Living in the World Where I Can See a Stars

Living in the World Where I Can See a Stars
Bab 08 - Pilihan dan Keputusan


__ADS_3

Bab 08


 


 


Dari arah depan, samar terdengar suara angin yang menerjang tebalnya kabut. Ditemani beberapa butiran salju yang dingin, angin pun menubruk dada ini dengan lembut. Tak sedikipun keinginan untuk menggigil pada tubuh. Yang tersisa, hanya keteguhan hati dan kebulatan tekad yang telah terbakar layaknya bara api.


Mataku sejak tadi tak bisa berhenti menatap waspada kedepan. Lebih tepatnya, ke arah mereka yang mulai mengacungkan masing–masing senjata padaku. Sesekali kelopak mataku menyipit, ketika kilau dari bilah senjata yang mereka pegang memantul ke arah mataku.


Percikan petir pada telapak tangan yang sedari tadi sudah menyala terang segera aku siagakan, ketika melihat salah satu dari mereka mengayunkan senjatanya enteng.


Dengan tetap tenang, aku mulai menganalisis keadaan saat ini yang sepertinya, sangat tidak berpihak padaku.


 Jumlah mereka semua adalah 5 orang, termasuk Ruka. Karena mereka sekelompok bandit, kemungkinan mereka akan bertarung secara fisik. Ini terbukti kuat karna masing-masing mereka memiliki senjata tangan yang bervariasi. Semisal pedang-satu-tangan, kampak, belati, dan cakar-pedang.


Beralih ke Ruka, dia tak memegang apapun di tangan, akan tetapi bola mata ungu-nya yang bersinar dan sikapnya yang senantiasa tenang. Mungkin, dia akan menggunakan sihir.


Daguku diangkat pelan, ketika menyadari jika semua keadaan ini bisa tercipta karna keberadaan Ruka sendiri.


Begitu, ya ...


Bodoh, kenapa aku terlambat menyadarinya?


Semua kabut ini, dan semua penumpang kapal ini bisa dibuat tidur. Itu karna Ruka yang melakukannya. Mengingat, dia seorang Ras Half-Elf.


Memanipulasi keadaan dengan memanfaatkan sihir, adalah kemampuan-nya.


Aku lalu menghela napas dan menggeser kaki kanan kesamping tanpa menimbulkan suara. Ini kulakukan agar posisi kuda-kudaku lebih matang, dan aku bisa bergerak dengan leluasa semisal memang harus bergerak tiba-tiba


Strategi bertarung macam apa yang bisa aku pakai supaya bisa lolos dari situasi saat ini?


Aku tak perlu memenangkannya.


Setidaknya, jika aku bisa mengimbangi mereka semua itu sudah keajaiban bagiku.


Mengesampingkan itu, aku juga dicemaskan dengan keberadaan Erika dan Michelle. Di saat genting sepert ini aku malah kehilangan mereka berdua.


Kuharap, mereka tidak mengalami sesuatu yang lebih buruk seperti keadaanku kini ...


"Apa perintah Boss?" ucap salah seorang dari mereka seraya memainkan belati yang digenggam.


"Sudah jelas, bukan? Habisi dan rampas barang semua penumpang ini?" saut rekannya.


"Dasar tolol! Boss bilang jangan bunuh semuanya."


Salah satu dari mereka yang memegang kampak lalu melirik ke arahku, "Benar. Gadis berambut putih dan berambut pirang itu, sebuah pengecualian."


Aku menggeratakan gigi tertahan, ketika mendengarnya.


"Di mana mereka?!" tanyaku mencari tahu.


"Hmm, di mana ya kira-kira?"


"Hei-hei, jangan begitu. Bukankah dia rekan kedua gadis itu?"


"Oh, aku lupa. Benar juga, Kau pasti yang menjadi kuli angkut mereka?"


"Pfftt! Benar, aku juga lihat saat di Kota Mandesh. Anehnya, pecundang seperti dia malah tidak terkena efek dari skill budak ini."


Gelak tawa mereka yang renyah terdengar memecah keheningan saat ini.


Menjengkelkan ...


Mereka sebenarnya tahu tidak sih keberadaan Erika dan Michelle?


Atau, mereka hanya sebatas memprovokasiku agar lengah?


"Oh, hampir lupa." Ucap bandit yang memanggul kampak di pundaknya. "Teman-teman, bagaimana jika kita bersenang-senang dahulu dengan mereka sebelum diserahkan kepada Boss?"


Aku menatap tajam ke arah mereka saat mendengar nada penuh hawa nafsu itu.


"Boleh juga. Sudah lama aku tidak bermain dengan gadis muda secantik mereka!" balas rekannya girang.


"Aku juga sudah berfantasi dengan gadis berambut pirang itu. Terlebih, tatapannya yang sayu dan suaranya yang lembut!"


"Benar juga! Apalagi gadis berambut putih itu, melihat ekspresinya saat jengkel dan nada suaranya yang kesal. Sudah membuatku sangat terangsa—"


"Menjijikan dan memuakkan sekali perbincangan kalian, sampai-sampai, aku mau muntah saat ini juga."


Sangat memuakkan ketika aku mendengar utuh perkataan mereka, karena itu dibarengi ekspresi mereka yang bengis. Di mataku, mereka saat ini sudah tak berbeda dari seekor binatang.


"Berhentilah mengatakan sesuatu yang menjijihkan, sialan. Mulut kotor kalian, bahkan tak pantas untuk berbicara apapun tentang mereka." Sambungku sinis.


