamai. Jadi, kisah ini cukup berakhir bahagia, 'kan? Ya meskipun, banyak sekali tragedi yang ditutup-tutupi oleh Kerajaan ini."
Tak terasa, waktu yang kuhabiskan untuk mendengarkan kisah Michelle lebih lama dari dugaanku.
Dengan membuka mata perlahan, aku menegakan dada. Akan tetapi, kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Ahh, tidak. Jangan–jangan, aku barusan juga ikut tertidur, ya ..."
Saat kutolehkan ke kiri, terlihat Michelle yang terlelap dengan bersandar pada pundakku. Hal serupa juga terjadi kepada Erika, yang sudah terlelap lebih lama dari kami.
Aku tersenyum kecil ke arah mereka, "Sekali lagi, kalian sudah bekerja keras,"
"... aku, sangat berterima kasih atas bantuan kalian berdua hari ini. Berkat kalian, Ruka bisa tertolong."
Pundakku langsung tersentak kuat ketika menyebut nama itu.
"Benar juga, bagaimana keadaan Ruka, ya."
Saat aku menoleh ke arah pintu kamar sewaan kami, aku perlahan menaikan kedua alis mata bingung.
"Kenapa, ada kabut di sini?"
Aku lalu menoleh ke arah yang berlawanan untuk memastikan, akan tetapi aku juga mendapati pemandangan serupa.
"Kabutnya, kenapa begitu banyak memenuhi lorong?"
Aku segera mencoba membangunkan Erika dan Michelle.
"Hei, kalian berdua. Ayo bangun."
"... situasi saat ini sepertinya sedang gawat!"
Ini sia-sia. Mereka tak kunjung bangun dari tidurnya, semua usahaku membangunkan mereka gagal. Terbukti, aku sudah mencoba menepuk-nepuk masing-masing pipi dan berteriak di daun telinga mereka. Namun, mereka tak menunjukan reaksi.
Untuk memastikan mereka aman. Kuperiksa masing-masing denyut nadi mereka melalui pergelangan tangan.
Denyut-nya, begitu stabil.
Syukurlah ...
Mengetahui hal itu, aku segera berdiri dan membenarkan posisi tubuh mereka yang tertidur dengan cara terduduk. Dengan hati-hati, aku memutuskan menyandarkan tubuh mereka satu-sama lain.
"Tidak salah lagi. Mereka ini bukan tertidur, melainkan telah dibuat tidur."
Tak terasa, jika kabut yang berada di lorong ini sudah semakin tebal. Itu membuat jarak pandangku terbatas serta terganggu.
Ruka, bagaimana keadaannya?
Jangan-jangan—
Menyadari hal itu, aku segera beranjak dan masuk ke dalam kamar.
"Ruka!" teriakku seraya membanting pintu.
Ketika masuk, kabut juga telah menyesaki kamar ini, itu membuatku kesulitan melihat.
Sial!
Aku tak bisa melihat apapun ...
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki dari luar. Walaupun itu terdengar begitu samar, akan tetapi dengan yakin jika kedua telingaku bisa menangkapnya.
Aku menoleh kecil kebelakang dan melirik. Yang terlihat hanyalah kabut yang tengah bergerak bersama udara dengan tenang.
Erika dan Michelle, 'kah?
Atau ....
Ruka?
Mataku seketika menyipit, ketika melihat samar bayangan tubuh seseorang yang bergerak menerjang kabut. Ada semacam kilauan perak yang memanjang di belakang tubuhnya.
I-Itu?!
"Ruka!"
Setelah meneriaki nama itu, aku segera membalik tubuh dan mengejarnya.
Begitu aku keluar dari kamar, kabut yang memenuhi lorong sudah menyebar luas.
Aku menoleh ke samping kiri untuk memastikan jika Erika dan Michelle masih berda di tempatnya. Akan tetapi, napasku terasa habis ketika menyadari mereka berdua sudah lenyap dari sana.
"E–Erika, Michelle?"
Sial!
Ada yang sebenarnya terjadi, sih?!
Dengan mencoba tetap tenang, aku menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari petunjuk keberadaan mereka.
Tiba-tiba, terdengar lagi lagi suara langkah kaki yang berasal dari ujung lorong kapal. Saat aku menoleh, aku menangkap kembali kilauan perak yang menjuntai di belakang punggungnya.
"Ru–Ruka! Tunggu!"
"Hei!"
Tsk!
Dengan yakin, aku berlari menerjang tebalnya kabut untuk menyusul Ruka.
Suara langkah kakiku yang menggema di lorong, begitu memecah kesunyian saat ini.
Nampak, Ruka berbelok ke arah kanan pada ujung lorong. Mengetahui itu, aku mempercepat lariku.
Ketika pandanganku tengah difungsikan semaksimal mungkin, tiba–tiba kakiku malah tersandung sesuatu dan membuatku tersungkur ke depan.
Dengan mengaduh tertahan, aku lalu membenarkan posisi tubuh yang bersimpuh. Aku langsung melirik ke arah kaki kananku, untuk memastikannya tidak terluka.
Namun, aku malah melihat tubuh seseorang yang tengah terbaring di lantai. Dengan sigap, aku pun merangkak menuju tubuh itu dan memeriksanya.
Pa–Paman?