Dengan melakukan improvisasi pada gerakan tubuh. Aku mengeluarkan aura intimidasi yang kuat. Akibatnya, seluruh perhatian mereka tersita padaku.


Bagaimana?


Apakah, intimidasi-ku barusan bisa menggertakan niat mereka?


Namun, jauh di dalam lubuk hatiku yang terdalam. Sungguh, aku sangat geram dan kesal ketika para bandit itu membicarakan sesuatu yang tak pantas tentang Erika dan Michelle.


Jika aku bisa melakukannya, ingin kusobek mulut dan kuinjak-injak **** mereka!


Sampai hancur!


Tiba-tiba, bandit yang menggenggam kapak tubuh kekarnya mengejang, dan matanya melotot ke arahku.


"Dasar bocah tengik sialan!" bentaknya seraya menghentakkan kaki keras.


Dengan gerakan yang mantap, dia lalu menebaskan kapaknya kedepan membelah udara, dan berakhir menghunuskannya ke arahku. Seolah mengatakan pada diri ini, untuk bersiap akan ketidakmungkinan selanjutnya.


"Kubunuh kau sekarang juga, dasar bocah tengik!"


"Tunggu!"


Aku menatap bingung saat melihat Ruka yang melebarkan tangan kanan kesamping untuk menahan pergerakan bandit yang memegang kapaknya.


"Ada apa, sih?!"


Terlihat, Ruka menahan perkataan di balik lisannya yang bergetar. Bola mata ungu-nya yang menyala, kali ini sedikit kehilangan cahaya. Membuatnya nampak redup, dan membesitkan rasa bimbangan di sana.


Ruka ...


Saat ini, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?


Sebenarnya, siapa seseorang yang ingin Kau lindungi?


"Bu–Bukankah, bukan seperti itu perjanjiannya?" sambung Ruka.


Kedua mataku terbuka lebar seolah menemukan pembenaran di balik ucapan Ruka.


Percikan petir pada telapak tanganku, perlahan-lahan mulai padam dan lenyap. Saat mulai memahami, mengapa semua akhir ini bisa terjadi.


"Ru–Ruka, jangan-jangan seseorang yang ingin kau lindungi itu adalah—"


"Hah!? Perjanjian apa yang kau maksud dasar budak!" sambar pria itu seraya mencengkram kerah jubah Ruka.


"Umh!" pekik Ruka tertahan.


"Ruka!"


"Dengar ya! Aku tidak boleh membiarkan bocah sialan itu hidup lebih lama lagi di dunia ini!"


Cengkramannya pada kerah jubah berubah menjadi cekikan pada leher Ruka.


Seolah tak diberi ampun, tubuh Ruka yang ramping diangkat ke atas hingga kedua kaki-nya yang tanpa alas kaki menginjak-injak kosongnya udara.


"Akh!" pekik Ruka karna kesulitan bernapas.


"He–Hentikan!" pintaku dengan gemetar.


Pria yang mencekik Ruka lalu melirik ke arahku, dia lalu menyeringai dengan sangat bengis.


"Hentikan, katamu?"


"Pfftt!!!"


Gelak tawa gelinya diikuti oleh semua rekannya yang terkekeh tak kalah keras.


Tawa nyaring mereka yang terdengar tanpa dosa. Begitu menyakitkan telinga, semua itu bertambah buruk di sela-sela tawa mereka aku mendengar suara merintih dari Ruka.


Mendapati semua kenyataan itu di hadapanku. Seketika membuat pandangan mata ini kosong dan putus asa. Aku pun hanya bisa menatap ke depan tanpa berkedip, seraya lisan ini semakin bungkam.


Rasanya, aku baru saja ditampar tepat di pipi dengan sangat keras. Hingga membuat diri ini terbangun, jika aku harus segera memutuskan sebuah pilihan yang menyangkut kenyataan kini.


Busuk, menjijikan, dan memuakkan sekali ...


Rasanya, seluruh isi perutku mau dimuntahkan keluar saat ini juga.


Ternyata benar, jika dunia ini tak lebih dari sekedar tong yang berisikan sampah.


 


 


***


 


 


"Ketahuilah, jika situasi saat ini bisa semakin buruk karena Engkaulah yang terlalu lemah."


"Janganlah menyalahkan orang lain, bahkan dunia ini."


"Karena sejak awal, memang seperti itulah dunia ini berputar."


"Bukankah Engkau sebenarnya sudah tahu? Menjadi lemah, itu artinya Engkau akan selalu tunduk pada yang kuat."


"Hukum rimba kadangkala masih berlaku di dunia ini, apalagi jika itu diperlukan untuk membuktikan siapa yang kuat."


"... Jadi, apalagi yang Engkau tunggu?"


"Tariklah daku sekarang!"


"Hanya itu yang bisa Engkau lakukan untuk merubah keadaan ini."


"Percayalah, Daku pasti akan memberikan Engkau kekuatan Mahadahsyat yang telah lama Tuhan asingkan,"


"... dari dunia ini."


"Jadi, tunggu apalagi? Sekarang ayo, tariklah daku dari sarung-nya ...."


"Tariklah!"


"Fate!"


"Huh?!"


Sial!


Kenapa di saat seperti ini, aku malah melamun?!


"Gah!"


Aku terkejut saat mendapati Ruka yang sudah lolos dari cengkraman bandit itu. Kini, dia berdiri dengan tenang di hadapan para bandit tersebut.


"Ka–Kapten!"


"***! Rasakan ini!"