Ternyata, tubuh tersebut adalah milik seorang pedagang tanaman obat yang tadi aku beli. Walaupun kabut menghalangi pandangan, aku bisa langsung mengenalinya, karna beliau memiliki bekas luka sayat di wajah keriputnya.
Setelah kuteliti, tak ada bekas luka baru apapun ditubuh beliau. Jadi bisa kupaatikan, jika beliau juga dibuat tidur sama seperti Erika dan Michelle.
Aku mendudukan tubuh Paman ini dan menyandarkannya ke dinding.
Syukurlah beliau tidak terluka ...
Tapi, ini sangat mengejutkan. Karena, tak hanya Erika, Michelle, dan Paman ini saja yang telah dibuat tertidur. Akan tetapi, hampir seluruh penumpang kapal ini.
Aku mencoba memikirkan ini dengan hati–hati dan teliti. Mengingat–ingat kilas balik, dan berharap menemukan suatu petunjuk yang tertinggal.
"Kenapa, hanya aku yang masih mendapatkan kesadaran?"
Kenapa, aku tidak dibuat tidur?
Aku lalu menggelengkan kepala singkat. Saat ini, aku tidak memiliki waktu untuk memikirkannya
Yang terpenting, aku harus mengejar Ruka!
Siapa tahu, aku bisa memperoleh petunjuk darinya.
Aku segera bangkit dan dengan berhati-hati mulai melangkah. Karena, tak hanya Paman ini yang tergeletak di lantai, akan tetapi tubuh penumpang lain juga.
Dengan mengandalkan intuisi dan jejak keberadaan Ruka, aku berhasil keluar dari lorong yang penuh kabut ini. Dan ternyata, lorong tadi membawaku keluar kapal.
Aku menatap sekeliling dengan waspada sekaligus heran, karena pemandangan di luar kapal jauh lebih membingungkan.
Sebenarnya, ada apa ini?
Bukankah masih siang hari?
Tapi, kenapa matahari dan langit biru-nya menghilang?
Ya, benar. Seperti tengah berada di titik pusat sebuah badai, sejauh mata memandang yang bisa kulihat hanyalah kabut tebal yang mengumpul dan melingkari kapal ini. Seolah, kabut ini mengisolasi kapal dari dunia luar.
Namun, samar aku masih mendengar suara ombak dan angin.
Begitu, ya ...
Setidaknya, kapal ini masih mengambang di lautan.
Dari arah depan, aku mendengar senandung yang memecah keheningan. Daguku terangkat ketika berhasil mengingat lirik senandung tersebut, dan ternyata memiliki nada yang sama seperti semalam.
Kabut yang berada di depan mata, kini mulai bergerak bersama udara, membuat pemandangan yang tercipta sedikit lebih jelas terlihat.
Tampak, di ujung kapal yang tumpul ada seorang gadis berambut perak yang tengah berdiri membelakangiku.
Senandungnya masih dia nyanyikan, tubuh kurus yang terbalut jubah kumuhnya sesekali bergerak pelan mengikuti alunan melodi senandungnya.
"Ruka ..."
Kedua pundak gadis itu tersentak tertahan ketika aku menyebut namanya. Senandung yang tengah dia nyanyikan langsung sirna, dan hanya menyisakan kesunyian.
"...."
"Kenapa, jalan ini yang kau pilih?"
"...."
"Kumohon, jawablah pertanyaanku, Ruka!"
Bentakkan putus asa-ku terdengar begitu keras dan langsung menggema di udara. Kepala Ruka yang tertunduk pun sedikit tersentak pelan.
Terjadi sepersekian detik jeda saat ini. Dia masih saja terdiam dan menatap ke depan, seolah ia tengah berpikir.
"Fate, akhirnya setelah sekian lama aku menemukan seseorang yang ingin kulindungi. Meskipun, aku harus rela mengorbankan keinginan dan harapanku saat ini."
"...."
"Oleh karena itu, aku akan berjuang dan berusaha sedikit lagi. Teruntuk yang terakhir kalinya." sambungnya pelan.
Jemariku yang sedari tadi dikepalkan erat, mulai mengeluarkan percikan petir berwarna biru.
Dengan menghela napas panjang, aku menatap berani ke depan. Terlihat, Ruka telah menghadapkan tubuhnya padaku.
Mata ungunya yang menyala terang, terlihat menatap diriku dalam. Mata itu, seperti biasa sama sekali tak menunjukan keraguan. Malahan, kini mata itu begitu mencerminkan keteguhan hati yang telah membulatkan tekadnya.
Lalu, dari belakang tubuhnya membayang beberapa sosok tubuh yang tinggi dan kekar, diiringi suara derap langkah kaki yang berat beriringan.
Setelah menembus kabut dan berhenti berjalan di samping Ruka, sosok mereka yang tegap segera terlihat.
Dengan memancarkan aura keangkuhan yang kuat pada sorot mata, masing–masing mereka mulai mengeluarkan senjata.
Mengetahui itu, aku menatap semakin sengit ketika melihat kembali sebuah tato kelabang merah yang terlukis pada masing-masing wajah mereka.
"Ruka, seperti yang Kau tahu. Jika aku, juga memiliki seseorang yang ingin kulindungi." Ucapku pelan.
Seolah kekuatan imajinasiku merespon kuat tekadku, percikan petir biru langsung timbul di sekitar tubuhku.
"... Umm, aku tahu." Balas Ruka.
"Oleh karena itu, aku juga akan berjuang!"
__ADS_1