Bandit itu langsung mengayunkan kampak yang dia genggam dengan kuat secara horizontal ke arah Ruka.


"Ruka, awas!"


Ruka langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan menendang keras salah satu kaki bandit itu.


"Ap—!?"


Bandit itu seketika terpelanting ke ke lantai, dan berakhir memekik kesakitan.


"Sialan! Dasar budak tak tahu diuntung! Cepat tangkap dia!"


Sisa bandit yang melihat itu segera bergerak untuk menyerang Ruka menggunakan senjata mereka masing-masing.


Namun, seolah mampu melihat masa depan Ruka melakukan gerakan akbrobatik kebelakang dengan sangat tangkas untuk menghindar sekaligus memperlebar jarak.


Tubuh rampingnya beberapa kali berputar hingga sudut derajat sempurna. Mengakibatkan untaian rambut peraknya bergerak cepat dan meninggalkan kilau perak yang anggun.


He–Hebat sekali.


Reflek tubuh-nya begitu tajam dan terasah ...


Ras Elf dan Half-Elf juga terkenal dengan pergerakannya yang lincah dan gesit, ya?


"Brengsek!"


"Dasar tolol! Cepat tangkap dia!"


Ruka mengeluarkan sebuah bola hitam seukuran kepalan telapak tangan dari masing-masing lengan jubahnya.


Salah satu bandit mundur beberapa langkah seolah mengetahui pasti benda apa yang Ruka milikki.


"Awas! Dia memba—"


Ruka langsung membanting kedua bola itu kebawah, tepat di hadapan para bandit.


Seketika, bola itu mengeluarkan ledakan kecil disertai kepulan asap tebal berwarna kelabu yang semakin lama semakin menyebar luas.


"Sial! Dia yang mencuri Magic Ball–ku!"


"Aku tidak bisa melihat dengan jelas!"


"Jangan panik dan tetap perhatikan sekeliling!"


Mengetahui dirinya berhasil menciptakan celah. Ruka dengan sigap, merogoh bagian punggung jubahnya menggunakan kedua tangan.


Terlihat, sepasang pisau yang dia pegang pada masing-masing genggaman tangan. Dengan singkat, Ruka segera memposisikan kedua pisau itu secara terbalik.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ruka langsung berlari masuk menerjang ke dalam pekatnya asap untuk memulai serangan.


Terdengar suara dentingan dan gesekan antar logam tajam yang berasal dari dalam asap. Sesekali, mataku melihat percikan bunga api saat mendengar suara itu.


"Akh! Dia dibelakangku!"


"Goblok! Jangan menyerangku!"


Aku menatap cemas kedepan, ketika mendengar suara ambrukan tubuh di lantai.


Ketika asap yang menghalangi jalannya pertarungan mulai menipis.


Mataku segera terbelak saat melihat bandit yang memegang belati telah tergeletak tak bernyawa di lantai bersimbah darah dengan sebuah pisau yang tertancap dalam tepat di tenggorokannya.


Lalu, dari arah depan terdengar lagi suara hantaman logam yang beradu.


"Ruka!"


Berbekal satu pisau di tangan kanannya, Ruka terlihat tengah menangkis tebasan pedang milik bandit yang sedang bertarung dengannya.


Karna mendengar derap langkah kaki berat dari belakang, Ruka pun berguling kesamping tepat sebelum bandit yang menggunakan cakar-pedang hendak merobek punggungnya.


"***! Dia sangat lincah!"


Tak ingin kehilangan momentum untuk membalikan keadaan. Ruka segera berdiri dan langsung maju untuk kembali menyerang.


Benar juga!


Ak–Aku harus melakuan sesuatu!


Aku harus membantu Ruka!


Tangan kananku segera diacungkan kedepan. Pikiranku fokus untuk membentuk suatu imajinasi pada telapak tangan.


"Ke–Kenapa, ini?"


Namun, sesuatu yang kuimajinasikan tak kunjung tercipta di sana. Dan itu, membuat diri ini semakin panik dan kebingungan.


Sial!


Kenapa tidak muncul, sih?!


Ayolah cepat!


Ruka membutuhkan bantuan—


"Dasar pemula!"

__ADS_1


Aku langsung menoleh ke samping saat mendengar suara berat itu. Tampak, berdiri tegap bandit dengan kapaknya yang telah diangkat tinggi-tinggi untuk menebasku.


Se–Sejak kapan dia di sini?!


"Mati kau sialan!"


Dengan menggeretakan gigi, reflek aku melompat kebelakang untuk menghindar.


Ayunan kuat kapak-nya langsung membelah udara dan menghancurkan lantai kapal.


"Tcih!"


Karna masih terkejut akibat serangan mendadak bandit itu, saat mendarat kakiku tergelincir hingga membuat tubuhku kehilangan keseimbangan.


Duk!


Aku mengaduh tertahan ketika jatuh dengan cara terduduk di lantai.


Seolah tak diberi ampun, Kapten Bandit yang sebelumnya gagal menyerang. Kini telah berada di hadapanku lagi dengan tatapan membunuh yang kuat.


Aku membelakan mata dan menahan napas di saat yang bersamaan saat kapak yang dia pegang kembali di angkat tinggi.


Gawat!


Aku tidak akan sempat menghindarinya!


"Kena kau!"


Tiba-tiba, dari samping sebuah pisau melayang dan langsung menancap pada punggung telapak tangannya.


"Agh!!"


Bandit itu langsung memekik kesakitan dan serangannya melesat jauh kesamping kanan.


"Fate!"


Aku menoleh ke kanan, dan melihat Ruka yang berlari mendekat ke arahku dengan cemas.


"Ruka!"


"Dasar budak jalang!"


Tak mau menyerah, Kapten Bandit itu dengan tangannya yang telah bersimbah darah lalu berbalik untuk menyerang Ruka menggunakan tinjunya.


Aku yang melihat itu segera bangkit dan untuk menghentikannya.


Dengan berteriak, aku melompat ke arah tubuh Kapten Bandit dan memeluk tubuh besarnya, lalu menggulingkannya kesamping.


"Bajingan! Lepaskan aku bocah!"


"Tak akan aku biarkan kau menyakiti Ruka lagi!"


"Ap—"


Tubuh kami pun terpelanting di lantai dengan keras.


"Fate!"


Aku langsung bangkit sembari menahan nyeri di pundak kananku akibat tertindih tubuh kekar bandit itu.


Ruka dengan cekatan meraih tanganku dan menariknya untuk berlari.


"Jangan biarkan mereka lolos! Cepat kejar mereka!"


Aku dengan panik melirik kebelakang. Terihat, 2 orang bandit yang tersisa tengah mengejar kami dengan membawa senjata di tangan.


"Ke mana kita akan berlari?!"


"Kita akan kabur dari sini!" balas Ruka tanpa menoleh.


"Ka–Kabur? Tunggu, bagaimana dengan Erika dan Michelle?"


"Tenang saja, mereka saat ini berada di dalam gudang kapal ini!"


Mendengar hal itu, sejujurnya membuatku menjadi lega.


Aku yang sebelumnya berlari dengan ditarik oleh Ruka, kini gantian aku menggenggam dan menarik tangannya untuk berlari.


Erika, Michelle ...


Tunggu kami sebentar lagi!


Kami akan segera—


"Umh!?"


"Ru–Ruka?!"


Aku sangat terkejut dan kebingungan, karna saat sedang berlari Ruka tiba–tiba terjatuh dan meringkuk kesakitan.


"Akh!!"


"Gahh!!"


Aku langsung bersimpuh saat melihat Ruka kembali berteriak dan meronta-ronta kesakitan.


Ototnya mengejang, tubuhnya bergetar kuat, dan mata kanannya terbelak sangat lebar. Jemarinya yang kaku, mencerngkram kuat dadanya dan tangan yang satunya mencengkram tanganku.


"Ja–Jangan-jangan, tanda kutukannya kembali aktif?!"


Ini buruk sekali!


Efek Buff dari Skill-Assist milik Michelle pasti sudah habis.


Ba–Bagaimana ini?!


Karna tak tahan melihat kondisi Ruka yang kesakitan, aku pun dengan semampuku mencoba menenangkannya.


Tubuh kurusnya yang mengejang dan tak bisa berhenti bergetar, aku dekap di dalam pelukannku.


"Ruka bertahanlah, kumohon!"


"Sebentar lagi, dia pasti sudah tamat."


"Huh? Benarkah?"


Aku menatap sengit ke depan, lebih tepatnya ke arah dua bandit yang mengejar kami.


Kini, mereka terlihat berjalan santai untuk mendekat.


"Jangan bergerak!" bentakku pada mereka.


Dengan sedikit terkejut, mereka berhenti berjalan kemari.


"Jika kalian bergerak sedikit saja dari sana, kepala kalian akan berlubang!" ancamku dengan menatap mereka tajam.


"...."


Mereka berdua hanya menatapku heran dan berakhir saling lempar pandangan.


"Pfffttt!!"


"Ya ampun, ayolah ..."


"Kau sendiri tadi kesulitan untuk mengeluarkan kemampuan sihirmu!"


"Dan sekarang, kau berniat mengancam kami dengan kemampuanmu yang masih payah?!"


"Dasar aneh, jika kau seorang penyihir bawalah sesuatu yang lebih berguna."


"Malahan, kau membawa sarung pedang yang kosong!"


"Tolol banget!"


"Railgun!"


Dengan meninggalkan lintasan cahaya ultra-biru di udara, cahaya itu memercik layaknya aliran listrik dan melewati tepat di antara wajah mereka.


Mengetahui hal itu, mereka seketika terdiam dengan kedua mata yang terbelak. Menyadari sesuatu yang memiliki kecepatan bak cahaya, baru saja berlalu di depan mata.


Lalu, pipi salah satu bandit itu tersayat rapih dan mengeluarkan darah.


"Hu–Huh? Apa itu tadi itu barusan?"


"Entahlah—Hei! Pipimu mengeluarkan darah!"


"Untuk selanjutnya ..."


"?!"


"... kupastikan, tidak akan meleset lagi." Sambungku dingin.


Tanpa mengeluarkan lingkaran sihir dan mengucap mantra, aku berhasil melakukannya.


Sejujurnya ini mengejutkan. Padahal, aku selalu berpikir jika akan menggunakan sihir sebuah perapalan mantra dan lingkaran sihir, adalah media wajib agar serangan sihir bisa dilakukan. Namun, barusan aku hanya mencoba yakin dengan imajinasiku.


Kuharap, tadi itu bukanlah sebuah kebetulan ...


Telapak tangan kanan yang aku julurkan, mulai diturunkan. Akan tetapi, sisa percikan petir selepas melepaskan Railgun tadi masih tertinggal di sana.


"Dasar bocah sialan, sebenarnya apa yang kau lakukan barusan, hah?!"


Aku menatap sengit ke depan ketika mendengar kembali nada berat itu.


Terlihat, Si Kapten Bandit yang tangannya terluka sudah kembali menggenggam kapaknya.


Dengan menatap tajam, dia berjalan dengan tertatih-tatih untuk mendekat.


"Cepat bunuh di—"


"Berhenti!"


 


 


***


 


 


Mendengar suara asing itu, aku menatap heran ke depan. Begitupula dengan sisa bandit yang masih hidup, mereka lalu menurunkan senjata dan membalik badan.


Aku lalu menyipitkan mata, ketika melihat bayangan seseorang dari balik kebalnya kabut.


Tak ada derap langkah kaki yang terdengar, kecuali sosoknya yang perlahan menerjang kabut dengan tenang.


Mataku perlahan membelak heran, saat berhasil melihat sosoknya utuh dari balik kabut.


Ka–Kakinya, mengambang di udara?


Terlihat, seorang pria berjubah merah gelap yang dilengkapi tudung pada kepalanya.


Namun, samar aku bisa melihat bentuk wajahnya yang sedikit berkeriput. Dengan rambut agak gondrong berwarna merah, hingga menutupi salah satu matanya.


Pada tangan kanan, dia menggenggam sebuah tongkat kayu. Ditambah pada ujung tongkatnya yang diukir membentuk sebuah kepala tengkorak yang menggigit sebuah batu permata berwarna merah darah.


Tubuh kurusnya masih saja mengambang di udara dengan santai. Karena sangat penasaran, aku melihat dengan sangat teliti ke arah kedua kakinya.


Setelah diperhatikan, tiap kali pria itu berjalan ada semacam gelombang cahaya biru tipis yang tercipta. Dan saat pria itu menapak genangan itu, maka akan menimbulkan riak kecil. Persis seperti sebuah genangan air yang diinjak.


Mungkinkah, itu adalah mana yang dikeraskan?


"Bo–Boss?" kata si Kapten Bandit.


Boss?


Jangan-jangan, dia yang menyewa sekelompok bandit ini untuk mengikuti kami, ya?


"Kenapa kalian lama sekali, sih? Bukankah kalian bukan seorang amatir dipekerjaan ini." kata pria itu seraya berhenti melangkah dan menapak lantai.


Dengan sedikit tergesa, si Kapten Bandit berjalan mendekat ke arah pria itu.


"Ma–Maaf, ada sedikit masalah di sini."


Pria itu menghela napas panjang, "Dengar, ya. Aku itu membayar kalian bukan untuk mendengar hal itu."


"Ta–Tapi, budak Anda mencoba menggagalkan rencana kita."


"Huh? Lagi?"


Pria itu lalu menatap ke depan, lebih tepatnya ke arahku yang tengah berlutut dengan Ruka yang tengah menahan sakit di dalam pelukanku.


Dia berkecap dan menggelengkan kepala, "Ya ampun, dasar anak nakal dan susah diatur. Kenapa dia bandel sekali, sih?"


"Boss, bagaimana dengan target kita?"


"Tenang saja. Aku sudah menemukan tempat mereka disembunyikan oleh budak-ku. Sisa rekanmu telah aku perintahkan untuk mengurusnya."


Pria itu tak sengaja melirik ke samping. Dia menaikan satu alis mata ketika melihat tubuh bandit yang telah tak bernyawa di lantai.


Dengan acuh, dia menggelengkan kepala, "Dasar tidak berguna."


Aku semakin menatapnya sengit ketika mendengar perkataan itu dari mulutnya.


"Hei, bocah dengan jubah hitamnya ...."


Merasa terpanggil melalui ucapannya, aku membalas tatapannya.


"Bisa kau berhenti melecehkan peliharaan-ku?" katanya enteng.


"Apa dia milikmu?"


"Benar sekali. Jadi, bisa aku mendapatkannya kembali?"


"... Apakah, kau yang menanamkan tanda kutukan di tubuhnya?"


"Kalau itu benar, memangnya kenapa?"


Aku menggeretakan gigi kuat. Tubuh Ruka yang telah lemas akibat terlalu lama menahan rasa sakit, kini suhu-nya mulai panas. Keringat dingin telah deras membasahi dahinya.


Terdengar desahan napasnya yang terputus-putus, wajahnya sangat pucat, dan mata kanannya sudah tertutup.


"Ruka, kemarilah," Kata pria itu. "Ayo kemari, gadis baik. Bukankah kau ingin pulang?"


Ruka hanya menggeleng lemah dan malah mencengkram kuat tanganku. Seolah, dia tak ingin beranjak dari sini.


Aku lalu balas menggenggam tangannya dengan erat.


"La ... ri, lah ...." Ucapnya lirih.


"Ru–Ruka?"


Dengan berlinang air mata yang jatuh melalui sudut kelopak mata yang saat ini menatapku begitu sayu. Ruka menggerakan lagi lisan keringnya, seolah ini adalah tenaga terakhirnya.


"Fate ... terima ka—"


"Cepat turuti perintahku dasar budak!!"


Bentakkan itu diiringi sebuah hentakan tongkat pria itu ke lantai dengan keras. Batu permata yang berada di ujung tongkat itu seketika menyala terang, seolah merespon perkataannya.


"G–Gahh!!"


"Ruka!"


Aku terkejut saat Ruka kembali meronta-ronta kesakitan. Kali ini, dia bahkan sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.


Dadanya yang naik-turun dengan tak beraturan, terlihat mengeluarkan cahaya remang berwarna merah-gelap.


Bu-Bukankah sebelumnya, lingkaran sihir-nya tidak berwarna merah?


Jangan-jangan, pria itu menambah efek kekangnya?!


"Rasakan itu dasar budak sialan! Memangnya kau siapa, hah?!"


Tiap kali tongkat itu dihentakan, tiap inchi tubuh Ruka pula serasa dihancurkan. Aku bahkan bisa merasakan getaran hebat dan darahnya yang terasa mendidih hanya dengan memegang tangannya.


"Berani-beraninya kau mengabaikan perintahku untuk menculik dua gadis bangsawan itu?!" Cerca pria itu geram. "bahkan, kau juga membangkang dan melakukan semua kekacauan ini?!"


"Karna kau, aku menjadi mendapatkan banyak masalah, tahu!!"


"Dasar bodoh dan tidak berguna!!"


"Seharusnya Kau bersyukur padaku karna aku tak membuangmu!!"


Ruka telah berhenti bergerak, sesaat sebelum tubuhnya mengejang hebat dan memuntahkan darah hitam dari mulut. Kulit tubuhnya pun terasa beku dan berwarna pucat-pasi.

__ADS_1


Aku yang menyadari itu, hanya menatap kosong wajahnya.


Bola matanya yang sudah sepenuhnya meredup, tak memiliki cahaya yang tersisa. Tak ada lagi warna ungu dari iris-nya yang cantik. Yang tersisa, hanyalah tatapan putus asa yang telah menghancurkan dirinya.


"Apakah dia mati, Bos?"


"Belum, bodoh. Aku masih membutuhkannya, mana mungkin aku membunuhnya."


Entah mengapa, tubuhku terasa begitu berat dan penglihatanku hanya bisa membedakan warna hitam-putih saja.


Jadi, memang seperti ini dunia ini berputar.


Persis seperti yang dia katakan padaku.


"Kalian semua, cepat bereskan sisanya. Kita harus segera pergi dari sini, karna sebentar lagi kabutnya akan lenyap." perintah pria itu diiringi suara langkah kakinya yang menjauh.


"Baik, Boss! Tapi, bagaimana dengan bocah itu?"


"Benar juga. Barusan dia bisa memanipulasi sihir elemen hingga tingkat lanjut, bawa dia juga. Mungkin, dia bisa kujadikan mainan yang menarik."


"Dengar apa yang Boss katakan, bukan? Cepat lakukan, aku akan mengantar Boss."


"Baiklah-baik!"


Aku merebahkan tubuh Ruka dengan lembut di lantai. Tak lupa mengatur posisinya agar nyaman.


Samar, aku masih mendengar tarikan napasnya yang lembut dan lemah. Kulit pucatnya memanglah sedingin es, akan tetapi aku masih merasakan sisa tekadnya yang hangat melalui detak jantungnya.


Kau beristirahatlah, kini giliranku yang akan melindungimu.


Oleh karna itu, kumohon tunggulah sebentar lagi.


Aku akan segera menyelesaikan semua ini dan membawamu kepada Michelle supaya kita bisa merawat lukamu.


Setelah itu, akan kupastikan jika kau bisa pulang ...


 


 


***


 


 


Terdengar derap langkah kaki yang tidak sabaran dari arah depan. Aku lalu mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk untuk menatap ke depan.


Nampak, dua bandit yang bersenjatakan pedang dan cakar-pedang tengah mendekat.


"Ayo cepat berbegas, bocah!" seru si Bandit yang memegang pedang.


"Menyerahlah jika kau masih ingin tetap hidup!"


Seharusnya, aku bisa memutuskan semua ini sejak awal. Namun, akibat ketidakmampuanku dan keraguan yang menghantui membuat semua ini terlanjur terjadi.


Kenapa?


Kenapa harus menunggu Ruka menderita, agar aku bisa berhenti meragu dengan keputusan yang telah aku pilih?


Aku harus segera memutuskannya, sebelum semuanya semakin terlambat. Juga, sebelum aku membenci diriku sendiri lebih dari ini.


Setelah membatinkan hal itu, aku kemudian berdiri.


Pandanganku yang sedikit kabur, masih saja menatap ke bawah. Lebih tepatnya ke arah Ruka yang tengah terbaring sekarat.


Sekejap, aku mulai berhalusinasi. Mataku membelak perlahan ketika melihat Erika yang saat ini sekarat di bawah sana.


Seketika, jantungku serasa berhenti berdetak. Napasku tertahan hingga membuatku tak bisa bergerak.


Sudah cukup.


Ruka adalah yang terakhir menjadi korban keraguanku.


Aku menggelengkan kepala, lalu menatap lagi kedepan.


Pikiranku yang sebelumnya kosong. Kini mulai aku konsentrasikan berbagai macam imajinasi untuk memicu terciptanya sihir yang ingin aku ciptakan.


Seolah merespon kemauan dan tekadku di dalam pikiran. Tubuh ini terasa memanas dan mengejangkan seluruh otot yang tersembunyi di balik kulit.


Percikan petir biru kembali muncul saat aku melemaskan telapak tanganku.


"Seharusnya, akulah yang berkata seperti itu."


Mereka kompak menaikan kedua pundak dan berhenti melangkah, ketika mendengar perubahan nada suara dan ekspresi wajahku.


Kedua bandit itu seolah mampu melihat jika keraguan yang sejaktadi menutupi mataku, kini telah sepenuhnya hilang. Dan hanya menyisakan tatapan penuh ambisi yang kuat.


Dengan tenang dan tetap berkonsentrasi, aku genggam erat kosongnya udara. Seketika, percikan petir yang ada di telapak tanganku pecah dan lenyap.


Kemudian, percikan petir kembali muncul di sekitar tubuhku. Seolah, kekuatan elemen petir yang aku milikki kini telah menyatu dengan ragaku.


Rasanya, saat ini aku bisa bergerak sangat cepat,


Mungkin, ini efek penggunaan elemen petir yang aku gunakan pada tubuh.


"Hei, cepat kemari!" teriak si Kapten Bandit seolah menyadari sesuatu.


"Ka–Kami akan segera ke sana!"


Mengetahui itu, aku menahan napas dan mengatur kuda-kuda. Percikan petir yang mengaliri tubuhku segera menyala terang.


Lightning Magic-Transformation, Swiftness!


Aku berkedip singkat dan seketika raga ini menghilang diikuti sebuah sambaran petir.


Seperti imajinasiku, dalam setengah detak jantung aku telah berpindah tempat tepat di hadapan bandit yang tengah berlari.


"A-Apa!? Sejak kapan kau—"


"Te–Teleportasi?!" pekiknya terkesiap dan berhenti berlari.


Karna masih terkejut, kedua bandit itu hanya mampu terdiam dan membuang kesempatannya untuk menyerang.


Jangan ragu!


Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku langsung mencengkram kerah jubah bandit tersebut dan membantingnya dengan segala kekuatan fisik yang dimilikki.


"Kuh!"


Bandit itu seketika tersengat aliran listrik dan berteriak menahan sakitnya tubuh ketika dibanting.


Melihat sebilah pedang yang dijatuhkan bandit barusan, aku segera memungutnya untuk dijadikan senjata.


Aku genggam erat pegangan pedang tersebut, dan mengibaskannya ke samping.


Ringan sekali ....


Tapi, ini jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.


Kembali melakukan konsentrasi, percikan petir langsung tercipta pada genggaman tangan kanan yang memegang erat pedang. Lalu, percikan petir itu segera menjalar dan melapisi bilah pedang.


Entah mengapa, elemen petir yang aku keluarkan menjadi begitu mudah dikendalikan.


Selain memanfaatkannya untuk membuat tubuhku bergerak lebih cepat, dengan mengalirinya ke pedang ini, aku rasa daya tebasnya akan menjadi lebih kuat.


"Kalian semua, cepat bunuh dia!"


Bandit yang berdiri di dekatku, segera melompat ke arahku dan mengayukan lebar tangan kananya yang menggunakan cakar-pedang secara vertikal.


Lalu, bilah cakar-nya tiba-tiba dilapisi cahaya tipis berwarna oranye.


"Pike Slash!"


Menggunakan kaki kiri sebagai poros. Aku memutar tubuh kesamping dan berhasil menghindarinya.


Meski sekejap, pandangan kami sempat bertemu. Mata bandit itu seketika putus asa, ketika aku berhasil menghindari tebasannya dengan cekatan.


"Ap—"


Jangan ragu!


Sesaat tubuhku mulai memasuki putaran kedua. Bilah pedang yang kupegang mulai dialiri percikan petir, dan diselimuti cahaya biru transparan.


Dengan menahan napas, kuayunkan pedang secara horizontal dari luar ke dalam. Menyebabkan bandit tersebut terkena telak tebasan pedangku tepat di tenggorokannya.



 


Tubuh bandit itu tersungkur kasar kebelakang dan mengejang akibat efek stun dari elemen petir tebasanku barusan. Darah segar segera mengucur deras dari leher bandit tersebut yang nyaris terlepas dari tubuhnya.


Melihat hal itu, aku hanya menatap dingin dan acuh.


Sepertinya, aku memang sudah digelapkan oleh kenyataan dunia ini. Rasa bersalah melakukan semua ini memang sangat terasa menyakitkan batin.


Namun, aku sendiri sudah kehabisan waktu hingga diri ini tidak memiliki pilihan lain.


Aku kibaskan pedang kesamping, darah yang tertinggal pada bilah pedang segera berceceran di lantai.


Jika aku tidak bisa merubah aturan dan tatanan dunia ini, setdaknya aku harus bisa bertahan dengan segala cara yang ada.


Karna, jika tidak begitu, pasti tidak akan lama bagiku untuk kehilangan orang-orang yang ingin kulindungi.


Benar, ini lebih baik bukan?


Daripada aku harus kehilangan dan menyaksikan orang yang ingin kulindungi menderita?


Ini jauh lebih baik.


Ya, mau bagaimana lagi, 'kan?


Berhenti meragu memang keputusan yang tepat.


Sekalipun aku harus berakhir mengotori tanganku, pasti akan tetap aku lakukan.


Meski ada ganjaran dan dosa yang telah menantiku di neraka akibat semua keputusanku.


Tapi, tetap saja semua ini memang sangat memuakkan.


Ingin muntah rasanya.


Inilah harga yang saat ini harus dibayar. Oleh karena itu aku harus segera membiasakan diri. Mengingat, ini adalah pilihanku!


Lamunanku seketika buyar, saat mendengar suara tepuk tangan dan langkah kaki dari arah depan.


"Mengagumkan! Mengesankan!"


Aku menatap sengit ke arah pria itu. Pedang yang kugenggam kembali mengeluarkan percikan petir.


Dengan berhenti melangkah dan melakukan pose yang mendominasi. Pria itu berdecak pelan seraya memainkan tongkat sihir yang dia pegang.


"Cerobohnya aku karna meremehkan seorang bocah sepertimu, membuat semua bandit sewaanku tewas sia-sia."


"Apa tujuanmu?"


"Tujuan? Sudah jelas, bukan? Aku ingin menculik dua gadis bangsawan itu."


"Bangsawan, katamu?" kataku heran.


Jadi, Erika dan Michelle ...


Adalah seorang keturunan bangsawan?


Jika memang benar begitu, semua yang telah menimpa kita menjadi lebih masuk akal.


"Benar sekali. Jika aku menculiknya dan meminta tebusan tinggi pada keluarganya. Bisa kau bayangkan, berapa banyak karung berisikan koin emas yang bisa kudapatkan?"


"... jikalau keluarganya takbisa menebusnya. Aku bisa saja menjual mereka sebagai budak dengan harga selangit, mengingat mereka memiliki paras yang cantik!"


"Bagaimana, terdengar menjanjikan, bukan?"


Aku menatapnya semakin muak, ketika telah mendengar utuh rencana busuknya.


Sudah kuduga, pada akhirnya semua ini hanyalah sebatas ambisi dari keserakahannya.


Dengan memanfaatkan segala cara hingga memaksa Ruka untuk menggantikannya menculik Erika dan Michelle, dia berharap bisa mendapatkan semuanya dengan mudah, tanpa mengotori tangannya secara langsung.


"Kau pikir, aku akan membiarkan hal itu terjadi?"


"Begitulah, oleh sebab itu aku harus meladenimu dahulu."


Pria itu lalu melirik ke arah Kapten Bandit yang berdiri di sampingnya.


"... Kapten, bisa tolong lindungi aku untuk sekejap?"


"Aku akan merapalkan mantra cukup panjang untuk melakukan Sihir-Pemanggil."


"Ba-Baik, Boss!"


Kapten Bandit itu berjalan ke depan pria itu, dan berhenti bergerak seraya memasang kuda-kudanya.


"Kali, ini pasti kau akan tamat! Dasar bocah— Akh!"


Kapten Bandit itu matanya melotot dan berhenti bernapas, ketima sebilah pisau menancap pada tengkuknya.


Aku yang melihat itu, menatap semakin geram ke arah pria itu.


"Kau, memang busuk sampai ke dalamnya!"


Pria itu hanya tertawa cekikan. Tubuhnya melengkung kebelakang dengan ekspresi yang menggelikan.


Tubuh Kapten Bandit itu lalu ambruk ke depan, dengan darah yang menggenang.


Aku menatap bingung, ketika menyadari darah yang menggenang mulai mengalir ke berbagai arah dan membuat sebuah pola lingkaran sihir.


Apa yang akan pria itu lakukan?


Sihir macam apa yang akan dia keluarkan?


Setelah meneliti sesaat, melihat ada 4 mayat bandit tergeletak aku bisa langsung menyimpulkan.


"Begitu, ya. Kau akan menjadikan semua mayat ini tumbal."


"Bingo!"


Pria itu berhenti tertawa dan menancapkan tongkatnya ke lantai. Lalu, dia mengangkat tangannya tinggi ke atas.


"Wahai makhluk penghuni gelapnya dunia kematian yang abadi ...."


Seolah merespon mantra itu, darah yang telah membentuk pola lingkaran sihir lalu mengeluarkan cahaya merah-gelap. Mengakbatkan, bentuk sempurna lingkaran sihir tersebut kian jelas.


Aku segera melompat kebelakang. Lebih tepatnya, ke arah Ruka yang telah kehilangan penuh kesadarannya.


"Penuhi panggilan dan patuhi perintahku, sebagai ganti dari raga abadi yang tlah aku persembahkan pada kalian!"


"Black-Magic, Summon Undead!"


Lingkaran sihir muncul di atas telapak tangan pria itu dan melayang ke atas. Setelah berhenti bererak, lingkaran sihir itu memancarkan cahaya remang berwarna ungu-gelap.


Suasana dan hawa di sekitar sini seketika menjadi mencekam. Kabut yang mengumpul di tempat ini berubah menjadi hitam.


Dari lingkaran sihir yang mulai berputar, keluar roh halus berwarna hitam. Lalu, roh itu berpencar menjadi empat untuk merasuki tubuh bandit yang tergeletak.


"Bangkitlah, prajurit abadi kebanggaan dunia kegelapan, Undead Troops!"


Tubuh tanpa nyawa para bandit tiba-tiba mengejang dan mulai bergerak-gerak. Namun, tubuh mereka mulai mengeluarkan aura kegelapan yang begitu pekat.


Aku membelakan mata ngeri sekaligus mual, ketika melihat kondisi wajah dari 4 bandit itu.


Pasalnya, wajah mereka tak dilapisi oleh kulit, memperlihatkan bentuk cacat tengkorak mereka yang membusuk, lubang hidung mereka tak bisa berhenti mengeluarkan darah, mata mereka melotot dan nyaris copot.


Dengan gontai, mereka semua berdiri dan berjalan tertatih-tatih ke hadapan pria itu.


"Baiklah, terima kasih telah berkenan datang. Penuhi perintahku sekarang!"


Aku yang melihat semua itu lalu menghela napas panjang dan menatap sengit kedepan. Tanganku yang memegang erat pedang, kembali dialiri percikan petir.


"Kalau begitu, langsung saja kita mulai pestanya!"


Dengan membuang segala keraguan yang ada, aku langsung berlari menerjang kedepan diiringi percikan petir yang sudah melapisi tubuh.


Aku, tidak akan ragu lagi!


"Serang!"


 

__ADS_1


 


__ADS_2